BIOSFER, J.Bio. & Pend.Bio. Vol.2, No.1, Juni 2017 e-issn:

Please download to get full document.

View again

of 10
6 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Pengaruh Pengindus Ammonium Sulfat terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) pada Rumput Akar Wangi (Vetiveria zizanoides L.) yang ditanam pada Tailing Tambang Emas Gurnita 1 ), Nunung
Document Share
Document Transcript
Pengaruh Pengindus Ammonium Sulfat terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) pada Rumput Akar Wangi (Vetiveria zizanoides L.) yang ditanam pada Tailing Tambang Emas Gurnita 1 ), Nunung Sondari. 2 ), R.Budiasih 3 ). 1. Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Unpas.Jl. Tamansari No.6-8. Bandung Indonesia. 2.&3. Program Studi Agroteknologi, Faperta Unwim. Jl. Raya Bandung - Sumedang KM 29 (Bojongseungit) Tanjungsari, Sumedang, Indonesia. Abstrak Penelitian ini dilakukan di Rumah kaca Universitas Winaya Mukti dari bulan Juni sampai dengan November Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pengindus amonium sulfat (ZA) pada akumulasi logam Pb dan pertumbuhan rumput akar wangi (Vetiveria zizanoides). Percobaan ini menggunakan metode eksperimen dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor dan empat pengulangan. Faktor pertama adalah pemberian senyawa pengindus yang terdiri atas 0; 12,5; 25; dan 37,5 g ZA. Faktor yang ke dua adalah rumput akar wangi yang berasal dari tempat penimbunan tailing pertambangan emas di Cibaliung Banten dan rumput akarwangi yang hidup di Tanjungsari Sumedang Jawa Barat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman akarwangi yang berasal dari Cibaliung dapat menyerap logam berat Pb tertinggi yaitu sebesar 8,11 mg.kg-1 pada pemberian pengindus ZA sebanyak 26,73 g per pot. Kata Kunci : ammonium sulfat, fitoremediasi, logam timbal (Pb), Vetiveria zizanioides. Abstract This research was conducted at Winayamukti University Green House experiment from June to November The objective of this experiment was to study of khelator ammonium sulfate (ZA) on the growth, and accumulation Pb of vetiver grass. The experiment used a Randomized Block Design (RBD) Factorial pattern which consisted two factors. The first factor level of klelator ZA agents i.e. 0; 12,5; 25 and 37,5 g ZA and second factor two vetiver grass from the region indigenous Gold Mine Tailings Cibalung Banten Province and Tanjungsari country region Sumedang, West Java. The result showed that the vetiver plants derived from Cibaliung can absorb Pb. The optimum ZA rates 26,73 g per pot, which can maximum uptake of Pb 8,11 mg kg-1 in vetiver plant originating from Cibaliung. Keywords: Chelator ammonium sulfate, Phytoremediation, Plumbum, Vetiveria zizanoides 26 I. PENDAHULUAN Sektor pertambangan emas di Indonesia terdiri atas penambangan emas skala besar, penambangan emas skala sedang, serta penambangan emas skala kecil (PESK). Di Indonesia, dalam lima tahun terakhir telah terjadi peningkatan dua kali lipat dari jumlah titik PSEK. Situs pertambangan emas yang ada umumnya terletak di tanah milik pribadi yang dikelola oleh sebuah kelompok petambang, maupun masyarakat umum. Pertambangan emas menghasilkan limbah yang mengandung berbagai unsur logam berat yang dapat mencemari lingkungan. Para penambang emas tradisional atau penambang emas tanpa izin, biasanya mereka membuang dan mengalirkan limbah bekas proses pengolahan ke selokan, parit, kolam atau sungai. Menurut Hidayati, dkk (2009) bahwa karakteristik tanah dilingkungan tempat pembuangan limbah tailing pertambangan emas memiliki kualitas yang rendah sebagai media tumbuh tanaman. Tanah tersebut mengandung logam berat timbal (Pb), seng (Zn), kadmium (Cd), zat besi (Fe), merkuri (Hg) dan sianida (CN) yang tinggi. Selanjutnya Hidayati mengemukakan bahwa limbah PT ANTAM mengandung Pb 20 kali, Fe 50 kali, Cd 40 kali dan Zn 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang tidak tercemari limbah. Sementara itu limbah PETI (Penambang Emas Tanpa Izin) mengandung Pb 30 kali, Fe 120 kali, Cd 40 kali dan Zn 3 kali. Untuk memulihkan tanah yang tercemar logam berat dapat dilakukan dengan cepat melalui cara kimia maupun fisika, namun biayanya mahal dan juga menghasilkan residu sisa pengolahan, sehingga memerlukan pengolahan lebih lanjut. Penggunaan bahan kimia selain mahal juga menimbulkan resiko pencemaran baru, sehingga diperlukan suatu alternatif cara pengolahan yang lebih murah dan juga ramah lingkungan. Salah satu cara pengelolaan limbah yang dilakukan dengan menggunakan agen biologi disebut bioremediasi. Bioremediasi merupakan suatu proses pemulihan (remediasi) lahan yang tercemar limbah organik maupun limbah anorganik dengan memanfaatkan organisme. Pengelolaan dengan menggunakan organisme merupakan alternatif pemulihan lingkungan yang murah efektif, dan ramah lingkungan. Disamping itu remediasi mendegradasi limbah organik dan menghasilkan senyawa akhir yang lebih stabil dan tidak beracun (Mangkoediharjo, 2005). Salah satu teknik dalam memperbaiki kualitas lingkungan yang tercemar dengan menggunakan tumbuhan sebagai agen biologinya adalah teknik fitoremediasi. Pemanfaatan rumput akar wangi (Vetiveria zizanoides L.) sebagai fitoremediator logam berat mempunyai prospek yang baik, karena disamping mampu mengakumulasi logam pada jaringan tanaman juga mempunyai daya adaptasi yang luas dan mampu tumbuh pada berbagai lokasi (Purwani, 2010 ). Akar wangi merupakan tanaman perennial berbentuk rumpun dengan perakaran yang rimbun dan tumbuh lurus ke dalam tanah, termasuk golongan rumput (Poaceae) dengan tinggi m. Tanaman akar wangi tahan terhadap logam berat, salinitas dan dapat tumbuh pada ph antara sehingga dapat digunakan untuk merehabilitasi kondisi fisik dan kimia tanah yang rusak. Perakarannya yang rimbun, maka dapat digunakan sebagai penahan erosi. Akarnya menghasilkan minyak esensial fiksatif yang digunakan sebagai bahan untuk sabun, kosmetik dan parfum. Akar juga digunakan untuk keranjang, tikar, kipas angin, layar, tenda, kantong sachet, dan kerajinan anyaman lainnya. Rumput vetiveira ditanam sebagai tanaman pagar, digunakan untuk penanaman kontur, seperti pengendalian erosi di perbatasan dan jalan-jalan, untuk reklamasi tanah, pengendalian banjir dan produksi biomassa. Temperatur yang dapat menyebabkan tanaman ini mati berkisar antara -15 C hingga -20 C. Akar siap untuk dipanen setelah bulan. Timbal (Pb) merupakan salah satu logam berat yang berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Pb masuk ke dalam tubuh manusia melalui air minum, makanan atau udara, yang dapat menyebabkan gangguan pada organ seperti gangguan neurologi (syaraf), ginjal, sistem reproduksi, sistem hemopoitik serta sistem syaraf pusat (otak) terutama pada anak yang dapat menurunkan tingkat kecerdasan. Timbal dihasilkan dari berbagai kegiatan, seperti kegiatan industri (industri pengecoran maupun pemurnian, industri battery, industri bahan bakar, industri kabel serta industri bahan pewarna), sisa pembakaran kendaraan bermotor dan kegiatan penambangan. Amonium sulfat (ZA) atau (NH 4) 2SO 4 adalah garam anorganik yang memiliki beberapa kegunaan, seperti sebagai penyubur tanah atau sebagai bahan tambahan makanan karena mengandung 21% nitrogen dan 24% sulfur. Amonium sulfat akan mengalami penguraian membentuk amonium bisulfat. 27 Amonium sulfat (ZA) yang ditambahkan sebagai pengindus pada media tanam akan membentuk amonium (NH 4) + dan sulfida (SO 4) -2. Selanjutnya ion sulfida dapat berikatan dengan ion Pb +2 akan membentuk PbSO 4 yang kemudian akan terserap oleh tanaman dalam percobaan fitoremediasi ini. Selama ini belum ada penelitian fitoremediasi yang menggunakan amonium sulfat sebagai senyawa pengkhelat logam berat. II. BAHAN DAN METODA Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas tailing yang diperoleh dari pertambangan emas di Kecamatan Cibaliung, Propinsi Banten. ZA (amonium sulfat/ [NH 4] 2SO 4) sebagai senyawa pengindus; pupuk kalium (KCl), pupuk nitrogen (urea) dan pupuk fosfor (SP36) digunakan sebagai pupuk dasar; pupuk kompos, dan benih tanaman rumput akar wangi (Vetiveria zizanoides L.) yang berasal dari Cibaliung dan Tanjungsari dengan ukuran tinggi tanaman lebih kurang 20 cm. Peralatan yang dipergunakan dalam penelitian ini antara lain adalah ember plastik hitam sebagai pot, tempat untuk menumbuhkan tanaman Akar wangi dalam media tailing. Ayakan atau saringan untuk menyaring tailing sehingga hanya partikel yang kecil-kecil saja yang digunakan sebagai media tanam. Cold Atomic Absorption Analyzer F732-S, untuk menganalisis kandungan timbal pada sampel tanaman dan media tanam yang digunakan. Oven untuk mengeringkan tanaman yang telah dipanen. Mistar untuk mengukur tinggi tanaman serta timbangan untuk mengukur berat kering tanaman. Perlakuan percobaan meliputi pemberian amonium sulfat (ZA) pada tanaman akarwangi dari dua habitat yang berbeda. Faktor pertama adalah pemebrian ZA yang terdiri atas 4 taraf perlakuan, yaitu : po = Tanpa ditambahkan ZA p1 = Ditambahkan ZA 12,5 g p2 = Ditambahkan ZA 25 g p3 = Ditambahkan ZA 37,5 g Faktor kedua adalah tanaman akar wangi yang berasal dari daerah Cibaliung, Banten (a1) dan tanaman akar wangi yang berasal dari daerah Tanjungsari, Sumedang (a2). Kombinasi lengkap untuk perlakuan yang dicoba disajikan pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Kombinasi perlakuan No. Takaran ZA (p) Tanaman Akarwangi a 1 a 2 1. p 0 p 0a 1 p 0a 2 2. p 1 p 1a 1 p 1a 2 3. p 2 p 2a 1 p 2a 2 4. p 3 p 3a 1 p 3a 2 Tailing sebelum digunakan, dikering-udarakan dahulu selama 3 hari didalam ruangan rumah kaca. Kemudian dimasukkan kedalam pot berukuran 6 liter masing-masing sebanyak 5 kg. Pada masing-masing perlakuan diberi pupuk dasar N, P dan K dengan takaran masing 100 kg/ha urea (45% N), 50 kg/ha KCl (60% K 2O), dan 50 kg/ha SP36 (36% P 2O 5), serta kompos dengan takaran 1kg pada setiap pot penanaman. Tailing bersama pupuk dasar dan kompos dicampurkan dan diaduk sehingga merata kemudian diinkubasi selama 1 minggu. Selanjutnya benih akar wangi ditanam sebanyak 2 tanaman pada setiap pot percobaan. Pemberian pengindus amonium sulfat (ZA) dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk dasar, dengan takaran 12,5 g; 25 g dan 37,5 g. Berdasarkan hal diatas, maka terdapat tiga perlakuan dan satu tanpa perlakuan (sebagai kontrol). Tiga perlakuan bersama kontrol tersebut disusun dalam rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Selama percobaan, penyiraman dilakukan setiap hari untuk menjaga kecukupan pasokan air untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman dipanen setelah berumur 8 (delapan) minggu. III. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemberian pengindus ZA pada dua tanaman akar wangi yang berbeda, secara interaksi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap tinggi tanaman. Hasil analisis statistik terhadap pengukuran tinggi tanaman pada umur 7 sampai dengan 56 HST tertera pada Tabel 4.1. Tanaman akar wangi yang tidak diberikan tambahan pengindus ZA (p o) secara umum menunjukkan pertumbuhan yang berbeda nyata dengan tanaman akarwangi yang mendapatkan tambahan pengindus ZA. Pertambahan tinggi tanaman akarwangi pada Tabel 4.1 memperlihatkan bahwa pemberian indus ZA dari umur 7 sampai dengan 28 HST belum menunjukkan pengaruh pada pertumbuhan. Akan tetapi, setelah tanaman berumur 35 sampai dengan 56 HST, baru terlihat ada perbedaan yang nyata pada tinggi tanaman. Tanaman akarwangi yang mengalami pertumbuhan paling lambat adalah yang mendapatkan pengindus ZA 25 g (p 2). 28 Tabel 4.1 Rata-rata Tinggi Tanaman akarwangi Akibat pemberian pengindus ZA yang berbeda. Pada Tabel 4.2. bobot kering tanaman yang ditimbang tidak menunjukkan adanya interaksi, akan tetapi terjadi secara mandiri terhadap masing-masing tanaman akarwangi. Tanaman akarwangi yang berasal dari Tanjungsari memiliki berat kering yang lebih be-sar dan berbeda nyata dengan berat kering tanaman akarwangi yang berasal dari Cibaliung. Tabel 4.2 Hasil Analisis rata-rata Bobot Kering tanaman akarwangi di akhir percobaan Perlakuan Pengindus ZA p0 (0 g) p1 (12,5 g) p2 (25,0 g) p3 (37,5 g) Jenis Akar Wangi a1(cibaliung ) a2 (Tanjungsari) Rata-Rata Bobot Kering Tanaman (gram) 6,19 b 5,27 ab 3,12 a 3,13 a 3,51 a 5,34 b Keterangan : Angka rata-rata yang ditandai huruf kecil yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5% Bobot kering tanaman yang tidak diberi pengindus ZA memilki rata-rata bobot yang paling besar, kemudian bobotnya cenderung menurun seiring dengan bertambahnya pemberian ZA pada media tanamnya. Demikian juga bobot kering akarwangi yang tidak diberikan perlakuan (p 0) berbeda nyata dengan bobot kering akarwangi yang diberikan pengindus 25 g (p 2) dan 37,5 g (p 3), namun tidak berbeda nyata dengan akarwangi yang mendapat tambahan pengindus ZA 12,5 g (p 1). Secara umum penambahan ZA pada tanaman percobaan berpengaruh terhadap pertumbuhan, yaitu tanaman percobaan menjadi terhambat pertumbuhannya. Kandungan logam timbal (Pb) pada tanaman bagian atas (pupus) di analisis di Laboratorium Balai Penelitian Tanah Bogor, hasil analisisnya dapat dilihat pada Tabel 4.3. Secara umum, penyerapan logam Pb pada tanaman percobaan menunjukkan adanya perbedaan yang nyata diantara dua tanaman akarwangi yang berbeda habitat asalnya. Kandungan logam Pb pada tanaman akarwangi dari Cibaliung lebih tinggi jika dibandingkan dengan kandungan logam Pb pada tanaman akarwangi dari Tanjungsari. Pada tanaman akarwangi yang berasal dari Cibaliung, pemberian pengindus ZA menunjukkan interaksi antara jumlah takaran dengan serapan logam berat Pb pada tajuk tanaman. Pada tanaman akarwangi yang diberikan pengindus 25 g per pot (p 2), terjadi perbedaan serapan Pb yang signifikan antara akarwangi Cibaliung dengan akarwangi Tanjungsari serta menunjukkan kandungan logam berat Pb tertinggi, dan berbeda nyata dengan tanaman yang tanpa diberikan pengindus (p 0). Pada tanaman yang diberikan pengindus ZA sebanyak 37,5 gram (p 3), memiliki kandungan logam berat Pb lebih kecil dari pada (p 2). 29 Pada Tabel 4.3, terlihat bahwa rata-rata serapan logam Pb pada tanaman akarwangi asal Cibaliung (bagian atas) menunjukkan pola peningkatan seiring dengan penambahan ZA, yakni pada penambahan 25 g ZA terukur 8,91 mg.kg -1 kemudian kadungan logam Pb menurun pada perlakuan dengan penambahan 37,5g ZA terukur 7,46 mg.kg -1. Adanya penambahan ZA pada media tanam dapat meningkatkan serapan logam Pb oleh tanaman dengan terbentuknya PbSO 4 yang mudah larut. Reaksi yang terjadi dapat diilustrasikan sebagai berikut : menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan tanaman akarwangi dari Tanjungsari. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh tingginya kandungan logam Pb yang terserap oleh tanaman akarwangi tersebut (Cibaliung), sehingga dapat menghambat pertumbuhan. Pb 2+ +SO O 2+2H 2O PbSO 4 + 4OH - Menurut Hidayati (2009), menyatakan bahwa penambahan pupuk yang mengandung amonium pada tanah dapat meningkatkan ketersediaan dan serapan Pb dalam tanah oleh tanaman. Pemberian ZA pada media tanam akan menurunkan ph, sehingga dapat meningkatkan kelarutan logam Pb dalam tanah dan mudah diserap oleh akar. Berdasarkan data hasil analisis tailing sebelum dilakukan percobaan, nilai ph tailing adalah 8,70. Kemudian pada hasil analisis media tailing setelah percobaan selesai dilakukan, nilai ph berkisar antara 3,83 5,26. Penambahan pengindus ZA pada tanaman percobaan yang berasal dari dari Cibaliung dan Tanjungsari, menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda nyata terhadap penyerapan logam berat Pb. Mekanisme masuknya logam berat pada tanaman percobaan diilustrasikan pada Gambar 4.1. Pada Gambar 4.2, terlihat bahwa pertumbuhan tanaman akarwangi dari Cibaliung Gambar 4.1: Mekanisme penyerapan logam berat Pb yang terlarut dalam air tanah. Penyerapan dipengaruhi oleh proses evapotranspirasi; larutan Pb masuk pada jaringan akar bersamaan dengan masuknya air yang kemudian di translokasikan ke bagian tajuk melalui jaringan xilem dan akhirnya di akumulasi pada jaringan daun; (Sumber: 30 Tabel 4.3 Pengaruh Pengindus ZA terhadap serapan logam Pb pada akarwangi dari dua daerah yang berbeda Perlakuan Pengindus ZA p 0 (0 g) p 1(12,5 g) p 2(25,0 g) p 3(37,5 g) Jenis Akarwangi mg.kg Cibaliung (a1) 5,88 b 6,61 b 8,91 b 7,46 b A AB B AB Tanjungsari (a2) 3,60 a 3,63 a 2,92 a 3,42 a A A A A Keterangan : Angka rata-rata yang ditandai huruf kecil (arah vertikal) dan huruf kapital (arah horizontal) yang sama berbeda tidak nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5% Gambar 4.2: Rata-rata tinggi tanaman akarwangi yang diukur setiap minggu, selama delapan minggu setelah tanam. 31 Menurut Alloway (1995) logam Pb diserap oleh tanaman pada saat kandungan bahan organik dan kondisi kesuburan tanah rendah, selain itu komposisi dan ph tanah, serta Kapasitas Tukar Kation (KTK) juga mempengaruhi perpindahan Pb dari tanah ke tanaman. Logam berat Pb pada keadaan ini akan terlepas dari ikatan tanah berupa ion yang bergerak bebas kemudian diserap oleh tanaman melalui pertukaran ion. Logam berat Pb terserap oleh akar tanaman apabila logam lain tidak mampu menghambat keberadaannya. Hal ini akan mengakibatkan tanah akan didominasi oleh kation Pb, sehingga menyebabkan kation-kation lain ketersediaannya berkurang dalam kompleks serapan akar. Kation Pb 2+ yang terserap oleh akar masuk kedalam tanaman akan menjadi inhibitor pembentukan enzim kemudian akan menghambat proses metabolisme tanaman, yang meliputi proses respirasi yang nantinya akan menghasilkan ATP yang digunakan untuk fotosintesis, kemudian hasil fotosintesis akan digunakan untuk pembelahan sel (tinggi, jumlah dan biomassa) dan reproduksi akan terganggu. Apabila ini terjadi terus menerus dalam jangka waktu panjang akan menyebabkan menurunnya kualitas pertumbuhan tanaman akar wangi dan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu. Menurut Priyanto dan Prayitno (2007) logam berat yang masuk ke dalam tanaman akan berikatan dengan unsur hara lain dan mengalami imbobilisasi ke bagian tanaman tertentu dan tidak dapat diedarkan ke seluruh tanaman karena telah mengalami proses detoksifikasi (penimbunan pada organ tertentu) sehingga tanaman masih dapat tumbuh dan unsur hara yang diperlukan tanaman masih mampu untuk mensuplai pertumbuhan tanaman meskipun tercemar logam berat Pb. Salah satu unsur hara yang dapat dijadikan contoh dalam proses KTK adalah unsur hara K. Rohyanti et al., (2011) menyatakan bahwa unsur K berperan dalam mendukung pertumbuhan tanaman, yaitu unsur K berperan dalam hal fotosintesis tanaman. Proses fotosintesis tanaman akan menghasilkan karbohidrat, protein dan senyawa organik lainnya. Senyawa-senyawa yang dihasilkan dipergunakan dalam proses pembelahan dan pembesaran atau diferensiasi sel-sel tanaman. Berlangsungnya pembelahan dan perpanjangan sel-sel tanaman akan memacu pertumbuhan pada tunas-tunas pucuk tanaman dan akhirnya akan mendorong terjadinya penambahan tinggi tanaman, jumlah daun dan biomassa tanaman. Dengan demikian peranan unsur hara K dalam menunjang pertumbuhan sangat penting, sehingga jika logam berat Pb yang tersedia lebih bayak maka akan menghambat proses penyerapan unsur K dalam tanah. Seperti yang diterangkan oleh Silaban et.al (2013), bahwa kandungan unsur K rendah dan logam berat Pb sangat tinggi menyebabkan konsentrasi unsur hara dalam tanah tidak seimbang. Pb yang tinggi akan menyebabkan proses penyerapan unsur hara oleh tanaman akan mengalami perbedaan karena jumlah kation Pb dalam tanah lebih banyak dibandingkan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Dwidjoseputro (1998) menyatakan bahwa suatu tanaman akan tumbuh baik dan subur apabila semua unsur hara yang dibutuhkan berada dalam jumlah yang cukup dan tersedia bagi tanaman. Lingga dan Marsono (1999) juga mengemukakan jika unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia dalam jumlah yang cukup, maka hasil metabolisme seperti sintesis biomolekul akan meningkat. Hal ini menyebabkan pembelahan sel, pemanjangan dan pendewasaan jaringan menjadi lebih sempurna dan cepat, sehingga pertambahan volume dan bobot semakin cepat yang pada akhirnya pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Berdasarkan uraian di atas, bahwa akar wangi dari Cibaliung yang mengalami pertumbuhan lebih lambat dibandingkan dengan akar wangi dari Tanjungsari disebabkan karena adanya akumulasi logam berat Pb dalam jaringan sehingga menghambat proses metabolisme tanaman yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan. Berdasarkan analisis regresi kuadratik, diperoleh persamaan regres
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks