BENARKAH TEKNOLOGI RUANG UNTUK LAKI-LAKI?

Please download to get full document.

View again

of 44
35 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
No. 146 Maret - April KONDISI DUNIA PENELITIAN DI INDONESIA BENARKAH TEKNOLOGI RUANG UNTUK LAKI-LAKI? 2017: TAHUN ADVOKASI PROGRAM MAMPU-BaKTI BANGGA PAPUA: MENYUSUN STRAKOM LEWAT
Document Share
Document Transcript
No. 146 Maret - April KONDISI DUNIA PENELITIAN DI INDONESIA BENARKAH TEKNOLOGI RUANG UNTUK LAKI-LAKI? 2017: TAHUN ADVOKASI PROGRAM MAMPU-BaKTI BANGGA PAPUA: MENYUSUN STRAKOM LEWAT ASSESSMENT Editor M. YUSRAN LAITUPA ZUSANNA GOSAL VICTORIA NGANTUNG ITA MASITA IBNU Events at BaKTI SHERLY HEUMASSE Smart Practices & Info Book SUMARNI ARIANTO Database Kontak Design & layout Editor Foto INDINA ISBACH FRANS GOSALI Redaksi Jl. H.A. Mappanyukki No. 32 Makassar 90125, Sulawesi Selatan - Indonesia Telp , Fax atau SMS BaKTINews , , Facebook BaKTINews adalah media pertukaran pengetahuan tentang pembangunan di Kawasan Timur lndonesia. Tujuan BaKTINews adalah mempromosikan praktik cerdas pembangunan dari berbagai daerah di Kawasan Timur Indonesia agar dapat diketahui oleh khalayak luas dan menginspirasi pelaku pembangunan di berbagai daerah dalam upaya menjawab berbagai tantangan pembangunan. BaKTINews terbit setiap bulan dalam dua bahasa, Indonesia dan lnggris, untuk memudahkan pembaca dalam mendapatkan informasi pembangunan dari Kawasan Timur Indonesia. BaKTINews disirkulasi melalui pos kepada pembaca dengan target utama adalah para pelaku pembangunan yang berdomisili di daerah kepulauan dan daerah terpencil. Tidak dikenakan biaya apapun untuk berlangganan BaKTINews agar lebih banyak masyarakat yang dapat mengakses informasi pembangunan melalui majalah ini. Selain dalam bentuk cetak, BaKTINews juga dapat diakses di website BaKTI: dan dikirimkan melalui kepada pelanggan yang dapat mengakses internet. BaKTINews dikelola oleh Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI). Seluruh artikel BaKTINews adalah kontribusi sukarela para pelaku pembangunan dari berbagai kalangan dan daerah yang ingin berbagi pengetahuan dengan khalayak luas. BaKTINews is a knowledge exchange media platform for development issues in eastern Indonesia. BaKTINews aims to promote development smart practices from different regions in eastern Indonesia so that the practices become known to a wider audience and inspire development stakeholders in other regions in their efforts to answer development challenges. BaKTINews is published monthly in two languages, Indonesian and English, to facilitate readers who don't understand indonesian to gain a better understanding of development in eastern Indonesia. BaKTINews is sent by post to readers and rhe main target is development stakeholders living in isolated regions and island regions. BaKTINews is provided free of charge so the development community can access relevant development information easily. BaKTINews is also provided in an electronic version that can be accessed on and can be sent electronically to subscribers with internet access. BaKTINews is managed by the Eastern Indonesia Knowledge Exchange (BaKTI). All articles are contributed voluntarily by development stakeholders from different areas in eastern Indonesia who wish to share their information with a wider audience. BERKONTRIBUSI UNTUK BaKTINews BaKTINews menerima artikel tentang kemajuan pembangunan, pembelajaran dari suatu kegiatan, praktik cerdas pembangunan, hasil-hasil penelitian yang dapat diaplikasikan, dan teknologi tepat guna dari berbagai daerah di Kawasan Timur Indonesia (Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua). Panjang artikel adalah kata,menggunakan Bahasa Indonesia maupun lnggris, ditulis dengan gaya populer. Foto-foto penunjang artikel sangat dibutuhkan. Tim editor BaKTINews akan melakukan edit terhadap setiap artikel yang akan dimuat untuk kesesuaian tempat dan gaya bahasa. Redaksi BaKTINews tidak memberikan imbalan kepada penulis untuk setiap artikel yang dimuat. BaKTINews accepts articles about development programs, lessons learnt from an activity, development smart practices, research results that can be applied, and applied technology from different stakeholders and regions in eastern Indonesia (Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, and Papua). Articles should be 1,000-1, 100 words, in either Indonesian or English, and written in a popular style. Articles should also be sent with photos that illustrate the article. The editors of BaKTINews will edit every article for reasons of space and style. BaKTINews does not provide payment to writers for articles. MENJADI PELANGGAN BaKTINews Subscribing to BaKTINews Untuk berlangganan BaKTINews, silahkan mengirimkan data diri anda (organisasi, posisi, nomor HP, alamat ) lengkap dengan alamat lengkap yang disertai dengan kode pos melalui Bagi yang berdomisili di Makassar, Anda dapat mengambil BaKTINews di Display Corner Gedung BaKTI pada setiap hari kerja. To subscribe to BaKTINews please send us your full contacts details (including organization. position, HP number and address) with full postal address to For those living in Makassar, please stop by the BaKTI office and pick up your copy from the display corner from Monday to Friday. Daftar Isi Maret - April 2018 No Kondisi Dunia Penelitian di Indonesia Oleh SCHOLASTICA GERINTYA : Tahun Advokasi Program MAMPU-BaKTI Oleh M. GHUFRAN H. KORDI K. 5 Perempuan Papua, Deforestasi dan Kekerasan 25 Menjemput Harapan di Bastem Utara Oleh ANDRE BARAHAMIN Oleh M. YUSUF WEANDARA Kajian Tipologi Kemiskinan (Bagian 2) Oleh AGUSSALIM Meningkatkan Kualitas Pendidikan Dasar Melalui Manajemen Berbasis Sekolah Oleh N. J. TANGKEPAYUNG Sinergi Untuk Memperkuat Komitmen Penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Jayapura Oleh N. J. TANGKEPAYUNG Benarkah Teknologi Ruang untuk Laki-laki? Oleh ANDI MISBAHUL PRATIWI Lakukan Sesuatu untuk Menghentikan Gaya Menulis Cabul Oleh MUGNIAR MARAKARMA BANGGA Papua: Menyusun Strakom Lewat Assessment Melestarikan Hutan Alam di Gorontalo dengan Restorasi Ekosistem Kegiatan di BaKTI Info Buku Foto Cover : Stevent Febriandy/Yayasan BaKTI Foto : Musfarayani/Yayasan BaKTI Ilustrasi : Frans Gosali (Repro) KONDISI DUNIA PENELITIAN DI INDONESIA Oleh SCHOLASTICA GERINTYA Indonesia menempati peringkat 45 untuk jumlah dokumen yang terpublikasi internasional. Gross Domestic Expenditure on Research and Development (GERD) per PDB Indonesia hanya 0,085 persen, jauh tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya. 1 Riset di Indonesia masih tertinggal, tapi seberapa tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya? iset sangat penting dalam perkembangan R k e h i d u p a n d a n peradaban. Melalui r i s e t, b e r b a g a i p e n g e t a h u a n b a r u bermunculan, rentetan teknologi baru terus dikembangkan. Berbagai kendala dan persoalan yang dihadapi umat manusia amat mungkin ditemukan jawabannya melalui riset. Bagaimana Kondisi Dunia Penelitian di Indonesia? Berdasarkan data SCImago, sepanjang , jumlah publikasi terindeks global Indonesia mencapai publikasi. Bila dibandingkan Singapura, Thailand, dan Malaysia, peringkat Indonesia masih jauh berada di bawah ketiga negara ASEAN itu. Pada 2016, di tingkat dunia, Indonesia menempati peringkat 45 untuk jumlah dokumen yang terpublikasi internasional. Di kawasan Asia, posisi Indonesia berada di urutan 11, sementara di tingkat ASEAN peringkat keempat. Selain itu, tren jumlah dokumen publikasi di Singapura, Thailand, Malaysia, dan Indonesia terus meningkat. Mulai 2010, Malaysia menggeser posisi Singapura ke peringkat kedua. Te r ka i t d okumen ya n g te r p u blika si d i Indonesia, jumlahnya meningkat menjadi 46,41 persen ( publikasi) jika dibandingkan publikasi pada Kendati naik, angka ini masih jauh bila dibandingkan Singapura ( publikasi) dan Malaysia ( publikasi). Menariknya, jumlah citation atau kutipan mengalami tren penurunan sejak Selain itu, meski Malaysia berada di peringkat pertama dalam jumlah dokumen yang terpublikasi, tetapi bila dilihat dari jumlah citation, Malaysia berada di peringkat kedua ( kutipan) setelah Singapura ( kutipan) pada Thailand berada di peringkat ketiga ( kutipan) dan Indonesia keempat (4.604 kutipan). Selain publikasi, cara lain untuk melihat posisi dan kontribusi riset adalah jumlah paten yang dihasilkan. Bersumber dari United States Patent and Trademark Office, hingga 2015, total paten Indonesia yang terdaftar pada Kantor 2 0,114% 0 Publikasi Internasional Indonesia dan Beberapa Negara ASEAN Perbandingan Jumlah Paten Ind dengan Beberapa Negara ASEA Indonesia Malaysia Thailand Singapura Indonesia Malaysia Thailand Singapura Indonesia Malaysia Thailand Singapura Indonesia Malaysia Thailand Singapura Indonesia Malaysia Thailand Singapura Singapura Malaysia Sumber : SCImago Sumber : UPSTO Jumlah Peneliti di Indonesia Rasio Pengeluaran Penelitian Pengembangan Terhadap PD ,159% 2,000% Singapura Filipin Sumber : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Sumber : UIS Data Ce Keterangan: Jumlah peneliti di seluruh pejabat fungsional peneliti dari seluruh Kementerian/LPNK di Indonesia Paten Amerika berjumlah 333. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan negara ASEAN lainnya, seperti Singapura ( paten), Malaysia (2.690 paten), dan Thailand (1.043 paten). Tidak hanya tertinggal, pertumbuhan paten Indonesia juga menunjukkan tren yang stagnan sejak R e n d a h n y a j u m l a h d o k u m e n y a n g terpublikasi secara internasional, salah satunya, disebabkan sedikitnya jumlah peneliti di Indonesia. Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2017 menunjukkan peneliti di Indonesia (hanya) berjumlah orang. Angka tersebut merupakan jumlah peneliti di seluruh pejabat fungsional peneliti d a r i s e l u r u h K e m e n t e r i a n / L e m b a g a Pemerintah NonKementerian (LPNK) di Indonesia. Memang ada tren kenaikan kuantitas sejak Pada 2010 jumlah peneliti di Indonesia mencapai orang, pada 2012 berjumlah orang. Angka terus meningkat menjadi orang pada Meski jumlahnya terus bertambah, jumlah ini masih terbilang sedikit dibandingkan negara di kawasan ASEAN. Sebab, rasio jumlah peneliti dengan jumlah penduduk di Indonesia adalah 90 peneliti berbanding 1 juta penduduk. Misalnya saja, rasio jumlah peneliti dengan jumlah penduduk di Singapura adalah lebih dari 7000 ribu peneliti per satu juta penduduk. Sedangkan Malaysia sebanyak peneliti 3 onesia N 18 dan B,138% a 696 ntre, ,083% 0,085% Indonesia Thailand Philipina Indonesia per satu juta penduduk. Sementara di Indonesia, rasionya sebesar peneliti per satu juta penduduk. Faktor penting lainnya adalah anggaran riset. Negara-negara dengan perekonomian maju memiliki komitmen tinggi untuk berinvestasi dalam riset. Mereka percaya riset berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Bentuk komitmen ini dilihat dari rasio pengeluaran penelitian dan pengembangan terhadap PDB atau Gross Expenditure on Research and Development(GERD). Negara-negara dengan komitmen yang tinggi terhadap riset, berdasarkan data 2013, adalah Korea Selatan (4,1 persen), Jepang (3,5 persen), dan Finlandia (3,3 persen). Di tingkat ASEAN, yang memiliki rata-rata GERD per PDB tinggi adalah Singapura (2,0 persen) dan Malaysia (1,1 persen). Sementara itu, GERD per PDB Indonesia belum mencapai angka 1 persen hanya sebesar 0,085 persen dan jauh tertinggal dibandingkan GERD dunia. Di satu sisi, komposisi belanja penelitian dan pengembangan (litbang) di Indonesia pun masih didominasi pemerintah. Dengan kata lain, perlu dorongan agar proporsi sektor swasta atau bisnis dalam penelitian dan pengembangan dapat meningkat. Anggaran yang kecil, rendahnya jumlah peneliti, dan sedikitnya publikasi ilmiah juga berdampak pada rendahnya daya saing universitas-universitas Indonesia di tingkat dunia. Mengacu daftar yang dibuat Times Higher Education, dua universitas Indonesia, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI), berada di peringkat lebih dari 800. Di Asia, ITB menempati urutan dan UI lebih dari 251. Sementara itu, merujuk pada data QS Ranking, peringkat UI di dunia adalah 325 dan ITB adalah Dari data yang sama, di tingkat Asia, UI menempati urutan ke 67 dan ITB ke 86. Tampak korelasi positif antara jumlah publikasi ilmiah, besaran anggaran, dan jumlah peneliti dengan peringkat universitas. Universitas dengan negara-negara yang berkomitmen tinggi dalam hal riset masuk dalam peringkat 50 besar dunia. Misalnya saja Singapura. Berdasarkan daftar QS tingkat dunia, National University of Singapore menempati urutan 12 dan Nanyang Technological University ke 13. Sementara di Asia, National University of Singapore menempati posisi pertama dan Nanyang Technological University peringkat ke 3. Paparan data di atas menunjukkan dunia riset Indonesia masih harus banyak dibenahi. B u k a n h a nya p e m e r i nt a h, t e t a p i j u ga keterlibatan sektor swasta. Peningkatan a n g ga ra n m e n j a d i h a l p e n t i n g u n t u k meningkatkan jumlah penelitian dan publikasi ilmiah. Selain itu, belum nyambungnya hasil riset dengan kebutuhan industri juga menjadi persoalan yang memerlukan solusi. Hal lain adalah pentingnya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya riset yang belum optimal, seperti anggaran, fasilitas riset, dan peneliti. Semua hal ini perlu dibarengi dengan meningkatkan budaya dan literasi ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa Indonesia. INFORMASI LEBIH LANJUT Tulisan ini bersumber dari laman tirto.id dan dapat dibaca pada tautan Reporter : Scholastica Gerintya 4 Perempuan Papua, Deforestasi dan Kekerasan Oleh ANDRE BARAHAMIN 5 Foto : Dok. Yayasan BaKTI K a m i b e r h a r a p, pelatihan seperti ini t i d a k b e r h e n t i. Yuliana Akubar, salah satu tokoh perempuan d a r i S u b - s u k u Sarakwari, membaca l a n t a n g k e r t a s ekspektasi yang ada di tangannya. Dapat terus dilanjutkan di masa depan. Ia tidak sendiri. Meski struktur kalimatnya berbeda, namun narasi inti mereka serupa. Berharap bahwa ini baru saja memulai. Mungkin harapan mereka sudah melaju lebih dulu ke masa depan. Baru kali ini, kami mamamama tidak cuma berada di dapur untuk menyiapkan konsumsi. Kali ini tugas bapabapa. Ini giliran mama-mama untuk pake baju bagus dan ikut kegiatan. Semua konsumsi rasanya tidak hancur, kata Fitria Yoweni kepada saya sembari tertawa. Perempuan ini sejak awal adalah salah satu yang paling aktif terlibat dalam berbagai ragam pertemuan Suku Besar Yerisiam. Ia berkali-kali memainkan peran penting sebagai koordinator konsumsi. Tidak apa-apa kalau anak-anak ikut juga kan? ia bertanya. Saya mengangguk. Di atas balai adat yang berbentuk rumah p a n g g u n g, a d a s e k i t a r 1 2 b a l i t a ya n g menggelayut di pangkuan ibu mereka. Beberapa lagi yang berumur antara enam hingga delapan tahun tampak hilir mudik dan sesekali mengambil alat peraga. Mereka menjadi peserta tambahan yang sudah diprediksi sejak awal. Suasana ramai sekali. Siang itu, Jumat, 10 November 2017, adalah hari pertama dari dua hari rangkaian lokalatih 6 yang diprakarsai Yayasan PUSAKA bekerja sama dengan Suku Besar Yerisiam Gua. Pelatihan tersebut direncanakan berlangsung selama dua hari di Balai Pertemuan Adat, Suku Besar Yerisiam Gua di Kampung Sima, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire. Senin, 13 November nanti, pertemuan akan dilanjutkan lagi. Pendeta Magdalena Kafiar, dari KPKC GKI Papua, bertindak sebagai fasilitator di hari pertama. Ia memandu para perempuan Yerisiam untuk mendapatkan pemahaman dasar mengenai peran dan hak-hak perempuan di dalam keluarga, di dalam suku dan sebagai warga kampung. Ini adalah kegiatan pertama yang secara spesifik menyasar perempuan dari Suku Besar Yerisiam Gua sebagai kelompok penerima manfaat. Tidak heran, animo para perempuan untuk ikut serta begitu tinggi. Ditargetkan melibatkan sekitar 25 orang perempuan, kegiatan ini diikuti oleh 30 orang perempuan di hari pertama dan bertambah 3 orang lagi di hari berikutnya. Mereka mewakili empat sub-suku di dalam Suku Besar Yerisiam Gua. Yerisiam Gua adalah salah satu contoh bagaimana kehadiran program pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya alam berskala besar di tanah Papua, telah menimbulkan beragam masalah sosial budaya, ekonomi, h u k u m d a n l i n g k u n g a n. K e d a t a n g a n p e r u s a h a a n p e r ke b u n a n ke l a p a s aw i t mengubah drastis corak produksi dan relasi sosial budaya di masyarakat. Kami dulu tidak perlu jalan jauh masuk hutan untuk ambil daun pandan. Ada banyak di dekat kampung. Tapi sekarang, karena hutan sudah habis ditebang untuk kelapa sawit, mau buat tikar saja susah. Harus jalan jauh. Dorkas Numberi memamerkan daun pandan hutan yang sudah dikeringkan. Berukuran selebar jemari tangan yang dibariskan rapat. Nantinya, daun pandan hutan kering ini akan diiris menurut ukuran yang diinginkan sebelum dianyam menjadi tikar atau ragam kerajinan lain. Masyarakat adat Papua (laki-laki dan perempuan) yang sebelumnya hidup sangat bergantung pada sumber daya alam dengan pengelolaan berdasarkan pengetahuan dan kebutuhan masyarakat setempat, terpaksa atau dipaksa berubah. Mereka akan tergilas jika enggan mengikuti pengetahuan dan budaya ekonomi baru, sistem kerja dan tata organisasi modern yang dikendalikan pemilik modal dan berdasarkan hukum-hukum negara. Nanti bisa jadi tikar, bisa jadi noken, bisa jadi tempat simpan pinang dan sirih. Pokoknya bisa jadi macam-macam. Yang penting ada model. Nanti boleh ditiru, kata Yakomina Maniburi. Satu lembar tikar pandan dengan ukuran lebar dan panjang matras karet para pendaki gunung dijual hanya Rp Tapi bisa kurang. Ini bukan harga pas. Perempuan itu tersenyum. G i g i nya t a m p a k m e ra h ka re n a s e d a n g mengunyah pinang. Yerisiam Gua, seperti suku-suku asli Papua lain yang berdiam di daerah pesisir pantai dan bantaran sungai, mewarisi dari leluhurnya keahlian untuk memanfaatkan daun pandan, rotan, atau beragam kulit kayu sebagai bahan dasar kerajinan dan peralatan penunjang aktivitas lain. Mereka mampu membuat cawat dan selimut kulit kayu, atau kantong kedap air hujan untuk menyimpan korek yang dibuat dari kulit pohon Nibung. Namun deforestasi mengharuskan mereka beradaptasi. Kehilangan hutan dan tanah dalam waktu yang cepat mengakibatkan suku-suku asli Papua mesti mengganti mata pencaharian. Juga mengganti pola hidup. Artinya, mereka dipaksa untuk menjadi sesuatu yang berbeda dari pengetahuan yang diwariskan turun temurun. Diharuskan mempelajari sesuatu yang baru dengan sembari berpacu degan waktu yang berlari kencang. Mereka dipaksa untuk menjadi sesuatu yang berbeda dari pengetahuan yang diwariskan turun temurun. M e r e k a j u g a b e r h a d a p a n d e n g a n berkurangnya pendapatan yang mempengaruhi kemampuan dan kualitas konsumsi pangan. Hal ini masih diikuti dengan melemahnya akses terhadap pendidikan dan persoalan terkait pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Waktu kerja di kelapa sawit, cari waktu untuk tokok sagu susah sekali. Kerja dari pagi sampai malam. Akhirnya gaji cuma habis beli beras. Anak-anak akhirnya jadi macam malas mau makan sagu, tutur Selina Marariampi. perubahan juga mendatangkan ketegangan dan konflik. Potensi konflik antara penduduk setempat dan penduduk dari luar yang baru 7 datang, juga konflik dengan pihak perusahaan dan pemerintah. Perusahaan menggusur habis rumpun-rumpun daun pandan. Dorkas Numberi merapikan buku dan pulpen ke dalam noken miliknya. Malam sudah larut. Pertemuan hari pertama baru saja berakhir. Waktu sudah hampir jam sepuluh malam. Tidak ada yang peduli dengan itu. Apalagi bapak-bapak. Mereka cuma tahu saja sudah ada tikar. Tapi tidak sadar bahwa pandan hutan itu sudah bahan utamanya. Pas digusur, banyak yang bilang tidak apa-apa, Nanti bisa tumbuh lagi. Wajahnya tampak kelelahan. Campuran antara rasa lelah seharian belajar dan rasa kesal karena kehilangan hutan. Ia benar. Problem mengenai keberadaan sumber bahan dasar untuk kerajinan tangan sering luput dari meja diskusi dan aksi praksis. Narasi tentang deforestasi terlalu melayang di ruang hampa karena gagal mengakar pada kenyataan. Padahal kami mama-mama yang paling rugi hutan ini habis. Tidak bisa lagi bikin buah tangan, kata Fitri Yoweni. Di antara rentetan konflik tersebut, kaum perempuan memang menjadi kelompok yang paling rentan. Perempuan mengalami dan menjadi korban kekerasan dan diskriminasi d a r i p e r u b a h a n - p e r u b a h a n t e r s e b u t. Perempuan kemudian tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan hak a
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks