bahan validasi 1.pdf

Please download to get full document.

View again

of 10
0 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Download bahan validasi 1.pdf
Document Share
Document Transcript
  3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.   Penelitian Terdahulu Meka et al   (2014) dalam penelitiannya melakukan validasi metode KCKT untuk estimasi metformin HCl dan propranolol HCl dalam plasma dengan detektor PDA (  Photo Diode Array ) panjang gelombang 232 nm, kecepatan alir 0,8 mL/menit, menggunakan kolom C18 fase terbalik dengan panjang kolom 300 X 3,9 mm dengan ukuran partikel 5 µm, fase gerak yang digunakan adalah campuran dapar fosfat 0,1 M pH 4,5 dan asetonitril dengan  perbandingan 60:40 (v/v). Validasi yang dilakukan meliputi spesifisitas dengan hasil, metformin HCl dan propanolol HCl terpisah dengan baik dan  puncak tidak dipengaruhi oleh senyawa endogen dengan waktu retensi masing-masing yaitu 9,084 menit dan 6,132 menit. Rata-rata recovery  metformin HCl dan propranolol HCl lebih dari 99%. Presisi dilakukan intra dan inter-day dengan hasil koefisien variasi kurang dari 1,56%. Linearitas dilakukan pada rentang konsentrasi 50-2000 ng/mL dan dihasilkan nilai r  2  sebesar 0,998 untuk metformin hidroklorida dan 0,999 untuk propranolol hidroklorida.  Lower Quantification Limit (LOQ) metformin hidroklorida dan  propranolol hidroklorida yang diperoleh masing-masing yaitu 45 dan 50 ng/mL sedangkan  Limit Of Detection  (LOD) yang didapatkan masing-masing adalah 15 dan 30 ng/mL. Stabilitas metformin HCl dan propranolol HCl dalam plasma dilihat dengan siklus beku-cair selama 30 hari yaitu sampel stabil pada kondisi tersebut. Menurut Meka et al   (2014), metode yang dilakukan dapat digunakan untuk monitoring kadar obat dalam plasma.   Validasi Metode Analisis…, Agnes Putri Wiradiningrum, Fakultas Farmasi, UMP, 2017  4 B.   Landasan Teori 1.   Metformin HCl Gambar 2. 1 Rumus struktur metformin HCl (Keshari et al, 2015) Metformin umumnya dalam bentuk metformin HCl yang memiliki nama IUPAC N,N-dimetilimidodikarbonimidik diamida hidroklorida dengan berat molekul sebesar 165,6 g/mol, mengandung tidak kurang dari 98,5% dan tidak lebih dari 101,0% C 4 H 11  N 5 .HCl dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Metformin HCl merupakan serbuk hablur berwarna putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau, sifatnya higroskopik. Kelarutannya mudah larut di dalam air,  praktis tidak larut dalam eter dan kloroform, sukar larut dalam etanol (Depkes RI, 1995). Metformin memiliki dua konstanta disosiasi, yang mana nilai pKa (32 ºC) yaitu 11,5. Spektrum absorpsi ultraviolet dari metformin hidroklorida pada konsentrasi 0,01 mg/mL yang dilarutkan dalam air diukur dari 210 sampai 350 nm didapatkan panjang gelombang maksimum 233 nm (Bretnall dan Clarke, 1998). Gambar 2. 2 Spektrum absorpsi UV dari metformin HCl (Bretnall dan Clarke, 1998) Salah satu pengembangan yang sudah dilakukan adalah Werdana (2016) yang meneliti formulasi tablet  floating metformin HCl dengan eksipien HPMC K4M Validasi Metode Analisis…, Agnes Putri Wiradiningrum, Fakultas Farmasi, UMP, 2017  5 CR dan natrium bikarbonat untuk mendapatkan perbandingan HPMC K4M CR dengan natrium bikarbonat untuk membuat tablet  floating   metformin HCl. Formulasi tablet  floating   metformin HCl ditujukan untuk membuat sediaan lepas terkendali yang didesain dapat tertahan dalam lambung tanpa adanya pengaruh  pengosongan lambung. Sistem  floating   adalah salah satu metode untuk mempertahankan tablet pada lambung dengan cara melayang di atas cairan lambung dan tidak ikut terbawa menuju usus halus. Menurut Werdana (2016) komposisi tablet  floating metformin HCl terbaik adalah dengan jumlah HPMC K4M CR 187,50 mg dan natrium bikarbonat 126,36 mg untuk setiap tablet. Hal tersebut karena HPMC K4M CR dan natrium bikarbonat memiliki pengaruh pada sifat alir dan kemampuan mengapung tablet (F lag time ) yang ditandai dengan meningkatnya jumlah natrium bikarbonat maka kecepatan alir dan kecepatan kemampuan mengapung (F lag time ) juga meningkat sedangkan meningkatnya HPMC K4M CR akan meningkatanya durasi mengapung dan memperlambat  pelepasan obat saat proses disolusi.  2.   Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan suatu teknik pemisahan untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam sampel. Metode KCKT tidak destruktif dan dapat digunakan untuk analisis kualitatif atau kuantitatif. Keterbatasan dalam teknik ini adalah jika sampel yang digunakan sangat kompleks maka sulit untuk memperoleh resolusi yang baik dan untuk identifikasi senyawa kecuali KCKT yang dihubungkan dengan spektrometer massa (MS) (Gandjar dan Rohman, 2007). Putra (2004) menyatakan bahwa kelebihan KCKT dibanding metode lainnya yaitu dapat memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran, memiliki kepekaan dan kecepatan analisis yang tinggi, serta resolusi yang baik, kolom dapat digunakan kembali, dalam melakukan  sample recovery  mudah, dan terjadinya dekomposisi atau kerusakan bahan yang dianalisis dapat dihindari. Menurut Gandjar dan Rohman (2007), banyaknya fase diam yang ada dan selektifitas yang dapat ditingkatkan dengan cara mengatur fase gerak maka hampir semua jenis campuran solut dapat dipisahkan menggunakan KCKT. Validasi Metode Analisis…, Agnes Putri Wiradiningrum, Fakultas Farmasi, UMP, 2017  6 Pemisahan tersebut dapat dilakukan menggunakan fase normal atau fase terbalik tergantung polaritas relatif dari fase diam dan fase gerak sehingga berdasarkan  pemisahan tersebut seringkali KCKT dibagi menjadi dua kelompok yaitu KCKT fase normal dan KCKT fase terbalik. Berdasarkan sifat fase diam dan atau  berdasarkan mekanisme sorpsi solut memberikan jenis KCKT lebih spesifik antara lain:   a.   Kromatografi adsorbsi, fase yang digunakan biasanya fase normal menggunakan fase diam silika gel dan alumina yang memiliki gugus hidroksi dan akan berinteraksi dengan solut. Pada silika, gugus silanol memiliki reaktifitas berbeda, jika solut terikat secara kuat dapat menyebabkan puncak yang berekor ( tailing  ). Fase gerak yang digunakan untuk fase diam silika gel dan alumina adalah pelarut non polar yang ditambah dengan pelarut polar untuk meningkatkan kemampuan pada elusi sehingga pengekoran puncak tidak muncul (Gandjar dan Rohman, 2007).  b.   Kromatografi partisi yang dapat disebut dengan kromatografi terikat. Fase diam yang digunakan adalah silika yang dimodifikasi baik secara kimiawi atau fase terikat, yang banyak digunakan adalah oktadesilsilan (ODS atau C 18 ) dengan pemisahan fase terbalik. Fase gerak yang digunakan yaitu campuran metanol atau asetonitril dengan air atau larutan bufer (Gandjar dan Rohman, 2007). c.   Kromatografi penukar ion, menggunakan fase diam yang dapat menukar kation atau anion dengan suatu fase gerak yang paling luas dalam  penggunaannya adalah polistiren resin. Kebanyakan pemisahan dilakukan menggunakan air atau pelarut campuran seperti air-alkohol (Gandjar dan Rohman, 2007). d.   Kromatografi eksklusi ukuran yang dapat disebut kromatografi permiasi gel dapat memisahkan atau menganalisis senyawa berat molekul >2000 dalton. Fase diam yang digunakan berupa silika atau polimer yang memiliki sifat  porus (Gandjar dan Rohman, 2007). Komponen-komponen KCKT dapat dilihat pada gambar 2.2. Validasi Metode Analisis…, Agnes Putri Wiradiningrum, Fakultas Farmasi, UMP, 2017
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks