bahan proposal 2.pdf

Please download to get full document.

View again

of 3
20 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
6 Artikel “Kerja Tahun” Tradisi pada Masyarakat Karo Junita Setiana Ginting Staf Pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra USU Masyarakat dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Keduanya saling mendukung agar tetap bertahan dan berkembang. Kebudayaan membutuhkan masyarakat sebagai pendukung keberadaannya. Masyarakat
Document Share
Document Transcript
     Artikel HISTORISME JUNITA SETIANA GINTING Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007  6 “Kerja Tahun” Tradisi pada Masyarakat Karo Junita Setiana Ginting Staf Pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra USU  Masyarakat dan kebudayaan merupakan dua hal yang tidak terpisahkan.  Keduanya saling mendukung agar tetap bertahan dan berkembang.  Kebudayaan membutuhkan masyarakat sebagai pendukung keberadaannya. Masyarakat membentuk kebudayaan sebagai hasil pemikiran dan upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan. Tidak terkecuali dengan kehidupan masyarakat Karo dengan variasi tradisinya. Pendahuluan Tradisi adalah merupakan salah satu kekayaan budaya. Hal ini terutama melihat pada keberadaan suku-suku seperti di Indonesia, terutama yang tumbuh di  pedesaan. Ia terbentuk sesuai lingkungan alam dan sosial tempatnya berkembang. Tradisi berjalan dalam proses waktu sesuai faktor-faktor yang mendasari  pelaksanaannya. Sebagian tradisi menjadi terkikis dan hilang, namun ada pula yang tetap bertahan walaupun dalam suatu proses adaptasi terhadap situasi dan kondisi yang  berlangsung. Soejito (1987: 4) melihat tradisi dari konsep “ Social Heritage ” yaitu dipertahankannya beberapa unsur pokok  budaya karena merupakan pola tingkah laku yang dimiliki masyarakat. Sedangkan Brutu (1998: 2) menyatakan tradisi dari setiap kelompok sesungguhnya tidak ada yang tetap dan baku. Selalu ada perubahan akibat faktor dari dalam dan luar masyarakat. Hal ini dilihat dari pergeseran, perubahan atau  pengurangan unsur-unsur tradisi. Salah satu tradisi yang terdapat pada masyarakat Karo yaitu “kerja tahun”. Apa sesungguhnya kerja tahun tersebut dan mengapa penulis mengatakan sebagai tradisi yang tetap bertahan. Pengertian Kerja Tahun Masyarakat Karo adalah masyarakat  pedesaan yang sejak dahulu mengandalkan titik perekonomiannya pada bidang pertanian. Tanaman padi adalah salah satu tanaman  penting, yang selain mengandung makna ekonomi juga memiliki keterkaitan terhadap unsur religi dan sosial. Panggilan khusus terhadap tanaman padi yaitu Siberu  Dayang   menunjukkan penghargaan tersebut. Selain sebagai bahan pangan pokok, kekuatan ekonomi juga merupakan lambang  prestise bagi masyarakat. Ukuran dan volume lumbung padi berpengaruh terhadap tolak ukur keberadaan seseorang. Maka agar hasil yang diperoleh cukup memuaskan, semua proses penanaman dari awal hingga akhir harus diberikan  penghargaan dan disyukuri dengan harapan mencapai hasil yang baik. Pada masa lalu proses penanaman  padi dilakukan setahun sekali. Proses awal hingga akhir membutuhkan upacara agar  berhasil dengan baik. Hal ini sesuai dengan magis animistis pada masyarakat yang menganut ajaran  Pemena . Upacara-upacara tersebutlah yang mendasari terselenggaranya kerja tahun pada masyarakat Karo. Kerja tahun dapat diartikan sebagai  pesta yang diselenggarakan masyarakat setahun sekali. Kata “kerja” bermakna pesta dalam bahasa Karo. Kerja tahun ini  berdasarkan pada kegiatan pertanian tanaman  padi. Terdapat perbedaan pelaksanaan pada  beberapa daerah, di mana masing-masing lebih memfokuskan pada fase tertentu dari  pertumbuhan padi untuk merayakannya. Ada yang merayakan di masa awal  penanaman, pertengahan pertumbuhan, ataupun masa panen. Ginting (1999: 175-180), merumuskan nama kerja tahun di Karo sebagai berikut: 1.    Merdang Merdem Kerja tahun yang dilaksanakan saat dimulainya proses penanaman padi. Diawali dari penyemaian benih sampai ditanamkan di ladang ( merdang  ). Kerja tahun ini biasanya dilakukan di daerah Tiga Binanga dan Munthe. Universitas Sumatera Utara     Artikel HISTORISME JUNITA SETIANA GINTING Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007  7 2.    Nimpa Bunga Benih Sering juga disebut “ ngambur-ngamburi ”. Dilakukan ketika tanaman  padi sudah berdaun ( erlayuk, ersusun kulpah ), yaitu berusia sekitar dua  bulan. Hal ini biasa dilakukan di sekitar wilayah Kabanjahe, Berastagi, dan Simpang Empat. 3.    Mahpah Tradisi ini dilakukan ketika tanaman  padi mulai menguning. Pelaksanaan kerja tahun ini dilakukan di sekitar wilayah Barus Jahe dan Tiga Panah. 4.    Ngerires Kerja tahun dilaksanakan ketika padi telah dipanen, sebagai ucapan syukur atas hasil yang diterima. Pelaksanaan tradisi ini biasa dilakukan di daerah Batu Karang. Semua acara di atas dilakukan sesuai kepercayaan “  pemena ” dengan tata cara dan perlengkapan tertentu yang  berbeda di setiap fase dan daerah. Selain hal di atas, kerja tahun juga memiliki fungsi lain yaitu mempererat ikatan kekerabatan. Saat kerja tahun, seluruh anggota keluarga berkumpul, termasuk yang dari luar daerah. Hal ini dimanfaatkan untuk sarana  pulang kampung, mengunjungi para kerabat, melepas rindu, membicarakan hal-hal yang  penting di tengah keluarga, sarana perjodohan  putera dan puteri mereka juga untuk hiburan. Sejalan dengan perkembangan waktu, terjadi perubahan di tengah-tengah masyarakat. Perekonomian masyarakat yang bersifat pertanian subsistensi bergeser kepada tanaman yang berorientasi pada kebutuhan pasar. Tanaman padi sudah mulai jarang ditanam, digantikan dengan tanaman lain yang dianggap lebih menguntungkan. Selain itu terjadi sikap yang lebih rasional atas konsep-konsep yang  bersifat supranatural. Hal ini dipengaruhi oleh  penyebaran agama, pendidikan serta  perkembangan teknologi di tengah kehidupan masyarakat. Kontak dengan masyarakat lain, seperti pendatang yang bermukim ke daerah-daerah komonitas Karo, maupun transformasi masyarakat Karo menuju luar daerahnya turut mempengaruhi hal tersebut.  Namun tradisi kerja tahun tetap berjalan. Antusias masyarakat untuk menyelenggarakan kerja tahun tetap saja besar, walaupun membutuhkan persiapan waktu, biaya dan tenaga kerja. Antusias tersebut tidak hanya  pada masyarakat di desa namun juga yang sudah bermukim di luar. Hal ini terlihat  pada kenyataan bahwa acara ini tidak  pernah terlewatkan di setiap tahun serta tetap saja terjadi arus mudik masyarakat untuk menghadirinya. Mengapa kerja tahun mampu  bertahan, sementara konteks dan fungsi  primernya sendiri telah bergeser. Penulis menilai bahwa telah terjadi proses adaptasi di dalamnya, baik secara konteks fungsi dan tata cara pelaksanaan. Haviland (1999: 348) melihat adaptasi sebagai sesuatu yang mengacu pada pengertian tentang proses yang menyebabkan suatu organisme  berhasil menyesuaikan diri dengan baik  pada lingkungan yang ada. Masyarakat Karo seperti masyarakat lainnya tentu mengalami dinamika yang mangakibatkan terjadinya perubahan- perubahan. Kerja tahun sebagai tradisi yang merupakan kekayaan budaya masyarakat tetap dapat bertahan dalam artian bahwa  pelaksanaan yang tetap rutin dilaksanakan  pada setiap tahun. Namun sejalan dengan  perubahan dalam masyarakat, harus diyakini bahwa telah terjadi proses adaptasi terhadap kondisi-kondisi di atas. Sangat memungkinkan bahwa faktor ekonomi dan religi yang menjadi konteks dan fungsi  primer pelaksanaannya sudah bergeser  bahkan tidak ditemukan lagi dalam  pelaksanaan kerja tahun tersebut. Bahkan konteks dan fungsi lain yang sudah lebih dominan, seperti hiburan, prestise, dan sebagainya yang mewarnai pelaksanaannya. Penutup   Setiap masyarakat memiliki tradisi sebagai kekayaan budaya. Tradisi dapat terlaksana secara terus-menerus dan diwariskan antar generasi. Namun ada pula dari beberapa unsur tradisi yang mulai menghilang. Bertahannya pelaksanaan suatu tradisi disebabkan oleh keinginan atau kebutuhan masyarakat serta adanya kemampuan untuk beradaptasi terhadap situasi dan kondisi yang telah berlangsung. Universitas Sumatera Utara     Artikel HISTORISME JUNITA SETIANA GINTING Edisi No. 23/Tahun XI/Januari 2007  8Demikian pula dengan tradisi kerja tahun  pada masyarakat Karo. Walaupun dikatakan sebagai tradisi yang bertahan, karena dilihat dari rutinitas pelaksanaannya pada setiap tahun, namun secara makna dasar serta tata cara dan aturan pelaksanaan tradisi ini telah terjadi perubahan. Hal ini dipengaruhi oleh  berbagai faktor, baik intern maupun ekstern. Walaupun demikian kerja tahun adalah kegiatan budaya yang pantas untuk tetap terselenggara. Setidaknya demi menjaga mutu kekerabatan serta keterikatan terhadap kampung halaman. Bahkan jika dikembangkan lebih mendalam dapat menjadi suatu daya tarik sebagai modal  bagi pengembangan pembangunan daerah. Daftar Pustaka Brutu, Lister, dkk. 1998. Tradisi dan  Perubahan, Konteks Masyarakat  Pakpak Dairi,  Medan: Monora. Daeng, Hans. J. 2000.  Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologi,  Jogjakarta: Pustaka Pelajar. Ginting, E.P. 1999.  Religi Karo, Membaca  Religi Karo dengan Mata yang Baru,  Kabanjahe: Abdikarya. Haviland, A. William. 1999.  Antropologi,  jilid I,  Jakarta: Erlangga. Sitepu, Sempa, dkk. 1996.  Pilar Budaya  Karo, Medan: Percetakan Bali. Soejito, 1987.  Aspek Sosial Budaya dalam  Pembangunan Pedesaan, Yogyakarta: Tiara Wacana. Universitas Sumatera Utara
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks