BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di DAS Hulu Mikro Sumber Brantas, terletak di Desa

Please download to get full document.

View again

of 8
23 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di DAS Hulu Mikro Sumber Brantas, terletak di Desa Sumber Brantas Kota Batu Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember
Document Share
Document Transcript
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilakukan di DAS Hulu Mikro Sumber Brantas, terletak di Desa Sumber Brantas Kota Batu Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2016 sampai Februari Alat dan Bahan Gambar 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini menggunakan alat-alat berikut sebagai penunjang: 1. GPS. 2. Program Arc.gis 10.1 dan Program Microsoft Office Kamera, meteran, cetok. 4. Alat tulis, plastik sampel. 16 Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Peta jenis tanah, peta rupa bumi, peta kemiringan lereng, peta penggunaan lahan Sub DAS Brantas Hulu Kota Batu dengan skala 1 : Data curah hujan tahunan mulai tahun Sampel tanah, alkohol, H2O2 30%, dan aquades. 3.3 Metode Pengambilan Data Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan beberapa tahapan, yaitu: Persiapan dan Survei Tahapan ini meliputi pengumpulan data dan studi pustaka. Tahapan pengumpulan data dilakukan dibeberapa tempat diantaranya, BPDAS Brantas dan dari sumber online. Kemudian studi pustaka dilakukan dengan mengamati hasil penelitian sebelumnya yang terkait dengan tutupan lahan dan potensi erosi Penentuan Lokasi Pengambilan Sampel Penentuan lokasi pengambilan sampel didasarkan pada peta overlay yang dari peta jenis tanah, peta penggunaan lahan dan peta kelerengan. Untuk menentukan titik sampel menggunakan software Arc.gis 10.1 kemudian untuk menuju titik tersebut digunakan GPS Pengambilan Sampel Pengambilan sampel tanah sesuai dengan peta unit lahan kemudian sampel tanah digunakan untuk menentukan nilai K yang didasarkan pada bahan organik tanah, tekstur, struktur tanah dan permeabilitas tanah. Kemudian data yang diambil di lapang, yaitu pengamatan pada pengelolaan lahan untuk menentukan nilai C dan teknik konservasi untuk menentukan nilai P. 17 3.4 Analisis Data Sampel tanah yang diambil dari lapang kemudian dianalisis untuk mendapatkan nilai K. Sampel tanah yang telah diambil dianalisis dengan beberapa metode yaitu: 1. Penentuan tekstur tanah a. Mengambil tanah seukuran kelereng. b. Mencampur tanah dengan air sehingga dapat ditekan. c. Menekan tanah dengan ibu jari dan telunjuk. d. Membuat tanah seperti benang. Jika mudah terbentuk benang, maka sampel tersebut adalah liat, jika mudah terbentuk tapi mudah patah maka sampel tersebut adalah lempung berliat, jika tidak terbentuk benang maka sampel tersebut adalah lempung atau pasir dan jika lembut dan licin seperti tepung maka sampel tersebut adalah debu, namun jika lembut terasa butiran maka sampel tersebut adalah pasir. 2. Penentuan kandungan bahan organik a. Mengambil tanah sebanyak 100 g. b. Menetesi dengan larutan H2O2 30%. c. Mengamati percikan gas yang keluar dari bongkahan sampel tanah dan lihat klasifikasinya C + 2H2O2 CO2 + 2H2O. 3. Penentuan struktur tanah Penentuan struktur menggunakan metode De Boot dan De leen dengan a. Menyiapkan campuran air dan alkohol dengan perbandingan 100:0, 70:30, 30:70, dan 5:95. b. Mengisi piring tetes/palet/cepuk dengan campuran tersebut kemudian diisi dengan agregat tanah (d ± 6 mm) secukupnya. 18 c. Merendam sampel jika pasiran perendaman 1-2 menit, sedangkan tanah berat (liat cukup tinggi) perendaman menit. d. Mencatat % air tertinggi dalam campuran yang agregatnya tidak terurai. Semakin tinggi % kadar air yang agregatnya tidak terurai maka semakin mantap agregatnya dan melihat Tabel pengamatan. Tabel 3.1 Pengamatan Agregat % Air yang Agregatnya Tidak Terurai Sumber: Ikhwan (2014) Kemantapan Kuat Sedang Lemah e. Menentukan tipe dan ukuran struktur. 4. Penentuan permeabilitas a. Menyumbat kolom kaca dengan karet yang telah dilubangi tengahnya dan diberi kapas. b. Mengisi kolom kaca dengan tanah kering angin (d ± 2 mm) dan ketukan sampai tanahnya mantap. c. Merangkai kolom kaca dengan susunan penampang, air, tanah dan gelas ukur d. Menghitung debit air yang keluar (vol /menit). Analisis data prediksi erosi dan tingkat bahaya erosi akan dilakukan dengan menggunakan rumus Universal Soil Loss Equation (USLE) yang mempertimbangkan faktor-faktor berikut: hujan, panjang dan kemiringan lereng, tanah serta penutupan lahan berikut tindakan konservasinya. 19 Persamaan rumus USLE yang akan digunakan adalah sebagai berikut : Dimana: A = R x K x LS x C x P A R = besaran laju erosi dengan satuan (ton/ha/tahun) = faktor erosivitas hujan yang datanya diproleh dari stasiun hujan didalam atau di sekitar lokasi Cara menentukan besarnya indeks erosivitas hujan dengan cara lain seperti di kemukakan oleh Lenvain (DHV, 1989), yaitu dengan rumus: R = 2,21 P 1,36 R = indeks erosivitas P = curah hujan bulanan (cm) K = faktor erodibilitas tanah yang besarnya tergantung pada jenis tanah Besar nilai K diperoleh dari rumus Wischmeier and Smith, (1978) : K = { 2,71 M 1,14 (10-4 ) (12 - OM) + 4,20 (s - 2) + 3,23 (p - 3) } 100 Dimana : K M = erodibilitas tanah = nilai M dapat juga diestimasi apabila yang diketahui hanya kelas teksur tanah. OM = persentase bahan organik (C-organik x 1,724) s p = kode struktur tanah = kode kelas permeabilitas penampang tanah 20 Tabel 3.2 Penilaian M untuk Kelas Tekstur Tanah Kelas Tekstur Tanah Nilai M Kelas Tekstur Tanah Nilai M Lempung berat 210 Pasir geluhan 1245 Lempung sedang 750 Geluh berlempung 3770 Lempung pasiran 1213 Geluh pasiran 4005 Lempung ringan 1685 Geluh 4390 Geluh lempung 2160 Geluh debuan 6330 Pasir lempung debuan 2830 Debu 8245 Geluh lempungan 2830 Campuran merata 4000 Pasir 3035 Sumber: RKLT DAS Citarum (1987) (dalam Asdak, 2014) Tabel 3.3 Penilaian Kandungan Bahan Organik Kelas Kisaran Nilai Rendah 2,0 1 Sedang 2,1 6,0 4 Agak tinggi 6,1 10,0 6 Tinggi 10,1 30,0 6 Sangat tinggi 30 6 Sumber: Triwanto (2014) Tabel 3.4 Kode Struktur Tanah Kelas Struktur Tanah (ukuran diameter) Kode Granuler sangat halus ( 1 mm) 1 Granuler halus (1-2 mm) 2 Granuler sedang sampai kasar (2-10 mm) 3 Blok, blocky, plat, masif 4 Sumber: Arsyad (2000) Tabel 3.5 Kelas Permeabilitas Kelas Permeabilitas Kecepatan (cm/jam) Kode Sangat lambat 0,5 6 Agak lambat 0,5 2,0 5 Lambat 2,0 6,3 4 Sedang 6,3 12,7 3 Agak cepat 12,7 25,4 2 Cepat 25,4 1 Sumber: Arsyad (2000) 21 LS = merupakan rasio antara tanah yang hilang dari suatu petak dengan panjang dan derajat kelerengan tertentu dengan petak baku. Penilaian faktor LS apabila sulit untuk mendapatkan/menghitung panjang lereng, maka pengaruh panjang lereng dapat diabaikan dan berpengaruh hanya pada kemiringan lereng (kemiringan lereng berpengaruh tiga kali panjang lereng terhadap erosi). Tabel 3.6 Nilai LS No Kelas (%) Indeks (LS) , , , ,8 5. 45 9,5 Sumber: Kusumandari dan Soedjoko (2015) C = faktor penutupan lahan, yang tergantung pada kerapatan tanaman dan pemeliharaan tanaman, nilai C merupakan faktor yang rumit dan dipengaruhi oleh banyak variabel yang dapat dikelompokan menjadi variabel alami dan variabel yang dipengaruhi oleh sistem pengelolaan. P = faktor pengelolaan lahan, yang tergantung pada aspek konservasi tanah yang dilakukan. Faktor P adalah nisbah antara besarnya erosi dari adanya kegiatan konservasi pada studi terbatas lapangan sistem kontur dapat memberikan perlindungan pada lereng dengan kisaran 3 sampai 7 persen. Nilai P lebih mudah ditentukan dengan menggabungkan dengan faktor C di lapangan. Nilai CP telah ditentukan berdasarkan penelitian sebelumnya dan dapat ditentukan dengan Tabel Tabel 3.7 Perkiraan Nilai CP dari Berbagai Jenis Penggunaan Lahan di Jawa No. Konservasi dan Pengelolaan Tanaman Nilai CP 1. Hutan a. Tak terganggu 0,01 b. Tanpa tumbuhan bawah, disertai seresah 0,05 c. Tanpa tumbuhan bawah, tanpa seresah 0,50 2. Semak a. Tak terganggu 0,01 b. Sebagian rumput 0,10 3. Kebun a. Kebun-talun 0,02 b. Kebun-pekarangan 0,20 4. Perkebunan a. Penutupan tanah sempurna 0,01 b. Penutupan tanah sebagian 0,07 5. Perumputam a. Penutupan tanah sempurna 0,01 b. Penutupan tanah sebagian 0,02 c. Alang-alang, pembakaran sekali setahun 0,06 d. Serai wangi 0,65 6. Tanaman pertanian a. Umbi-umbian 0,51 b. Biji-bijian 0,51 c. Kacang-kacangan 0,36 d. Campuran 0,43 e. Padi irigasi 0,02 7. Perladangan a. 1 tahun tanam-1 tahun bero 0,28 b. 1 tahun tanam-2 tahun bero 0,19 8. Pertanian dengan konservasi a. Mulsa 0,14 b. Teras bangku 0,04 c. Countour cropping 0,14 Sumber: (Abdurahman, et al., 1984, Ambar dan Syarifudin, 1979 dalam Asdak; 2014) 23
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks