BAB II TINJAUAN TEORI. proses kedewasaan, hingga kepada upaya pembentukan norma-norma yang. diharapkan oleh masyarakat pada umumnya (Casmini, 2007).

Please download to get full document.

View again

of 14
206 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
digilib.uns.ac.id BAB II TINJAUAN TEORI A. Konsep Dasar Pola Asuh 1. Pengertian Pola Asuh Pola asuh adalah cara orang tua memperlakukan anak, mendidik, membimbing, mendisiplinkan serta melindungi anak
Document Share
Document Transcript
digilib.uns.ac.id BAB II TINJAUAN TEORI A. Konsep Dasar Pola Asuh 1. Pengertian Pola Asuh Pola asuh adalah cara orang tua memperlakukan anak, mendidik, membimbing, mendisiplinkan serta melindungi anak dalam mencapai proses kedewasaan, hingga kepada upaya pembentukan norma-norma yang diharapkan oleh masyarakat pada umumnya (Casmini, 2007). 2. Tipe Pola Asuh Terdapat tiga jenis pola asuh, yaitu pola asuh otoriter, permisif dan demokratis. Berikut adalah penjabaran dari ketiga pola asuh tersebut menurut Diana Baumrind dalam Santrock (2011), Gordon (2010) dan Dariyo (2007). a. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian) Pola asuh otoriter menempatkan orang tua di posisi sentral, artinya segala ucapan, perkataan, maupun kehendak orang tua dijadikan patokan (aturan) yang harus ditaati oleh anak-anak. Orang tua menempatkan batasan-batasan dan kontrol yang tegas pada anak, menerapkan hukuman yang keras dan memungkinkan sedikit pertukaran verbal. Kondisi tersebut mempengaruhi perkembangan diri pada anak. Anak cenderung tumbuh berkembang menjadi pribadi yang suka membantah, memberontak, berani melawan arus terhadap 5 digilib.uns.ac.id 6 lingkungan sosial, kadang-kadang tidak mempunyai sikap peduli, antipati, pesimis dan anti-sosial. Indikator pola asuh otoriter meliputi aspek pengawasan (kontrol) terhadap anak bersifat kaku, tidak ada komunikasi timbal balik, disiplin yang diterapkan tidak dapat dirundingkan dan tidak ada penjelasan, hukuman diberikan tanpa alasan dan jarang memberikan hadiah. b. Pola Asuh Demokratis (Authoritative) Pola asuh demokratis adalah gabungan antara pola asuh permisif dan otoriter dengan tujuan untuk menyeimbangkan pemikiran, sikap dan tindakan antara anak dan orang tua. Pola asuh ini mendorong anak untuk menjadi mandiri, tetapi masih menempatkan batasan dan kontrol atas tindakan mereka. baik orang tua maupun anak mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan suatu gagasan, ide atau kesempatan yang sama untuk mencapai suatu keputusan. Hubungan komunikasi antara orang tua dan anak yang berjalan menyenangkan menjadikan anak memiliki pengembangan kepribadian yang mantap dalam dirinya. Pola asuh demokratis akan dapat berjalan secara efektif apabila ada tiga syarat yaitu: (1) orang tua dapat menjalankan fungsi sebagai orang tua yang memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya, (2) anak memiliki sikap yang dewasa yakni dapat memahami dan menghargai orang tua sebagai tokoh utama yang tetap memimpin keluarga, (3) orang tua belajar memberi kepercayaan dan tanggung jawab terhadap anaknya. digilib.uns.ac.id 7 Indikator pola asuh demokratis meliputi aspek pengawasan (kontrol) yang bersifat luwes dimana orang tua memberikan bimbingan yang sifatnya mengarahkan agar anak mengerti dengan baik mengapa ada hal yang boleh dilakukan dan ada yang tidak boleh dilakukan, komunikasi terbuka dua arah, disiplin yang diterapkan dapat dirundingkan dan ada penjelasan, hukuman dan pujian diberikan sesuai dengan perbuatan dan disertai penjelasan. c. Pola Asuh Permisif (Permisive) Orang tua dengan pola asuh permisifjustru merasa tidak peduli dan cenderung memberi kesempatan serta kebebasan secara luas kepada anak. Orang tua seringkali menyetujui terhadap semua dengan tuntutan dan kehendak anak. Jadi, anak merupakan sentral dari segala aturan dalam keluarga. Dengan demikian, orang tua tidak mempunyai kewibawaan. Hasilnya adalah bahwa anak-anak tidak pernah belajar untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri, selalu mengharapkan untuk mendapatkan keinginan mereka, cenderung melakukan tindakantindakan yang melanggar nilai-nilai dan aturan sosial. Perkembangan diri anak cenderung menjadi negatif. Indikator pola asuh permisif meliputi aspek tidak adanya pengendalian atau kontrol serta tuntutan kepada anak, komunikasi kurang hangat karena orang tua bersikap masa bodoh, disiplin yang bersifat permisif yaitu sedikit disiplin atau bahkan tidak berdisiplin digilib.uns.ac.id 8 yang membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial, dan tidak ada hukuman serta hadiah. 3. Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh menurut Santrock (2011) dan Gordon (2010), antara lain: a. Pendidikan dan pengalaman Pendidikan dan pengalaman ibu dalam perawatan anak akan mempengaruhi persiapan mereka menjalankan pengasuhan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih siap dalam menjalankan peran pengasuhan antara lain: terlibat aktif dalam setiap pendidikan anak, mengamati segala sesuatu dengan berorientasi pada masalah anak, selalu berupaya menyediakan waktu untuk anak-anak dan menilai perkembangan fungsi keluarga dan kepercayaan anak. Ibu yang sudah memiliki pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak akan lebih siap menjalankan peran asuh, selain itu ibu akan lebih mampu mengamati tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan yang normal. b. Lingkungan Lingkungan banyak mempengaruhi perkembangan anak, maka tidak mustahil jika lingkungan juga turut serta dalam mewarnai pola-pola pengasuhan yang diberikan ibu terhadap anaknya. digilib.uns.ac.id 9 c. Budaya Ibu mengikuti cara-cara yang dilakukan oleh masyarakat dalam mengasuh anak, karena pola-pola tersebut dianggap berhasil dalam mendidik anak ke arah kematangan. Ibu mengharapkan kelak anaknya dapat diterima di masyarakat dengan baik, oleh karena itu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam mengasuh anak juga mempengaruhi setiap ibu dalam memberikan pola asuh terhadap anaknya. 4. Syarat Pola Asuh Efektif Menurut Santi (2008), agar pola asuh efektif antara lain: a. Pola asuh harus dinamis Pola asuh harus sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan anak, misalnya pola asuh balita berbeda dengan pola asuh anak usia sekolah. Kemampuan berfikir balita masih sederhana, jadi pola asuh harus disertai komunikasi tidak bertele-tele dan dengan bahasa yang mudah dimengerti. b. Pola asuh harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak Pola asuh harus sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak karena setiap anak memiliki minat dan bakat berbeda. Bakat anak mulai terlihat ketika anak berusia satu tahun, misalkan anak mulai mendengarkan musik tampak tertarik daripada anak seusianya, bisa jadi anak memiliki potensi kecerdasan musical. Jika ibu memiliki gambaran potensi anak, maka perlu diarahkan dan difasilitasi. digilib.uns.ac.id 10 Ibu perlu memenuhi kebutuhan psikis anak, di samping kebutuhan fisik. Sentuhan-sentuhan fisik seperti merangkul, mencium pipi, mendekap dengan penuh kasih sayang, akan membuat anak bahagia sehingga dapat membuat pribadinya berkembang dengan matang. Kebanyakan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang, ternyata sewaktu kecil mendapatkan kasih sayang dan cinta yang utuh dari ibunya. Artinya, jika pola asuh ibu membuat anak senang, tentu anak bisa berkembang secara optimal. c. Ibu dan ayah kompak Ibu dan ayah sebaiknya menerapkan pola asuh yang sama. Dalam hal ini, keduanya sebaiknya berkompromi dalam hal menetapkan nilainilai yang boleh dan tidak boleh. Jangan sampai orang tua saling berseberangan karena hanya akan membuat anak bingung. d. Pola asuh disertai perilaku positif Pola asuh juga membutuhkan sikap-sikap yang positif dari ibu sehingga bisa dijadikan contoh atau panutan bagi anaknya. Menanamkan nilai-nilai kebaikan dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Diharapkan kelak anak bisa menjadi manusia yang memiliki aturan dan norma yang baik serta berbakti. e. Komunikasi efektif Komunikasi efektif merupakan sub bagian dari pola asuh efektif. Syaratnya sederhana, dengan meluangkan waktu untuk berbincangbincang dengan anak, menjadi pendengar yang baik dan tidak digilib.uns.ac.id 11 meremehkan pendapat anak. Dalam setiap diskusi, orang tua dapat memberikan saran atau meluruskan pendapat anak yang keliru sehingga anak lebih terarah dan dapat mengembangkan potensi yang optimal. f. Disiplin Penerapan disiplin juga menjadi bagian dari pola asuh. Mulai halhal yang kecil dan sederhana, misalnya membereskan mainan. Anak perlu diajarkan membuat jadwal harian sehingga bisa teratur dan efektif mengelola kegiatannya. Penerapan disiplin harus fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak, misalnya dalam kondisi kelelahan jangan lantas diminta mengerjakan tugas sekolah hanya karena saat itu merupakan waktu untuk belajar. g. Sikap konsisten Ibu juga perlu menerapkan konsistensi sikap, misalnya anak tidak boleh minum air dingin jika sedang terserang batuk tetapi diperbolehkan jika dalam kondisi sehat. Dari situ anak belajar untuk konsisten terhadap seseuatu. Setiap aturan harus disertai penjelasan yang dapat dipahami anak sehingga akhirnya anak akan mengerti atau terbiasa. Ibu antara kata dan perbuatan harus sama. Contohnya ibu juga tidak meminum air dingin ketika sedang batuk. B. Perkembangan Emosi Anak Usia Dini Menurut Pratisti (2008), batasan pengertian anak usia dini adalah 0-6 tahun. Usia dini pada anak kadang-kadang disebut sebagai usia emas atau golden age. Masa-masa tersebut merupakan masa kritis dimana seorang anak digilib.uns.ac.id 12 membutuhkan rangsangan-rangsangan yang tepat untuk mencapai kematangan yang sempurna. Arti kritis adalah sangat memengaruhi keberhasilan pada masa berikutnya.usia dini anak merupakan tahap awal untuk mencapai kepribadian yang stabil. Menurut Mashar (2011), aspek emosional ibarat poros kehidupan manusia: jika terganggu emosinya maka terganggu pula aspek kehidupan yang lain. Emosi sendiri adalah suatu keadaan yang kompleks dari diri organisme, yang meliputi perubahan secara badaniah dalam bernafas, detak jantung, perubahan kelenjar dan kondisi mental, seperti keadaan yang menggembirakan yang ditandai dengan perasaan kuat dan biasa disertai dorongan yang mengacu pada bentuk perilaku.beberapa ciri utama reaksi emosi pada anak adalah: 1. Reaksi sangat kuat semakin bertambah usia semakin mampu mengendalikan. 2. Emosi sering kali muncul pada setiap peristiwa dengan caranya sendiri sesuai dengan keinginannya. 3. Emosi mudah berubah dari kondisi satu ke kondisi yang lain. 4. Emosi bersifat individual walaupun pencetusnya sama tetapi reaksinya berbeda. 5. Emosi dapat dikenali melalui gejala tingkah laku yang ditampilkan. Rupa-rupa reaksi emosi anak sendiri terdiri atas agresivitas, kecemasan, temper tantrum, dan hipersensitif. digilib.uns.ac.id 13 C. Konsep DasarTemper Tantrum 1. Pengertian Temper Tantrum Temper tantrum adalah suatu letupan kemarahan anak yang sering diikuti dengan tingkah seperti menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menjerit, melempar barang, memukul-mukul, menendang, menghentak-hentakkan kaki, dan berbagai kegiatan (Mashar, 2011). Menurut La Forge dalam Haque (2011), temper tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan anak yang memiliki beberapa nilai positif, yaitu keinginan anak untuk menunjukkan independensi, mengekspresikan individualitas, mengemukakan pendapat, mengeluarkan rasa marah, frustasi, dan membuat orang dewasa mengerti bahwa anak bingung, lelah atau sakit. Temper tantrum membutuhkan respon yang baik dari orang tua, sebab jika tidak ditangani dengan tepat dapat mengakibatkan hilangnya kesempatan untuk mengajarkan anak tentang bagaimana bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal secara wajar (Tandry, 2010). 2. Penyebab Temper Tantrum Temper tantrum bersifat interaktif, tidak sekedar reaktif. Temper tantrum hampir selalu terjadi saat anak bersama orang tua ataupun orang lain yang membuat anak nyaman. Menurut Mashar (2011), temper tantrum sering dialami pada anak usia dini karena ketidakmampuan anak dalam mengontrol emosi, mengungkapkan kemarahan dengan tepat, dan terjadinya kondisi digilib.uns.ac.id 14 regresiatau fixasi dalam perkembangan. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri membuat orang tua atau orang lain tidak mengerti maksudnya sehingga anak menjadi frustasi. Keinginan mencari perhatian, rasa lelah, lapar, atau kondisi yang tidak menyenangkan, perkembangan pribadi anak, pembatasan keinginan anak, dan inkosistensi disiplin dan pola asuh juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhitemper tantrum. Penyebab lain dari temper tantrum adalah cemburu, yang berkaitan dengan sibling rivalry. Temper tantrum berbeda dengan sibling rivalry.sibling rivalry adalah persaingan antar saudara yang biasanya terjadi pada kakak beradik terutama yang memiliki jarak kelahiran berdekatan. Temper tantrum sendiri merupakan dampak dari sibling rivalry. Terdapat pula faktor yang dapat mempengaruhi temper tantrum diantaranya gangguan tidur, masalah bicara, sakit yang parah, stress maternal dan depresi yang dialami orang tua. 3. Bentuk-bentuk Temper Tantrum Bentuk-bentuk temper tantrum menurut Tandry (2010) dan Muhardi (2010) antara lain: a. Bentuk Verbal Bentuk temper tantrum verbal diantaranya menangis dengan keras, menjerit-jerit, berteriak-teriak, merengek, memaki, mengancam. b. Bentuk Fisik digilib.uns.ac.id 15 Bentuk temper tantrum fisik diantaranya menggigit, memukul, meninju, menendang, berguling-guling di lantai, melempar-lempar mainan/barang, membanting pintu, menghentak-hentakkan kaki, menahan nafas, membenturkan kepala. 4. Penanganan Temper Tantrum Beberapa penanganan temper tantrum menurut Paul (2008) dan Mashar (2011) sebagai berikut: 1) Orang tua harus berusaha menjaga emosinya sendiri tetap tenang, tidak mengacuhkan temper tantrum. 2) Memastikan lingkungan sekitar anak aman dan anak tidak melakukan tindakan yang membahayakan. 3) Memeluk dan memberi ketenangan pada anak. 4) Menggunakan humor untuk meredakan situasi. 5) Memberi pengertian tentang perilaku anak tanpa menyudutkan maupun memberi hukuman, namun juga tidak menyogok ataupun mengalah pada keinginan anak. 6) Memahami dan menghindari pemicu munculnya temper tantrum. 7) Menerapkan disiplin yang konsisten. 8) Apabila dengan langkah-langkah diatas tantrum tidak berkurang atau semakin membahayakan diri anak dan orang lain, maka membutuhkan bantuan dari para ahli. D. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Temper Tantrum digilib.uns.ac.id 16 Fase perkembangan yang dilalui anak usia dini diantaranya adalah perkembangan emosi. Temper tantrum merupakan salah satu bentuk perkembangan emosi anak yang akan mencapai titik puncak saat anak berusia dua tahun dan menurun di usia 4 tahun. Penanganan temper tantrum oleh orang tua berkaitan pula dengan pola asuh yang diterapkan, karena perkembangan diri anak sangat dipengaruhi pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Sujianti (2014) dengan penelitian berjudul Pengaruh Tingkat Pendidikan Dan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosi Anak Prasekolah Di KB Dan TK Islam Al-Irsyad 01 Cilacap menunjukkan pola asuh demokratis yang diterapkan oleh orang tua di KB dan TK Islam Al- Irsyad 01 Cilacap telah berhasil membawa anaknya berkembang secara optimal terutama sosial dan emosinya. Pada pola asuh demokratis orang tua dan mendorong anak-anak untuk menjadi mandiri namun tetap menempatkan batasan dan kontrol atas tindakan mereka. Komunikasi yang hangat dan disiplin yang diterapkan bersifat fleksibel. Anak-anak yang dididik dengan pola asuh ini dapat menangani stress dengan baik, sering gembira dan terkendali. Penelitian yang dilakukan oleh Utami (2008) berjudul Pengaruh tingkat pendidikan dan tipe pola asuh orang tua terhadap perkembangan psikososial anak prasekolah di Taman Kanak kanak Aisyiyah II Nganjuk. Hasil penelitian menunjukkan tipe pola asuh yang diterapkan dalam mengasuh anak prasekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikososialnya, digilib.uns.ac.id 17 dimana penerapan tipe pola asuh yang tidak sesuai dengan kondisi anak akan mempengaruhi perkembangan psikososialnya. Mediansari (2014), meneliti tentang hubungan antara kecerdasan emosional orang tua dengan perilaku temper tantrum anak usia toddler. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kecerdasan emosional orang tua dengan temper tantrum pada anak. Semakin tinggi kecerdasan emosional orang tua, semakin rendah perilaku temper tantrum muncul pada anak. Orang tua yang sadar terhadap emosinya sendiri dapat menggunakan kepekaannya untuk menyelaraskan diri dengan perasaan anakanak. Kecerdasan emosional orang tua dapat terlihat dalam bagaimana mereka mengasuh anak. Tipe pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua akan berdampak pada kemampuan anak dalam mengelola emosi mereka. Dengan demikian, kualitas pengasuhan yang diberikan orang tua sangat penting bagi perkembangan anak, salah satunya perkembangan emosi. Orang tua harus siap sedia dalam menghadapi temper tantrum anak. digilib.uns.ac.id 18 E. Kerangka Konseptual Otoriter Demokratis Permisif Pola Asuh Orang Tua Faktor yang mempengaruhi: a.pendidikan dan pengalaman b.lingkungan c.budaya Tumbuh Kembang Anak Perkembangan Emosi Anak Usia Dini Agresivitas Kecemasan Temper tantrum Hipersensitif Keterangan : : Diteliti : Tidak diteliti Gambar 2.1. Kerangka Konsep Hubungan Pola Asuh Ibu Dengan Temper Tantrum Pada Anak Usia 2-4 Tahun F. Hipotesis Ada hubungan antara pola asuh ibu dan temper tantrum pada anak usia 2-4 tahun.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks