BAB II MENGENAL MUSṬAFA AL-MARAGĪ DAN SAYYID QUṬUB

Please download to get full document.

View again

of 22
160 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB II MENGENAL MUSṬAFA AL-MARAGĪ DAN SAYYID QUṬUB A. Riwayat Hidup Musṭafa Al-Maragī, Karya-Karya dan Metode Penafsirannya 1. Riwayat Musṭafa Al-Maragī Nama lengkap Al-Maragī adalah Ahmad Musṭafa Ibnu
Document Share
Document Transcript
BAB II MENGENAL MUSṬAFA AL-MARAGĪ DAN SAYYID QUṬUB A. Riwayat Hidup Musṭafa Al-Maragī, Karya-Karya dan Metode Penafsirannya 1. Riwayat Musṭafa Al-Maragī Nama lengkap Al-Maragī adalah Ahmad Musṭafa Ibnu Musṭafa Ibnu Muhammad Ibnu Mun im Al Qaḍi Al-Maragī. 1 Panggilannya Abu Abdullah Maraghi dilahirkan di desa Maraghah Jaraja sebuah perkampungan di Mesir pada tahun 1881 M. Al-Maragī di besarkan bersama delapan saudaranya di bawah naungan rumah tangga yang kental dengan pendidikan agama. Ia sangat rajin membaca Alquran, baik untuk membenahi bacaan maupun menghafalnya, karena itulah sebelum menginjak usia 13 tahun ia telah hafal Alquran. 2 Dia telah menghafal Alquran sejak tinggal di kampungnya, menimba ilmu dari bapaknya kemudian masuk Al-Azhar. Belajar juga kepada Muhammad Abduh dan meraih sertifīkat internasional pada tahun 1904 M dan termasuk mahasiswa termuda pada levelnya. Ditunjuk sebagai ketua Pengadilan Syari ah, kemudian menjadi Hakim Agung di Sudan setelah menguasai bahasa Inggris. 3 1 Tb. Muhidin, Pembinaan Keluarga dalam Perspektif Al- Qur an : Studi Komperatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Maragī dalam Q. S. 66 : 6 (Skripsi, Program Strata 1, STAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Serang, 2002), p Sahrani, Kebebasan Berpendapat dalam Al- Qur an : Studi Tafsir Al- Maragī (Skripsi, Program Strata 1, IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Serang, 2013), p Muhammad Sa id Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar 2012), p 17 Sebutan Al-Maragī dari Syeikh Ahmad Musṭafa Al-Maragī bukanlah dikaitkan dengan nama suku atau marga, akan tetapi dihubungkan dengan nama daerah atau kota tempat tinggal keluarga ayah Al-Maragī yaitu kota Al-Maraghah. Selain di Al-Azhar, beliau juga tercatat sebagai salah satu mahasiswa pada Universitas Darul Ulum, Kairo. Pada tahun 1909 ia berhasil merampungkan studinya di kedua perguruan tinggi tersebut. 4 Ia menyerap ilmu di dua Universitas itu dari beberapa ulama kenamaan seperti, Muhammad Abduh, Muhammad Bukhait Al-Muṭi i, Ahmad Rifa i Al-Fayumi, Muhammad Rasyid Riḍa dan lain-lain. Mereka memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk intelektulitas Al-Maragī. Dan berkat kegigihan Maraghi dalam menuntut ilmu, hal ini menjadikannya seseorang yang cakap pada setiap bidang ilmu agama. 5 Hal ini mengantarkannya menjadi guru pada beberapa madrasah, yang kemudian ia diangkat menjadi Direktur Madrasah Al- Mu allimin di Fayum, sebuah kota yang terletak 300 Km. Arah barat kota kairo. Pada tahun 1916 ia diangkat menjadi dosen utusan universitas Al-Azhar untuk mengajar ilmu syari ah pada fakultas Ghirdun di Sudan. Dan di Sudan ia sempat menjabat sebagai hakim tinggi hingga tahun Pada tahun 1920 ia kembali ke Kairo dan menjadi staf pengajar di Darul Ulum untuk mata kuliah bahasa Arab dan ilmu Syari ah hingga tahun Muhidin, Pembinaan keluarga..., p Sahrani, Kebebasan Berpendapat..., p Muhidin, Pembinaan keluarga..., p. 21. 18 Pada tahun 1928 M ia terpilih menjadi Syaikh Al-Azhar, namun setahun kemudian turun dari jabatannya karena peraturan pemerintah yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Muhammad Mahmud Basya. Keputusan ini ditolak dewan penasehat Al-Azhar, dan menetapkan kembali Maraghi sebagai Syeikh Al-Azhar pada tahun 1935M Karya-Karya Musṭafa Al-Maragī Al-Maragī adalah ulama kontemporer terbaik yang pernah dimiliki oleh dunia Islam. Selama hidup, ia telah mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan agama. Banyak hal yang telah ia lakukan, seperti mengajar di beberapa lembaga pendidikan yang telah disebutkan. Selain itu ia juga telah mewariskan kepada umat ini karya ilmiah, seperti tafsir Al-Maragī. Sebuah kitab tafsir yang dikenal dan populer di seluruh dunia Islam hingga saat ini. 8 Saat penulisan Kitab Tafsir-nya, ia hanya beristirahat kurang lebih 4 jam dalam sehari, dalam 20 jam yang tersisa, ia menggunakannya untuk mengajar dan menulis. 9 Ia merupakan ulama yang sangat produktif dalam menyampaikan pemikirannya melalui karya-karya tulisnya yang banyak, diantaranya: Ulum Al-Balagoh Hidayah aṭ-ṭalib 10 Tahdibu At-Tawdikh Kitab Tahdibu At-Tawdikh ini adalah salah satu kitab karangan Al-Maragī yang membahas nahwu dan shorof, terdiri dari dua 7 Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam..., p Sariono, Tafsir Al-Maragī, blogspot.com. (Diakses pada 12 April 2016) 9 Sahrani, Kebebasan Berpendapat..., p Siti Norul, Penafsiran Al-Maragī dan Prof. Dr. H. Hamka terhadap Thogut. ac. Id. (Diakses pada 12 April 2016). 19 jilid. Jilid pertama 332 halaman dan jilid kedua 212 halaman, yang mana ia pernah menjadi guru di Madrasah Darul Ulum. Kemudian kitab ini dicetak di Mesir, pada tahun 1340 H/1921 M. 11 Tarikh Ulum Al-Balagoh wa ta rif birijaliha 12 Buhus Wa Ara fī Funun Al-Balagah Muqodimat At-Tafsir Ad-Diyanat Wa Al-Akhlak Mursyid Aṭ-Ṭullab Al-Mujaz fī Al-Adab Al-Arabi Mujaz fī Al-Ulum Al-Usul Al-Hisbah fī Al-Islam Al-Rifq bi Al-Hayawan fī Al-Islam Syarḥu Salasih Hadisan Tafsir Juz inna ma Tafsir Al-Maragī Tafsir Al-Maragī terkenal sebagai kitab tafsir yang mudah dan enak untuk dibaca. Hal ini sesuai tujuan pengarangnya, seperti yang diceritakan di muqoddimahnya yaitu untuk menyajikan sebuah buku yang mudah dipahami umat Islam secara umum. Musṭafa Al-Maragī wafat pada tahun 1952 M(1317 H) Sahrani, Kebebasan Berpendapat..., p Siti Norul, Penafsiran Al-Maragī dan Prof. Dr. H. Hamka terhadap Thogut. ac. Id. (Diakses pada 12 April 2016). 13 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993), cetakan. I. P. 165. 20 3. Metode Kitab Tafsir Al-Maragī Dari sisi metodologi Al-Maragī bisa disebut mengembangkan metode baru, bagi sebagian pengamat tafsir berpendapat bahwa Al- Maragī adalah mufasir yang pertama kali memperkenalkan metode tafsir yang memisahkan antara uraian global dan uraian rincian sehingga penjelasan ayat-ayat di dalamnya dibagi menjadi dua kategori, yaitu makna ijmali dan makna tahlili. 14 Namun tidak dapat dipungkiri, tafsir Al-Maragī sangat dipengaruhi oleh tafsir-tafsir yang ada sebelumnya, terutama Tafsir Al- Manar, hal ini wajar karena penulis tafsir tersebut adalah merupakan guru dari Al-Maragī yang banyak memberikan bimbingan kepada-nya dalam bidang tafsir yaitu Muhammad Abduh dan Rasyid Riḍa. Sehingga banyak orang yang mengatakan bahwa buku tafsir-nya tersebut merupakan penyempurnaan Tafsir Al-Manar. 15 Kemudian, dari segi sumber yang digunakan selain menggunakan ayat dan atsar, Al-Maragī juga menggunakan ra yi (nalar) sebagai sumber dalam menafsirkan ayat-ayat. Namun perlu diketahui, penafsiran-nya yang bersumber dari riwayat (relatif) terpelihara dari riwayat yang dho if dan sulit diterima akal atau tidak didukung bukti-bukti ilmiah. 16 Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan-nya dalam muqodimah tafsir Al-Maragī. Adapun metode penafsiran Al-Maragī antara lain: 14 Sahrani, Kebebasan Berpendapat..., p Gustaf Dian Didaktika, Tafsir Al-Maragī, (diakses pada 13 April 2016). 16 Sariono, Tafsir Al-Maragī, blogspot.com. (Diakses pada 12 April 2016). 21 1. Metode Tafsir bi Al-Iqtirani (perpaduan antara bi al-manqul dan bi al-ma qul) bila ditinjau dari segi sumber penafsirannya. Adalah cara menafsirkan Alquran yang didasarkan atas perpaduan antara sumber tafsir riwayah yang kuat dan shohih dengan sumber hasil ijtihad pikiran yang sehat Metode Tafsir komparasi/muqorin (bila ditinjau dari segi penjelasannya terhadap tafsiran ayat-ayat Alquran). Yaitu membandingkan ayat dengan ayat yang berbicara dalam masalah yang sama, ayat dengan hadis (isi dan matan), antara pendapat mufasir dengan mufasir lain dengan menonjolkan segi perbedaan Metode Tafsir ithnabi (bila ditinjau dari segi keluasan penafsirannya), ialah penafsiran dengan cara menafsirkan ayat Alquran hanya secara mendetail/rinci, dengan uraianuraian yang panjang lebar, sehingga jelas dan terang. 4. Metode Tafsir tahlili (bila ditinjau dari segi sasaran dan tertib ayat-ayat yang ditafsirkan). Yaitu menafsirkan ayat Alquran dengan cara urut, tertib dengan uraiain ayat dan surat dalam mushaf, dari awal surat Al-Fatihah hingga akhir surat An-Nas. 19 Adapun sistematika dan langkah-langkah penulisan yang digunakan dalam tafsir Maraghi adalah sebagai berikut: 17 Sariono, Tafsir Al-Maragī, blogspot.com. (Diakses pada 12 April 2016) 18 Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, (Jakarta: Kencana), p Nata, Studi Islam..., p. 169. 22 1. Menyampaikan ayat-ayat di awal pembahasan Yaitu pada setiap bahasan kami memulai dengan satu, dua lebih ayat-ayat Al Quran, yang kami susun sedemikian rupa hingga memberikan pengertian yang menyatu Penjelasan kosa kata (syarh al-mufrodat) Yaitu setelah Al-Maragī menyampaikan beberapa ayat ia menjelaskan beberapa kosa kata yang sukar menurut ukuran-nya. Dengan demikian, tidak semua kosa kata yang ia jelaskan melainkan beberapa saja yang ia pilih. 3. Pengertian ayat secara ijmal Dalam hal ini Al-Maragī mencoba menjelaskan maknamakna ayat secara ijmal (global). Agar para pembaca dapat memahami dan memiliki suatu gambaran secara global sebelum menuju penafsiran yang lebih rinci dan luas. 4. Penjabaran (Al-Idhoh) Kemudian, kami pun akan menyertakan bahasan Asbabunnuzul jika terdapat riwayat shohih dari hadis yang menjadi pegangan para mufasir. Selain itu sepertinya Al-Maragī dalam penjelasannya berusaha menghindari uraian yang bertele-tele (al-ithnab) serta menghindari istilah dan teori ilmu yang sulit di pahami. Kitab tafsir ini dikemas dengan sederhana, singkat, padat dan mudah di pahami. 21 Demikianlah metode juga sistematika penulisan Al-Maragī. Sebuah metode yang boleh dikatakan membawa angin segar dalam 20 Ahmad Musṭafa Al-Maragī, Tafsir Al-Maragī, (Semarang:PT. Karya Thoha, 1992). P Sahrani, Kebebasan Berpendapat..., p. 20. 23 tafsir, dengan tujuan agar memeberikan kemudahan pada kita umat Islam dalam memahami, meresapi apa-apa yang ada dalam Alquran. B. Riwayat Hidup Sayyid Quṭub, Karya-Karyanya 1. Riwayat Sayyid Quṭub Sayyid Quṭub dilahirkan pada tahun 1906 di kampung Musyah, kota Asyut Mesir. Ia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang menitik beratkan ajaran Islam dan mencintai Al Quran. Ia telah bergelar Al Hafīdz sebelum umur 10 tahun. 22 Ayahnya merupakan salah satu politisi tulen yang tergabung dalam Partai Nasional pimpinan Musṭafa Kamal, bernama Sayid bin Ibrahim. Sedangkan ibunya berasal dari keluarga kaya dan berpendidikan tinggi. Bahkan tiga saudara ibunya alumnus Al-Azhar University, sering disebut juga Azhariyyin. 23 Menyadari bakat anaknya, orang tuanya memindahkan keluarganya ke Halwan daerah pinggir Kairo pada 1920-an dan ia memperoleh kesempatan untuk masuk Tajhiziah Darul Ulum dan menyelesaikan pendidikannya di sana. Di Kairo itulah ia menyelesaikan pendidikan menengah dan tingginya dan mendapat ijazah bahasa serta sastra Arab dari Universitas Darul Ulum pada tahun 1929 dan memperoleh Gelar Sarjana Muda Pendidikan pada tahun Sejak lulus kuliah kehidupannya tampak biasa-biasa saja, sedang karya tulisnya menampakkan nilai-nilai sastra yang tinggi dan 22 Bati Wuri Handayani, Tafsir Ayat-Ayat Politik dalam Kitab FĪ Ẓilalil Quran : Kajian atas Pemikiran Sayyid Qutub (Skripsi, Program Stata 1, STAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Serang, 2004), p Nurul Huda, Ash Shahid dan Nuansa Haraki FĪ Ẓilalil Quran Al Fath: Jurnal Tafsir Hadis, vol. 09, No. 1 (Januari- Juni, 2015), p Hera Widarti, Konsep Riba Menurut Sayyid Qutub : Studi Kitab FĪ Ẓilalil Quran (Skripsi, Program Stata 1, IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Serang, 2006), p.13. 24 bersih, tidak bergelimang dengan kebejatan moral seperti kebanyakan sastrawan pada masa itu. Pada akhirnya tulisan-tulisannya lebih condong pada Islam. 25 Akhirnya ia menjadi guru sekaligus penilik pada Departemen Pendidikan dan pengajaran di Mesir. Kemudian ia menjadi pegawai di sana sampai ia mengundurkan diri pada tahun 1953, karena ingin berkonsentrasi untuk menulis di koran dan majalah. 26 tidak heran Melihat dari latar belakang kedua orang tuanya, maka sangatlah jika Sayyid Quṭub kecil telah bersinggungan dengan harakah atau aktivisme, baik aktivisme politik dan akademik. Namun demikian, aktivitas ayahnya di ranah politik, tidaklah secara langsung membentuk sense dan karakter kuat Sayyid Quṭub, di kancah sosial kemasysrakatan. Sedangkan aktivitas ibunya di ranah akademik, membentuk jiwa intelektulismenya yang kritis. 27 Pada perkembangan selanjutnya, Sayyid Qutub mengalami titik balik yang tajam terkait pandangannya pada kehidupan ini, tepatnya setelah ia mengalami kontak langsung dengan kehidupan matrealistis di Amerika Serikat selama tiga tahun ( ), guna mempelajari sistem dan oragnisasi pendidikan. Sepulangnya dari Uncle Sam, ia mengalami perubahan paradigma, yang menghantarkannya menjadi politikus, seiring aliran darah ayahnya dan penulis yang produktif sealur aliran darah ibunya. Tak kurang 24 buku dikarangnya dan berbagai artikel keislaman serta pendidikan digubahnya. Pada awalnya, memang ia tertarik dan bahkan salut pada peradaban Barat, yang identik dengan kemajuan dan keunggulan. 25 Handayani, Tafsir Ayat-Ayat Politik..., p Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam..., p Huda, Ash Shahid..., p. 3. . 28 Pada tahun 1954 ia menjadi pemimpin redaksi harian Ikhwanul 25 Namun, ia akhirnya malah anti dan bahkan sangat memusuhi Barat, tepatnya setelah mereka terlibat pendirian Negara Israel di bumi Palestina. Inilah penjajahan manusia atas manusia, yang memantik keamarahannya. Sehingga ia pun bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, pimpinan Hasan Al Banna, untuk melawan ketidak adilan yang terjadi. Yang dinilainya masih setia mengawal keadilan dan ke- Islaman yang penuh kemanusiaan, pada 1952 dan diangkat menjadi penanggung jawab seksi Dakwah dan Penerbitan Ikhwan al-muslimin Muslimin, tetapi baru berjalan dua bulan harian tersebut ditutup atas perintah presiden Mesir Kolonel Gamal Abdul Nasser, karena menurutnya dia akan mengecam perjanjian Mesir-Inggris 7 Juli Pada tahun1949 Sayyid Quṭub menerbitkan sebuah buku yang berjudul Keadilan Sosial dalam Islam dengan disertai kata-kata persembahan Bagi para pemuda yang menurut saya bergerak maju menginginkan agama ini kembali baru sebagaimana semula, yang berjuang di jalan Allah serta mereka tidak takut cercaan orang-orang yang suka mencerca Orang-orang Ikhwan di Mesir beranggapan bahwa pemuda yang dimaksud dalam persembahan tersebut adalah mereka, padahal menurut Quṭub tidaklah demikian. Sehingga di penghujung tahun 1950, beberapa pemuda Ikhwan datang dan berkunjung serta membicarakan 28 Huda, Ash Shahid..., p Widarti, Konsep Riba..., p Widarti, Konsep Riba..., p. 16. 26 isi buku tersebut, walau mereka tidak memiliki kantor karena selalu tertekan. 31 Pada tahun 1951 Quṭub mulai tenggelam dalam polemik yang sengit melawan kebijaksanaan-kebijaksanaan kepemilikan, sistem monopoli dan kapitalis melalui tulisan, pidato dan pertemuanpertemuan. Hal ini dilakukannya sampai bangkitnya revolusi 23 Juli 1952 tanpa bergabung dengan partai apapun. Atas pilihannya ini pula, Quṭub menerima konsekuensi hidup yang tak ringan. Pada November 1954, ia ditangkap sebagai bagian dari penangkapan besar-besaran mentor-mentor Ikhwan al-muslimin, kendati ia diadili secara terpisah (entah atas dasar pertimbangan apa). Pada tahun 1955, Sayyid Quṭub dituduh melakukan gerakan subversive dan karenanya dijatuhi hukuman 15 tahun. 32 Sayyid Quṭub hanya mengalami penahanan di penjara hanya 9 tahun, karena pada tahun 1964 ia dibebaskan. Meskipun ia di tahan dalam penjara yang pengap, penuh ketidak adilan dan kekejaman dalam kurun waktu yang cukup lama, hal ini tidak membuatnya berhenti untuk berkarya. Karena semangatnya itulah akhirnya ia berhasil menulis karya haraki Dzilalil Quran (1965). berjudul Ma alim fī al-tariq (1964) dan Fī Dari dua karyanya yang monumental itulah namanya menjadi terkenal dan juga mengharumkan pikirannya, sekaligus menghantarkannya ke tiang gantungan sebagai martir. 33 Baru setahun ia menikmati kebebasan, ia kembali ditangkap bersama ketiga orang saudaranya, Muhammad Quṭub, Hamidah, dan Aminah. Juga ikut 31 Widarti, Konsep Riba..., p Huda, Ash Shahid..., p Huda, Ash Shahid..., p. 6. wanita. 34 Pada 21 Agustus 1966, bersama dua sahabatnya Abd al-fattah 27 ditahan kira-kira orang lainnya, di antaranya 700 orang Ismail dan Muhammad Yusuf Hawwas, dinyatakan bersalah dan divonis mati. Maka pada 29 Agustus 1966, Sayyid Quṭub dan dua temannya itu dieksekusi gantung. Ia menemui ajalnya dalam membela Islam, dengan aneka kontroversi yang menyelimutinya. Maka sejak itulah ia mendapatkan gelar Ash-shahid sebagai ungkapan penghormatan umat Islam yang bersimpati atas perjuangannya menegakkan kalimat Allah. 2. Karya-Karyanya Adapun Sayyid Quṭub telah menulis lebih dari dua puluh buah buku. Ia mulai mengembangkan bakat menulisnya dengan membuat buku untuk anak-anak yang meriwayatkan Pengalaman Nabi Muhammad SAW, dan cerita-cerita lainnya dari sejarah Islam. Kemudian perhatiannya meluas dengan menulis cerita, sajak-sajak, kritik sastra, serta artikel untuk majalah. 35 Kemudian Ia menulis dua buku tentang keindahan dalam Al Quran dengan judul: at-taṣwir al-fanni fīl-quran dan Musyahidat al- Qiyaamah fīl-quran, tentang kebangkitan dalam Alquran sebagai dua buah karya tulis diawal kariernya. Pada tahun 1948, ia menerbitkan karya monumentalnya: al-adaalah al-ijtimaa iyah fīl Islam Keadilan Sosial dalam Islam, kemudian disusul Fī Dzilalil Quran Di bawah Naungan Alquran yang diselesaikannya di dalam penjara. p As ad Yasin, et al., Tafsir FĪ Ẓilalil Quran, (Depok: Gema Insani, 2014), 35 Yasin, Tafsir Fi..., p. 407. 28 Fī Dzilalil Quran merupakan salah satu hasil karya tulis seorang Sayyid Quṭub yang awalnya merupakan refleksi kritisnya sebagai salah satu penulis muslim akan kondisi krisis politik dan kudeta militer yang terjadi pada Juli 1952 di Mesir. Yang juga pada awalnya tidaklah diniatkan untuk dijadikan sebagai buku induk tafsir harakis yang utuh. Namun atas permohonan Sa id Ramadan selaku pimpinan majalah, meminta Sayyid Quṭub untuk menorehkan pandangan keislamannya secara berkala dibawah rubik Fī Dzilalil Quran. Sebuah tulisan berseri di majalah Al-Muslimin (penerbitan bulanan Ikhwan al- Muslimin), majalah ideologis yang terbit sejak Fī Dzilalil Quran ini ia susun dan tulis selama 13 tahun dan terdiri puluhan jilid besar, Ia ingin menegaskan keyakinannya bahwa Islam sebagai ajaran Ilahi, yang harus merebut kekuasaan agar bisa mengatur segala aspek kehidupan. Selain Islam sebagai din dan dawlah Islam juga seharusnya mengatur dua sisi kehidupan manusia, agama dan kekuasaan. Itu sebabnya nuansa haraki begitu kental menyumbrat dari tafsir ini. 36 Selain itu beliau menulis juga buku dengan judul-judul berikut: An-naqdu Al-Adabi Uṣuluhu wa Manahijuhu, Al-Mustaqbal Li Haża Ad-dīn, Ma alim fī AṬ-Ṭariq Corak Penafsiran Sayyid Quṭub Bisa dikatakan kitab Fī Ẓilalil Quran yang dikarang oleh Sayyid Quṭub termasuk salah satu kitab tafsir dengan metode terobosan baru dalam melakukan penafsiran Alquran. Hal ini dikarenakan tafsir beliau 36 Huda, Ash Shahid..., p Mursi, Tokoh-tokoh Besar Islam..., p. 251. 29 selain mengusung pemikiran-pemikiran kelompok yang berorientasi untuk kejayaan Islam, juga mempunyai metode tersendiri dalam menafsirkan Alquran. Yaitu dengan metode pendekatan sastra dalam menafsirkan Alquran. 38 Menurut Salah Abd al-fattah al-khalidi, Sayyid Quṭub menggunakan corak baru sebagai lawn jadid fī al-tafsir yaitu al-tafsir al-haraki da awi al-tarbawi. Menurut al-khalidi, sisi manhaj haraki fī ẓilal karena penulisnya mengajak atau menyeru umat Islam untuk terus melakukan perbaikan pemahaman dan perenungan Alquran. Yang kemudian dilakukan gerakan implementatif dalam realitas kekinian, dan tidak hanya mengkajinya saja. 39 Manhaj da awi yang dimaksud al-khalidi tergambar dari ajakan Sayyid Quṭub kepada kita umat Islam untuk menjadikan Alquran sebagai landasan pacu dakwah kepada Allah dan memahami konsep dakwah Alquran serta cara berkonfrotasi dengan seteru. Adapun manhaj tarbawi-nya tergambar dari harapannya pada kaum muslim untuk menyuntikkan ruh pendidikan Alquran, berakhlak Alquran d
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks