BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Umum Tentang Return On Asset (ROA) dalam mengelola dana sehingga menghasilkan keuntungan PDF

Please download to get full document.

View again

of 21
14 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
33 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Umum Tentang Return On Asset (ROA) Return on asset adalah rasio yang menggambarkan kemampuan bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva
Document Share
Document Transcript
33 BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Umum Tentang Return On Asset (ROA) Return on asset adalah rasio yang menggambarkan kemampuan bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan. ROA adalah gambaran produktivitas bank dalam mengelola dana sehingga menghasilkan keuntungan 20. Siamat (1995), menjelaskan bahwa ROA memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam operasi perusahaan. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat kembalian (return) semakin besar. ROA adalah rasio keuangan perusahaan yang berhubungan dengan aspek earning atau profitabilitas. ROA berfungsi untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimiliki. Semakin besar ROA yang dimiliki oleh sebuah perusahaan maka semakin efisien penggunaan aktiva sehingga akan memperbesar laba. Laba yang besar akan menarik investor karena perusahaan memiliki tingkat kembalian yang semakin tinggi. Rasio laba sebelum pajak dalam 12 terakhir terhadap rata-rata volume usaha (ROA) 20 Muhammad. Manajemen Dana Bank Syariah. Yogyakarta: Ekonisia.2004.hlm.146. 34 dalam periode yang sama. ROA menggambarkan perputaran aktiva yang diukur dari volume penjualan. 21 Berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) rumus untuk menghitung ROA adalah sebagai berikut : ROA = x 100% Lukman Dendawijaya (2005), rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset. Dalam mengukur tingkat kesehatan bank, terdapat perbedaan kecil antara perhitungan ROA berdasarkan teoritis dan cara perhitungan berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Secara teoritis, laba yang diperhitungkan adalah laba setelah, sedangkan dalam sistem CAMEL, laba yang diperhitungkan adalah laba sebelum pajak. 22 Rasio ini dapat dijadikan sebagai ukuran kesehatan keuangan. Rasio ini sangat penting, mengingat keuntungan yang memadai diperlukan untuk mempertahankan arus sumber-sumber modal bank. Dalam hal ini profitabilitas yang diukur adalah perbankan yang mencerminkan tingkat efisiensi usaha perbankan. Biasanya apabila profitabilitas tinggi akan 21 Veithal Rivai, Bank and Financial Institution Management : Conventional & Syar I System. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.2007.hlm Lukman Dendawijaya, Manjemen Perbankan. Bogor: Ghalia Indonesia.2005.hlm.118. 35 mencerminkan laba yang tinggi dan ini akan mempengaruhi pertumbuhan laba bank tersebut. Perubahan rasio ini dapat disebabkan antara lain: a. Lebih banyak aset yang digunakan, hingga menambah operating income dalam skala yang lebih besar b. Adanya kemampuan manajemen untuk mengalihkan portofolio/surat berharga kejenis yang menghasilkan income yang lebih tinggi c. Adanya kenaikan tingkat bunga secara umum d. Adanya pemanfaatan aset-aset yang semula tidak produktif menjadi aset produktif. 23 B. Tinjauan Umum Tentang Inflasi 1. Definisi Inflasi Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara keseluruhan. Sukirno (2003), mengelompokkan tingkat inflasi berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dapat digolongkan menjadi inflasi ringan (di bawah 10% setahun), inflasi sedang (di antara 10%-30% setahun), inflasi berat (antara 30%-100% setahun), hyperinflasi (di atas 100% setahun). Berdasarkan sebab awal dari inflasi dibedakan menjadi: demand inflation yaitu inflasi yang timbul karena permintaan berbagai barang masyarakat terlalu kuat dan cost inflation yaitu inflasi yang timbul karena kenaikan biaya produksi. 23 Taswan. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT.Bumi Aksara.2000.hlm154. 36 Tingkat harga dalam sebuah perekonomian secara keseluruhan dapat diketahui dengan dua cara. Selama ini kita mengartikan tingkat harga sebagai hanya sekeranjang atau sehimpunan barang dan jasa. Jika tingkat harga-harga mengalami kenaikan, masyarakat harus membayar lebih untuk mendapatkan berbagai barang dan jasa yang mereka inginkan. Selain itu kita dapat menggunakan tingkat harga untuk menentukan nilai uang. Naiknya tingkat harga-harga berarti menurunnya nilai uang karena setiap rupiah atau dollar yang ada di dalam dompet atau saku baju anda sekarang hanya dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih sedikit daripada sebelumnya Teori Inflasi Konvensional Secara umum inflasi berarti kenaikan tingkat harga secara umum dari barang/komoditas dan jasa selama suatu waktu periode tertentu. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit perhitungan moneter terhadap suatu komoditas. Definisi inflasi oleh para ekonom modern adalah kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai unit perhitungan moneter) terhadap barang-barang/komoditas dan jasa. Sebaliknya, jika yang terjadi adalah penurunan nilai unit perhitungan moneter terhadap barang-barang/komoditas dan jasa didefinisikan sebagai deflasi (deflation). 24 N. Gregory Mankiw, Pengantar Ekonomi: jilid 2. (Jakarta: Erlangga.2001).hlm.174. 37 Inflasi diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu timgkat perubahan dari tingkat harga secara umum. Persamaannya adalah sebagai berikut: x 100% = Rate of Inflation. 25 Menurut Paul A. Samuelsen, seperti sebuah penyakit, inflasi dapat digolongkan menurut tingkat keparahannya, yaitu sebagai berikut: a. Moderate Inflation: karakteristiknya adalah kenaikan tingkat harga yang lambat. Umumnya disebut sebagai inflasi satu digit. Pada tingkat inflasi seperti ini orang-orang masih mau untuk memegang uang dan menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang daripada dalam bentuk asset riil. b. Galloping Inflation : inflasi pada tingkat ini terjadi pada tingkatan 20%-200% pertahun. Pada tingkatan inflasi seperti ini orang hanya mau memegang uang seperlunya saja, sedangkan kekayaan disimpan dalam bentuk aset-aset riil. c. Hyper Inflation: inflasi jenis ini terjadi pada tingkatan yang sangat tinggi yaitu jutaan sampai trilyunan persen pertahun Teori Inflasi Menurut Islam Ekonom islam Taqiuddin Ahmad ibn al-maqrizi (1364M 1441M), yang merupakan salah satu murid dari Ibn Khaldun, menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu: 25 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.2007, hlm Adiwarman A, Karim. Ekonomi Makro Islami. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.2007, hlm 38 a. Natural Inflation Sesuai dengan namanya, inflasi jenis ini diakibatkan oleh sebab-sebab alamiah, dimana orang tidak mempunyai kendali atasnya (dalam hal mencegah). Ibn al-maqrizi mengatakan bahwa inflasi adalah inflasi yang diakibatkan oleh turunnya penawaran agregatif (AS) atau naiknya permintaan agregatif (AD). Jika memakai perangkat analisis konvensional yaitu persamaan identitas: MV = PT = Y Dimana : M = jumlah uang beredar V = kecepatan peredaran uang P = tingkat harga T = jumlah barang dan jasa (kadang dipakai juga notasi Q) Y = tingkat pendapatan nasional (GDP). 27 b. Human Error Inflation Selain dari penyebab-penyebab yang dimaksud pada natural inflation, maka inflasi-inflasi yang disebabkan oleh hal-hal lainnya dapat digolongkan sebagai human error inflation atau false inflation. Human error inflation dikatakan sebagai inflasi 27 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.2007, hlm.140. 39 yang diakibatkan dari manusia itu sendiri (sesuai dengan QS Al-Rum [30]: 41 ). Human error inflation dapat dikelompokkan menurut penyebab-penyebabnya sebagai berikut: a. Korupsi dan administrasi yang buruk (Corruption and Bad Administration). b. Pajak yang berlebihan ( Excessive Tax) c. Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang berlebihan (Excessive Seignorage) Jenis Inflasi Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang menyangkut dimensi ekonomi dan non ekonomi seperti aspek sosial, politik dan budaya masyarakat.sehingga kategorisasi inflasi dapat dilihat dari beberapa dimensi yaitu sebagai berikut; a. Inflasi Menurut Sifatnya 1. Inflasi Merayap (Creeping Inflation) Inflasi yang ditandai dengan laju secara lamban dan dalam waktu yang relatif rendah kurang dari 10% pertahun. Pergerakan inflasi berjalan secara lamban dan dalam waktu yang cukup lama. 28 Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.2007, hlm 40 2. Inflasi Menengah (Galloping Inflation) Inflasi yang ditandai dengan kenaikan harga yang relative cukup besar biasanya berkisar antara dua digit atau diatas 10%. Sifat inflasi menengah ini berjalan dalam tempo yang singkat serta berdampak akseleratif dan akumulatif artinya bahwa inflasi bergerak dengan laju yang semakin besar. 3. Inflasi Tinggi (Hyper Inflation) Inflasi dengan tingkat yang sangat tinggi dan menimbulkan efek merusak perekonomian karena menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap nilai uang. Harga barang naik berlipat-lipat dalam jangka pendek. b. Inflasi Menurut Besarnya 1. Inflasi Rendah Inflasi dengan laju kurang dari 10% pertahun, sehingga disebut juga inflasi dibawah dua digit. Sifat inflasi rendah sesuai dengan inflasi merayap (creeping inflation) dan tidak memberikan dampak yang merusak perekonomian. 2. Inflasi Sedang Inflasi yang bergerak antara 10% - 30% pertahun. Pengaruh yang ditimbulkan cukup dirasakan terutama bagi 41 masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti pegawai negeri dan karyawan lepas. 3. Inflasi Tinggi Inflasi dengan laju antara 30% - 100% pertahun. Inflasi tinggi terjadi pada keadaan politik yang tidak stabil dan menghadapi krisis yang berkepanjangan. Efek yang ditimbulkan menyebabkan mulai hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga seperti perbankan. Aktifitas kredit, asuransi, proses produksi dan distribusi barang mengalami guncangan karena masyarakat lebih mengambil sikap aman dengan memegang barang daripada uang. 4. Hyper Inflation Inflasi dengan laju diatas 100% pertahun dan menimbulkan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Fenomena hyper inflation biasanya menandai adanya pergolakan politik dan pergantian pemerintahan atau rezim. c. Inflasi Menurut Sebabnya 1. Inflasi Karena Tarikan Permintaan (Demand Pull Inflation) Inflasi yang terjadi karena adanya kenaikan permintaan total (agregat demand) sementara produksi telah berada pada kondisi full employment. Inflasi karena tarikan timbul jika peningkatan agregat bergerak lebih besar 42 dibandingkan potensi produktif perekonomian. Sehingga untuk menstabilkan harga harus diimbangi dengan kebijakan mendorong sektor riil. 2. Inflasi dorongan biaya (Cost Push Inflation) Inflasi yang diakibatkan oleh peningkatan biaya selama periode pengangguran tinggi dan penggunaan sumber daya yang kurang aktif Perhitungan Inflasi Perhitungan inflasi di Indonesia dengan menggunakan indeks harga konsumen (IHK) yang dihitung di 43 kota mencakup komoditas yang dihitung berdasarkan pola konsumsi hasil survey biaya hidup di beberapa kota. Indeks harga konsumen (IHK) mencakup 7 kelompok yaitu bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembaka, perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan rekreasi dan olahraga, transportasi dan komunikasi. Dari nilai indeks harga konsumen tersebut kemudian dihitung besarnya laju inflasi dengan rumus sebagai berikut 30 : Inflasi = x 100%. 6. Hubungan Inflasi Terhadap ROA Inflasi yang meningkat akan menyebabkan nilai riil tabungan merosot karena masyarakat akan mempergunakan hartanya untuk mencukupi biaya pengeluaran akibat naiknya harga-harga barang, 29 Imamudin Yuliadi. Ekonomi Moneter. Jakarta: PT.Indeks.2008, hlm Imamudin Yuliadi. Ekonomi Moneter. Jakarta: PT.Indeks.2008, hlm 76. 43 sehingga akan mempengaruhi profitabilitas bank (Sukirno, 2003). Khizer Ali (2011) juga mengatakan bahwa inflasi berpengaruh signifikan negatif terhadap profitabilitas pada bank umum di Pakistan. 31 C. Tinjauan Umum Tentang Nilai Tukar (Kurs) 1. Definisi Nilai Tukar (Kurs) Nilai tukar (exchange rate) adalah nilai (harga) mata uang suatu negara yang dinilai dengan mata uang negara lainnya. Dalam praktik semua perdagangan dalam mata uang U$ Dollar, dengan kata lain dollar amerika sebagai patokan dari mata uang negara lainnya. Nilai tukar biasanya berubah secara relatif konstan. 32 Nilai tukar sangat penting karena mata uang-mata uang memiliki nilai yang berbeda-berbeda satu sama lain. Pasar nilai tukar mata uang asing meliputi eksportir, importir, bank pialang, pedagang, dan organisasi-organisasi yang terlibat dalam konversi mata uang. Pasar valas (FX atau FOREX), seperti namanya, bukanlah tempat yang berwujud meskipun banyak partisipan bekerja dikantor dan lantai bursa tetapi lebih merupakan keseluruhan jejaring para partisipan di pasaran. Importir dan eksportir membutuhkan mata uang asing untuk menyelesaikan transaksinya. Bank dan pialang menjaga inventaris nilai 31 Ayu Yunita Sahara. Analisis Pengaruh Inflasi, Suku Bunga BI dan Produk Domestik Bruto terhadap Return On Asset (ROA) Bank Syariah di Indonesia. Universitas Negeri Surabaya. Jurnal Ilmu Manajemen Vol.1 No hlm Sri Dewi Ari Ambarwati. Manajemen Keuangan Lanjut. (Yogyakarta: Graha Imu, 2010).hlm 44 tukar asing yaitu berbagai mata uang dan mengkonversi mata uang sebagai bentuk layanan kepada nasabah. Para pedagang dan spekulan memperoleh (atau kehilangan) uang pada bergerakan nilai tukar mata uang asing seperti yang nanti anda akan lihat, bank sentral juga memainkan peran dalam pasar tukar mata uang asing Penentuan Nilai Tukar Perdagangan internasional adalah perdagangan yang sedikitnya menyangkut dua negara. Oleh karena itu masing-masing negara tersebut mempunyai mata uang sendiri sebagai alat pembayaran yang sah, maka penentapan nilai tukar antara dua mata uang tersebut sangatlah penting. Penentuan kurs (nilai tukar) adalah sangat vital, agar memudahkan transaksi dengan dua mata uang yang berbeda ini. Misalnya, jika diketahui bahwa kurs US$ 1 = 10 ribu, maka harga US$ 1 adalah sama dengan 10 ribu. Penyajian kurs ini dapat dinyatakan secara berbalikan sebagai berikut. Apabila US$ 1 = 10 ribu, maka Rp 1 = US$ 0,0001 atau 1 ribu = 0, Jenis Nilai Tukar (kurs) a. Kurs Mengambang Bebas Terdapat dua sistem kurs (nilai tukar) uang yang dianut oleh banyak negara di dunia yaitu kurs fleksibel (flexible exchange rate) dan kurs tetap (fixed exchange rate). Sejak krisis ekonomi di 33 Tom Gorman, the Complete Ideal s Guides Economic. Prenada, Jakarta :2009.hlm Tony Hartono, Mekanisme Ekonomi Dalam Konteks Ekonomi Indonesia. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.2006.hlm.354. 45 Asia tahun 1997, banyak pakar ekonomi di Indonesia yang memperdebatkan sistem mana diantara kedua sistem tersebut yang paling dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. b. Kurs Mengambang Terkendali Sistem kurs mengambang terkendali ini diterapkan oleh beberapa negara ASEAN termasuk Indonesia, Filipina, Singapura dan Thailand setelah terjadi krisis ekonomi di Asia tahun Sebelum krisis, Indonesia menganut sistem kurs tetap versi Bretton Woods. Dalam versi ini, negara dibenarkan untuk melakukan devaluasi nilai tukar uangnya jika negara tersebut menghadapi defisit yang permanen dalam neraca pembayarannya. c. Sistem Kurs Tetap Sistem kurs tetap (fixed exchange rate) menghendaki pemerintah secara resmi mematok nilai tukar uangnya pada emas atau mata uang asing yang dianggap kuat seperti dollar Amerika. Malaysia sejak tahun 1998 dan Indonesia sebelum tahun 1997 menerapkan system nilai tukar tetap dan mematok mata uangnya terhadap dollar Hubungan Nilai Tukar Terhadap ROA Nilai tukar ditentukan oleh bermacam-macam aturan, baik nilai tukar maupun aturan itu sendiri dapat berubah. Perubahan nilai tukar 35 Tony Hartono. Mekanisme Ekonomi Dalam Konteks Ekonomi Indonesia. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.2006.hlm 46 atau nilai kurs antar mata uang dapat berpengaruh besar terhadap penjualan, biaya, laba dan kesejahteraan individu. 36 Apabila nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami penguatan maka akan membuat kerugian bagi perusahaan yang melakukan ekspor karena mata uang dollar AS sedang melemah dan sedangkan apabila nilai tukar rupiah sedang melemah terhadap dollar AS maka akan mendapatkan keuntungan bagi perusahaan. 37 D. Tinjauan Umum Suku Bunga BI (BI Rate) 1. Definisi Suku Bunga BI (BI Rate) BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap rapat dewan gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter. Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan. 36 Abimayu, Yoopi. Memahami Kurs Valuta Asing, (Jakarta: FE-UI, 2004). 37 Heru Nugroho. Analisis Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs Dan Jumlah Uang Beredar Terhadap Indeks LQ45 Studi Kasus Pada BEI Periode Skripsi,hlm. 6. 47 Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan Tingkat Suku Bunga Tingkat suku bunga menyatakan tingkat pembayaran atas pinjaman atau investasi lain, di atas perjanjian pembayaran kembali, yang dinyatakan dalam presentase tahunan. Jika anda memiliki $1000 di bank dan bank membayar anda bunga $50 pada akhir tahun, maka tingkat suku bunganya adalah 5 persen. Tingkat suku bunga berbeda tergantung tingkat kepercayaan kredit (creditworthiness) dari si peminjam, Jangka waktu dari pinjaman, dan berbagai aspek perjanjian lainnya antara peminjam dan pemberi pinjaman Penentuan Tingkat Suku Bunga Sampai saat ini kita mengasumsikan bahwa tingkat bunga diketahui. Dalam praktik tidak jarang manajer keuangan dihadapkan pada pengambilan keputusan untuk menentukan apakah tingkat keuntungan minimal yang menyamakan nilai sekarang aliran kas keluar dengan nilai sekarang kas masuk yang diharapkan akan 38 diakses tanggal 14 Juni Rudiger Dornbusch, Stanley Fischer, Richard startz, Makroekonomi Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT.Media Global Edukasi.2004.hlm.37. 48 diperoleh di masa akan datang dan disebut dengan internal rate of return. Terdapat tiga alternatif kemungkinan aliran kas di masa akan datang: terjadi hanya satu kali, anuitas, dan aliran kas yang terjadi berulang kali dengan jumlah yang tidak sama besar. Contoh yang sederhana apabila aliran kas terjadi hanya satu kali. Maka kita dapat menggunakan persamaan 3.7 untuk mencari tingkat bunga. NS = X n (NSFB r.n ) NSFB = NS/X n Internal rate of return dapat dicari dengan menggunakan tabel nilai sekarang faktor bunga yang sesuai atau mendekati dengan hasil perhitungan. Berpedoman pada n tahun kita dapat dengan mudah melihatnya di tabel Hubungan Suku Bunga Terhadap ROA ketika suku bunga BI naik, maka akan diikuti oleh naiknya suku bunga deposito yang berakibat langsung terhadap penurunan sumber dana pihak ketiga bank syariah. Penurunan DPK ini sebagai akibat dari pemindahan dana masyarakat ke bank konvensional untuk mendapatkan imbalan bunga yang lebih tinggi. Apabila DPK turun, maka profitabilitas bank syariah juga akan mengalami penurunan. Suku bunga tinggi dapat membuat perbankan mengalami Net Interest Margin (NIM) yang semakin negatif. Hal ini disebabkan biaya 40 R. Agus Sartono, Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi Edisi 4. Yogyakarta: BPFE.2010.hlm 49 bunga (cost of funds) yang harus dikeluarkan terus meningkat, sedangkan pendapatan bunga kredit tidak meningkat dan penyaluran dana ke sektor usaha dan nasabah lain juga semakin sulit. 41 E. Tinjauan UmumProduk Domestik
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks