BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN. 1. Skripsi dari saudara Pisol Iskandar pada tahun 2007 yang membahas

Please download to get full document.

View again

of 20
195 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian tentang pemamfaatan model STAD untuk strategi pembelajaran telah banyak dilakukan seperti contohnya: 1. Skripsi dari saudara Pisol
Document Share
Document Transcript
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian tentang pemamfaatan model STAD untuk strategi pembelajaran telah banyak dilakukan seperti contohnya: 1. Skripsi dari saudara Pisol Iskandar pada tahun 2007 yang membahas Pengaruh Pembelajaran Tipe STAD terhadap motivasi siswa di SDN I Jombang Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaan kooperatif menghasilkan prestasi akademik yang lebih tinggi, memiliki hubungan sosial yang lebih baik, meningkatkan kepercayaan diri, dan mampu mengembangkan rasa saling percaya satu sama lain, baik secara individu maupun kelompok. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh pembelajaran kooperatif tipe STAD, cara belajar, dan motivasi belajar terhadap siswa di SDN 1 Jombang. 2. Skripsi dari saudara Harlan Fadillah yang membahas tentang eksperimentasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan NHT Pada Pembelajaran Matematika Siswa SD Kelas VI Semester 1 di Kabupaten Wonogiri Ditinjau dari Kemampuan Awal Siswa TP Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa, Terlihat pada hasil UN tahun nilai rata-rata matematika lebih rendah dibandingkan mata pelajaran lain. Hal ini menuntut guru untuk 7 8 menciptakan suasana yang kondusif dan sesuai dengan mata pelajaran matematika yang bersifat aksiomatik. Salah satunya adalah dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Robert E. Slavin mengemukakan bahwa STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) apakah model pembelajaran tipe STAD dapat menghasilkan hasil belajar matematika yang lebih baik dari model NHT, (2) apakah hasil belajar matematika siswa yang memiliki kemampuan awal yang lebih tinggi lebih baik daripada siswa yang memiliki kemampuan awal lebih rendah, (3) manakah diantara model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan NHT yang memberikan hasil belajar yang lebih baik ditinjau dari tingkat kemampuan awal. Adapun hasil dari penelitian ini adalah (1) model pembelajaran tipe STAD lebih baik daripada NHT, (2) hasil belajar siswa yang memiliki kemampuan awal yang tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang dan rendah, (3) untuk setiap kategori kemampuan awal, model pembelajaran tipe STAD memberikan hasil yang lebih baik daripada tipe NHT. 3. Skripsi dari saudari Nuraini pada tahun 2010 yang membahas tentang Pengaruh Model Pembelajaran STAD Terhadap Keterampilan Siswa di SDN 76 Bogor. Dalam hal ini dituntut peran guru untuk mencapai tujuan tersebut melalui berbagai metode pengajaran dan kegiatan pembangunan. Salah satu model yang 9 sesuai adalah STAD. Melalui model kooperatif tipe STAD diharapkan dapat menanamkan siswa dengan keterampilan sosial dan kompetensi tim kerja sehingga dapat berinteraksi dan mencapai prestasi akademik yang baik, adapun Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan keterampilan sosial melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa melalui model ini dapat mengembangkan keterampilan sosial siswa serta meningkatkan prestasi akademik siswa. 2.2 Landasan Teori Hakikat Pelajaran Sains Pembelajaran merupakan suatu proses penyampaian pengetahuan, yang dilaksanakan dengan menuangkan pengetahuan kepada siswa (Hamalik, 2008: 25). Bila pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. proses tersebut dimulai dari merencanakan progam pengajaran tahunan, semester dan penyusunan persiapan mengajar berikut persiapan perangkat kelengkapannya antara lain berupa alat peraga dan alatalat evaluasinya (Zaini, 2004: 4). Berdasar beberapa pendapat di atas maka disimpulkan pembelajaran adalah suatu proses dan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar, pembelajaran juga merupakan persiapan dimasa depan dan sekolah mempersiapkan mereka untuk hidup dalam masyarakat yang akan datang. Sains merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam 10 sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan. Sains adalah pengetahuan khusus yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain (Abdullah, 1998: 18). Sains berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga Sains bukan hanya penguasaan kumpulan sistematis dan Sains bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Sulistyorini, 2007: 39). Menurut Iskandar Sains adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi alam (Iskandar, 2001: 2). Sains merupakan mata pelajaran di SD yang dimaksudkan agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasangagasan. Pada prinsipnya, mempelajari Sains sebagai cara mencari tahu dan cara mengerjakan atau melakukan dan membantu siswa untuk memahami alam sekitar secara lebih mendalam (Depdiknas dalam Suyitno, 2002: 7). Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan pembelajaran Sains adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori agar siswa mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan-gagasan Tujuan Pembelajaran Sains di SD agar siswa: 1) Mengembangkan rasa ingin tahu dan suatu sikap positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat. 2) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. 11 3) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari. 4) Mengembangkan kesadaran tentang peran dan pentingnya sains dalam kehidupan sehari-hari. 5) Mengalihkan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman ke bidang pengajaran lain. 6) Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. Menghargai berbagai macam bentuk ciptaan Tuhan di alam semesta ini untuk dipelajari (Sulistiyorini, 2007: 40) Proses Belajar Mengajar Sains Proses dalam pengertian disini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan (inter independent) dalam ikatan untuk mencapai tujuan (Usman, 2000:5). Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. (Usman, 2000:5). Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggungjawab moral yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan suatu usaha 12 mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar. Proses belajar mengajar merupakan suatu inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn peran utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman, 2000:4). Sedangkan menurut buku Pedoman Guru Pendidikan Agama Islam, proses belajar mengajar dapat mengandung dua pengertian, yaitu rentetan kegiatan perencanaan oleh guru, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi program tindak lanjut (Suryabrata, 1997:18). Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar Sains meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran Sains Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar-mengajar Terdapat 3 (tiga) faktor utama yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran di kelas, antara lain adalah faktor yang datang dari guru, peserta didik, dan lingkungan. 1. Guru Dalam sebuah proses pendidikan/pembelajaran, guru merupakan salah satu komponen terpenting karena dianggap mampu memahami, mendalami, melaksanakan, dan akhirnya mencapai tujuan pendidikan (Muhtar, 1992:20) Berdasarkan hal tersebut, maka guru menjadi pihak yang sangat mempengaruhi proses pembelajaran di dalam kelas. Pengaruh guru dalam proses pembelajaran di kelas berkaitan erat dengan keprofesionalitasan guru itu sendiri. Guru yang profesional didukung oleh tiga hal, yakni: keahlian, komitmen, dan keterampilan (Muhtar, 1992:23). Selain tiga hal keprofesionalan guru, hal-hal yang akan berpengaruh terhadap proses pembalajaran di antaranya: 13 a. Kondisi dalam diri guru Kondisi psikis dan emosional akan sangat mempengaruhi proses pembelajaran di dalam kelas. Apa saja yang menjadi metode pembelajaran dan materi yang akan diajarkan akan menjadi tak maksimal ketika dilakukan dalam proses pembelajaran apabila kondisi kejiwaan guru mengalami masalah. Guru yang terlalu galak, sedang mengalami masalah pribadi, atau pun tidak bisa mengontrol diri, akan menjadi faktor penyebab buruknya pelaksanaan proses pembelajaran. Oleh karena itu, seorang guru haruslah mampu secara profesional mengendalikan dirinya ketika berada pada kondisi psikis dan emosi tertentu yang dapat mengganggu proses pembelajaran di kelas. b. Kemampuan mengajar Kemampuan mengajar bagi seorang guru sangatlah penting. Sebagai pengajar, seorang guru harus dapat merangsang terjadinya proses berpikir dan dapat membantu tumbuhnya sikap kritis serta mampu mengubah pandangan para muridnya. Kemampuan mengajar menjadi sangat penting untuk dikuasai mengingat proses transfer pengetahuan, sikap, dan keterampilan berlangsung di dalamnya. Tanpa kemampuan mengajar yang baik, proses pembelajaran di kelas tidak akan berlangsung secara maksimal. Guru setidaknya harus menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah termasuk bahan pendalamannya serta kemampuan mengelola program belajar mengajar seperti merumuskan tujuan instruksional, mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar serta mampu memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat. Guru juga dituntut melaksanakan program belajar 14 mengajar, mengenal kemampuan peserta peserta didik dan merencanakan serta melaksanakan pengajaran remedial. Kemampuan mengajar guru juga erat kaitannya dengan media yang digunakan. Sebelum era globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi, pengajaran konvensional menggunakan metode ceramah satu arah dengan papan tulis dan kapur lazim digunakan. Namun, di era globalisasi yang menghadirkan banyak media dan sumber belajar, kemampuan mengajar guru juga harus disesuaikan dengan kondisi zaman. Penggunaan media yang disukai dan menarik perhatian peserta didik, juga turut meningkatkan kualitas dalam proses pembelajaran. Namun, dalam menggunakan media pendidikan sebagai alat komunikasi, hendaknya harus didasarkan pada pemilihan yang objektif. Sebab, penggunaan media pendidikan tidak sekadar menampilkan program pengajaran ke dalam kelas, karena harus dikaitkan dengan tujuan pengajaran yang akan dicapai, strategi kegiatan belajar mengajar, dan bahan (muhtar, 1992:30) c. Kemampuan mengatur kondisi kelas Kondisi kelas yang kondusif berkaitan dengan kondisi peserta didik saat proses pembelajaraan sedang dilakukan. Kondisi kelas yang baik menuntut terjadinya interaksi antara guru dan peserta didik dengan baik dan saling menghargai, sehingga penyerapan materi yang disampaikan guru kepada peserta didik dapat berjalan maksimal, yang akan menghasilkan hasil belajar seperti apa yang diharapkan. Kondisi kelas yang kondusif akan mengakomodir pencapaian eksplorasi bakat dan minat peserta didik dengan maksimal pula. Dalam praktiknya, kondisi kelas yang kondusif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran di kelas yang harus diusahakan oleh guru. Guru menjadi pihak yang akan sangat menentukan kondisi kelas berkaitan dengan aktivitas peserta didik dan berbagai perangkat pembelajaran lainnya. Guru dituntut untuk tidak hanya menggunakan hubungan instruksional kepada peserta didiknya, namun juga hubungan spiritual dan emosional agar tercipta proses pembelajaran yang kondusif sehingga mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas berkaitan dengan pengaturan terhadap kondisi kelas (muhtar, 1992:35) Di dalam kelas, guru melakukan aktivitas mengajar, yang artinya guru mentransfer pengetahuan atau keterampilan dari satu pihak ke pihak lain. Untuk menjaga kekondusifan atau proses pembelajaran di dalam kelas berlangsung 15 secara maksimal dalam hal transfer pengetahuan dan keterampilan, maka kondisi kelas perlu diatur dengan baik oleh guru. Misalnya, mengatur agar peserta didik tidak berbuat hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas pembelajaran di dalam kelas seperti berbuat onar dan menimbulkan suara gaduh, mengganggu peserta didik yang lain, dan sebagainya. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah kondisi peserta didik yang lelah atau pun tidak sepenuhnya berkonsentrasi terhadap apa yang guru ajarkan, maka guru harus mampu mengatasinya. Dalam hal ini, guru harus benar-benar mengetahui kondisi psikis dan emosional masing-masing peserta didik secara mendalam dan mengatasi masalah tersebut dengan kreatif. Dengan hal tersebut, guru akan mudah menyelesaikan masalah peserta didiknya yang kemudian akan berpengaruh bagi terciptanya proses pembelajaran yang maksimal. 2. Peserta didik Peserta didik sebagai penerima berbagai transfer pengetahuan, sikap, dan keterampilan guna perubahan dalam dirinya sebagai proses pembelajaran juga menjadi penentu dan hal yang mempengaruhi proses pembelajaran itu sendiri. Di antara pengaruh peserta didik dalam proses pembelajaran adalah kondisi peserta didik itu sendiri yang dipengaruhi beragam aspek dari dalam dirinya dan lingkungan sekitarnya yang nantinya akan berdampak pada kesiapannya dalam menerima pelajaran.(muhtar, 1992:36) Sebagai contoh, peserta didik dari latar belakang ekonomi yang lemah, akan mengalami kesulitan dalam hal pemenuhan kebutuhan sekolah seperti buku tulis dan alat tulis sehingga proses pembelajaran yang dilakukannya di dalam kelas menjadi terganggu. Contoh lain, peserta didik yang tidak menerima kasih sayang yang cukup dari keluarganya, maka akan mencari kegiatan lain yang belum tentu baik sehingga akan mempengaruhi sikap dan wataknya ketika proses pembelajaran di dalam kelas. Misalnya ia akan mengganggu teman sekelasnya, melakukan tindak kekerasan, atau halhal yang melanggar norma yang berlaku. 16 3. Lingkungan Hal-hal yang berkaitan dengan kondisi siswa tersebut, akan berdampak luas bagi proses pembelajaran, seperti mempengaruhi peserta didik yang lain dan kondisi kelas. Peserta didik yang ingin mengikuti proses pembelajaran dengan baik, akan terganggu jika ada salah satu peserta didik yang mengganggu jalannya proses pembelajaran. (muhtar, 1992:37) Lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran di dalam kelas mencakup lingkungan kelas dan lingkungan sekitar sekolah. (muhtar, 1992:38-39) a. Lingkungan Kelas Lingkungan kelas merupakan suatu tempat tertentu yang secara spasial menjadi lokasi proses pembelajaran. Kelas tidak hanya memiliki batasan ruang dalam sebuah gedung sekolah, tapi dapat dilakukan di mana saja asalkan terjadi interaksi pembelajaran antara guru dan peserta didik serta merupakan bagian dari proses pembelajaran yang sistematis. Lingkungan kelas akan sangat mempengaruhi proses pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan kondisi dalam kelas itu sendiri. Misalnya, kondisi kebersihan kelas, sarana dan prasarana, arsitektur, pencahayaan, dan sebagainya. Kondisi kelas yang kotor, jelas akan mengganggu proses pembelajaran dan menimbulkan rasa ketidaknyamanan. Termasuk sarana dan prasarana, arsitektur, dan pencahayaan yang buruk, turut akan memperburuk kualitas proses pembelajaran di kelas. Sarana dan prasarana dalam kelas juga mencakup bagian dari lingkungan kelas. Kelas dengan sarana dan prasarana seperti meja, kursi, papan tulis, dan media pembelajaran yang menarik, akan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas. Hal ini berbeda dengan kelas dengan sarana dan prasarana yang minim. Pun kelas yang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap namun 17 tidak digunakan dengan maksimal oleh guru, maka proses pembelajaran juga akan terganggu. b. Lingkungan Sekitar Sekolah Lokasi sekolah turut mempengaruhi proses pembelajaran di kelas. Sekolah yang terletak di lingkungan yang sejuk dan asri akan mendukung proses pembelajaran. Berbeda dengan sekolah yang terletak di lingkungan industri yang panas dan penuh polusi atau sekolah yang terletak di lokasi yang kerap kebanjiran. Kondisi tersebut akan membawa dampak buruk bagi proses pembelajaran di kelas. Kondisi sekitar lingkungan sekolah juga turut mempengaruhi karakteristik peserta didik yang akan berpengaruh dalam proses pembelajaran di kelas. Misalnya, suatu daerah yang menjadi lumbung pengiriman TKI ke luar negeri, akan menghasilkan peserta didik yang kurang perhatian dan kasih sayang orang tua. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang merupakan korban perceraian orang tua. Peserta didik tersebut kemudian menjadi pribadi yang membutuhkan bimbingan lebih lanjut dari guru untuk dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. 2.3 Konsep Dasar tentang Persepsi Pengertian Persepsi Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya.persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekster. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, walaupun pada prinsipnya mengandung makna yang sama.menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Proses seseorang 18 mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Sugihartono, dkk (2007: 8) mengemukakan bahwa persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsinegatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata.bimo Walgito (2004: 70) mengungkapkan bahwa persepsi merupakan suatu proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga menjadi sesuatu yang berarti,dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu. Respon sebagai akibat dari persepsi dapat diambil oleh individu dengan berbagai macambentuk. Stimulus mana yang akan mendapat kanrespon dari individutergantung pada perhatian individu yang bersangkutan. Berdasarkan haltersebut, perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman-pengalaman yangimiliki individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus,hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satu dengan individu lain.setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat benda yangsama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bi
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks