BAB II HUBUNGAN KEAKTIFAN SISWA DALAM ANALISIS PEMECAHAN MASALAH MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH

Please download to get full document.

View again

of 29
144 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
1 BAB II HUBUNGAN KEAKTIFAN SISWA DALAM ANALISIS PEMECAHAN MASALAH MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DENGAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS XI MATERI POKOK SISTEM EKSKRESI
Document Share
Document Transcript
1 BAB II HUBUNGAN KEAKTIFAN SISWA DALAM ANALISIS PEMECAHAN MASALAH MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH DENGAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN BIOLOGI KELAS XI MATERI POKOK SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA A. Teori Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar pada umumnya sudah banyak dikenal dan akrab dalam lapisan masyarakat, tapi hal tersebut sulit di definisikan secara jelas, sehingga untuk mendefinisikan, para ahli memiliki pendapat tersendiri yang umumnya sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Adapun pengertian belajar menurut para ahli : a. James O. Whittaker, mendefinisikan belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. b. Cronbach, mendefinisikan bahwa Learning is shown by change in behavior as a result of experience, yang berarti bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. c. Slameto, mendefinisikan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari beberapa pendapat para ahli tersebut bahwa dalam belajar selalu melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang dilakukan harus sejalan 9 2 dengan proses jiwa yang akhirnya mendorong pada perubahan yang mempengaruhi tingkah laku dan aktivitas seseorang. 1 Menurut Gagne, belajar terdiri dari tiga komponen, yaitu kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar. Kondisi internal Belajar Informasi verbal Keadaan internal dan Keterampilan intelek proses kognitif siswa Ketrampilan motorik sikap siasat kognitif Berinteraksi dengan Stimulus dari lingkungan Kondisi eksternal Belajar Gb. Komponen esensial Belajar dan Pembelajaran Dalam bagan tersebut mendeskripsikan bahwa belajar merupakan interaksi antara keadaan internal dan proses kognitif siswa dengan stimulus dari lingkungan. Di sisi lain, proses kognitif tersebut juga menghasilkan suatu hasil belajar, yang terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap dan siasat kognitif. Dalam Belajar sendiri, Gagne berpendapat bahwa belajar terdiri dari tiga tahap, yaitu (1) persiapan untuk belajar, dalam tahap ini dilakukan tindakan pengarahan perhatian, pengharapan, dan mendapatkan kembali informasi.(2) memperoleh dan unjuk perbuatan (performansi) yang berfungsi dalam membangkitkan respon dan penguatan. (3) Alih Belajar, yang mengisyaratkan untuk membangkitkan respon siswa secara umum. 2 1 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), hlm Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 11 3 Dengan implementasi model pembelajaran pada dasarnya akan menimbulkan perubahan tingkah laku sebagai indikator belajar dimana dalam tingkah laku sendiri mencakup dua unsur pokok yaitu unsur objektif dan unsur subjektif. Unsur objektif adalah unsur motorik atau jasmaniah, sedangkan unsur subjektif adalah unsur rohaniah yang sifatnya tidak tampak kecuali berdasarkan tingkah laku yang tampak. Adapun prinsip-prinsip perubahan tingkah laku yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah : a. Tingkah laku yang bermotivasi adalah tingkah laku yang sedang terarah pada tujuan. b. Tingkah laku ditentukan oleh kapasitas dalam diri seseorang. Kapasitas tersebut tentunya berupa intelegensi dan abilitas sesuai tingkat perkembangannya.. 3 Pada dasarnya pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks, dimana proses tersebut sulit untuk diamati secara langsung, namun perbuatan dan tindakan belajar dapat diamati berdasarkan perubahan tingkah laku yang dihasilkan oleh kegiatan aktivitas belajar. Dengan kata lain, setiap perbuatan belajar mengandung unsur-unsur yang sifatnya dinamis. Sifat dinamis ini umumnya dipengaruhi oleh kondisi yang ada dalam diri siswa dan lingkungan yang bersangkutan. Perubahan atau sifat dinamis tersebut akan berpengaruh pada kegiatan belajar dan hasil yang diperoleh. Adapun unsur-unsur yang terkait dalam proses belajar adalah :1. Motivasi siswa, 2. Bahan ajar, 3. Alat bantu belajar, 4 suasana belajar, 5. Kondisi subjek yang belajar. 4 Dengan demikian, dalam memahami proses belajar merupakan hal yang memiliki tujuan penting yang pada dasarnya menjadi titik tolak dalam merancang sistem yang efektif. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Az-Zumar(39) : 9 # & 3 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2001), hlm Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, hlm. 50 4 +,-./0 '( * 67 ( = 9:;+ ( CD HI CD E 7G 5 L;M = E +K 5 1OP 2-N?5 ST KQ0R (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. 5 Adapun secara khusus kepentingan itu terletak pada : a. Untuk menilai hasil pembelajaran. Pengajaran dianggap berhasil jika siswa mencapai tujuan yang telah ditentukan, dimana ketercapaian tersebut menjadi indikator keberhasilan dalam sistem pembelajaran. b. Untuk membimbing siswa belajar. Dalam hal ini, guru dapat merancang tindakan-tindakan tertentu untuk mengarahkan kegiatan siswa dalam upaya mencapai tujuan tersebut. c. Untuk melakukan komunikasi dengan guru lain dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran. Dengan demikian, terjadi komunikasi antar guru dalam upaya aktif dalam mengendalikan tingkah lakunya Prinsip Belajar Perkembangan dalam psikologi pendidikan dan berbagai bidang keilmuan pada dasarnya memberikan kesadaran dikalangan pendidikan dan tenaga kependidikan mengenai perlunya dilakukan prinsip-prinsip belajar mengajar yang baru, yaitu : 5 Fadhal, Mushaf Al-Qur an Terjemah, hlm Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, hlm. 75 5 a. Pendidikan bertujuan untuk memperbaiki kualitas kehidupan dalam rangkaian pengembangan sumber daya manusia yang bermutu. b. Peserta didik belajar dengan berbuat dan mengalami langsung serta keterlibatan secara aktif dalam lingkungan belajar. c. Belajar dilakukan melalui kesan-kesan pengindraan yang menumbuhkan tanggapan yang jelas dan nyata, kemudian diproses menjadi informasi dan pengetahuan. d. Proses belajar dan keberhasilan belajar dipengaruhi bahkan tergantung pada kemampuan (abilitas) masing-masing individu peserta didik. e. Metode, isi, alat pengajaran, dan kondisi sosial alamiah berpengaruh terhadap proses belajar peserta didik. 7 Selain itu, prinsip lain yang dilandasi pada psikologi belajar dalam proses belajar mengajar, yaitu : a. Prinsip motivasi b. Prinsip hubungan sosial c. Prinsip belajar sambil bekerja d. Prinsip pemecahan masalah 8 3. Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Belajar Pada umumnya, peserta didik yang terlibat dalam proses belajar memiliki faktor psikologis secara intrinsik yang sangat berpengaruh terhadap proses belajar. Adapun faktor psikologis tersebut adalah : a. Motivasi Titik permulaan dalam semua pembelajaran adalah menimbulkan hasrat untuk belajar. Adapun fungsi motivasi tersebut adalah mendorong manusia untuk berbuat dalam melakukan suatu kegiatan, menentukan arah perbuatan, dan menyeleksi perbuatan yaitu menentukan perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan. Tanpa adanya motivasi tidak akan timbul perbuatan yang berjalan dengan kadar yang berbeda, 7 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, hlm Conny Semiawan, Pendekatan Keterampilan Proses Bagaimana mengaktifkan Siswa dalam Belajar, (Jakarta :PT. Gramedia, 1990), hlm.13 6 karena cepat lambatnya suatu aktivitas dipengaruhi oleh besar kecilnya motivasi yang ada pada diri seseorang. Adapun motivasi tersebut dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, yaitu : 1. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu dalam kegiatan belajar. 2. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Dalam hal ini motivasi ekstrinsik menjadikan keadaan siswa manjadi dinamis. 9 b. Konsentrasi Konsentrasi adalah pemusatan pikiran terhadap suatau hal dengan menyampingkan semua hal lain yang tidak berhubungan. Dalam belajar konsentrasi berarti pemusatan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan menyampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran. Konsentrasi pada dasarnya memiliki pengaruh besar terhadap belajar, sehingga jika seseorang mengalami kesulitan untuk konsentrasi, hal ini disebabkan karena kurangnya minat terhadap pelajaran yang sedang dipelajari, terganggu oleh keadaan lingkungan, kesehatan yang terganggu, dan bosan terhadap pelajaran. Dengan mengetahui demikian, konsentrasi adalah kunci keberhasilan dalam belajar,. 10 c. Comprehension Comprehension adalah persepsi (penglihatan) akan arti dan implikasi terhadap bahan yang dipelajari, dan pemahaman terhadap penggunaannya (implementasinya), sehingga dari sini murid dituntut untuk mencapai pemahaman dalam belajar dan bukan sekedar menghafal Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, hlm Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 2010),hlm Thomas F. Staton, Cara Mengajar Dengan Hasil Yang Baik, ( Bandung : CV. Diponegoro, 1978), hlm. 29 7 Selain itu faktor yang mempengaruhi proses belajar dapat dilihat secara Intern dan Ekstern dari peserta didik. a. Faktor Intern Faktor intern adalah faktor dalam pembelajaran yang timbul dari dalam diri peserta didik, dimana hanya peserta didik yang tahu tentang problem yang dialaminya. Adapun faktor tersebut adalah sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, minat (atensi), intelegensi, serta kebiasaan belajar. b. Faktor Ekstern Faktor ekstern adalah faktor yang timbul dari luar diri peserta didik termasuk lingkungan yang mendorong peserta didik untuk belajar. Adapun faktor ekstern tersebut adalah sarana dan prasarana pebelajaran, lingkungan sosial siswa disekolah,metode/ model pembelajaran, kondisi dan sikap guru, dan kurikulum sekolah. 12 Dari beberapa faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi proses belajar adalah secara intern dari diri siswa sendiri dan secara ekstern dari lingkungan yang secara tidak langsung berpengaruh pada tingkat keberhasilan dalam proses belajar mengajar. B. Keaktifan Belajar 1. Pengertian Keaktifan Keaktifan berasal dari kata aktif yang berarti giat (bekerja, berusaha), dinamis atau bertenaga (sebagai lawan statis atau lemban), mampu beraksi dan bereaksi. 13 sehingga keaktifan dalam proses belajar adalah keadaan dimana siswa dituntut untuk dinamis dan berubah kearah perubahan tingkah laku baik jasmani maupun rohani. ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti secara aktif peserta didik telah mendominasi aktifitas pembelajaran dengan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan, dan mengaplikasikan yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata. 12 Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, hlm Dahlan Al-Barry, Kamus Induk Istilah Ilmiah, hlm. 24 8 Keaktifan peserta didik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Ketika peserta didik pasif dan hanya menerima apa yang telah disampaikan oleh guru, maka ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Karena dimana keaktifan peserta didik dalam pembelajaran merupakan salah satu cara untuk mengingat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Hal ini diketahui bahwa penyebab informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Salah satu belajar dengan mengendalikan indra pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar harus disimpan dalam memori otak dalam waktu yang lama. Hal ini sesuai dengan kata-kata mutiara seorang filosof cina, yang mengatakan : Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya lihat, saya ingat Apa yang saya lakukan, saya faham. Dalam mengetahui kondisi siswa demikian, guru sebagai pendidik dapat merubah model pembelajaran yang berorientasi pada proses keaktifan siswa karena peserta didik pada realitanya memiliki cara belajar yang berbeda. membantu tercapainya proses belajar. 14 Dalam hal merangsang keaktifan dalam proses belajar, maka guru sebagai tenaga pendidik selain merancang model pembelajaran yang efektif juga perlu dalam memberikan seperangkat pertanyaan yang perlu dipecahkan serta dapat mendorong siswa untuk berfikir dan menggunakan nalar atau analisis, karena dengan adanya pertanyaan siswa akan termotivasi dalam mancari solusi pemecahannya dengan berbagai media dan sumber pembelajaran. Adapun pertanyaan yang dirancang harus menantang dan produktif serta imajinatif sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah diketahui oleh siswa dengan menggunakan gagasan sendiri tanpa mengulang penjelasan dari guru sehingga dapat memungkinkan semua siswa terlibat secara aktif baik secara mental maupun fisik dalam proses belajar. Dengan demikian timbul berbagai strategi yang perlu dikuasai guru dalam hlm Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta :Pustaka Insan Madani, 2008), 9 pengelolaan pembelajaran, yaitu menyediakan pertanyaan yang mendorong siswa berfikir analisis produktif, menyediakan umpan balik yang bermakna, mengatur belajar secara kelompok, dan menyediakan penilaian yang memungkinkan siswa melakukan unjuk perbuatan sehingga siswa dapat menemukan jawaban serta memiliki pengetahuan secara komprehensif. 15 Pada dasarnya siswa dapat menemukan jawaban terhadap masalah (problem) dengan berbagai cara : a. Mengidentifikasi motif masalah yang ditampilkan b. Mencari bukti-bukti atau kejadian yang menunjang suatu kesimpulan c. Menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang ada. 16 Secara umum, karakteristik pemikiran kritis siswa dalam analisis pemecahan masalah adalah adanya kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan dari pengamatan, mampu berpikir secara deduktif, dan mampu mengidentifikasi asumsi secara logis. 17 Adapun beberapa keuntungan dalam analisis pemecahan masalah dalam proses belajar ini adalah : a. Pemecahan masalah dapat melibatkan siswa secara aktif dalam belajar b. Membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan ke dalam realita kehidupan c. Membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan baru untuk persoalan berikutnya d. Membantu siswa dalam keterampilan berfikir kritis e. Membantu siswa dalam mengevaluasi pemahaman dan mengidentifikasi alur pikirannya terhadap materi ajar. 18 Dari beberapa hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dikatakan aktif jika siswa memiliki inisiatif dalam mencari sumber belajar sebagai alternatif pemecahan masalah, memiliki hubungan sosial dalam 15 Martinis Yamin, Taktik Mengembangkan Kemampuan individual Siswa, (Jakarta, Gaung Persada Press, 2009), hlm Marno, Strategi dan metode Pengajaran, (Yogyakarta : Ar-Ruzz, 2009), hlm Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta :PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm Martinis Yamin,Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa, hlm. 83 10 memecahkan masalah, serta memiliki respon dalam menanggapi pendapat siswa lain serta berani memberi pertanyaan dan tanggapan baik pada guru maupun siswa lain. Secara umum siswa dapat aktif jika diberi pertanyaan sebanyaknya, sehingga siswa memiliki inisiatif untuk menyelesaikannya. 2. Macam-Macam Keaktifan dalam Belajar Mengajar Keaktifan siswa pada dasarnya mencakup keaktifan jasmani dan keaktifan rohani. Adapun keaktifan jasmani dan rohani tersebut adalah : a. Keaktifan akal Keaktifan akal ini meliputi aktif dalam memecahkan masalah, menyusun dan mengambil keputusan. Sehingga dengan sering melakukan hal tersebut, maka siswa akan lebih mudah untuk berfikir dan mudah menyelesaikan problem pada setiap pembelajaran. b. Keaktifan ingatan Keaktifan ingatan ini pada dasarnya dilakukan oleh siswa ketika menerima pelajaran yang disampaikan oleh guru, dimana semua yang telah terungkap akan disimpan dalam otak dan pada suatu saat dapat diungkapkan kembali dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, ingatan yang aktif berhubungan erat dengan konsentrasi seseorang. jika konsentrasi pada saat pembelajaran penuh dan terfokus dalam proses belajar, maka semua informasi yang telah diperoleh dalam jumlah banyak juga akan disimpan dalam otak, begitu sebaliknya. c. Keaktifan emosi Keaktifan emosi pada dasarnya berhubungan dengan minat pada suatu pelajaran. Sehingga, siswa seharusnya mencintai pelajaran walaupun kondisi guru, media serta metode pembelajaran kurang sempurna. 19 Selain aktivitas jasmani dan rohani, banyak aktivitas lain yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang tidak hanya mencatat dan mendengarkan Sriyono, Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992), hlm. 11 seperti lazimnya pada sekolah tradisional. Paul B. Diedrich mengklasifikasikan aktivitas peserta didik, yaitu : a. Visual activities : membaca dan memperhatikan. b. Oral activities : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengajukan pendapat, dan diskusi. c. Listening activities : terdiri dari mendengarkan uraian dan penjelasan, percakapan. d. Writing activities : menulis cerita, karangan, laporan. e. Drawing activities : menggambar, membuat grafik, peta, diagram. f. Mental activities : menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, dan mengambil keputusan. g. Emotional activities : memiliki minat, merasa bosan, berani, tenang. 20 Dengan demikian, secara umum aktivitas siswa dalam proses belajar dapat dirangkum dalam beberapa tipe kegiatan belajar : a. Keterampilan b. Pengetahuan c. Informasi d. Konsep e. Pemecahan masalah 21 Dari beberapa aktivitas tersebut, tentunya baik bagi siswa dan guru dapat memberikan manfaat dalam proses pembelajaran, diantaranya : a. Siswa dapat mencari sendiri pengalaman secara langsung. b. Memupuk kerjasama yang harmonis dikalangan para siswa yang pada akhirnya dapat memperlancar kerja kelompok. c. Siswa belajar berdasarkan minat dan kemampuannya sendiri. d. Belajar dapat dilaksanakan secara realistis dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman, berpikir kritis, dan menghindari verbalisme. 20 Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Bandung : Jemmars, 1982), hlm Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta :Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 8 12 e. Proses pembelajaran menjadi hidup sebagaimana kehidupan masyarakat yang penuh dinamika. f. Memupuk disiplin belajar yang demokratis dan kekeluargaan. 22 Dari beberapa keaktifan tersebut dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa secara umum terdiri dari keaktifan akal, keaktifan ingatan, dan keaktifan emosi. Adapun keaktifan siswa dalam memecahkan masalah tersebut termasuk dalam keaktifan akal yang melibatkan aspek pikiran dan struktur kognitif secara komprehensif. 3. Indikator Keaktifan dalam Belajar Mengajar Sebagai tenaga pendidik, guru dalam proses belajar mengajar setidaknya mengetahui ciri-ciri yang tampak dan dapat diamati serta diukur sebagai indikator adanya keaktifan siswa dalam belajar. Dengan mengetahui indikator tersebut, maka guru dapat mengetahui secara langsung sikap dan kadar keaktifan siswa. Adapun indikator keaktifan dalam analisis pemecahan masalah dalam belajar adalah : a. Guru tidak mendominasi pembicaraan, tapi lebih banyak memberikan rangsangan berfikir pada siswa untuk memecahkan masalah b. Aktivitas belajar peserta didik dalam bentuk kelompok untuk memecahkan masalah (problem solving) c. Partisipasi setiap siswa dalam melaksanakan tugas belajar melalui berbagai cara. d. Keberanian siswa dalam mengajukan pendapat. e. Keterampilan menjelaskan kembali hasil diskusi pemecahan masa
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks