BAB II DESA PARULOHAN HINGGA TAHUN PDF

Please download to get full document.

View again

of 26
24 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB II DESA PARULOHAN HINGGA TAHUN Asal-Usul Nama Desa Nama sebuah desa sangat penting khususnya dalam suku Batak Toba. Pada umumnya hampir di setiap wilayah pemukiman ataupun perkmpungan suku
Document Share
Document Transcript
BAB II DESA PARULOHAN HINGGA TAHUN Asal-Usul Nama Desa Nama sebuah desa sangat penting khususnya dalam suku Batak Toba. Pada umumnya hampir di setiap wilayah pemukiman ataupun perkmpungan suku batak Toba, pemberian nama untuk sebuah daerah bisanya dilatarbelakangi dari kondisi awal di daerah itu. Nama sebuah desa biasanya menjadi identitas yang menjadi ciri khas yang melambangkan keadaan di suatu desa atau daerah tertentu. Nama desa bukanlah hanya sebagai simbol namun jika dikaitkan dengan makna atupun arti nama desa tersebut, nama desa pada umumnya sering mempunyai hubungan dengan keadaan manusia (masyarakat) yang bertempat tinggal di dalam suatu desa. Jika dilihat dari etimologi atau asal-usul kata Parulohan berasal dari kata godang ulok, dalam bahasa Batak Toba Parulohan artinya sarang ular. Konon pada saat itu masyarakat sering kali bertemu dengan ular, bahkan ular sering masuk ke rumah penduduk. Tak jarang dulunya di Parulohan sering kali ditemukan ular, baik di areal pertanian maupun pemukiman masyarakat. Bahkan apabila masyarakat ingin membuka lahan pertanian, masyarakat sering kali ditemukan sarang ular. Parulohan bukan hanya menjadi sebuah nama melainkan juga sebagai filosofi/falsapah hidup terhadap masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Parulohan. Masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Parulohan menggangap nama Parulohan bukan sebuah kata yang mengandung makna yang negatif. Akhirnya mengingat ada pepatah orang batak Toba mengatakan Marbisuk songon Ulok, Marroha songon Darapati (pintarlah seperti ular dan punya hati seperti merpati) artinya selalu pintar dan pandai menempatkan diri dalam setiap keadaan dan kondisi apapun. Maka dari pepatah 13 tersebut diangkatlah nama desa ini menjadi Desa Parulohan dengan maksud agar kelak keturunan dari desa ini orang yang pintar dan maju dalam pemikiran. 16 Keadaan maupun kondisi sebuah tempat mempunyai sebuah arti yang menjadi simbol dan dari keadaan tercipta sebuah nama. Nama itu bukanlah hanya sebuah ungkapan, namun nama itu tercipta dari sebuah sejarah di masa lampau. Parulohan bukanlah hanya sebuah ungkapan yang menandakan sebuah tempat, Parulohan menjadi bukti bagian dari masa lalu. Kejadian di masa lalu yang berarti sampai sekarang. 2.2 Latar Belakang Historis Desa Parulohan Awal mulanya perkampungan di Parulohan disebut dengan Huta 17. Pemukimam di Huta Parulohan belum jelas diketahui, sejak kapan berdirinya dan siapa orang yang pertama kali bertempat tinggal di daerah ini. Namun jika dilihat dari silsilah dan keturunan, Huta ini telah berdiri dan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Huta Parulohan pertama kalinya dihuni dan didirikan oleh Ompu Gulasa, Ompu Sumandar dan Ompu Parik 18, ketiga ompu ini merupakan nenek moyang dari marga Sihombing yang pertama kali bermukim dan menempati Huta Parulohan. Hal tersebut terbukti dari, dimana mayoritas penduduk di Huta Parulohan adalah marga Sihombing yang berasal dari keturunan Ompu Gulasa, Ompu Sumandar dan Ompu Parik 19. Kalaupun sekarang 16 Wawancara dengan Tolopan Sihombing di Banjar Ganjang 2 Juli Dalam buku yang berjudul Toba Na Sae karya Sitor Situmorang,bahwa huta adalah luasan hutan berupa lapangan kecil, di tengahnya sebuah pekarangan dan terbuka. Di satu sisi pekarangan terdapat sejumlah rumah kediaman, biasanya berjejer letaknya. Di belakang rumah ada kebun untuk keperluan sehari-hari, dihadapan rumah-rumah kediaman itu berdiri sebarisan lumbung (sopo), juga terdapat satu atau dua tempat berkubang. Keseluruhanya dikelilingi oleh tembok yang ditanami dengan bambu, kadangkadang di sekitar temboknya digali parit. 18 Jika dilihat dari silsilah toga Sihombing, Ompu Gulasa, Ompu Sumandar dan Ompu Parik merupakan keturunan dari Ompu Datu Lobi yang bermigrasi dari daerah Tipang (Kecamatan Baktiraja) ke daerah Lintong Nihuta dan membentuk huta sendiri yaitu Desa Parulohan. 19 Sebutan Ompu Gulasa, Ompu Sumandar dan Ompu Parik bukanlah nama, tetapi gelar yang menandakan kekuasaan dan kemampuan. 14 ada beberapa marga yang di Huta Parulohan, itu pasti ada hubunganya dengan marga Sihombing. 20 Awalnya Huta Parulohan dibagi dalam tiga wilayah Paradatan (kekuasaan) yaitu wilayah paradatan ompu Gulasa, paradatan ompu Sumandar dan paradatan ompu Parik. Adapun pembentukan wilayah paradatan didasarkan pada tempat ataupun huta masingmasing Ompu.Wilayah paradatan ompu Gulasa berada di beberapa huta yaitu Huta Banjar Dolok, Janji Maria, Sosor Bagot dan Sosor Bagot, wilayah paradatan ompu Sumandar hanya ada di dua Huta yaitu Huta Lobutua dan Banjar Ganjang sedangkan wilayah paradatan ompu Parik berada di Sosor Julu, Sidua Huta dan Parsiponan. Setiap huta awalnya dikepalai oleh seorang Raja Huta yaitu keturunan dari pendiri Huta (sampai generasi berikutnya). Jabatan sebagai Raja Huta di desa ini sifatnya turun temurun dan menganut prinsip hak waris berada di tangan garis tertua/putra tertua (primogeniture). Adat di desa ini juga dulunya menenukan bahwa hak Raja Huta bersifat kekal (selamanya-lamanya) dan juga sebagai pengayom tanah ulayat (adat) yang hingga sampai sekarang juga terjadi. Dalam perkembanganya huta Parulohan bukan lagi hanya dihuni oleh Marga Sihombing. Masuknya marga yang lain ke Huta Parulohan diakibatkan oleh karena adanya faktor perkawinan. Adapun faktor perkawinan yaitu adanya marga lain yang menikahi anak dari keturunan marga Sihombing dari Huta Parulohan. Bagi salah satu marga lain yang menikah dengan anak boru (anak perempuan) yang berasal dari salah keturunan marga dari Huta Parulohan, dan bertempat tinggal di Huta Parulohan biasanya berkedudukan sebagai sonduk hela ataupun boruni huta ( marga boru). Adanya faktor perkawinan yang menyebabkan bertambahnya marga lain yang berdomisili di Huta Parulohan, sehingga Huta Parulohan bukan lagi hanya ditempati oleh 20 Wawancara dengan Sanggam Sihombing di Lobutua 4 Juli Marga Sihombing. Adanya faktor perkawinan juga menyebabkan berdirinya perkampungan baru serta menyebabkan munculnya bius 21 (raja adat) yang berasal dari beberapa keturunan marga. Jabatan sebagai bius bukan hanya dipegang oleh raja huta (keturunan pendiri huta), peranan sebagai bius juga dijabat oleh marga boru yang telah mendirikan perkampungan baru (lumban) di Huta Parulohan. Marga boru yang menempati Huta Parulohan terdiri dari beberapa marga seperti: Marga Sinaga, Siregar, Pakpahan, Samosir, Sitinjak, Nababan, Sibuea, Tampu Bolon, Sianturi dan beberapa marga lainya. Di Huta Parulohan kedudukan paling tinggi biasanya dipegang oleh marga pemilik huta atau sering disebut dengan Raja Huta 22. Raja Huta mempunyai hak yang lebih tinggi dari Marga Boru, dan bagi marga boru yang tinggal menetap di Huta Parulohan harus menjalankan peraturan yang dibuat oleh Raja Huta. Status marga boru sebagai pendatang dalam hukum adat hanyalah menumpang dan berdomisil di tanah ulayat/adat marga raja huta lewat perkawinan. Huta Parulohan yang berganti nama menjadi Desa Parulohan. Menurut informasi yang penulis dapatkan Desa Parulohan tidak diketahui jelas sejak kapan Desa Parulohan didirikan, dan bagaimana latar belakang awal pergantian Huta Parulohan menjadi Desa Parulohan. Namun, jika dilihat dari jumlah orang yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa. Desa Parulohan telah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu tanpa diketahui latar belakang dan proses pembentukanya. Karena diketahui desa ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Pada tahun 1970 Desa Parulohan pernah disatukan menjadi satu wilayah 21 Bius atau yang sering disebut dengan raja adat (petinggi-petinggi)artinya jabatan tertinggi dalam sebuah huta setelah raja adat. Bius juga sering diartikan sebagai organisasi sosial tunggal yang berotonomi berdasarkan ekonomi pertanian sawah. 22 Arti dan pengggunaan istilah Raja dalam bahasa Toba bermacam-macam dan sering disalahtafsirkan oleh pengamat asing, Dalam suku Batak Toba Khususnya masyarakat di Desa Parulohan bahwa raja itu identik dengan setiap orang dewasa, kepala keluarga, tanpa memandang asal-usul dan status sosialnya (kalau bukan Budak/hatoban) maka ia berstatus raja. Raja huta biasanya berasal dari keturunan pendiri huta menurut garis bapak, yaitu raja pertama. Jabatan ini, apabila keadaaan mengijinkan, diwariskan secara turun temurun oleh putra dari bapaknya. 16 pemerintahan (satu desa) dengan Desa Sibuntuon Partur, dan pada tahun 2003 Desa Sibuntuon Partur diciutkan lagi kembali ke desa semula Kondisi Gografis Desa Parulohan Letak dan Keadaan Alam Desa Parulohan merupakan salah satu desa dari 22 desa yang berada di Kecamatan Lintong Nihuta Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Desa Parulohan memiliki luas wilayah 761 Ha atau 7,61 km. Desa Parulohan berada pada ketinggian 1500 meter dpl (diatas permukaan laut) dengan curah hujan 2309 Mm / tahun dan jumlah bulan hujan hanya 5 bulan setiap tahunnya. Jarak Desa Parulohan dari ibu kota Kecamatan Lintong Nihuta yaitu Desa Sibuntuon Parpea (Pasar Baru) sekitar 3 Km, dan berjarak 32 Km dari Kecamatan Dolok Sanggul (yang sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Humbang Hasundutan) 24. Secara administratif Desa Parulohan berbatasan dengan: - Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Bakti Raja. - Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sibuntuon Partur. - Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sigumpar, Desa Pearung (Kecamatan Paranginan). - Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sitolu Bahal dan Desa Habeahan. Dengan luas wilayah 766 Ha atau 7,61 Km, Desa Parulohan terbentuk atas 6 kawasan dusun dengan perincian luas setiap dusun sebagai berikut: 23 Wawancara dengan Arpin Sihombing di Banjar Dolok 4 Juli Format Laporan profil Desa dan Kelurahan, Desa Parulohan tahun - Dusun 1: luasnya 130 Ha (Sosor julu, Lumban Pakpahan, Lumban Natur, Lumban Dolok). - Dusun 2: luasnya 74 Ha (Sidua Huta, Parsiponan). - Dusun 3: luasnya 89 Ha (Janji Maria, Lumban Jobit, Lumban Tua, Banjar Ganjang, Lumban parhehean). - Dusun 4: luasnya 90,32 Ha (Lumban Tumanro, Banjar Dolok, Sosor Bagot, Sosor Bahal, Banjar Sinaga). - Dusun 5: luasnya 169 Ha (Lobutua, Lumban Rialan, Lumban Rumina, Lumban Judika). - Dusun 6: luasnya 208,64 Ha (Lumban Tarias, Lumban Spantun, Lumban Siregar, Lumban Jorang, Lumban Lobuan, Lumban Tonga-Tonga, Lumban Batuguri, Lumban Sibuea) Keadaan Tanah dan Status Kepemilikan/ Penguasaan Tanah Tradisi adat masyarakat di Desa Parulohan yang menganggap bahwa tanah itu sering disebut dengan ulos na so buruk (ulos yang tak bisa rusak). Masyarakat juga mengganggap bahwa tanah merupakan barang yang sangat berharga sebagai warisan dari ompu sijolo-jolo tubu (nenek moyang) dan titipan dari Debata mulajadi nabolon (Tuhan Yang Maha Esa). Tanah yang dianggap sangat berharga bagi masyarakat pada saat itu, akibatnya sangat jarang masyarakat yang menjual tanah. Masyarakat yang menjual tanahnya itu hanyalah karena adanya kebutuhan tertentu (keadaaan paksaaan), awalnya sistem penjualan tanah dilakukan masyarakat yaitu masyarakat yang menjual tanah selalu mengusahakan untuk menjual tanahnya ke sesama keluarga (keluarga dekat). Sebagian masyarakat juga ada yang menjual tanahnya dengan menjual tanahnya dengan sistem marbile (tanah dibayar dengan tanah), dan disesuaikan dengan kondisi tanah. Secara rinci 18 pemamfaatan lahan sebelum adanya pertanian kopi Sigarar utang di Desa Parulohan dapat terlihat pada tabel berikut: Tabel 1.1 Luas Lahan menurut Peruntukkan di Desa Parulohan Tahun 1980 No Peruntukkan Lahan Luas Presentase 1 Persawahan 82,50 Ha 10,83 % 2 Areal pertanian kopi 17,75 Ha 4,35 % 3 Tegalan (lahan kosong) 614,75 Ha 80,31 % 4 Perumahan / Pemukiman 13,55 Ha 21,77 % 5 Kolam / Perikanan 22,00 Ha 2,88 % 6 Perkantoran / Sarana Sosial a.kantor/balai Desa b.1poskesdes c.1unit Gereja d.1unit SD e.jalan Umum/ Jalan Dusun f.saluran Irigasi Tersier g.saluran Irigasi Pembuang h.kuburan i.irigasi 0,02 Ha 0,08 Ha 0,35 Ha 0,20 Ha 5,31 Ha 0,26 Ha 0,11 Ha 5,00 Ha 0,05 Ha 0,002 % 0,010 % 0,045 % 0,026 % 0,69 % 0,034 % 0,014 % 0,65 % 0,007 % TOTAL 761,32 Ha 100 % ( Sumber : Koordinar Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Lintong Nihuta tahun 1980) Sebagian besar tanah di Desa Parulohan merupakan tanah podzal (podzolid) 25, dan sebagian kecil lainnya adalah tanah merah. Sebagian besar tanah di Parulohan sangat cocok digunakan untuk lahan pertanian pangan, palawija dan holtikultura. Kondisi 25 Yang dimaksud dengan tanah podzal adalah tanah subur yang pada umumnya berada di daerah pengunungan, dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu rendah/rendah. 19 wilayah Desa Parulohan dengan keadaan tanahnya datar, berada pada daerah pegunungan yang beriklim dingin 26. Sebagian besar tanah di Desa Parulohan merupakan tanah tegal (perladangan) yang pada waktu itu digunakan untuk pertanian padi dan ubi. Sebelum adanya pengaruh modern ataupun pengaruh dari budaya lain, hukum pengusaan tanah di Desa Parulohan disesuikan dengan hukum adat dan bius yang berlaku, adapun hukum adat penguasaan tanah yaitu: hukum pertanahan tanah adat (ulayat) merupakan milik Raja Huta (pendiri Huta), kawasan sumber daya komunal (hutan, padang rumput penggembalaan, Harangan, tambok (kali/waduk) dan pemukiman dikuasai secara bersama-sama (kolektif) berdasarkan hukum yang ditetapakan oleh Raja Huta, hukum parsahutaon adalah hak pendiri Huta/ pemilik Huta sesuai dengan aturan yang dibuat oleh Raja Huta. Adanya pengaruh dari hukum adat yang menyatakan bahwa sebagian besar kawasan huta (desa), merupakan hak pendiri Huta dan didasarkan garis keturunan dari anak laki-laki). Sistem kepemilikan tanah di desa ini lebih ditekankan kepada anak laki yang merupakan penyambung garis keturunan, dan sebagian tanah di berikan kepada boru (anak perempuan). Dalam hukum adat di Desa Parulohan, pola kepemilikan (pembagian) tanah untuk anak dan boru sangatlah berbeda. Hal ini disebut dengan istilah Panjaean dan Pangusean, panjaean yaitu sebidang tanah warisan yang diberikan kepada anak laki-laki, tanah penjaean biasanya diberi orang tuanya setelah anaknya sudah marhasohotan (berumah tangga/ membentuk keluarga baru). Adapun pangusean yaitu sebidang tanah yang menjadi bagian dari boru (anak perempuan), pemberian tanah untuk boru sama halnya seperti untuk boru yaitu diberi setelah borunya marhamulian (menikah dengan lelaki bermarga lain). Antara panjaean dan pengusean memang berbeda, luas tanah 26 Sumber: RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Desa Parulohan, panjean yang diberikan kepada anak biasnya jauh berbeda dengan pangusean yang diberukan kepada boru Kondisi Sosial Budaya dan Sistem Kemasyarakatan Kehidupan sosial masyarakat di Desa Parulohan sangat kental dengan tradisitradisi peninggalan leluhur. Upacara-upacara adat yang berhubungan dengan siklus hidup manusia (lahir dewasa/berumah tangga-meninggal dunia), seperti upacara kelahiran (maresek-esek) 27, pemberian nama (tardidi/parupa-upaan) 28, pernikahan dan upacaraupacara yang berhubungan dengan kematian,hampir selalu dilakukan oleh warga masyarakat. Selain itu, tradisi keagamaan (hari-hari besar agama Kristen), dan syukuran atas hasil panen (pesta gotilon) 29 atau semacamnya juga masih dilakukan setiap tahunya. Gotong-royong biasanya bertujuan untuk kepentingan masyarakat umum atau kepentingan sesama warga masyarakat. kegiatan gotong-royong pada umumnya diwujudkan dalam kegiatan atau aktivitas kerja bersama dengan tujuan yang sama. Seperti kerja bakti menata lingkungan ataupun kerja bersama menyelenggarakan suatu kegiatan upacara (ritual). Ikatan kekeluargaan bagi petani kopi di Desa Parulohan yang masih terjaga erat, baik yang tinggal di dalam satu dusun maupun yang tinggal di dusun lain. Eratnya bentuk persaudaraan di desa ini terlihat dari kegiatan gotong-royong dan adanya rasa tolong menolong diantara warga masyarakat dalam kehidupan bersama khususnya dalam kehidupan agama dan adat. Para petani di desa ini menunjukkan adanya rasa senasib dan sepenanggungan di antara mereka. Hal ini antara lain bila diantara mereka sedang 27 Maresek-esek dilaksanakan oleh para ibu rumah tangga sebagai bentuk ucapan syukur kepada bayi yang baru lahir. 28 Tardidi atau parupa-upaan dilaksanakan oleh masyarakat yang bergama Kristen, hal ini dilakukan dalam rangka pemberian nama kepada setiap bayi yang baru lahir dan bayi itu sudah terdaptar sebagai angggota jemaat gereja sesuai gereja yang diikuti oleh kedua orangtua bayi tersebut. 29 Pesta gotilan atau pesta syukuran, acara ini dilaksanakan di gereja setiap tahunya dalam rangka pemberian sebagian hasil pertanian (biasanya padi atau pun dalam bentuk uang) sebagai bentuk ucapan syukur terhadap berkat yang diterima oleh jemaat gereja. 21 mengadakan suatu pesta (acara adat), ataupun bila diantara mereka sedang mengalami musibah (dukacita). Dalam kehidupanya sebagai petani mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu bagaimana hasil produksi pertanian kopi mereka semakin meningkat. Tujuan utama sebagai petani ini pulalah yang mendorong adanya semangat gotong-royong dan rasa tolong menolong di antara petani di desa ini. Salah satu bentuk gotong-royong dan tolong-menolong dalam kehidupan bermasyarakat petani kopi di Desa Parulohan terlihat dalam sebuah acara pesta (adat). Bagi masyarakat di Desa Parulohan yang melakukan sebuah acara pesta baik pernikahan (pamasu-masuon), mamestahon huta (pesta tugu/peresmian suatu huta), monding / saur satua (kematian), ulang tahun, dll. Untuk meringankan beban dari keluarga yang mengadakan pesta, para tetanga (dongan sahuta dan dongan saparadatan) biasanya memberikan sumbangan (papungu tuppak) dalam bentuk uang ataupun beras. Sumbangan ini dilakukan dalam bentuk kewajiban bagi anggota masyarakat yang mengadakan acara adat, hal ini juga dilakukan secara bergantian dalam setiap acara adat. Selain memberikan sumbangan, para petani di desa ini juga berpatisipasi untuk membantu pihak yang mengadakan pesta dalam bentuk materi dan tenaga. Kegiatan tolong-menolong juga terlihat pada sebuah keluarga yang tertimpa kedukaan (kemalangan), seperti ada salah satu dari anggota keluarga yang kecelakaan. Apabila ada terdengar salah satu dari warga masyarakat yang kemalangan, para petani di desa ini pada umunya berdatangan untuk menjenguk. Biasnya bagi anggota masyarakat yang tertimpa bencana, di desa ini diadakan sebuah acara Mangapuli (menjenguk orang yang sakit). Acara ini dilakukan dalam bentuk doa bersama antar sesama warga, bagi keluarga terdekat yang mengalami musibah biasanya mamboan Sipanganon (membawa makanan) sebagai bentuk adanya rasa saling senasip dan sepenanggungan). 22 Budaya dan hukum adat yang selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat, sehingga pola kehidupan masyarakat di desa ini diikat oleh sistem adat yang berlaku. Masyarakat menggangap bahwa selain hukum agama, hukum tertinggi adalah hukum adat. Segala bentuk permasalahan/perselisihan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, selalu diselesaikan dengan hukum adat disamping hukum agama. Hukum adat yang mengacu pada sistem dalihan natolu (somba marhula, elek marboru, manat mardongan tubu), artinya bahwa kita harus selalu hormat kepada Tulang (keluarga dari pihak ibu), sabar terhadap boru (keluarga dari pihak perempuan) dan harus hati-hati-hati kepada dongan tubu (satu marga). Sistem inilah yang selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat dalam menjalankan hidupnya sehari-hari. Adanya umpasa dan umpama (pribahasa dan pepatah) yang merupakan bagian dari budaya adat yang berlaku di Desa Parulohan. Masyarakat di desa ini menerapkan hukum adat dalam bentuk pengucapan umpasa dan umpama yang banyak mengandung makna, nilai-nilai ataupun norma-norma (falsapah hidup). Sistem politik, hukum dan adat diwujudkan/didasari dari umpasa dan umpama yang sumber petunjuk hidup bermasyarakat. Dalam sistem adat, kehidupan masyarakat di desa ini mempunyai status ataupun golongan yang berbeda yaitu status parhuta (pemilik huta) dan boruni huta/sonduk hela/maisolat (marga boru). Namun, dalam hukum agama status dan golongan masyarakat sama tanpa ada perbedaan. Dalam hukum agama setiap masyarakat yang melanggar hukum, dihukum sesuai hukum yang berlaku tanpa memandang status maupun golongan. Bebeda dengan h
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks