BAB I PENDAHULUAN. laporan kinerja BNN pada tahun 2015 dimana terjadi peningkatan

Please download to get full document.

View again

of 17
7 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seperti yang kita ketahui bahwa narkoba di Indonesia sudah merajalela. Kepala Badan Narkotika Nasional, menyatakan Indonesia darurat narkoba sejak tahun 2015 (Rachmawati
Document Share
Document Transcript
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seperti yang kita ketahui bahwa narkoba di Indonesia sudah merajalela. Kepala Badan Narkotika Nasional, menyatakan Indonesia darurat narkoba sejak tahun 2015 (Rachmawati dalam kompas.com, 2015). Hal ini sejalan dengan hasil laporan kinerja BNN pada tahun 2015 dimana terjadi peningkatan penyalahgunaan narkoba sebesar 0,02% yang awalnya sebesar menjadi kasus (BNN, 2015). Presiden Joko Widodo pada acara pembukaan Musrenbangnas RPJMN juga menyatakan bahwa diperkirakan ada 50 orang di Indonesia yang meninggal setiap harinya karena penyalahgunaan narkoba dan jika dikalkulasi dalam setahun, ada sekitar jiwa meninggal dunia karena penggunaan narkoba (www.kompas.com, 2015). Berdasarkan jenis penyalahgunaannya, narkoba dikelompokkan menjadi kelompok penyalahgunaan narkoba non suntik dan narkoba suntik, dan dari kasus penyalahgunaan narkoba, diantaranya adalah kasus narkoba suntik (BNN, 2015). Hasil wawancara dengan seorang konselor di BNN menyebutkan bahwa narkoba suntik dapat memberikan efek euforia atau kesenangan yang lebih cepat dibandingkan dengan narkoba non suntik, karena penggunaannya langsung disuntikkan ke dalam aliran darah. Selain itu, mudahnya jarum suntik diperoleh di Puskesmas atau apotek membuat pemakaian jarum 1 2 suntik lebih dipilih oleh para pengguna narkoba dan bahkan jarum suntik yang dimiliki tersebut dapat dipakai bersama-sama dan dapat digunakan berkali-kali. Padahal penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik secara bersamasama dapat menyebabkan kurangnya oksigen pada otak, penurunan fungsi seksual, kerusakan hati atau ginjal secara permanen, infeksi katup jantung, keguguran, ganguan perilaku, hingga menjadi jalur penyebaran penyakit menular berbahaya seperti hepatitis B, hepatitis C, dan HIV/AIDS (BNN, 2014). Pada tahun 2014 BNN mencatat orang terjangkit HIV akibat penggunaan narkoba melalui jarum suntik secara bergantian. Hal ini sejalan yang diungkapkan oleh Kepala Diskes Bulungan bahwa kasus HIV sangat mudah ditularkan, apalagi telah maraknya penyalahgunaan narkoba yang menggunakan jarum suntik (bulungan.com, 2016). Besarnya resiko yang ditimbulkan oleh penggunaan narkoba melalui jarum suntik membuat Pemerintah RI sejak tahun 2003 membuat program terapi rumatan metadon yang disingkat PTRM. PTRM yaitu rangkaian kegiatan terapi yang menggunakan metadon disertai dengan intervensi psikososial seperti melihat perubahan perilaku bagi pasien ketergantungan opioid (Permenkes No 57, 2013). Metadon sendiri adalah obat yang merupakan opioid sintetik yang dapat digunakan pada pasien ketergantungan narkotika seperti heroin (putaw) atau morfin (Spiritia, 2014). Metadon bereaksi selama 24 jam di dalam tubuh sehingga cukup diminum satu kali sehari. Dalam hal ini metadon menggantikan fungsi heroin dalam otak yang memiliki dampak terhadap pasien agar tetap merasa nyaman tanpa merasa sakau, hingga keinginan menggunakan jarum suntik 3 menghilang. Dengan metadon pasien dapat merasakan efek yang sama seperti menggunakan heroin atau putau tanpa menggunakan jarum suntik. Diharapkan dengan mengikuti program terapi metadon ini dapat menurunkan jumlah pengguna narkoba suntik dan menghentikan penularan penyakit berbahaya. Penulis tertarik memilih terapi PTRM karena PTRM ini dikhususkan untuk pengguna narkoba suntik agar tidak ketergantungan lagi dengan jarum suntik dan dirasa sangat besar efeknya dibandingkan narkoba non suntik, selain itu kemudahan untuk memperoleh sampel dalam terapi tersebut. Pada kenyataannya tidak mudah untuk mengikuti terapi PTRM. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sarasvita, Tonkin, Utomo, dan Ali (2012) pada pengguna narkoba suntik yang mengikuti PTRM pada tahun 2012, ditemukan bahwa terdapat 74,2% dalam 3 bulan dan 61,3% dalam 6 bulan pasien uji coba yang drop out atau putus terapi (Sarasvita dkk, 2012). Selain itu, di dalam penelitian yang dilakukan oleh Anwar, Wihastuti, dan Suharsono (2014) dari bukti registrasi jumlah kunjungan di layanan program terapi rumatan metadon saat studi pendahuluan di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan sampai Februari 2012 sebanyak 54,2% dari jumlah pengguna narkoba suntik yang terdaftar telah drop out. Di dalam penelitian tersebut, Anwar dkk juga mengatakan bahwa di Amerika menunjukkan data bahwa 7% hingga 64% pasien yang drop out terapi pada enam bulan pertama (Anwar dkk, 2014). Drop out disebabkan oleh berbagai macam alasan, diantaranya tidak mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dalam mengikuti terapi, tidak mampu mengikuti saran-saran dari petugas, tergiur ajakan teman-teman untuk 4 mengkonsumsi narkoba suntik kembali, serta perasaan tidak yakin terhadap terapi PTRM sehingga pasien akan mudah menyerah dalam mengikuti terapi tersebut. Berhentinya pasien saat mengikuti terapi, menyebabkan pasien belum dapat merasakan efek terapeutik dari program tersebut (Anwar dkk, 2014). Padahal pasien PTRM dapat berhasil apabila pasien tersebut mampu menyesuaikan diri dengan program terapi, memiliki keinginan untuk pulih dari ketergantungan obat, berani menolak lingkungan yang tidak baik bagi dirinya, tidak memiliki keinginan untuk kembali menggunakan narkoba suntik. Selain itu, pasien harus mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan proses dalam mengikuti terapi. Dan diharapkan pasien mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial selama mengikuti terapi tersebut maupun diluar lingkungan sosial terapi. Kemampuan itu disebut dengan penyesuaian sosial (Schneiders, 1960). Menurut Schneiders (1960) penyesuaian sosial dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk bereaksi secara sehat dan efektif terhadap suatu hubungan, situasi, dan relasi sosial yang ada, sehingga dapat mencapai keharmonisan sosial, seperti saling menghargai antar agama, budaya, suku dan kelompok. Individu yang memiliki penyesuaian sosial yang baik adalah individu yang mampu menolak lingkungan yang tidak baik bagi dirinya, mampu belajar dari pengalaman, memiliki kemampuan kontrol diri dan mampu mengendalikan emosinya. Mampu menjalin relasi dengan lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah atau tempat ia bekerja. Serta mampu bekerja sama, dan memiliki rasa humor. Ketika pasien PTRM memiliki penyesuaian sosial yang baik, maka diduga ia akan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan yang ada di program terapi 5 tersebut, seperti tidak mudah menyerah dalam mengikuti terapi, mampu merespon tuntutan selama mengikuti terapi, mampu menjalin relasi dengan sesama pasien dan petugas PTRM. Tidak mudah terhasut ajakan teman-teman menggunakan narkoba suntik kembali, serta ia akan belajar dari pengalamannya agar tidak kembali menggunakan narkoba suntik. Sehingga ketika pasien PTRM memiliki kemampuan tersebut, maka diprediksi pasien mampu mengikuti terapi PTRM hingga selesai. Berdasarkan wawancara pribadi yang dilakukan oleh peneliti kepada pengguna jarum suntik berinisial P sebagai berikut : saya sih masih suka kumpul sama teman-teman yang masih pakai narkoba suntik ya. Yaa. gimana pun juga. walaupun saya sudah ikut terapi ini hubungan sama teman tidak boleh putus ya. Saya sih yakin aja, optimis gitu gak bakal gunain narkoba lagi walaupun temanteman juga pada nawarin. Sering sih ditawarin gitu juga sama mereka (wawancara pribadi, 17 Oktober 2016). Dari hasil wawancara tersebut diduga dalam mengikuti terapi PTRM, P berani menolak lingkungan yang akan menyebabkan ia kembali menggunakan narkoba suntik. Ia juga belajar dari pengalamannya agar tidak terjerumus menggunakan narkoba suntik kembali. P juga tidak mudah terhasut dengan tawaran teman-temannya tersebut. Berbeda dengan individu yang memiliki penyesuaian sosial yang buruk, ia akan menemui kesulitan dalam melakukan penyesuaian diri di lingkungan sosialnya. Ia tidak akan mampu menjalin relasi dengan keluaga, masyarakat, maupun sekolah atau tempat ia bekerja. Ia tidak berani menolak lingkungan yang tidak diinginkan. Ia akan sulit untuk bekerja sama dan selalu berfikir negatif tentang lingkungannya. Ia juga tidak akan mampu mengontrol dirinya dan tidak 6 akan mampu mengendalikan emosinya. Dan pengalamannya tidak akan menjadi pembelajaran bagi dirinya. Ketika pasien PTRM memiliki penyesuaian sosial yang buruk, diduga ia tidak akan mampu mengikuti segala aturan yang ada di PTRM, tidak mampu mengikuti saran-saran dari petugas, merasa apa yang diyakini adalah benar, terhasut ajakan teman-teman untuk mengkonsumsi narkoba suntik kembali. Tidak mampu belajar dari kegagalan sehingga ia akan kembali menggunakan narkoba suntik, serta tidak mampu menjalin relasi dengan sesama pasien, petugas PTRM maupun di luar terapi. Sehingga ketika pasien memiliki kemampuan tersebut diprediksi pasien tidak akan mampu mengikuti terapi PTRM hingga selesai. Berdasarkan wawancara pribadi yang dilakukan oleh peneliti kepada pengguna jarum suntik berinisial D sebagai berikut : gue pernah drop out 2 kali. Waktu itu tuh karena gue balik make lagi. Biasalah ngumpul, ketemu sama temen-temen lama. ditawarin gitu kan ya. Yaudah make lagi. Lagi pula dulu tuh repot banget gitukan harus kesini terapi tiap hari, gak betah. Kalo pas make lagi kan sesuka kitanya aja. Apalagi dulu kerja jugakan (wawancara pribadi, 20 Oktober 2016). Dari hasil wawancara tersebut diduga dalam mengikuti terapi PTRM, D kembali menggunakan narkoba suntik karena ia tidak belajar dari pengalamannya, seperti mudah terhasut ajakan teman-teman untuk mengkonsumsi narkoba suntik kembali hingga ia mengalami dua kali drop out, tidak berani menolak lingkungan yang tidak baik bagi dirinya. Ditambah lagi D tidak mampu mengikuti segala aturan yang ada di PTRM sehingga membuat ia drop out dalam mengikuti terapi. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial, salah satu faktor yang dibutuhkan untuk memiliki penyesuaian sosial adalah Adversity Intelligence (Schneider, 1960). Menurut Stoltz (2000), Adversity Intelligence (AI) 7 adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk bertahan dan menghadapi kesulitannya. Adversity intelligence (AI) merupakan suatu kemampuan untuk memahami, merespon dan memperbaiki respon terhadap kesulitan dalam hidup. Stoltz (2000) mengungkapkan bahwa Adversity Intelligence memiliki tiga tingkatan, yaitu (a). Quitters. Seorang quitters memiliki tingkat Adversity Intelligence rendah. (b). Campers. Seorang campers memiliki tingkat Adversity Intelligence sedang dan (c). Climbers. Seorang climbers memiliki tingkat Adversity Intelligence tinggi. Pengelompokan tersebut dilihat dari bagaimana tingkatan daya tahan individu merespon suatu kesulitan. Pasien PTRM yang mampu bertahan dan dapat menyelesaikan program terapinya hingga benar-benar lepas dari ketergantungan narkoba pada suntik diprediksi adalah pasien yang memiliki AI yang tinggi atau kearah climbers. Karena pasien PTRM yang memiliki AI tinggi akan mampu mengikuti terapi dengan disiplin, memiliki daya juang yang tinggi untuk menyelesaikan terapinya, berani mengambil keputusan dengan segala resiko, fokus terhadap tujuan yaitu lepas dari ketergantungan narkoba suntik, fleksibel dalam menghadapi perubahan dosis, optimis akan sembuh dari ketergantungan narkoba suntik, serta memiliki keyakinan akan sukses mengikuti PTRM. Maka, ketika pasien PTRM memiliki adversity intelligence yang tinggi atau ke arah climbers, pasien tersebut diduga juga akan mampu mematuhi peraturan selama mengikuti terapi, dapat menyesuaikan diri dengan program terapi tersebut, mampu belajar dari kegagalan agar tidak kembali menggunakan narkoba suntik, memiliki motivasi untuk pulih dari ketergantungan obat, berani meng-ekspresikan dirinya, berani menolak 8 lingkungan yang tidak diinginkan, serta tidak memiliki keinginan untuk kembali menggunakan narkoba suntik, sehingga diprediksi pasien PTRM yang mencapai adversity intelligence yang tinggi atau kearah climbers akan memiliki penyesuaian sosial yang baik. Sedangkan pasien PTRM yang memiliki adversity intelligence yang rendah atau kearah campers atau quitters diduga akan cepat merasa puas dengan keadaan yang telah ia capai, tidak berani mengambil keputusan untuk menurunkan dosis, cukup percaya diri mengikuti program terapinya namun tidak dapat menyelesaikan program terapi tersebut. Bahkan jika pasien berlarut-larut dalam kondisi tersebut, diduga pasien tersebut tidak akan mampu bertahan dalam mengikuti terapi, pesimis tidak akan sembuh dari narkoba suntik, tidak mampu disiplin dalam mengikuti aturan terapi yang sudah ditentukan, menghindari tantangan, serta tidak memiliki motivasi untuk lepas dari ketergantungan narkoba suntik. Maka, ketika pasien PTRM memiliki adversity intelligence yang rendah atau ke arah campers atau quitters, pasien tersebut diduga tidak dapat menyesuaikan diri dalam mengikuti terapi, kesulitan dalam mengikuti terapi setiap hari, terbujuk ajakan teman-teman untuk mengkonsumsi narkoba suntik kembali. Ia tidak mampu belajar dari kegagalan sehingga ia akan kembali menggunakan narkoba suntik, berfikir negatif terhadap lingkungannya, mudah menyerah dalam mengikuti terapi PTRM, serta tidak berani menolak lingkungan yang akan membuat ia kembali menggunakan narkoba suntik. Sehingga diprediksi pasien PTRM yang mencapai adversity intelligence yang rendah atau kearah 9 campers atau quitters akan memiliki penyesuaian sosial yang buruk (Stoltz, 2000; Putra, Hidayati, & Nurhidayah, 2016). Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriyani (2008) mengenai Adversity Quotient dengan penyesuaian diri sosial mahasiswa perantauan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menunjukkan hasil bahwa adanya hubungan yang signifikan antara Adversity Quotient dengan penyesuaian diri sosial mahasiswa perantauan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sementara pada penelitian yang dilakukan oleh Ekasari dan Hafizhoh (2009) mengenai Adversity Quotient dan Dukungan Sosial dengan Intensi untuk pulih dari ketergantungan narkotika alkohol psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) pada penderita di wilayah Bekasi Utara Lembaga Kasih Indonesia yang menunjukan hasil bahwa adanya Hubungan yang signifikan antara Adversity Quotient dan Dukungan Sosial dengan Intensi untuk pulih dari ketergantungan narkotika alkohol psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) pada penderita di wilayah Bekasi Utara Lembaga Kasih Indonesia. Berbeda dengan dua penelitian tersebut yang sebelumnya telah dilakukan, yang meneliti tentang hubungan. Pada penelitian kali ini peneliti ingin meninjau hubungan yang sifatnya sebab-akibat atau kausalitas dari adversity intelligence terhadap penyesuaian sosial. Karakteristik subjek penelitian juga diarahkan pada pasien program terapi rumatan metadon. Berdasarkan penjelasan dari uraian di atas, maka peneliti ingin mengetahui dan melakukan penelitian apakah terdapat pengaruh adversity intelligence 10 terhadap penyesuaian sosial pada pengguna narkoba suntik yang mengikuti program terapi rumatan metadon (PTRM). B. Identifikasi Masalah Penyesuaian sosial adalah kemampuan individu untuk bereaksi secara sehat dan efektif terhadap suatu hubungan, situasi, dan relasi sosial yang ada. Individu yang memiliki penyesuaian sosial yang baik adalah individu yang mampu menolak lingkungan yang tidak baik bagi dirinya, mampu belajar dari pengalaman, memiliki kemampuan kontrol diri dan mampu mengendalikan emosinya. Mampu menjalin relasi dengan lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah atau tempat ia bekerja. Serta mampu bekerja sama, dan memiliki rasa humor. Sebaliknya, individu yang memiliki penyesuaian sosial yang buruk, ia akan menemui kesulitan dalam melakukan penyesuaian diri dilingkungan sosialnya. Ia tidak akan mampu menjalin relasi dengan keluaga, masyarakat, maupun sekolah atau tempat ia bekerja. Ia tidak berani menolak lingkungan yang tidak diinginkan. Ia akan sulit untuk bekerja sama dan selalu berfikir negatif tentang lingkungannya. Ia juga tidak akan mampu mengontrol dirinya dan tidak akan mampu mengendalikan emosinya. Dan pengalamannya tidak akan menjadi pembelajaran bagi dirinya. Ketika pasien PTRM memiliki penyesuaian sosial yang baik, maka diduga ia akan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan yang ada di program terapi tersebut, seperti tidak mudah menyerah dalam mengikuti terapi, mampu merespon 11 tuntutan selama mengikuti terapi, mampu menjalin relasi dengan sesama pasien dan petugas PTRM. Tidak mudah terhasut ajakan teman-teman menggunakan narkoba suntik kembali, serta ia akan belajar dari pengalamannya agar tidak kembali menggunakan narkoba suntik. Sehingga ketika pasien PTRM memiliki kemampuan tersebut, maka diprediksi pasien mampu mengikuti terapi PTRM hingga selesai. Pasien PTRM yang memiliki penyesuaian sosial yang baik diduga juga akan memiliki adversity intelligence (AI) yang tinggi atau ke arah climbers, karena pasien PTRM yang memiliki AI tinggi akan mampu mengikuti terapi dengan disiplin, memiliki daya juang yang tinggi untuk menyelesaikan terapinya, berani mengambil keputusan dengan segala resiko, fokus terhadap tujuan yaitu lepas dari ketergantungan narkoba suntik, fleksibel dalam menghadapi perubahan dosis, optimis akan sembuh dari ketergantungan narkoba suntik, serta memiliki keyakinan akan sukses mengikuti PTRM. Sehingga di prediksi ia akan mampu bertahan dan dapat menyelesaikan program terapinya hingga benar-benar lepas dari ketergantungan narkoba pada suntik. Ketika pasien PTRM memiliki penyesuaian sosial yang buruk, diduga ia tidak akan mampu mengikuti segala aturan yang ada di PTRM, tidak mampu mengikuti saran-saran dari petugas, merasa apa yang diyakini adalah benar, terhasut ajakan teman-teman untuk mengkonsumsi narkoba suntik kembali. Tidak mampu belajar dari kegagalan sehingga ia akan kembali menggunakan narkoba suntik, serta tidak mampu menjalin relasi dengan sesama pasien, petugas PTRM 12 maupun di luar terapi. Sehingga ketika pasien memiliki kemampuan tersebut diprediksi pasien tidak akan mampu mengikuti terapi PTRM hingga selesai. Saat pasien PTRM memiliki penyesuaian sosial yang buruk, maka diprediksi juga akan memiliki adversity intelligence yang rendah atau ke arah campers atau quitters. Karena diduga pasien akan cepat merasa puas dengan keadaan yang telah ia capai, tidak berani megambil keputusan untuk menurunkan dosis, cukup percaya diri mengikuti program terapinya namun tidak dapat menyelesaikan program terapi tersebut. Bahkan jika pasien berlarut-larut dalam kondisi tersebut, diduga pasien tersebut tidak akan mampu bertahan dalam mengikuti terapi, pesimis tidak akan sembuh dari narkoba suntik, tidak mampu disiplin dalam mengikuti aturan terapi yang sudah ditentukan, menghindari tantangan, serta tidak memiliki motivasi untuk lepas dari ketergantungan narkoba suntik. Berdasarkan uraian diatas peneliti mengidentifikasi permasalahan pada apakah terdapat pengaruh penyesuaian sosial terhadap adversity intelligence pada pengguna narkoba suntik yang mengikuti program terapi rumatan metadon (PTRM). C. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh adversity intelligence terhadap penyesuaian sosial pada pengguna narkoba suntik yang mengikuti PTRM. 13 D. Manfaat a. Manfaat teortitis Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan dalam bidang psikologi khususnya psikologi klinis dan psikologi sosial. b. Manfaat praktis Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu solusi pada para penyalahgunaan narkoba suntik untuk dapat bertahan dan berhasil mengikuti program terapi rumatan metadon (PTRM). E. Kerangka berpikir Program terapi rumatan metadon (PTRM) adalah salah satu program terapi yang dikhususkan untuk para pengguna narkoba suntik yang memiliki keinginan untuk berhenti dari penggunaan narkoba suntik. Agar berhasil mengikuti program PTRM, pasien diharapkan memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya atau yang biasa disebut dengan penyesuaian sosial (Schneiders, 1960). Individu yang memiliki penyesuaian sosial yang baik adalah individu yang mampu menolak lingkungan yang tidak baik bagi dirinya, mampu belajar dari pengalaman, memiliki kemampuan kontrol diri dan mampu mengendalikan emosinya. Mampu menjalin relasi dengan lingkungan keluarga, masyara
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks