BAB I, II RETENSIO SISA PLASENTA.docx

Please download to get full document.

View again

of 9
2 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Description:
Document Share
Document Transcript
  1 BAB II TINJAUAN TEORI A.   Perdarahan Pascasalin 1.   Definisi Perdarahan pascasalin primer terjadi dlam 24 jam pertama setelah persalinan, sementara perdarahan pascasalin sekunder adalah  perdarahan pervaginam yang lebih banyak dari normal antara 24 jam hingga 12 minggu setelah persalinan (Kemenkes, 2013). Beberapa hal yang disebabkan oleh perdarahan pasca  persalinan adalah perdarahan pasca persalinan, plasenta previa, solusio plasenta, kehamilan ektopik terganggu, abortus, ruptura uteri, dan penyebab yang lain seperti perdarahan karena robekan serviks, atonia uteri, retensio plasenta dan perdarahan pasca persalinan karena retensio sisa plasenta. 2.   Diagnosa Perdarahan pascasalin adalah perdarahan ≥ 500 ml setelah bayi lahir atau yang berpotensi mempengaruhi hemodinamika ibu. B.   Perdarahan Sisa Plasenta 1.   Definisi Perdarahan sisa plasenta adalah perdarahan yang terjadi akibat tertinggalnya kotiledon dan selaput kulit ketuban yang menggangu kontraksi uterus dalam menjepit pembuluh darah dalam uterus sehingga mengakibatkan perdarahan (Winkjosastro, 2008). Perdarahan sisa plasenta adalah perdarahan yang melebihi 500 cc setelah bayi lahir karena tertinggalnya sebagian sisa placenta termasuk selaput ketuban (Saifudin, 2002). Tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang dapat menimbulkan perdarahan post partum primer atau perdarahan post  partum sekunder (Sujiyatini, 2011). Retensio sisa plasenta adalah plasenta tidak lepas sempurna dan meninggalkan sisa, dapat berupa fragmen plasenta atau selaput ketuban tertahan. Retensio sisa plasenta disebabkan oleh plasenta tertanam terlalu dalam sampai lapisan miometrium uterus. Sewaktu suatu bagian plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat  2 menimbulkan perdarahan. Gejala dan tanda yang bisa ditemui adalah  perdarahan segera, uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak  berkurang, (Prawiroharjo, 2005). Tertinggalnya sebagian plasenta (sisa plasenta) merupakan  penyebab umum terjadinya perdarahan lanjut dalam masa nifas (perdarahan pasca persalinan sekunder). Perdarahan post partum yang terjadi segera jarang disebabkan oleh retensi potongan-potongan kecil  plasenta. Inspeksi plasenta segera setelah persalinan bayi harus menjadi tindakan rutin. Jika ada bagian plasenta yang hilang, uterus harus dieksplorasi dan potongan plasenta dikeluarkan (Cunningham, 2006). 2.   Bentuk perdarahan a.   Perdarahan pasca partus berkepanjangan sehingga pengeluaran lochea disertai darah >7-10 hari.  b.   Dapat terjadi perdarahan baru setelah partus pengeluaran lochea normal. c.   Dapat berbau akibat plasenta rest 3.   Etiologi a.   Perdarahan yang sudah pada kala III Hal ini disebabkan oleh pemijatan rahim yang tidak merata. Pijatan sebelum plasenta lepas, pemberian uterotonika dan lain-lain.  b.   Tindakan pengeluaran plasenta dengan cara Brandt Andew 1)   Hal ini disebabkan karena tarikan pada tali pusat pada saat melahirkan plasenta (achadiat, 2004). 2)   Karena cara menekan dan mendorong uterus yang terlalu dalam sedangkan plasenta belum terlepas dari uterus (Winkjosastro, 2008). c.   Perdarahan dari tempat implantasi plasenta (Winkjosastro, 2008). 1)   Kotiledon atau selaput ketuban tersisa 2)   Plasenta susenturiata 3)   Plasenta akreta, inkreta, perkreta 4.   Patofisiologi Tertinggalnya plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka (Saifuddin, 2002). Sewaktu suatu bagian plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan (Sujiyatini, 2011).  3 5.   Tanda dan Gejala a.   Perdarahan terus menerus Pada palpasi didapatkan fundus uteri masih dapat teraba yang lebih besar dari yang diperkirakan.  b.   Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang (Sujiyatini, 2011) c.   Plasenta tidak lengkap/utuh saat dilahirkan (Obgynacea, 2009) d.   Adanya tanda-tanda syok (Saifuddin, 2006) Syok Awal Syok Lanjut Terbangun, sadar, cemas Bingung atau tidak sadar Denyut nadi agak cepat (110 x per menit atau lebih)   Denyut nadi cepat dan lemah Pernafasan sedikit lebih cepat (30 x per menit atau lebih)  Nafas pendek dan sangat cepat Pucat Pucat dan dingin Tekanan darah rendah ringan (sistolik kurang dari 90 mmHg) Tekanan darah sangat rendah Pengeluaran urin 30 cc/jam atau lebih Pengeluaran urin kurang dari 30 cc/jam e.   Evaluasi pemeriksaan dalam 1)   Terdapat pembukaan dan masih dapat diraba sisa plasenta atau membrannya. 2)   Sub involusio   uteri karena infeksi dan menimbulkan  perdarahan terlambat. 6.   Diagnosa Retensio Sisa Plasenta a.   Penilaian klinis sulit untuk memastikan adanya sisa plasenta, kecuali apabila penolong persalinan memeriksa kelengkapan  plasenta setelah plasenta lahir. Apabila kelahiran plasenta dilakukan oleh orang lain atau terdapat keraguan akan sisa  plasenta, maka untuk memastikan adanya sisa plasenta ditentukan dengan eksplorasi dengan tangan, kuret atau alat bantu diagnostik yaitu ultrasonografi. Pada umumnya perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik dianggap sebagai akibat sisa plasenta yang tertinggal dalam rongga rahim.  b.   Pada pemeriksaan dalam didapat uterus yang membesar, lunak, dan dari ostium uteri keluar darah (Wiknjosastro, 2006). c.   Pada palpasi di dapatkan fundus uteri masih teraba lebih besar.  4 d.   Memeriksa kontraksi uterus, jika terdapat perdarahan dengan indikasi sisa plasenta uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus uteri tidak berkurang. e.   Perdarahan segera setelah persalinan primer. f.   Perdarahan pasca persalinan 500 ml selama 24 jam pertama. g.   Ditemukan tanda-tanda syok. h.   Dilakukan pemeriksaan inspekulo (Wirakusumah, 2002) 7.   Penatalaksanaan Tindakan penanganan : a.   Pasang infus  b.   Berikan antibiotik adekuat c.   Berikan uterotonika : oksitosin/metergin d.   Tindakan definitif : kuretase dan diperiksakan Sp.OG Menurut Saifuddin, 2006 penanganan sisa plasenta yaitu : a.   Penemuan secara dini, hanya dimungkinkan dengan melakukan  pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian  besar pasien akan kembali lagi ke tempat bersalin dengan keluhan  perdarahan setelah beberapa hari pulang ke rumah dan subinvolusi uterus.  b.   Apabila diagnosa sisa plasenta sudah ditegakkan maka bidan boleh melakukan pengeluaran sisa plasenta secara manual atau digital. c.   Pada umumnya dilakukan kuretase. Kuratase merupakan tindakan medis untuk mengeluarkan jaringan atau sisa jaringan dari dalam rahim dengan fungsi diagnostik atau terapetik, supaya rahim bersih dari jaringan yag tidak semestinya berada bahkan tumbuh didalamnya. Jika tidak dibersihkan, akan memunculkan gangguan seperti, nyeri dan perdarahan. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. d.   Berikan antibiotika yang adekuat. Ampisilin dosis awal 1 gr IV dilanjutkan dengan 3 x 1 gr oral dikombinasikan dengan metronidazol 1 gr supositoria dilanjutkan dengan 3 x 500 mg oral. e.   Berikan uterotonik, oksitosin, dan atau matergin. f.   Lakukan ekplorasi digital (bila servik terbuka) dan mengeluarkan  bekuan darah atau jaringan. Bila servik hanya dapat dilalui alat kuretase, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan kuretase. g.   Bila kadar Hb<8gr% beri tranfusi darah, bila kadar Hb>8gr%  berikan sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks