BAB I disertasi

Please download to get full document.

View again

of 29
15 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB I disertasi
Document Share
Document Tags
Document Transcript
  1 BAB I PENDAHULUAN A.   Latar belakang Resin komposit merupakan salah satu bahan tambalan sewarna gigi yang banyak digunakan saat ini karena memiliki nilai estetis yang tinggi dibandingkan dengan bahan tumpatan warna gigi yang lain. Bahan tersebut merupakan salah satu polimer yang mengeras melalui polimerisasi. Istilah resin komposit dapat didefinisikan sebagai gabungan dua atau lebih bahan yang berbeda dengan sifat-sifat yang unggul sehingga akan menghasilkan sifat yang lebih baik dari pada bahan itu sendiri (Anusavice, 2003). Komposisi resin komposit terdiri atas  filler   (bahan pengisi) anorganik, matriks resin dan coupling agent  . Filler   anorganik berperan terhadap kekuatan resin komposit. Matriks resin digunakan untuk membentuk fisik resin komposit agar dapat diaplikasikan. Coupling agent   berfungsi untuk menyatukan  filler   dan matriks resin. Selain ketiga komponen tersebut, komposisi resin komposit juga dapat ditambahkan dengan aktivator, inisiator, pigmen dan ultraviolet absorben. Tambahan komponen tersebut dapat berfungsi saat proses polimerisasi dan warna resin komposit sesuai dengan warna gigi (Anusavice, 2003). Penambahan komponen bahan pengisi ke dalam matriks resin secara signifikan dapat meningkatkan sifat mekanis resin komposit. Sifat mekanis resin komposit merupakan faktor penting terhadap kemampuan bahan ini bertahan di dalam gigi karena gigi sering mendapat tekanan pengunyahan. Volume  filler   (bahan pengisi) yang besar dapat  2 meningkatkan kekuatan resin komposit, tetapi berdasarkan studi evaluasi klinis selama 1 tahun melaporkan bahwa 34 % tumpatan resin komposit mengalami fraktur (Raharjo dkk., 2002). Oleh karena itu, untuk meningkatkan sifat mekanis resin komposit bahan pengisi tidak hanya ditambah volumenya, tetapi juga harus dimodifikasi agar sifat mekanisnya bertambah baik. Modifikasi resin komposit dapat dilakukan dengan penambahan fiber. Beberapa penelitian dilakukan untuk memperkuat resin komposit sebagai bahan tumpatanya dengan menambahkan  fiber yang berupa glass fiber, carbon fiber,  polyethylene fiber (Glazer dkk., 2000; Manhaart, 2009; Luthria dkk., 2012). Penguatan dengan menambahkan  fiber pada polimer resin komposit menggunakan carbon fiber   terbukti dapat meningkatkan sifat fisik dan mekanik resin komposit, akan tetapi carbon fiber   memiliki nilai estetik yang kurang baik (Glazer dkk., 2000). Modifikasi resin komposit dengan penambahan  polyethylene fiber   terbukti dapat meningkatkan sifat mekanik resin komposit (Luthria dkk., 2012). Glass fiber   juga dapat meningkatkan sifat mekanis resin komposit (Manhaart, 2009). Menurut Uzun dkk., (2009)  fiber yang paling sering digunakan di kedokteran gigi adalah glass fiber   dan ultra high molecular weigh  polyethylene fiber (UHMWPE), kedua material tersebut merupakan jenis  fiber sintetis. Fiber   sintetis tersebut memiliki kelemahan adalah mahal harganya, non-biodegradable , tidak dapat didaur ulang, dan densitasnya sangat tinggi (Begum dan Islam, 2013). Oleh karena itu, fiber yang berasal dari alam diperlukan untuk meningkatkan sifat mekanis dan fisik resin komposit. Penggunaan serat (  fiber  ) alam di bidang kedokteran gigi masih jarang dilakukan, salah satu jenis serat alam yang dapat dikembangkan adalah serat  3 sisal (  Agave sisalana ), namun saat ini pemanfaatan utama sisal terbatas pada bidang kelautan dan pertanian. Aplikasi serat sisal antara lain pada pembuatan benang, tali, bahan pelapis, tikar, jala ikan, serta barang kerajinan seperti dompet dan hiasan dinding (Kusumastuti, 2009). Sisal merupakan salah satu serat alam yang paling banyak digunakan dan paling mudah dibudidayakan. Sisal tumbuh liar sebagai pagar dan di sepanjang rel kereta api di India. Produksi sisal di seluruh dunia mencapai hampir 4.5 juta ton tiap tahunnya. Tanzania dan Brazil merupakan negara penghasil sisal terbesar (Kusumastuti, 2009). Serat sisal merupakan serat keras yang dihasilkan dari tanaman sisal (Agave sisalana), untuk saat ini serat sisal sudah tersedia di Indonesia dan telah diproduksi di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat Malang. Serat sisal memiliki sifat sebagai penguat mekanis terhadap matriks (Li dkk., 2007). Ukuran  filler   resin komposit dapat berpengaruh terhadap sifat fisik dan mekanis resin komposit. Filler   berukuran nano akan mudah dipolish dan menghasilkan tambalan resin komposit yang mengkilat (Lohbauer dkk.,2006). Penelitian ini akan menggunakan serat (fiber) alam berupa sisal, yang akan digunakan sebagai filler dalam resin komposit. Menurut Li dkk., (2007) sifat mekanis serat alam sebagai material penguat  polymer dapat ditingkatkan dengan dilakukan surface treatment   berupa alkalisasi menggunakan NaOH, setelah alkalisasi, sisal dibuat dalam ukuran nano melalui tiga tahap proses, yaitu: scouring, bleaching dan ultrasonifikasi.  4 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut: a). Apakah terdapat perbedaan kekuatan tekan antara resin komposit nanofiller sintetis dengan resin komposit nanosisal? b). Apakah terdapat perbedaan kekuatan impak antara resin komposit nanofiller sintetis dengan nanosisal? c)   Apakah terdapat perbedaan kekuatan fleksural antara resin komposit nanofiller sintetis dengan resin komposit nanosisal? d)   Apakah terdapat perbedaan kekerasan antara resin komposit nanofiller sintetis dengan resin komposit nanosisal? e)   Bagaimana biocompatibility resin komposit nanosisal? C.   Keaslian Penelitian Penelitian tentang fiber sisal pada resin komposit telah diteliti oleh beberapa peneliti. Natarajan dkk. (2014) telah membandingkan kekuatan tekan dan kekuatan tarik antara glass fiber resin komposit dengan sisal fiber resin komposit. Sisal fiber pada penelitian tersebut berukuran diameter 0,2-0,4 mm dialkalisasi serta dicampur dengan resin komposit. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sisal fiber resin komposit mempunyai kekuatan tekan dan kekuatan tarik lebih tinggi daripada glass fiber. Penelitian Zhong dkk. (2007) tentang perlakuan alkalisasi sisal fiber (ukuran diameter 2 mm) dapat meningkatkan sifat mekanis resin komposit yang  5 dicampur dengan sisal. Silva dkk. (2010) juga meneliti tentang kekuatan  fatique  sisal fiber komposit sebagai sementasi restorasi gigi tiruan cekat. Diameter sisal yang yang digunakan dalam peneltian tersebut adalah 0,6 mm. D.   Tujuan Penelitian Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa  fiber   nanosisal dapat digunakan sebagai  filler   (bahan pengisi) resin komposit. Tujuan Khusus Penelitian ini betujuan untuk: a. Mengetahui perbedaan kekuatan tekan antara resin komposit nanofiller sintetis dengan resin komposit nanosisal b. Mengetahui perbedaan kekuatan impak antara resin komposit nanofiller sintetis dengan resin komposit nanosisal c. Mengetahui perbedaan kekuatan fleksural antara resin komposit nanofiller sintetis dengan resin komposit nanosisal d. Mengetahui perbedaan kekerasan antara resin komposit nanofiller sintetis dengan resin komposit nanosisal e. Mengetahui biocompatibility  resin komposit nanosisal E.   Manfaat Penelitian a.   Memberikan informasi ilmah tentang perbedaan sifat mekanis antara resin komposit nanfiller sintetis dengan resin komposit nanosisal b.   Mengembangkan serat alam sisal sebagai alternatif pilihan bahan penguat resin komposit
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks