BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Please download to get full document.

View again

of 16
445 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Merokok Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan
Document Share
Document Transcript
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Merokok Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesis lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan. (Wigand, 2006). Bentuk-bentuk olahan lainya termasuk sirih yang sering dikonsumsi bersama tembakau, merokok dengan menggunakan pipa, cerutu, bidi (banyak dikonsumsi di India, di mana tembakau dilipat dengan daun temburni atau daun tendu), kretek (mengandung eugenol dan cengkeh) dan pipa air (Sheesha/Hookah). (Fauci et al., 2008) Kandungan Rokok Tembakau adalah tanaman berdaun yang berkembang di seluruh dunia, termasuk di beberapa bagian Amerika Serikat. Ada banyak bahan kimia yang ditemukan dalam tembakau atau yang dihasilkan dari pembakarannya (seperti dalam rokok), tetapi nikotin merupakan bahan utama dalam tembakau yang dapat menyebabkan kecanduan. Bahan kimia lain yang dihasilkan daripada merokok seperti tar, karbon monoksida, asetaldehida, dan nitrosamin, juga dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh. Sebagai contoh, tar menyebabkan kanker paru-paru dan penyakit serius lainnya yang mempengaruhi pernapasan. Karbon monoksida menyebabkan masalah jantung, yang merupakan salah satu alasan mengapa orang yang merokok memiliki risiko tinggi untuk penyakit jantung (National Institute Of Drug Abuse For Teens, 2015). 6 Gambar 2.1.1: Kandungan Rokok Sumber : Smoke-Free Forsyth, What's in a Cigarette?. Tobacco [Diakses 14 April 2015] 1. Nikotin Komponen ini paling banyak dijumpai di dalam rokok. Nikotin yang terkandung di dalam asap rokok antara ng, dan semuanya diserap, sehingga di dalam cairan darah atau plasma antara ng/ml. Nikotin merupakan alkaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi bersifat racun. Zat ini hanya ada dalam tembakau, sangat aktif dan mempengaruhi otak atau susunan saraf pusat. Nikotin juga memiliki karakteristik efek adiktif dan psikoaktif. Dalam jangka panjang, nikotin akan menekan kemampuan otak untuk mengalami kenikmatan, sehingga perokok akan selalu membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan dan ketagihannya. Sifat nikotin yang adiktif ini dibuktikan dengan adanya jurang antara jumlah perokok yang ingin berhenti merokok dan jumlah yang berhasil berhenti (Pusat Data dan Informasi PERSI, 2006). Nikotin bukan senyawa karsinogenik. Dosis yang tinggi dapat menyebabkan paralisis sistem pernafasan. Lebih dari 90% kandungan nikotin dalam asap rokok diabsorpsi ke dalam tubuh (Harvey, 2009). 7 2. Karbon Monoksida (CO) Karbon Monoksida adalah suatu zat beracun yang sifatnya tidak berwarna dan tidak berbau. Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon. Gas CO yang dihasilkan sebatang tembakau dapat mencapai 3% - 6% dan gas ini dapat dihisap oleh siapa saja. Seorang yang merokok hanya akan menghisap 1/3 bagian saja, yaitu arus tengah sedangkan arus pinggir akan tetap berada diluar. Sesudah itu perokok tidak akan menelan semua asap tetapi ia semburkan keluar lagi. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah, lebih kuat dibandingkan oksigen sehingga setiap ada asap tembakau, disamping kadar oksigen udara yang sudah berkurang, ditambah lagi sel darah merah akan semakin kekurangan oksigen karena yang diangkut adalah CO dan bukan oksigen. Sel tubuh yang kekurangan oksigen akan melakukan spasme yaitu menciutkan pembuluh darah. Bila proses ini berlangsung terus menerus maka pembuluh darah akan mudah rusak dengan terjadinya proses aterosklerosis (penyempitan). Penyempitan pembuluh darah akan terjadi di mana mana. Terpaparnya dengan CO dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan hilangnya kesadaran sampai meninggal (Aula, 2010). 3. Tar Tar adalah senyawa polinuklir hidrokarbon aromatik yang bersifat karsinogenik. Sejenis cairan berwarna coklat tua atau hitam yang bersifat lengket dan menempel pada paru paru sehingga dapat membuat warna gigi dan kuku seorang perokok menjadi coklat, begitu juga di paru paru. Tar yang ada dalam asap rokok menyebabkan paralise silia yang ada di saluran pernafasan dan menyebabkan penyakit paru lainnya seperti emphysema, bronkhitis kronik dan kanker paru. Konsentrasi tar yang ada dalam rokok dapat bervariasi, yaitu: a. Rokok dengan kadar tar yang tinggi mengandung tar sekitar 22 mg. b. Rokok dengan kadar tar yang sedang mengandung tar sekitar mg. 8 c. Rokok dengan kadar tar yang rendah mengandung tar sekitar 7 mg atau lebih kecil (Aula, 2010). 4. Arsenik Sejenis unsur kimia yang digunakan untuk membunuh serangga terdiri dari unsur-unsur berikut: a. Nitrogen oksida, yaitu unsur kimia yang dapat mengganggu saluran pernapasan, bahkan merangsang terjadinya kerusakan dan perubahan kulit tubuh. b. Amonium karbonat, yakni zat yang bisa membentuk plak kuning pada permukaan lidah, serta mengganggu kelenjar makanan dan perasa yang terdapat pada permukaan lidah. (Aula, 2010) 5. Amonia Amonia merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hidrogen. Zat ini tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga jika masuk sedikit pun ke dalam peredaran darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma (Aula, 2010). 6. Hidrogen Sianida (HCN) Hidrogen sianida merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini termasuk zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan. Sianida adalah salah satu zat yang mengandung racun sangat berbahaya. Sedikit saja sianida dimasukkan ke dalam tubuh maka dapat mengakibatkan kematian (Aula, 2010). 7. Nitrous Oksida Nitrous oksida ialah sejenis gas tidak berwarna. Jika gas ini terhisap maka dapat menimbulkan rasa sakit (Aula, 2010). 9 8. Formaldehida Zat ini banyak digunakan sebagai pengawet dalam laboratorium (formalin) (Aula, 2010). 9. Fenol Fenol merupakan campuran yang terdiri dari kristal yang dihasilkan dari destilasi beberapa zat organik, seperti kayu dan arang. Fenol terikat pada protein dan menghalangi aktivitas enzim (Aula, 2010). 10. Acetol Hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat tidak berwarna bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol (Aula, 2010). 11. Hidrogen Sulfida Hidrogen sulfida ialah sejenis gas beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oksidasi enzim (zat besi yang berisi pigmen) (Aula, 2010). 12. Pyridine Cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan untuk mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. (Aula, 2010) 13. Methyl Chloride Methyl chloride adalah campuran dari zat zat bervalensi satu, yang unsur unsur utamanya berupa hidrogen dan karbon. Zat ini merupakan senyawa organik yang dapat beracun. (Aula, 2010) 10 14.Methanol Methanol ialah sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan terbakar. Meminum atau mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan, bahkan kematian. (Aula, 2010) Epidemiologi Rokok Di Indonesia Menurut WHO (2012), Indonesia menempati posisi peringkat ke-4 dengan jumlah terbesar perokok di dunia. Dari segi konsumsi rokok, Indonesia menempati urutan ke-5 setelah Cina, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang. Indonesia menduduki peringkat kedua dalam populasi dewasa pria yang merokok setiap hari. (Organization for Economic Co-operation and Development, 2013). Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2010), 34,7% penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas adalah perokok. Prevalensi merokok untuk semua kelompok usia mengalami peningkatan, terutama peningkatan tajam pada kelompok usia mulai merokok tahun sebesar kurang lebih 80% selama kurun waktu (Riskesdas, 2010). Pada tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia perokok yang berusia 10 tahun ke atas mengalami penurunan menjadi 29,3% (Riskesdas, 2013). Secara nasional, 52,3% perokok menghisap rata-rata 1-10 batang rokok per hari dan sekitar 20% perokok menghisap sebanyak batang rokok per hari. Studi yang telah dilakukan di 14 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa sejumlah 59,04% pria mengkonsumsi rokok. Pada kelompok wanita persentase perokok menunjukkan angka 4,83% dari total penduduk kelompok tersebut. Perokok pada pria rata-rata mengkonsumsi 10 batang rokok per hari, sedangkan pada perokok wanita rata-rata mengkonsumsi rokok 3 batang sehari. Baik pria (84,31%) maupun wanita (79,42%), lebih memilih rokok jenis kretek dibanding jenis rokok lainnya (Aditama, 2002). Terdapat berbagai jenis rokok yang dikonsumsi saat ini. Diantaranya rokok 11 kretek, rokok putih dan bidis. Rokok jenis bidis ini banyak dikonsumsi di daerah India bagian pedesaan. Bidis berukuran lebih kecil dan mengandung 0,2-0,3g tembakau yang dibungkus dalam tumbuhan bernama temburni (Gajalakshmi et al., 2003). Di Indonesia terdapat dua macam rokok yang paling populer yaitu rokok kretek dan rokok putih. Kedua jenis rokok ini di pasaran dapat berupa rokok buatan pabrik maupun rokok buatan tangan. Pada tahun 2010, total penjualan rokok buatan pabrik di Indonesia adalah 180 juta batang. Jumlah ini meningkat 4,5% dari tahun 2009 (WHO, 2012). Rokok putih banyak dikonsumsi oleh perokok di Amerika Serikat (AS). Pola ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang 90% merokok jenis kretek (Nitcher et al., 2009). Hal ini berbahaya karena rokok kretek cenderung dihisap lebih dalam karena efek anestesi yang terkandung dalam kretek. Rokok kretek mengandung lebih banyak nikotin dibandingkan dengan rokok putih yaitu sebesar 46,8 mg untuk rokok kretek dan 16,3 mg untuk rokok putih. Rokok kretek juga mengandung lebih banyak CO yaitu sebesar 28,3 mg dan 15,5 mg untuk rokok putih. Nikotin yang dikeluarkan oleh rokok kretek jumlahnya lebih banyak karena tidak dilengkapi filter yang berfungsi mengurangi asap yang keluar dari rokok seperti yang terdapat pada jenis filter (Sussana et al., 2003). Status sosial ekonomi yang terdiri dari tingkat pekerjaan, pendidikan dan penghasilan juga mempunyai hubungan yang cukup signifikan dengan perilaku merokok. Pada banyak negara berkembang, prevalensi perilaku merokok menjadi lebih besar pada kelompok sosial ekonomi rendah (Paavola et al., 2004). Dalam sebuah penelitian di Finlandia Timur terungkap bahwa anak-anak dari para pekerja kerah biru (buruh) lebih banyak yang merokok dibandingkan anak-anak dari para pekerja kerah putih (pegawai kantor) atau petani. Penelitian Scragg (2002) yang dilakukan terhadap para remaja di Selandia Baru diketahui bahwa perilaku merokok berkorelasi positif dengan jumlah uang saku yang diterima, namun tergantung pada status sosial ekonomi. Kelompok remaja dengan status sosial ekonomi rendah yang 12 menerima uang saku lebih dari 30 dolar Amerika dalam 30 hari terakhir merupakan kelompok yang paling besar kemungkinannya untuk merokok. Berbagai temuan tersebut mengindikasikan bahwa perilaku merokok sangat erat hubungannya dengan status sosial ekonomi. Penelitian Artana dan Rai tahun 2009, mengklasifikasikan status sosioekonomi mengikut penduduk Indonesia mengikut penghasilan per bulan seperti berikut : Rendah 1 juta rupiah Menengah 1-3 juta rupiah Atas 3 juta rupiah Mahasiswa yang merokok Menurut data Global Youth Tobacco Survey (GTYS) (2009) bahwa terdapat 20,3% anak-anak usia tahun yang merokok di Indonesia. Prevalensi merokok kelompok usia 15 tahun ke atas pada tahun 2010 mencapai 35%; yang terdiri dari 65% pria dan 35% wanita (Pusat Promosi Kesehatan, 2013). Global Health Profession Students Survey (GHPSS) melakukan penelitian di 10 fakultas kesehatan di Indonesia pada tahun 2006 dimana sampel dari penelitian tersebut merupakan mahasiswa tahun studi ketiga. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa 8,6% mahasiswa yang bersekolah di bidang kesehatan yang merokok dan 0,9% mengkonsumsi produk tembakau lainnya. Dari penelitian yang dilakukan di Kolombia, angka perokok pada mahasiswa (18-24 tahun) semakin meningkat setiap tahunnya. Beberapa penelitian terkait dengan peningkatan angka merokok pada kelompok mahasiswa menunjukkan adanya peran beberapa faktor penyebab (Kumar et al., 2011). Terbiasa mengkonsumsi rokok semenjak sekolah menengah pertama dan sekolah menengah ke atas menjadi salah satu penyebabnya (Weschler, 2001). Pendapat bahwa dengan merokok dapat menambah jumlah teman dan dapat terlihat lebih atraktif juga merupakan alasan untuk merokok (GYTS, 2009). Pada kelompok usia ini, non daily smoking 13 merupakan hal yang umum (National Survey on Drug Use and Health, 2003). Terdapat bukti bahwa lebih dari setengah mahasiswa yang merokok pada tahun pertama akan tetap merokok ketika memasuki tahun terakhir masa studinya dan 30% diantaranya merokok setiap hari (Kenford et al., 2005). Kebiasaan merokok mahasiswa terkadang di deskripsikan menjadi social smokers (Levinson et al., 2007). Diantara mahasiswa yang merokok tersebut, sepertiga mahasiswa berkeinginan untuk berhenti. Mao et al. (2009) melakukan penelitian terhadap mahasiswa dari 19 perguruan tinggi di China mengenai hubungan psikososial dengan kebiasaan merokok. Dari hasil penelitian didapatkan fakta bahwa jenis kelamin laki-laki, status ekonomi keluarga rendah, persepsi terhadap rokok yang tinggi, serta orang yang dapat merasakan manfaat dari merokok adalah mereka yang cenderung pernah merokok atau sedang merokok saat ini. Jenis kelamin laki-laki, berusia lebih tua, mempunyai banyak teman yang merokok, serta dapat merasakan kenikmatan merokok adalah ciri-ciri seseorang yang cenderung tetap merokok selama 6 bulan ke depan. Di Indonesia, 41% mahasiswa yang menempuh studi di fakultas kesehatan mengakui bahwa terdapat larangan merokok di area fakultas dan 41,1% mahasiswa mengatakan terdapat larangan keras untuk merokok di area fakultas, namun masih terdapat 8,6% baik mahasiswa maupun mahasiswi yang merokok di area fakultas (GHPSS, 2006) Kategori Perokok 1. Perokok Pasif Perokok pasif adalah asap rokok yang dihirup oleh seseorang yang tidak merokok (pasif smoker). Asap rokok tersebut bisa menjadi polutan bagi manusia dan lingkungan sekitar. Asap rokok yang terhirup oleh orang-orang bukan perokok karena berada disekitar perokok bisa menimbulkan secondhand smoke. 14 2. Perokok aktif Perokok aktif adalah orang yang suka merokok. Kemudian menurut Bustan pada tahun 2007, rokok aktif adalah asap rokok yang berasal dari hisapan perokok (mainstream) Klasifikasi perokok berdasarkan jumlah rokok yang dihisap Ada 3 tipe perokok yang digolongkan berdasarkan kemampuannya menghisap rokok : 1. Perokok berat 25 batang per hari 2. Perokok sedang batang per hari 3. Perokok ringan 15 batang per hari (National Health Interview Survey, 1986) 2.2. Pengertian Ketergantungan Nikotin Ketergantungan nikotin ditandai oleh toleransi dan gejala putus zat yang berkaitan dengan nikotin yang digunakan. Ketergantungan nikotin dapat terjadi dengan merokok, penggunaan tembakau tanpa asap, atau cerutu atau pipa merokok.(ashton, Streem, 2014) Patofisiologi Ketergantungan Nikotin Distribusi Nikotin. Nikotin dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh dan sampai ke sistem saraf pusat (SSP) dalam detik setelah dihisap. Di otak, perokok akan mengalami respons farmakologis yang sangat kuat, berupa: rasa nikmat, relaksasi, berkurangnya stress, meningkatnya kewaspadaan, meningkatnya konsentrasi, dan perubahan mood. Merokok sepanjang hari akan meningkatkan kadar nikotin darah. Hal ini untuk mempertahankan kadar nikotin (self-titration). Kadar nikotin dalam darah perokok menurun di malam hari, penurunan ini cukup signifikan untuk membuat perokok lebih sensitif terhadap efek nikotin di pagi hari. Peningkatan sensitivitas nikotin di pagi hari ini ditandai oleh keinginan yang kuat untuk segera 15 merokok setelah bangun tidur. Rokok pertama setelah bangun tidur ini mempunyai efek yang paling kuat dan paling memuaskan. Metabolisme nikotin, % dosis nikotin dimetabolisme di hati, ginjal, dan paru-paru. Nikotin kemudian diubah menjadi beberapa metabolit yaitu kotinin (metabolit utama), ion iminium nikotin, nicotyrine dan nornikotin. Semua metabolit ini mempunyai aktivitas biologis lebih lemah dan kurang poten dibanding nikotin. Eliminasi nikotin dari dalam tubuh, % diekskresi oleh ginjal dalam bentuk utuh melalui urine. Sama seperti nikotin, kotinin juga dieliminasi dari tubuh oleh ginjal. Waktu paruh nikotin sekitar 2-3 jam. Waktu paruh kotinin sekitar 20 jam. Mekanisme kerja nikotin Efek nikotin pada tubuh terjadi melalui ikatan dengan nicotinic acetylcholine receptors (nachrs) di otak. Di sistem saraf pusat, sebagian besar dari nachrs terdiri dari subtipe α4 β2, α3 β4, dan α7. Dari subtipe-subtipe yang dominan ini, reseptor α4 β2 jumlahnya paling banyak di otak dan berperan penting dalam menyebabkan adiksi nikotin. Setelah rokok dihisap, dalam waktu 20 detik, nikotin akan berikatan dengan nachrs subtipe α4β2 di Ventral Tegmental Area (VTA) di otak. Impuls akan dihantarkan di sepanjang neuron ke nucleus accumbens (NAcc) untuk melepaskan dopamin dalam jumlah besar. Pelepasan dopamin akan menimbulkan berbagai efek reward yang dicari oleh perokok, antara lain timbulnya perasaan senang, relaksasi, mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, dan memperbaiki mood. Rasa nikmat (reward) ini akan menjadi motivator yang mendorong seseorang untuk merokok. (Susanna, 2003) 16 Gambar 2.2.1: Siklus Adiktif Nikotin Sumber: Kids Get Knowledge, Kenapa saat merokok jadi lebih fokus. [Diakses 25 Mei 2015] Toleransi terjadi apabila dosis dan frekuensi penggunaan nikotin meningkat. Peningkatan reseptor kolinergik yang semakin peka pada neuron yang proyeksi ke NAcc diproduksi secara cepat (upregulated) untuk mengkompensasi kerja nikotin pada otak. Pelepasan dopamin di dalam NAcc semakin menurun apabila kepekaan neuron gagal menghasilkan stimulasi dasar yang dibutuhkan tanpa konsentrasi nikotin yang mencukupi. Gejala putus zat terjadi apabila konsentrasi nikotin gagal untuk mempertahankan stimulasi pada daerah tegmental ventral dan NAcc. Efek ini dimediasi oleh peningkatan pengaliran keluar noradrenergik dari locus coeruleus dan daerah lainnya (Ashton, Streem, 2014) Gejala Klinis dan Diagnosis Ketergantungan Nikotin Langkah pertama dalam mengobati ketergantungan nikotin adalah mengidentifikasi pengguna tembakau. Pedoman praktek untuk ketergantungan nikotin antaranya ialah 17 dari U.S. Department of Health and Human Services dan American Psychiatric Association. Pedoman ini menyarankan dengan meminta pasien secara sistematis pada setiap kunjungan apakah mereka menggunakan tembakau. Pertanyaan ini harus menjadi bagian dari penilaian tanda-tanda vital yang diperluas atau pengingat sistem komputer yang merupakan bagian dari catatan medis elektronik. Ada bukti kuat bahwa pendokumentasian status perokok di setiap kunjungan meningkatkan pengakuan dokter tentang ketergantungan nikotin dan intervensinya. Kriteria Ketergantungan Nikotin International Classification of Diseases and Related Health Problems 10 th Edition (ICD-10) : Tiga atau lebih dari kriteria berikut ini harus dialami atau ditunjukkan pada suatu waktu selama satu tahun terakhir: 1. Munculnya kondisi tolerance, dengan menaikkan dosis pemakaian nikotin untuk memperoleh efek yang sebelumnya didapatkan melalui dosis yang lebih rendah 2. Munculnya kondisi physiological withdrawal state apabila penggunaan nikotin dihentikan atau dikurangi,yang ditandai oleh: gejala putus obat yang khas (characteristic withdrawal syndrome); atau kembali menggunakan nikotin (atau yang serupa) dengan tujuan untuk meredakan atau menghindari kemunculan gejala putus obat. 3. Dorongan (desire) atau perasaan kompulsi (sense of compulsion) yang kuat untuk menggunakan nikotin. 4. Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan nikotin (substance-taking behaviour) dalam hal onset, penghentian, atau tingkat pemakaian. 5. Penelantaran yang semakin berat (progressive neglect) terhadap pilihan kenyamanan atau kesenangan lainnya dengan terus-menerus menggunakan nikotin, meningkatnya jumlah waktu untuk mendapatkan atau memakai obat atau mengembalikan efe
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks