BAB 1 PENDAHULUAN. Seorang Gay 1 UKDW. Kadang hinaan mereka kuanggap biasa Kucoba tegar,namun aku cuma manusia Sesekali ketegaranku meleleh jua

Please download to get full document.

View again

of 9
0 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seorang Gay 1 Duniaku masih sepi, Sesepi Diskriminasi yang mencampakkanku. Aku hanya dapat berteriak dalam hati Walau seulas senyum kulayangkan pada mereka Mereka yang
Document Share
Document Transcript
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seorang Gay 1 Duniaku masih sepi, Sesepi Diskriminasi yang mencampakkanku. Aku hanya dapat berteriak dalam hati Walau seulas senyum kulayangkan pada mereka Mereka yang menghujat, mengutuk, bahkan menghakimi Mereka yang merasa benar Mereka yang menganggap hina,walau kita sama berasal dari air hina Kadang hinaan mereka kuanggap biasa Kucoba tegar,namun aku cuma manusia Sesekali ketegaranku meleleh jua Malam ini bersama dentingan jarum jam ke arah 12 pas Aku masih terbang lepas ke alam bebas khayal lepasku Tak kuhiraukan malaikat bertanya, mungkin Tuhan sudah bosan dengan pertanyaan sama Mengapa aku begini? Tak ada jawabnya, yang Ada kutukan dari mereka, mereka yang mengaku hamba Tuhan, namun culas menghakimi melebihi Tuhan. Sebuah puisi yang menyentuh, mengungkapkan perasaan seorang yang berorientasi seksual sejenis atau yang sering digolongkan sebagai homoseksual kepada dunia dan kepada Tuhan. Dunia yang tak henti-hentinya mencela dan bahkan lembaga agama yang juga ikut mendiskriminasi. Inilah realitas yang ada, seksualitas tidak dilihat sebagai yang beragam melainkan seragam. Indana Laazulva menunjukkan data dari UNESCO pada tahun 2012 tentang diskriminasi atas nama orientasi seksual ini menduduki peringkat dua terbesar setelah 1 Puisi oleh Andra10 yang diambil dari html diakses pada 12 Desember 2013 pukul WIB. 1 diskriminasi atas fisik. 2 Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Indana Laazulfa terhadap subjek LGBTIQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, dan queer) di beberapa kota di Indonesia, rata-rata lebih dari 85% pernah mengalami kekerasan (psikis, fisik, ekonomi, seksual, budaya) dalam periode Menurut penulis, banyak orang masih tidak mengerti istilah orientasi seksual dengan terjebak dalam identitas seksual dan perilaku seksual sehingga stigma negatif selalu menutupi kehidupan orang yang mengungkapkan orientasi seksualnya sebagai yang lain (nonheteroseksual), atau homoseksual pada kasus puisi di atas. Lingga Tri Utama (Galink) mengungkapkan bahwa identitas dan perilaku seksual terkait erat dengan orientasi seksual, namun ketiganya berada pada fenomena seksual yang berbeda. Dengan menggunakan pendapat Reiter, Galink menunjukkan perbedaan di antara ketiganya yaitu 4 : Identitas seksual adalah berkaitan dengan penerimaan dan identifikasi diri atas seksualitas yang dialami Perilaku seksual adalah tindakan yang terlihat dan muncul karena adanya dorongan seksual, tidak terbatas pada hubungan seksual saja. Orientasi seksual adalah sesuatu yang terkait dengan emosi, tidak dapat dilihat oleh orang lain dan hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri. Orientasi seksual adalah hal yang tidak dapat dipaksakan dan merupakan misteri yang tidak pernah kita tahu dari mana munculnya. Menurut penulis, orientasi seksual adalah bagian dari misteri karya Sang Pencipta. Sedangkan perilaku dan identitas dapat terbentuk oleh konstruksi sosial yang ada. Dengan demikian kita perlu memahami perbedaannya sehingga tidak jatuh dalam pelabelan yang negatif. LGBTIQ muncul dalam rangka menyuarakan misteri orientasi seksual. LGBTIQ merupakan istilah untuk menunjukkan kejamakan orientasi seksual. Istilah ini digunakan dalam isu perjuangan identitas kelompok non-heteroseksual. 5 LGBTIQ merupakan singkatan dari kategori-kategori yang dilabelkan kepada seseorang yang : memiliki ketertarikan pada jenis kelamin yang sama yaitu Lesbian untuk perempuan dengan perempuan dan Gay untuk laki-laki dengan laki-laki; Biseksual untuk seseorang yang menyukai lawan jenis dan sesama 2 Indana Laazulva, Menguak stigma, kekerasan & diskriminasi pada LGBT di Indonesia, (Jakarta: Arus Pelangi, 2013), hal Indana Laazulva, Menguak stigma, kekerasan, hal Lingga Tri Utama, Seksualitas Rasa Rainbow Cake, (Yogyakarta: PKBI, 2013), hal.17 5 Lingga Tri Utama, Seksualitas, hal. 13 2 jenis; Transgender dan Transeksual untuk seseorang yang mengekspresikan gender atau identitasnya berbeda dengan anggapan masyarakat; Interseks istilah pengganti hemaphrodite, yaitu seseorang yang terlahir dengan kromosom dan fisik yang berbeda atau dengan kelamin yang ambigu; dan queer. 6 Dalam dunia barat, istilah queer yang berarti aneh dipakai untuk merendahkan seorang gay. 7 Kemudian istilah ini diserap oleh komunitas gay dan lesbian sendiri dan digunakan untuk menaungi minoritas seksual yang bukan heteroseksual atau biner gender, laki-laki dan perempuan. 8 Dalam perkembangannya istilah ini menelurkan kajian ilmu yaitu queer theory dan telah merambah juga ke berbagai disiplin ilmu, seperti : teologi, sastra, kajian film, antropologi, politik, sosiologi, hingga ilmu ekonomi. Menurut Hendri Yulius, hal ini terjadi karena teman-teman queer dapat mengambil alih istilah ini dan mentransformasikannya menjadi kekuatan sosial untuk mengubah diskriminasi. 9 Galink juga mempertegas bahwa istilah queer ini digunakan untuk mempertegas gerakan melawan arus utama heteronormativisme dan heteroseksisme. 10 Pandangan heteronormativisme adalah yang getol berpegang bahwa kebenaran hanya terletak pada terciptanya dua jenis kelamin, setiap orang terlahir sebagai salah satunya dan keduanya dikodratkan sebagai pasangan masih berakar hingga saat ini. 11 Serta keyakinan heteroseksisme yang mengunggulkan heteroseksual dan menjadikan selain heteroseksual adalah tidak normal. 12 Heteronormativisme dan heteroseksisme melihat homoseksual sebagai yang tidak normal, tidak alamiah, dengan berbagai kajian yang mendukung hipotesa tersebut. Beberapa peneliti menyebutkan perkembangan janin pada bulan kedua dan ke lima ada kaitannya dengan hormon seksual. Kemudian terjadinya perubahan nutrisi, obat, stress ibu mengandung juga mempengaruhi hormonal janin, namun hal ini masih menuai sangkalan. Bukti nyata terlihat dari jumlah lesbian di Jerman yang dikandung selama Perang Dunia II. Perihal genetika, Universitas Tennesse di Knoxville melalui jurnal online-nya mengungkapkan bahwa suatu filter yang disebut epigenetika menjadi kunci penurunan ini. Saat terjadi transmisi antara gen ayah ke puteri maupun gen ibu ke putera inilah epigenetika 6 Lingga Tri Utama, Seksualitas, hal Hendri Yulius, Coming Out, (Jakarta: KPG, 2015), hal En.m.wikipedia.org/wiski/queer dikses pada pukul 21.34, tanggal 19 Mei Hendri Yulius, Coming, Lingga Tri Utama, Seksualitas, hal. 13. Istilah queer digunakan sebagai gerakan yang memperjuangkan keberagaman seksual sedangkan penggunaan istilah LGBTIQ dalam tulisan ini digunakan untuk menunjukkan subjek-subjek non-heteroseksual. 11 Lingga Tri Utama, Seksualitas, hal ibid 3 bisa menyebabkan efek terbalik, seperti terjadinya feminisasi pada beberapa sifat dalam diri anak laki-laki begitu juga sebaliknya dapat terjadi juga maskulinisasi dalam diri anak perempuan. 13 Selain dari pengaruh hormon dan gen, terdapat pula pengaruh anatomi otak yang terjadi sebagai berikut, hipotalamus sebagai area otak yang juga mempengaruhi seksualitas. Sigmund Freud sebagai bapak psikoanalisis juga mengungkapkan pengaruh otak terhadap orientasi seksual seperti yang Freud sebut sebagai kompleks Oedipus di mana seluruh perkembangan seksualitas anak-anak, yang nantinya berpengaruh hingga dewasa, melakukan pencarian akan sebuah objek dan akhirnya menyangkut orang tuanya. 14 Keinginan untuk berhubungan seksual dengan orang tua yang berlainan jenis adalah dasar semua itu. Apabila terjadi kebencian terhadap orang tua yang menjadi penghalang keinginannya maka dapat mempengaruhi pada keberadaan gay di anak laki-laki yang kehilangan figur Ayah sehingga lebih dekat kepada Ibu. Begitu juga dengan anak perempuan yang juga kehilangan figur Ayah dan memusuhi Ayahnya akan berpengaruh terhadap keberadaan lesbian. 15 Alihalih semua penelitian ini dapat menjadikan maklum atas kemunculan LGBTIQ, justru menurut penulis dalam situasi inilah posisi LGBTIQ makin dianggap tidak normal. LGBTIQ menjadi objek dalam ragam penelitian tetapi apakah heteroseksual juga menjadi objek penelitian? Bagaimana dapat muncul orientasi berbeda jenis? Sepertinya tidak ada penelitian yang benar-benar independen memperlihatkan hal ini. Penulis setuju dengan pendapat Galink bahwa dunia seakan-akan gemar mengkotak-kotakan kehidupan yang unik ini, dari kotakkotak inilah keberagaman berujung pada konflik yang didasari atas superioritas salah satu golongan. 16 Tidak lupa, kita juga perlu menengok pandangan Kekristenan. Untuk melihat pandangan Kekristenan terhadap LGBTIQ, penulis melakukan pra-penelitian di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Tuban yang beranggotakan jemaat dengan responden sebanyak 32 jemaat menunjukkan bahwa: Jurnal online Universitas Tennesse archtext=as&searchtext=a&searchtext=consequence&searchtext=of&searchtext=epigenetically&searchtex t=canalized&searchtext=sexual&searchtext=development&searchuri=%2faction%2fdobasicsearch%3fque ry%3dhomosexuality%2bas%2ba%2bconsequence%2bof%2bepigenetically%2bcanalized%2bsexual%2b Development%26amp%3Bfilter%3Djid%253A %252Fj100336%26amp%3BSearch%3DSearch%26amp %3Bwc%3Don%26amp%3Bfc%3Doff%26amp%3BglobalSearch%3D%26amp%3BsbbBox%3D%26amp%3Bs bjbox%3d%26amp%3bsbpbox%3d Diakses pada 30 April 2015 Pukul WIB. 14 Richard Osborne, Freud for Beginners, ter: A. Widyamartaya, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), hal Stefanus Ch. Haryono, Orientasi Seksual, materi perkuliahan Yogyakarta 15 November Lingga Tri Utama, Seksualitas, hal Pra-penelitian dilakukan pada tanggal 10 Mei 2015 dengan metode kuantitatif 4 a. 28 responden tidak setuju jika kehadiran LGBTIQ dikucilkan b. 20 responden bersedia dan dapat berkawan dengan LGBTIQ c. 21 responden terbuka atas partisipasi LGBTIQ dalam kegiatan Agama d. Namun 31 responden melihat LGBTIQ bertentangan dengan ajaran Agama e. Namun 29 responden melihat LGBTIQ sebagai yang tidak normal Hasil ini menunjukkan bahwa jemaat GKI Tuban dapat menerima kehadiran LGBTIQ namun di satu sisi melihatnya sebagai yang tidak normal dan bertentangan dengan ajaran Agama. Dari hasil penelitian ini maka penulis melengkapinya dengan studi literatur untuk melihat penyebab sikap yang muncul. Sering kali Kekristenan menggunakan ayat-ayat Alkitab sebagai alat untuk melihat fenomena. Kisah penciptaan Kejadian 1:27-28 adalah salah satu teks yang digunakan untuk melegitimasi LGBTIQ. 18 Andalas mengungkapkan bahwa teks Kejadian 1:27-28 digunakan untuk menunjukkan relasi heteroseksual dan hubungan laki-laki dengan perempuanlah yang memantulkan Citra Allah. 19 Richard E. Whitaker juga melihat Kejadian 1:27-28 sebagai hal yang fundamental dalam diskusi LGBTIQ di Gereja. 20 Sehubungan dengan penelitian yang telah penulis lakukan, tanpa mengesampingkan teks yang lain, penulis menduga Kejadian 1:27-28 sebagai salah satu dasar karena sarat akan heteroseksisme yang tidak mengakomodir gender selain laki-laki dan perempuan serta tuntutan berkembang biak yang mengesampingkan relasi sejenis. Dugaan penulis juga dikuatkan dengan penafsiran Abineno yang menunjukkan bahwa manusia adalah (satu) Dwitunggal yang hidup bersama, bekerja bersama, saling menolong, saling mengasihi dan saling melengkapi kemudian Allah memberkati untuk menjadi subur yang sering dikaitkan dengan hubungan perkembangbiakan (prokreasi). 21 Kemudian seorang Teolog Protestan, Karl Barth yang dikutip oleh Gerrit Singgih, menyatakan bahwa makna manusia sebagai gambar Allah adalah hakikat manusia sebagai hubungan relasional yang tak terpisahkan antara lakilaki dan perempuan Mutiara Andalas, Lahir dari Rahim, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hal Mutiara Andalas, Lahir, hal Richard E. Whitaker, Creation and Humansexuality, dalam Homosexuality and Christian Community, Ed. By Choon-Leong Seow, (Kentucky: Wertminster John Knox, 1996), hal J.L. Ch. Abineno, Kesaksian Kejadian 1-11, (Jakarta: BPK Gunung Mulia), hal Emanuel Gerrit Singgih, Dari Eden ke Babel, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), hal. 70 5 Atas dugaan penulis dan adanya penafsiran yang menguatkan, Kejadian 1:27-28 sarat akan heteroseksisme, maka saya tergelitik untuk melihat teks ini dengan perspektif queer. Maka rumusan masalah yang hendak digali adalah : 1. Bagaimana kaitan teks Kejadian 1:27-28 dengan heteroseksisme? 2. Bagaimana teks Kejadian 1:27-28 dilihat dengan perspektif queer? 3. Nilai apakah yang dapat diperoleh dari hasil tafsiran perspektif queer untuk meninjau sikap heteroseksisme atau heteronormativi. 1.1 Judul Skripsis Berdasarkan latar belakang dan permasalahan maka judul yang saya usulkan adalah Membaca Kejadian 1:27-28 dengan Perspektif Queer : Sebuah Upaya untuk Membangun Kesadaran tentang Dunia Queer 1.2 Tujuan Penulisan Tulisan ini dibuat sebagai bentuk keprihatinan atas diskriminasi yang didasari keberagaman gender oleh berbagai kalangan, terutama dalam diri Kekristenan. Tulisan ini dibuat oleh penulis yang heteroseksual dan ditujukan kepada heteroseksual lainnya yang selama ini menghidupi heteroseksisme. Dengan menggunakan perspektif queer diharapkan penulis dan heteroseksual lainnya mendapatkan nilai dan masukan dalam pemahaman seksualitas serta dapat mengembangkan penafsiran atas Kejadian 1: Metode Penulisan Dalam tulisan ini digunakan metode penelitian kuantitatif dalam pra-penelitian yang menunjukkan pandangan kepada LGBTIQ. Kemudian untuk membaca teks digunakan metode tafsir Historis Kritis. 6 1.3.1 Metode Pembacaan Alkitab adalah suatu bunga rampai tulisan-tulisan, yang berasal dari konteks-konteks sejarah dan kondisi-kondisi kultural yang berlainan, yang dihasilkan dan dikumpulkan berabad-abad lamanya. 23 Teks-teks dalam Alkitab adalah jawaban penulis bagi situasi tertentu di zaman penulis yang sedang mengalami krisis, dan teks berusaha menjawab krisis, bisa dengan sukses tetapi bisa juga dengan tidak sukses. Tetapi apabila sukses di masa lalu belum tentu teks menjawab situasi masa kini. Jika tidak berhasil menjawab situasi masa kini maka teks tidak relevan untuk masa kini. 24 Penelitian sejarah secara ilmiah telah menunjukkan setiap aspek pemahaman atas Alkitab. Bukan hanya pengertian atas bagian-bagian tertentu Alkitab, tetapi juga pengetahuan kita mengenai sejarah dan bahasa Alkitab sendiri. Semua ini makin membuat sadar bahwa tulisan-tulisan alkitabiah mencerminkan situasi sejarah di dalam masa tulisan-tulisan itu muncul. 25 Menyadari pengaruh sejarah dalam kemunculan teks, maka para penafsir memunculkan metode tafsir historis. Yang perlu diperhatikan lagi dalam penafsiran historis adalah sejarah dari teks, atau situasi yang dari dalamnya teks muncul, yakni situasi pengarang dan pendengar atau pembacanya. Kini telah diketahui bahwa banyak kitab dalam Alkitab yang anonim, meskipun tradisi belakangan mencantumkan namanama tertentu sebagai pengarang kitab-kitab tersebut. Layaknya keempat kitab Injil yang diberi nama (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) diharapkan sebagai nama penulis namun tidak ada satu pun dari kitab Injil yang memuat petunjuk jelas siapa penulis masing-masing kitab. Saat ini secara luas diakui bahwa banyak tulisan alkitabiah sebenarnya merupakan karya sungtingan dari pada karya satu orang penulis. Banyak orang dan kelompok juga terlibat dalam proses penyuntingan yang berlangsung lebih dari satu dasawarsa atau bahkan beradad-abad, dalam hal ini khususnya kitab Pentateuch. Hal ini mengharuskan para penafsir mengubah atau menggeser pemahaman mereka mengenai hubungan antara tulisan-tulisan alkitabiah dengan para pengirim dan penerimanya mulamula. Tampaknya hanya ada sedikit tulisan alkitabiah yang ditulis dari awal sampai akhirnya oleh seorang penulis saja dan di satu tempat saja. Meskipun terjadi, ada bukti 23 John Hayes, Pedoman Penafsiran Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hal Emmanuel Gerrit Singgih, Dua Konteks, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal.xi 25 John Hayes, Pedoman Penafsiran, hal.56 7 kuat yang memberi kesan bahwa tulisan-tulisan seperti itu seringkali terus disunting, baik oleh pengarang atau pun oleh orang-orang sesudahnya. 26 Langkah-langkah tafsir kritik historis: Membaca dan memahami teks, baik dalam bahasa asli maupun terjemahan. 2. Memperhatikan kerangka konteks dari teks. Proses ini dilakukan dalam dua tahap, yang pertama adalah ayat atau perikop yang ditafsir dibaca dalam kerangka ayat - ayat atau perikop-perikop yang mendahului dan menyusuli. Kedua adalah konteks dari teks diasumsikan membawa pada konteks historis. Hal ini disebut Sitz im Leben yang terjemahan harafiahnya berarti situasi dalam kehidupan namun diartikan sebagai usaha menempatkan teks dalam situasi sejarah, budaya atau masyarakat tertentu di masa lalu. 3. Pembaca atau pendengar tafsiran diajak masuk ke dalam dunia penulis untuk menyaksikan secara langsung dan berteologi. 1.4 Skema Penulisan Bab I : Pendahuluan Bagian berisi latar belakang penulisan dan penelitian. Di dalamnya mencakup latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode penulisan, dan skema penulisan. Bab II : Queer dan sekitarnya Dalam bagian ini disajikan beraneka ragam tanggapan masyarakat dan Kekristenan tentang queer. Kemudian berisi deskripsi tentang queer mulai dari sejarah, perkembangan, hingga keberadaannya saat ini. Bab III : Teks Kejadian 1:27-28 dan Perspektif Queer 26 John Hayes, Pedoman Penafsiran, hal Emmanuel Gerrit Singgih, Dua Konteks, hal.x-xi 8 Bagian ini berisi tentang proses pembacaan teks Kejadian 1:27-28 dengan perspektif queer. Bab IV : Kesimpulan Bagian ini berisikan kesimpulan dan implikasi sikap terhadap LGBTIQ 9
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks