Aplikasi SIG untuk Pemetaan Tingkat Ancaman Longsor di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Please download to get full document.

View again

of 13
16 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
ISSN (print), ISSN 0-X (online) Majalah Geografi Indonesia Vol., No.1, Maret 01 (1-1) DOI: 01 Fakultas Geografi UGM dan Ikatan Geograf Indonesia (IGI) Aplikasi SIG untuk
Document Share
Document Transcript
ISSN (print), ISSN 0-X (online) Majalah Geografi Indonesia Vol., No.1, Maret 01 (1-1) DOI: 01 Fakultas Geografi UGM dan Ikatan Geograf Indonesia (IGI) Aplikasi SIG untuk Pemetaan Tingkat Ancaman Longsor di Kecamatan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara Riki Rahmad 1, Suib dan Ali Nurman Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan, Indonesia 1 koresponden: Diterima: Januari 01 /Disetujui: Februari 01 / Publikasi online: Maret Fakultas Geografi UGM dan Ikatan Geograf Indonesia (IGI) Abstrak Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pemanfaatan SIG dalam pemetaan tingkat kerawanan terjadinya bencana longsor di Kecamatan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Model yang digunakan mengacu pada pendugaan Puslittanak 00, parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan adalah penutupan lahan (landcover), jenis tanah, kemiringan lahan, curah hujan dan formasi geologi (batuan induk). Pada proses pemetaan setiap parameter memiliki klasifikasi skor yang dikalikan dengan bobot masing-masing parameter, kemudian hasil perkalian skor dan bobot tersebut dijumlahkan berdasarkan kesesuaian lokasi geografisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Kecamatan memiliki potensi terjadinya tanah longsor dari tingkat rendah sampai dengan tinggi. Berdasarkan model pendugaan bencana tanah longsor tersebut di daerah penelitian dominan memiliki tingkat ancaman longsor dengan kelas kerawanan sedang meliputi 1 desa. Selain itu tingkat kerawanan longsor kelas kerawanan rendah meliputi desa, tingkat kerawanan tinggi desa dan tingkat kerawanan sangat tinggi 1 desa. Kata kunci : Pemetaan, Ancaman Longsor, SIG Abstract The purpose of this research is to describe the utilization of GIS in mapping of vulnerability of landslide disaster in Subdistrict, Deli Serdang Regency, North Sumatera. The model used refers to the estimation of Puslittanak 00, the parameters used to determine the level of vulnerability are the land cover, soil type, land slope, rainfall and geological formation (rocks). In the process of mapping each parameter has a classification score multiplied by the weight of each parameter, then the results of the multiplication of the score and weight are summed based on the suitability of geographical location. The results showed that the District of has the potential for landslides from low to high levels. Based on the prediction model of landslide disaster in the dominant research area has a landslide threat level with vulnerability class covering 1 villages. In addition, the low vulnerability of low vulnerability landslide includes villages, high level of vulnerability of villages and very high level of vulnerability 1 villages. Key words: Mapping, Landslide Threats, GIS PENDAHULUAN Tanah longsor adalah gerakan tanah berkaitan langsung dengan berbagai sifat fisik alami seperti struktur geologi, bahan induk, tanah, pola drainase, lereng/bentuk lahan, hujan maupun sifat-sifat nonalami yang bersifat dinamis seperti penggunaan lahan dan infra-struktur (Barus 1). Menurut Suripin (00) tanah longsor merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan masa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar. Wang et al. (017) mengatakan bahwa kejadian tanah longsor berhubungan dengan berbagai faktor seperti presipitasi, geologi, jarak dari patahan, vegetasi, dan topografi. nya tingkat kerugian yang dialami oleh masyarakat yang diakibatkan karena terjadinya bencana alam disebabkan karena kurangnya informasi yang diperoleh masayarakat akan kemungkinankemungkinan bencana yang terjadi disekitarnya, sehingga kesadaran masyarakat akan tanggap bencana menjadi sangat minim. Oleh karena itu, informasi awal mengenai potensi dan risko bencana merupakan salah satu media informasi yang dapat digunakan sebagai pendidikan dasar tanggap bencana bagi masyarakat (Damanik, 01). Bencana tanah longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan umumnya sering terjadi di wilayah pegunungan serta pada musim hujan. Menurut Sartohadi (00), jumlah kejadian bencana tanah longsor tertinggi di Indonesia terjadi pada wilayah yang memiliki topografi yang curam dan memiliki curah hujan 000mm/tahun. Bencana ini berkaitan erat dengan kondisi alam seperti jenis tanah, jenis batuan, curah hujan, kemiringan lahan dan penutup lahan. Selian itu faktor manusia sangat mempengaruhi terjadinya bencana tanah longsor, seperti alih fungsi lahan hutan yang tidak mengikuti aturan dan semena-semena, penebangan hutan tanpa melakukan Riki Rahmad, dkk/majalah Geografi Indonesia, Vol., No. 1, Maret 01 : 1-1 tebang pilih, perluasan pemukiman di daerah dengan topografi yang curam. Daerah Kecamatan merupakan wilayah daratan tinggi dengan ketinggian m diatas permukaan laut. Daerah dataran tinggi memiliki topografi kasar dengan relief perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng bekisar antara Dengan kemiringan lereng yang sangat tinggi maka potensi terjadinya longsor sangat besar. Selain itu curah hujan yang tinggi di Kecamatan menjadi faktor yang menyebabkan terjadi longsor. terdiri dari beberapa daerah yang rawan terjadi pergerakan tanah, dengan desa yang rawan terjadi longsor yaitu Desa, dan Desa Bandar Baru. Kedua desa ini memiliki kemiringan lereng yang berpotensi terjadinya longsoran. Desa memiliki kemiringan lereng 0-0 0, sedangkan Desa Bandar baru memiliki kemiringan lereng , yang masing-masing desa ini memiliki curah hujan yang tinggi tiap tahunnya. Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Maret 017 di Provinsi Sumatera Utara (Badan Geologi), daerah merupakan daerah bencana termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah menengah-tinggi. Artinya, daerah tersebut mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan diatas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali. Selain faktor kondisi fisik wilayah yang berpotensi terjadinya longsoran tanah, faktor sosial masyarakat juga menjadi penyebab terjadinya tanah longsor di. Di mana banyaknya terjadinya penebangan hutan secara ilegal, dan terjadi pembukaan hutan untuk dijadikan ladang oleh penduduk sekitar. Alih fungsi lahan dari hutan menjadi permukiman dan sebagainya meyebabkan semakin cepatnya pergerakan tanah dan terjadinya tanah longsor, ataupun longsoran batuan. Bencana tanah longsor yang berulang kali terjadi di sibolangit akhir-akhir ini sangat meresahkan, banyak yang menjadi korban akibat bencana alam ini, baik korban jiwa dan materi. Berbagai masalah terkait dengan bencana tanah longsor Di Kecamatan yang melatar belakangi penelitian yang dilakukan kelompok peneliti. Tindak lanjut dari permasalahan ini yaitu mencari solusi dan langkah tepat untuk mengatasi dan mengurangi dampak terjadinya tanah longsor. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tanah longsor adalah dengan mengenali karakteristik daerah rawan terjadinya longsor tersebut, yang mana untuk mengenali kararteritistik daerah terjadinya bencana tanah longsor maka diperlukan sebuah pemetaan daerah rawan bencana tanah longsor. Pemetaan daerah rawan bencana tanah longsor dapat dilakukan dengan pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Dengan menggunakan Sistem informasi Geografis dapat dimuat berbagai informasi geospasial yang berkaitan dengan berbagai faktor penyebab tanah longsor. Pemetaan daerah rawan bencana tanah longsor ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai aplikasi atau software pemetaan pada SIG, seperti dengan menggunakan ArcGIS dengan berbagai type nya. Dengan pemetaan daerah rawan bencana tanah longsor di Kecamatan, maka dampak dari bencana dapat diminimalisir dan dapat dilakukan tindakan yang bersifat preventif terhadap daerah dengan kategori tingkat kerawanan tinggi. Terdapat beberapa pencapaian penelitian mengenai pemetaan kerawanan longsor. Rahman (0) menggunakan parameter intensitas curah hujan, kemiringan lereng, geologi, penggunaan lahan, permeabilitas tanah, tekstur tanah, serta kedalaman tanah dalam menentukan kerawanan longsor. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Zakaria (0). Stabilisasi dan rancang bangun lereng terpadu (Starlet) yang dirumuskan oleh Zakaria (0) merupakan suatu usulan dalam penanganan lereng rawan longsor yang melibatkan keterpaduan antara sistem pemetaan longsoran dan lereng rawan longsor, analisis kestabilan lereng sebagai peringatan dini maupun untuk stabilisasi, simulasi rancang bangun lereng stabil, dan arahan manajemen lingkungan yang disertai monitoring lingkungan, dengan melibatkan peran para ilmuwan, aparat pemerintah, masyarakat, dan pengusaha dalam menghadapi bencana longsor ini. Dalam penelitian Faizana et al. (01), pembuatan peta risiko bencana tanah longsor dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu pemodelan peta ancaman, pemodelan kerentanan, pemodelan kapasitas, serta pemodelan risiko. Pemodelan ancaman dihasilkan dari pembobotan menggunakan overlay. Adapun judul penelitian yang diangkat oleh kelompok peneliti adalah Aplikasi SIG Untuk Pemetaan Tingkat Ancaman Longsor Di Kecamatan, Kabupaten Deli Serdang. Tujuan penelitian ini antara lain: (1) Mendeskripsikan tingkat ancaman longsor di Kecamatan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor; () Mendeskripsikan pemanfaatan SIG dalam pemetaan tingkat kerawanan terjadinya bencana longsor di Kecamatan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. https://jurnal.ugm.ac.id/mgi Riki Rahmad, dkk/majalah Geografi Indonesia, Vol., No. 1, Maret 01 : 1-1 Peta Geologi Peta Kontur Peta Jenis Tanah Scanning Peta Digitasi Peta Atributing Peta Daerah Rawan Bencana Kecamatan Peta Curah Hujan INPUT PROSES OUTPUT Gambar 1. Diagram Alir Penelitian METODE PENELITIAN Lokasi penelitian pemetaan daerah rawan bencana longsor ini dilakukan di Kecamatan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan pada November 017. Bahan dan alat dalam penelitian Pemanfaatan SIG untuk pemetaan tingkat ancaman longsor tingkat ancaman longsor di Kecamatan, Kabupaten Deli Serdang adalah Peta jenis batuan Kecamatan, Peta jenis tanah Kecamatan, Peta penggunaan lahan Kecamatan dan Peta curah hujan dan datadata lainnya terkait dengan tanah, penutup lahan, curah hujan dan kemiringan lereng di Kecamatan. Data berupa peta curah hujan, peta jenis tanah, peta geologi dan peta kontur selanjutnya di Input dalam software SIG. Proses pemasukan data-data dilakukan melalui seperangkat komputer dengan software ArcGIS.1. Data keluaran ini kemudian digunakan sebagai data acuan penentuan wilayah penelitian serta acuan analsis pemetaan daerah rawan bencana longsor di Kecamatan (Gambar 1). Analisis peta kerawanan tanah longsor dilakukan setelah peta-peta tematik parameter yaitu peta curah hujan, peta jenis tanah, peta geologi, peta kemiringan lereng wilayah tersebut tersedia dan siap dalam bentuk peta digital. Setiap jenis peta tersebut dilakukan klasifikasi berdasarkan skor serta diberi bobot kemudian skor dikelompokkan dan dianalisis. Pemetaan tersebut dilakukan dengan menggunakan software ArcGIS.1. Pada proses pemetaan setiap parameter memiliki klasifikasi skor yang dikalikan dengan bobot masingmasing parameter menurut model pendugaan Puslittanak 00, kemudian hasil perkalian skor dan bobot tersebut dijumlahkan berdasarkan kesesuaian lokasi geografisnya. Model pendugaan Puslittanak 00, parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan adalah penutupan lahan (landcover), jenis tanah, kemiringan lahan, curah hujan dan formasi geologi (batuan induk) (Tabel 1-). Model yang digunakan untuk menganalisis kerawanan kongsor adalah model pendugaan yang mengacu pada penelitian Puslittanak tahun 00 dengan formula : SKOR TOTAL = 0,FCH+0,FBD+0,FKL+0,FPL +0,1FJT Keterangan: FCH = Faktor Curah Hujan FBD = Faktor Jenis Batuan FKL = Faktor Kemiringan Lereng FPL = Faktor Penutupan Lahan FJT = Faktor Jenis Tanah 0,;0,;0,1 = Bobot nilai Tabel 1. Klasifikasi Curah Hujan (mm/tahun) Parameter Bobot Skor Sangat basah ( 000) Basah (01-00) (001-00) Kering (1-000) Sangat kering ( 0) Sumber : Puslittanak Bogor (00) Batuan vulkanik Batuan sedimen Batuan aluvial 0% 1 Tabel. Klasifikasi Jenis Batuan Parameter Bobot Skor Sumber : Puslittanak Bogor (00) 0% Tabel. Klasifikasi Kemiringan Lahan Parameter (%) Bobot Skor Sumber : Puslittanak Bogor (00) 0% 1 1 https://jurnal.ugm.ac.id/mgi Riki Rahmad, dkk/majalah Geografi Indonesia, Vol., No. 1, Maret 01 : 1-1 Tabel. Klasifikasi Penutup Lahan Parameter Bobot Skor Tegalan, sawah Semak belukar Hutan dan perkebunan Kota/permukiman Tambak, waduk, perairan Sumber : Puslittanak Bogor (00) 0% 1 Tabel. Klasifikasi Jenis Tanah Parameter Bobot Skor Regosol Andosol, podsolik Latosol coklat Asosiasi latosol cokltak kekuningan Aluvial Sumber : Puslittanak Bogor (00) % Klasifikasi hasil akhir dengan analisis skor dan dilakukan dengan membuat kelas kerawanan longsor yaitu : rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi berdasarkan jumlah skor akhir, semakin besar jumlah skor maka semakin tinggi tingkat kerawanan, dengan penentuan selang skor : 1 HASIL DAN PEMBAHASAN Secara astronomis kecamatan terletak pada 0 LU LU dan 0 BT BT (Gambar ). Dengan ketinggian m diata permukaan laut. Adapun secara geografis Kecamatan berada di Kabupaten Deli Serdang dan batas administratif wilayah Kecamatan berbatasan dengan Kabupaten Karo. Batas administrasi Kecamatan yaitu Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pancur Batu, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sibiru-Biru, Kecamatan Namorambe dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kutalimbaru. Kecamatan Kabupaten Deli Serdang, berjarak sekitar 0 Km dari kota Medan, dengan luas wilayah sekitar 1, Km. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Longsor Kecamatan Curah Hujan Berdasarkan data dari peta RTRW Sumatera Utara terkait peta curah hujan. Dimana curah hujan di lokasi penelitian termasuk tinggi yaitu antara 1-00 mm/tahun. Sebagai salah satu parameter untuk menentukan wilayah rawan longsor, faktor-faktor curah hujan seperti besarnya curah hujan, intensitas hujan dan distribusi curah hujan akan menentukan seberapa besar peluang terjadinya longsoran dan di mana longsor itu akan terjadi. Untuk lebih jelasnya curah hujan di Kecamatan dapat dilihat pada Gambar. Gambar. Peta Kecamatan https://jurnal.ugm.ac.id/mgi Riki Rahmad, dkk/majalah Geografi Indonesia, Vol., No. 1, Maret 01 : 1-1 Gambar. Peta Curah Hujan Kecamatan Tabel 7. Klasifikasi Curah Hujan Menurut Desa di Kecamatan Desa Skor Desa Skor Bukum Sumber : Data RTRW Deli Serdang diolah 017 Berdasarkan klasifikasi kelas curah hujan Puslittanak, lokasi penelitian memiliki dua kelas curah hujan yaitu mm/tahun dan mm/ tahun. Curah hujan dengan intensitas mm/tahun merupakan intensitas curah hujan yang memiliki luasan terbesar yaitu meliputi desa (Tabel 7). Disamping itu terdapat desa memiliki sebagian daerahnya dengan tingkat curah hujan berkisar antara (kering). Adapun menurut tabel terdapat desa yang memiliki skor yaitu desa dan Desa Bukum, karena memiliki daerah yang terdiri atas dua parameter curah hujan yaitu mm/ tahun dan mm/tahun. Terdapat desa yang memiliki skor dengan curah hujan berkisar mm/tahun. Jenis Batuan Secara geologi lokasi penelitian merupakan wilayah dengan struktur batuan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi Gunung Sibayak, dan Barus. Sifat-sifat teknis batuan berbeda-beda tergantung pada asal-usulnya. Secara umum sifat-sifat teknis batuan dipengaruhi oleh : struktur dan tekstur, kandungan mineral, kekar/bentuk gabungan lapisan bidang dasar, kondisi cuaca, dan sedimentasi/rekatan. Jenis batuan di Kecamatan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar. https://jurnal.ugm.ac.id/mgi Riki Rahmad, dkk/majalah Geografi Indonesia, Vol., No. 1, Maret 01 : 1-1 Gambar. Peta Jenis Batuan Kecamatan Berdasarkan pengklasifikasian Puslittanak batuan pembentuk yang terdapat di lokasi penelitian terdiri dari jenis batuan yaitu batuan Vulkanik, dan batuan Aluvial. Batuan Vulkanik terdiri atas formasi batuan gunung api barus (Qvbr), mikrodiorit menden (Qtim), satuan binjai (Qvbj), satuan mentar (), satuan sibayak (Qvba) dan satuan singkut (Qvbs). Batuan Aluvial yang terdapat di lokasi penelitian adalah satuan aluvium muda (Qh) (Gambar ). Tabel. Formasi Batuan Kecamatan Desa Formasi Batuan Skor Desa Formasi Batuan Skor Bukum Qvba,Qvbj Qvba,Qvbj, Qvbs Qvba,Qvbj, Qvbs Qvba, Qvbj, Qvbs, Qvbr,, Qh Qtim,, Qvbr Qvbs Qvbj, Qvbj, 1 Qvbj, Sumber : Data RTRW Deli Serdang diolah 017 https://jurnal.ugm.ac.id/mgi Riki Rahmad, dkk/majalah Geografi Indonesia, Vol., No. 1, Maret 01 : 1-1 Jenis Tanah Jenis Tanah di lokasi penelitian berdasarkan Peta Tanah lokasi penelitian terdiri dari tanah Podsolik, Andosol, Latosol, Regosol, Aluvial (Tabel ). Mengacu pada klasifikasi Puslittanak berdasarkan kepekaan terhadap erosi, maka jenis tanah di lokasi penelitian terbagi menjadi kelas Sangat Peka Erosi/Permeabilitas sangat Lambat (Regosol), Peka Erosi/Permeabilitas Lambat (Podsolik, dan Andosol), Agak Peka Erosi/ Permeabilitas Cepat (Latosol), dan Tidak Peka Erosi/ Permeabilitas Sangat Cepat (Aluvial dan Glei). Distribusi spasial jenis tanah di lokasi penelitian dapat dilihat pada (Gambar ). Gambar. Peta Jenis Tanah Kecamatan Bukum Tabel. Tabel Jenis Tanah Kecamatan Desa Jenis Tanah Skor Desa Jenis Tanah Skor R, LA, L L, LA R, P, L RA, RP, R P P, L, LA, P, LA LA LA L, LA LA, L, LA, L, Sumber : Data RTRW Deli Serdang diolah LA,, LA, LA, A, LA, A= Andisol, LA = Latosol Aluvium, RA = Regosol Andisol, RP = Regosol Podsolik, L= Latosol, = Latosol Kuning, P = Podsolik, R = Regosol. https://jurnal.ugm.ac.id/mgi 7 Riki Rahmad, dkk/majalah Geografi Indonesia, Vol., No. 1, Maret 01 : 1-1 Kemiringan Lereng Kemiringan Lahan di lokasi penelitian bervariasi mulai dari datar sampai curam. Berdasarkan hasil klasifikasi menurut Puslittanak yang terdiri atas %, 0-%, 1-0%, -1%, %, maka daerah penelitian memiliki kemiringan lereng antara lain 0%, 1-0% dan -1% (Gambar ). Daerah lokasi penelitian merupakan daerah yang memiliki topografi kasar, dengan bentuk lahan perbukitan yang memiliki ketinggian m dpl. Berdasarkan data pada Tabel dapat diketahui bahwa sebanyak sembilan belas desa yang memiliki kemiringan lereng 1-0%, enam desa memiliki kemiringan lereng antara -0%,dua desa memiliki kemiringan -1%, dan satu desa memiliki kemiringan lereng 0% dan 0%. Secara keseluruhan daerah penelitian memiliki kemiringan 1-0% yang merupakan daerah perbukitan. Gambar. Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Desa Bukum Tabel. Tabel Kemiringan Lereng Kecamatan Kemiringan Lereng (%) 0% Sumber : Data RTRW Deli Serdang diolah 017 Skor Desa Kemiringan Lereng (%) Skor https://jurnal.ugm.ac.id/mgi Riki Rahmad, dkk/majalah Geografi Indonesia, Vol., No. 1, Maret 01 : 1-1 Penutupan Lahan Penutupan lahan di suatu wilayah berkaitan erat dengan kondisi ekonomi dan tipe masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Berdasarkan hasil digitasi peta penggunaan lahan deli serdang diperoleh lima tipe penutupan lahan (Gambar 7). Dimana penutupan lahan pada peta ini memiliki kontribusi yang berbedabeda tergantung pada sifat dan kondisi penutupan lahan tersebut seperti bentuknya berupa permukiman, perkebunan, tegalan, hutan lebat, dan persawahan. Penutupan serta lokasi penutupan lahan itu berada adalah hal-hal yang berpengaruh dalam penentuan kerawanan wilayah (Tabel 11). Tabel 11. Tabel Penggunaan Lahan Kecamatan Desa Penggunaan Lahan Skor Bukum Hutan, Perkebunan, Permukiman, Hutan, Perkebunan Permukiman, Perkebunan Permukiman, Perkebunan, Hutan, Persawahan Perkebunan, Persawahan, Hutan Perkebunan, Permukiman, Persawahan Perkebunan, Permukiman, Persawahan Perkebunan, Permukiman, Persawahan Perkebunan, Permukiman Perkebunan, Permukiman, Persawahan Perkebunan, Persawahan Perkebunan Perkebunan, Permukiman, Tegalan Hutan, Perkebunan, Permukiman Tega
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks