ANALISA KINERJA KEUANGAN UNTUK MENILAI TINGKAT KESEHATAN PERUSAHAAN (Studi Pada PT. PELINDO III (PERSERO) Periode Tahun )

Please download to get full document.

View again

of 10
9 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
ANALISA KINERJA KEUANGAN UNTUK MENILAI TINGKAT KESEHATAN PERUSAHAAN (Studi Pada PT. PELINDO III (PERSERO) Periode Tahun ) Tri Oktawaldiana Moch. Dzulkirom Fakultas Ilmu Administrasi Univеrsitas
Document Share
Document Transcript
ANALISA KINERJA KEUANGAN UNTUK MENILAI TINGKAT KESEHATAN PERUSAHAAN (Studi Pada PT. PELINDO III (PERSERO) Periode Tahun ) Tri Oktawaldiana Moch. Dzulkirom Fakultas Ilmu Administrasi Univеrsitas Brawijaya Malang Еmail: ABSTRACT This research has a purpose to know the health level of company PT. Pelindo III (Persero) based on SOE minister's decision number: KEP-100 / MBU / Assessment of the soundness of SOEs is based on three aspects: financial, operational, and administrative aspects. The type of this research is descriptive research with quantitative approach, which refers to the financial statements of the company in Data source in this research is primary data and secondary data. Data collection techniques using documentary techniques and interviews. The results of analysis based on 3 aspects show that in 2014 got a score of 74.00, in 2015 with a score of 73.1, and 2016 with a score of This shows the average yield of PT. Pelindo III (Persero) got a good enough score, despite a decline in However, in 2015, Pelindo 3 experienced a decrease, especially in financial terms. This is because, in the year the company suffered losses due to the difference in the exchange rate of rupiah against dillar United States. Considering that in the year the company also issued a global bond to fund the development project. Kеywords: Financial Performance, Company Health Level АBSTRАK Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan perusahaan PT. Pelindo III (Persero) berdasarkan keputusan mentri BUMN nomor: KEP-. Penilaian tingkat kesehatan perusahaan BUMN berdasarkan pada perhitungan 3 aspek: aspek keuangan, aspek operasional, dan aspek administrasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, yang mengacu pada laporan keuangan perusahaan pada tahun Sumber data pada penelitian ini adalah dataprimer dan data sekunder. Teknik pengambilan data menggunakan teknik dokumenter dan wawancara. Hasil analisa berdasarkan 3 aspek menunjukkan bahwa di tahun 2014 mendapat skor 74.00, di tahun 2015 dengan skor 73.1, dan tahun 2016 dengan skor Hal ini menunjukkan hasil rata-rata PT. Pelindo III (Persero) memperoleh skor yang cukup baik, meskipun terjadi penurunan di tahun Namun di tahun 2015, Pelindo 3 sempat mengalami penurunan terutama dari segi keuangan. Hal ini dikarenakan, di tahun tersebut perusahaan mengalami kerugian akibat selisih nilai tukar rupiah terhadap dillar Amerika Serikat. Mengingat di tahun tersebit perusahaan juga menerbitkan global bond untuk mendanai proyek pembangunan. Kаtа Kunci: Kinerja Keuangan, Tingkat Kesehatan Perusahaan 101 PЕNDАHULUАN Pada era globalisasi sekarang ini, perusahaan dituntut untuk dapat bersaing dengan perusahaan lainnya tentunya dengan kualitas yang cukup baik. Untuk dapat bersaing, tentunya perusahaan tersebut harus berusaha untuk mendapatkan penilaian yang baik dari pada investor, baik itu dari segi pelayanan konsumen, keuangan dan kerapian berkas-berkas administrasi, serta dituntut untuk mampu menyusun laporan keuangan. Adanya globalisasi ekonomi saat ini, suatu perusahaan dapat dikatakan sehat atau dalam kondisi yang baik jika perusahaan itu mampu memperoleh keunggulan yang kompetitif, serta memperbaiki kualitas total kinerja suatu perusahaan yang mencangkup penekanan akan kualitas produksi suatu perusahaan, dan kualitas pelayanan dari perusahaan terhadap pelanggan. Menurut Duha (2016:218) kinerja merupakan cara atau kemampuan individu dalam bekerja untuk dapat memberikan hasil yang memuaskan di tempatnya bekerja dalam satu paket atau bagian pekerjaan tertentu atau pada suatu periode waktu tertentu. Menurut Yuwono (2007:23) pengukuran kinerja merupakan tindakan pengukuran yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada perusahaan. Hasil dari pengukuran tersebut nantinya akan digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan sesuai aktivitas perencanaan dan pengendalian. Pengukuran kinerja disini memiliki peran yang sangat penting bagi perusahaan guna mengetahui akan kondisi perusahaan di masa yang akan datang dan dapat dilakukan evaluasi dari kondisi perusahaan di masa lalu. Laporan keuangan sendiri merupakan suatu laporan sangat penting yang digunakan untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan menurut Sutrisno (2003:9) menjelaskan bahwa laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni, neraca dan laporan laba rugi. Biasanya pada laporan keuangan akan dianggap sebagai laporan hasil kerja perusahaan bagi investor. Laporan keuangan dibuat selama satu periode tutup buku, yaitu selama satu tahun. Analisa laporan keuangan dapat dilakukan dengan menggunakan teknik rasio. Teknik ini bisa digunakan ketika melakukan analisa laporan keuangan, karena dianggap mudah dalam perhitungannya dan mudah untuk dipahami hasilnya. Salah satu cara yang paling baik digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan perusahaan adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan. Analisis rasio keuangan merupakan pengkajian terhadap keuangan perusahaan yang menyangkut review data, menghitung, menginterprestasikan dan memberikan informasi terhadap kondisi keuangan suatu perusahaan pada periode tertentu. Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No: KEP- dalam menilai tingkat kesehatan perusahaan dilihat dari 3 aspek, yaitu: aspek keuangan, aspek operasional, dan aspek administrasi. Dimana aspek keuangan terdiri dari 8 indikator, yaitu ROE, ROI, rasio kas (cash ratio), rasio lancar (current ratio), colection periods, perputaran persediaan, perputaran total aset, dan rasio modal sendiri terhadap total aktiva. Pada aspek operasional indikator yang dinilai meliputi unsur-unsur kegiatan yang dianggap paling dominan dalam rangka menunjang keberhasilan operasi sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Sedangkan aspek administrasi indikator yang dinilai terdiri atas laporan perhitungan tahunan, laporan triwulan, usulan RKAP, dan PKBL. Dipilihnya perusahaan PT. Pelindo III (Persero) karena Pelindo III merupakan salah satu pelabuhan strategis dan merupakan pelabuhan terbesar kedua di Indonesia. Pelindo III juga telah menglola 43 pelabuhan umum di 7 wilayah Provinsi Indonesia dan holding dari 11 anak perusahaan. Selain itu, Pelindo III juga memiliki peranan yang sangat signifikan dalam mendukung sistem logistik nasional, terutama di Kawasan Timur Indonesia. Pelabuhan Tanjung Perak dapat menjadi cermin kinerja Pelindo III di mata dunia Internasional. Pelindo III juga secara strategis terletak di sejumlah kota dengan pertumbuhan terbesar dan tercepat di Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis oleh Internasional Association of Ports and Harbour tahun 2014, pelabuhan Tanjung Perak masuk dalam Port League Top 50 pada urutan 46 dengan throughput petikemas sebanyak 3 juta TEUS. Pelindo III memperoleh pendapatan terutama melalui pelayanan jasa kapal dan barang. 102 Gambar 1 Data Keuangan PT. Pelindo III (Persero) Tahun (Rp Miliar) Sumber : PT. Pelindo III (Persero) Dari gambar diatas terlihat bahwa terjadi kenaikkan dari tahun 2014 sampai dengan Namun ada beberapa yang mengalami penurunan, seperti pada aset lancar tahun 2014 sebesar Rp mengalami penurunan di tahun Tapi pada aset tidak lancar terus mengalami kenaikan yang signifikan. Berikut kinerja posisi keuangan terkait Gambar 1 diatas untuk tahun sebagaimana tabel dibawah ini: Tabel 1. Kinerja Keuangan PT. Pelindo III (Persero) Tahun (Rp Miliar) Keterangan Tahun Aset Aset Lancar Aset Tidak Lancar Liabilitas Liabilitas Jangka Pendek Liabilitas Jangka Panjang Ekuitas Sumber: PT. Pelindo III (Persero) Berdasarkan data dan uraian diatas, penelitian ini nantinya akan fokus dalam upaya menganalisis kinerja keuangan untuk menilai tingkat kesehatan perusahaan berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No: KEP-. Evaluasi tentang tingkat kesehatan perusahaan memberikan manfaat yang besar bagi banyak pihak yang terkait dengan perusahaan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Analisa Kinerja Keuangan untuk Menilai Tingkat Kesehatan Perusahaan (Studi Pada PT. Pelindo III (Persero) Periode ). KАJIАN PUSTАKА Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP- Menurut UU No.10 tahun 2003 Pasal 1 BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan. Dengan adanya BUMN diharapkan dapat terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat baik bersifat ekonomi maupun sosial, namun dengan persaingan pasar yang semakin ketat, perusahhan dituntut untuk mampu bersaing serta mampu untuk menghasilkan output ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, untuk mengukur tingkat kesehatan perusahaan diperlukan standar atau indikator sehat berdasarkan atas penilaian standar kesehatan BUMN yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP- tentang penilaian tingkat kesehatan BUMN. Kesehatan BUMN ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap kinerja perusahaan untuk tahun buku yang bersangkutan. Berikut tata cara penilaian tingkat kesehatan BUMN Non Jasa Keuangan meliputi: Aspek Keuangan Return On Equity Menurut Syamsuddin (2011:64) rasio ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengembalian yang diberikan perusahaan kepada para pemilik saham. Semakin tinggi tingkat rasio, maka semakin besar tingkat pengembalian yang diberikan perusahaan kepada para pemilik saham, dimana hal ini berdampak pada peningkatan harga saham. Rumus perhitungan Return On Equity adalah sebagai berikut: ROE = laba bersih sesudah pajak total ekuitas Return On Investmen Menurut Syamsuddin (2011:63) Return On Invesment merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total aktiva. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin baik keadaan suatu perusahaan. Berikut rumus ROI menurut Syamsuddin adalah sebagai berikut: 103 ROI = Rasio Kas (Cash Ratio) Menurut Sutrisno (2008:2016) cash ratio merupakan rasio yang membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar. Aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas adalah efek atau surat berharga. Rasio ini adalah rasio yang paling likuid. Semakin besar cash ratio, maka semakin tinggi pula kemampuan likuiditas perusahaan yang bersangkutan namun dalam praktiknya akan mempengaruhi profitabilitasnya. Rumus perhitungan rasio ini adalah sebagai berikut: Cash Ratio = laba bersih setelah pajak total aktiva Rasio Lancar (Current Ratio) Menurut Sutrisno (2008:2016) current ratio merupakan rasio yang membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek. Aktiva lancar meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan, dan aktiva lancar lainnya. Sedangkan hutang jangka pendek meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji, dan hutang lainnya yang segera harus dibayar. Rumus perhitungan rasio ini adalah sebagai berikut: Current Ratio = kas atau setara dengan kas hutang lancar aktiva lancar hutang lancar Collection Periods Menurut Rangkuti (2011:185) collection periods digunakan untuk mengidentifikasi rata-rata waktu (hari) penjualan yang terikat pada piutang atau berapa lama waktu yang dipakai perusahaan untuk mengumpulkan hasil penjualan setelah menjual produk yang dihasilkannya. Jika menghasilkan angka yang semakin kecil, maka akan menunjukkan hasil yang semakin baik. Berikut rumus yang digunakan rasio ini adalah: Collection Periods = Perputaran Persediaan (Inventory Turnover) Menurut Rangkuti (2011:111) persediaan merupakan komponen utama dari barang yang dijual, oleh karena itu semakin tinggi tingkat perputaran persediaan, maka semakin efektif perusahaan dalam mengelola persediaannya. Rasio perputaran persediaan digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan dalam mengelola persediaan selama satu tahun/365 hari. Semakin tinggi rasio perputaran persediaan, maka akan semakin cepat persediaan perusahaan menjadi kas atau piutang. Rumus yang digunakan untuk rasio ini adalah: PP = Total Asset Turn Over / TATO Menurut Rangkuti (2011:111) total assets turnover merupakan ukuran efektifitas pemanfaatan total aktiva dalam menghasilkan penjualan. Semakin besar perputaran total aktiva atau semakin cepat berputar, maka semakin efektif perusahaan dalam mengelola total aktiva untuk menghasilkan penjualan. Rumus yang digunakan untuk rasio ini adalah: TATO = Total piutang usaha X 365 hari Total pendapatan operasional Total persediaan X 365 hari Total pendapatan operasional Total pendapatan bersih Capital Employed Rasio Total Modal Sendiri terhadap Total Aktiva Menurut Rangkuti (2011:114) total modal sendiri merupakan seluruh komponen modal sendiri pada akhir tahun buku diluar dana-dana yang belum ditetapkan statusnya dibagi total aset yang dikurangi dengan dana yang belum ditetapkan statusnya pada posisi akhir tahun buku yang bersangkutan. 104 Semakin tinggi tingkat rasio, maka semakin kecil jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Rumus untuk rasio ini adalah: TMS terhadap TA = Total modal sendiri Total aset Aspek Operasional Untuk aspek operasional indikator yang dinilai meliputi unsur-unsur kegiatan yang dianggap penting atau paling dominan dalam rangka menunjang keberhasilan operasi sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Indikatorindikator aspek operasional pada Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP- tidak ditentukan secara khusus, karena dalam penilaian aspek operasional indikator yang dinilai meliputi unsur-unsur kegiatan yang dianggap paling dominan dalam rangka menunjang keberhasilan kegiatan operasi perusahaan. Berikut ini total bobot yang digunakan dalam penilaian aspek operasional untuk BUMN non jasa keuangan antara lain bobot aspek operasional (infrastruktur) sebesar 35 serta bobot aspek operasional (noninfrastruktur) sebesar 15. Penilaian dan penetapan skornya sebagai berikut: a) Baik Sekali (BS) : skor = 100% x Bobot indikator yang bersangkutan. b) Baik (B): skor = 80% x Bobot indikator yang bersangkutan. c) Cukup (C) : skor = 50% x Bobot indikator yang bersangkutan. d) Kurang (K) : skor = 20% x Bobot indikator yang bersangkutan. Sumber: Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP- Aspek Administrasi Berikut tata cara penilaian aspek administrasi: 1) Laporan Perhitungan Tahunan Standar waktu penyampaian perhitungan yang telah diaudit oleh akuntan publik atau Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan harus sudah diterima paling lambat akhir bulan kelima sejak tanggal tutup buku tahun yang bersangkutan. Sebagaimana mestinya terdapat daftar penilaian waktu penyampaian laporan audit. 2) Rancangan RKAP Sesuai ketentuan pasal 13 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1998, pasal 27 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 1998, RUPS untuk PERSERO atau Menteri BUMN untuk PERUM dalam pengesahan RKAP tahunan harus sudah diterima 60 hari sebelum memasuki tahun anggaran yang bersangkutan. Sebagaimana mestinya terdapat daftar penilaian waktu penyampaian rancangan RKAP. 3) Laporan Triwulan Pada laporan triwulan laporan harus sudah diterima oleh Komisaris/Dewan Pengawas dan Pemegang Saham untuk PERSERO atau Menteri BUMN untuk PERUM paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya periode laporan atau minimal sebelum 1 (satu) bulan laporan sudah harus diterima. 4) Efektivitas penyaluran dana Efektivitas penyaluran dana disini adalah kemampuan perusahaan dalam menyalurkan seluruh dananya kepada usaha kecil, koperasi dalam tahun yang bersangkutan. Berikut rumus yang dugunakan untuk menghitung efektivitas penyaluran dana: Jumlah dana yang disalurkan Jumlah dana yang tersedia Sumber: Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP- 5) Tingkat kolektibilitas pengembalian pinjaman Tingkat kolektibilitas pengembalian pinjaman disini adalah kemampuan perusahaan dalam melakukan pengembalikan pinjamannya yang telah disalurkan sebelumnya. Biasanya pinjaman ini disalurkan kepada koperasi dan usaha kecil, guna men unjang keberhasilan perekonomian perusahaan. Berikut rumus yang digunakan untuk menghitung tingkat kolektibilitas penyaluran pinjaman sebagai Rata rata tertimbang kolektibilitas pinjaman PUKK Jumlah pinjaman yang disalurkan berikut: Sumber: Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP- 105 MЕTODE PЕNЕLITIАN Pеnеlitian ini mеrupakan mеtodе pеnеlitian dеskriptif dеngan pеndеkatan kuantitatif. Pеnеlitian ini mеnggambarkan adanya suatu variabеl, gеjala atau kеadaan. Tеknik mеtodе ini lеbih sеsuai dan mampu mеnjawab pеrmasalahan yang ditеliti. Pеnеlitian ini diharapkan mampu mеmbеrikan hasil dan jawaban yang jеlas. Fokus penelitian ini terkait dengan tingkat kesehatan perusahaan yang dilihat dari kinerja keuangan perusahaan, serta perhitungannya berdasarkan Keputusan Menteri BUMN No: KEP-. Lokаsi Pеnеlitiаn Pеnеlitian ini dilakukan di PT. Pelindo III (Persero). Dan pengambilan data dilakukan di PT. Pelindo III (Persero) Tanjung Perak, Jl. Tanjung Perak Timur No. 610, Surabaya. HАSIL DАN PЕMBАHАSАN Aspek Keuangan Berikut ini penilaian dari delapan indikator aspek keuangan PT. Pelindo III (Persero) berdasarkan aspek keuangan infrastruktur Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-, dapat disajikan dalam tabel dibawah ini: Tabel 2. Indikato r ROE (%) ROI (%) Penilaian Aspek Keuangan PT. Pelindo III (Persero) Hasil Perhitungan Rasio Rasio kas (%) Rasio lancar (%) CP (hari) PP (hari) TATO (%) TMS (%) Bo bo t Skor Keputusan Menteri BUMN No: KEP Total Skor Sumber: Data Diolah, 2017 Berdasarkan tabel 2 dapat dijelaskan bahwa penilaian tingkat kesehatan dari aspek keuangan PT. Pelindo III (Persero) yang disesuaikan dengan Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-, untuk tahun 2014 aspek keuangan sebesar 30, dan untuk tahun sebesar Penurunan ini disebabkan karena menurunnya nilai ROE di tahun yang dikarenakan hanya 15% yang berarti tingkat atau presentase pengembalian modal kepada pemegang saham sebesar 15% dari penghasilan atau laba bersih yang diperoleh. Selain itu penurunan juga terjadi pada ROI, tahun 2015 sebesar 6.21% yang berarti tingkat penghasilan bersih perusahaan sebesar 6.12% dari total aktiva perusahaan sebesar Rp milliar. Dan penurunan juga terjadi di tahun 2016 sebesar 6.81% yang berarti tingkat penghasilan bersih perusahaan sebesar 6.81% dari total aktiva perusahaan sebesar Rp milliar. Aspek Operasional Berikut ini penilaian dari aspek operasional PT. Pelindo III (Persero) berdasarkan aspek operasional infrastruktur Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-, dapat disajikan dalam tabel dibawah ini: Tabel 3. Indikator Penilaian Aspek Operasional PT. Pelindo III (Persero) Tahun 2014 Tahun 2014 Bobot Hasil Penilaian Skor Keputusan Menteri BUMN No: KEP- Waiting Time 7 BS 7.00 Berthing Time 6 B 4.80 B/C/H 4 B 3.20 T/G/H 3 BS 3.00 Program 6 Diklat Kesejahteraan Pegawai 9 BS 6.00 BS 9.00 Total Skor Sumber: Data Diolah, 2017 Berdasarkan tabel 3, dapat disimpulkan bahwa pada aspek operasional Pelindo 3 mendapatkan skor sebesar Hal ini 106 dikarenakan ada beberapa indikator yang mendapat skor dibawah bobot yang telah ditetapkan. Faktor tersebut berthing time mendapat skor 4.80 dan B/C/H mendapat skor hal ini menjelakan bahwa berthing time di tahun 2014 kurang begitu baik. Hal ini biasanya dikarenakan peralatan bongkar muat yang kurang memadai, sehingga produktivitas bongkar muat di dermaga sedikit lebih lama yang menyebabkan kapal lebih lama meninggalkan dermaga. Sedangkan untuk B/C/H sendiri di Pelindo 3 masih terus berupaya untuk mendatangkan peralatan bongkar muat berupa dua unit Grab Ship Unloder (GSU) di Terminal Teluk Lamong dan dua unit Ship to Shore (STS) crane untuk Terminal Nilam, Pelabuhan Tanjung Perak. Keempat alat tersebut masih dalam tahap uji coba yang dilakukan selama 21 hari, guna memastikan kinerja STS Crane yang mencapai 35 box/crane/hour. Tabel 4. Penilaian Aspek Operasional PT. Pelindo III (Persero) Tahun Indikator Waiting Time For Pilot (Jam) Tingkat Efektivitas Tambahan Petikemas ET/BT (%) Produktifitas B/M Petikemas (B/S/H) Produktifitas B/M Curah Kering (T/G/H) Yard Occupancy Ratio P
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks