Adult Romantic Attachment pada Dewasa Muda yang Mengalami Childhood Abuse

Please download to get full document.

View again

of 13
57 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Adult Romantic Attachment pada Dewasa Muda yang Mengalami Childhood Abuse Icha Irdhanie Ika Yuniar Cahyanti Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Abstract. The goal of this research is mapping the model
Document Share
Document Transcript
Adult Romantic Attachment pada Dewasa Muda yang Mengalami Childhood Abuse Icha Irdhanie Ika Yuniar Cahyanti Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Abstract. The goal of this research is mapping the model of adult romantic attachment of young adult who had been experiencing childhood abuse. Young adult who had experienced abuse, means they got abused in their childhood from 0 until 6 years old. This research uses qualitative approach with case study method. Focus of this research is on adult romantic attachment of young adult which experienced childhood abuse. Adult romantic attachment is a relationship pattern of adult to his/her partner. Components to decide adult romantic attachment are emotional relationship, interdependency, faith, and self-acceptance. This four components categorizing adult into four patterns, secure, preoccupied, dismissing, and fearful attachment. Keywords: Adult romantic attachment; Young adult; Childhood abuse Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran adult romantic attachment pada dewasa muda yang mengalami childhood abuse. Dewasa muda yang mengalami childhood abuse, berarti pernah mengalami kekerasan di masa kecil mulai usia 0 sampai 6 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Fokus penelitiannya adalah pada adult romantic attachment dewasa muda yang mengalami childhood abuse. Adult romantic attachment yang dimaksud adalah pola kelekatan yang dimiliki dewasa pada pasangannya. Adult romantic attachment ditentukan oleh empat komponen yakni ikatan emosi, kebergantungan, kepercayaan dan penerimaan diri. Keempat komponen ini dapat mengkategorikan dewasa menjadi empat jenis pola kelekatan diantaranya secure, preoccupied, dismissing dan fearful attachment. Kata kunci : Adult romantic attachment; Dewasa muda; Childhood abuse Korespondensi: Icha Irdhanie Ika Yuniar Cahyanti emai: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Jl. Airlangga 4-6, Surabaya Icha Irdhanie, Ika Yuniar Cahyanti PENDAHULUAN Proses sosialisasi anak berawal di lingkup keluarga. Keluarga memberikan dasar pembentukan watak, tingkah laku, moral, dan pendidikan kepada anak. Sejak masih kecil, interaksi harmonis antara anak, ibu, dan ayah merupakan hal yang penting. Menurut Anna Freud dalam Mikulincer & Shaver (2007), kualitas dari keadaan emosional anak dengan ibunya memiliki pengaruh yang kuat dalam pola perilaku personal, interpersonal, dan dalam fungsifungsi sosial sepanjang hayat. Kepekaan orang tua dalam merespon kebutuhan anak mengarah pada perkembangan rasa aman dan kepuasan emosional yang sangat dibutuhkan anak. Anak dan caregiver yang memiliki hubungan yang kurang harmonis dan tidak tersedianya caregiver secara emosional akan mengantarkan pada kekerasan secara psikologis. Pembatasan gerak, sikap meremehkan, memburukkan, mengancam, mendiskriminasi, mengejek, menertawakan atau penolakan merupakan contoh bentuk kekerasan emosional (Unicef, 2007). Anak-anak yang berada pada kondisi mistrust memiliki representasi mental yang negatif, karena mereka tidak mampu membangun rasa aman dengan primary caregiver. Gagalnya membangun rasa aman ini akan terbawa oleh anak sepanjang hayat dan pola perilakunya sosialnya. Pemerhati anak, Indra Sugiarno, menyatakan bahwa kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak merupakan suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caregiver) baik secara fisik, seksual maupun emosi (Depkes, 2012). Caregiver yang dimaksud di sini merupakan orang-orang terdekat di sekitar anak seperti bapak kandung, ibu kandung, bapak tiri, ibu tiri, kakek, nenek, paman, dan seterusnya. Kekerasan terhadap anak merupakan bentuk tindakan atau perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau eksploitasi lainnya, yang mengakibatkan cidera/ kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab (Unicef, 2007). Menurut National Child Traumatic Stress Network, childhood abuse mengarah pada kejadian yang dianggap kekerasan yang terjadi pada anak-anak di usia 0 hingga 6 tahun. Seorang anak mengalami kasus abuse, dapat berupa physical, psychological, sexual ataupun neglect, maka individu tersebut akan memiliki kesulitan untuk memahami kejadian yang menimpa dirinya, apalagi jika dilakukan oleh orang yang dia kenal atau orang terdekatnya. Komnas Perlindungan Anak selama tahun 2009 mencatat sekitar 382 kasus tindak kekerasan terhadap anak di sekolah. Kekerasan ini meliputi tiga jenis, yaitu fisik, seksual dan psikis. Berikut akan dipaparkan data mengenai kasus tindak kekerasan terhadap anak di sekolah hingga akhir November 2009 (Depkes, 2012). Terjadi peningkatan childhood abuse di Jawa Timur sendiri. Angka tertinggi terjadi di tahun 2011 dan peningkatan drastis terjadi dari tahun 2009 ke 2011, lalu mengalami penurunan di tahun Kekerasan berpengaruh pada dinamika kepribadian anak dan attachment dengan pengasuh (Terr, 1991). Anak yang mengalami kekerasan akan cenderung muncul perilaku psikopatologi dan kerusakan attachment di masa kecil (Kwako, dkk., 2012). Anak yang dihadapkan dengan kekerasan di masa kecil telah terpapar oleh tingkatan rasa bahaya yang tinggi, dengan kurangnya rasa perlindungan dan rasa aman, maka anak akan mencari target kelekatan. Anak yang menjadi korban kekerasan akan mencari target kelekatan yang diasumsikan mampu memberi rasa aman dan perlindungan, namun tidak adanya sosok target kelekatan yang diinginkan anak, akan merusak pola attachment di masa dewasa (Kwako, dkk., 2012). Menurut Bowlby (1982) pengalaman masa anak-anak dengan primary caregiver memiliki pengaruh yang penting pada sistem attachment yang berfungsi dalam masa dewasa. Proses pembentuk attachment meliputi kehadiran, ketersediaan dan keresponsifan sosok caregiver pada anak yang menangis dan membutuhkan perhatian atau bantuan. Aktivasi attachment terjadi ketika sosok caregiver muncul saat anak merasakan suatu ancaman tertentu. Sementara itu, pencarian target attachment dan proximity seeking oleh anak adalah hasil dari kebutuhan anak akan attachment. Anak dengan attachment yang sehat dengan 113 Adult Romantic Attachment pada Dewasa Muda yang Mengalami Childhood Abuse pengasuh akan memiliki pikiran yang positif tentang interaksi dengan target attachment. Munculnya perasaan aman, dukungan, dan cinta merupakan proses mental yang terjadi di dalam ingatan anak. Andaikan ancaman muncul, anak akan memiliki proses mental dimana ingatan yang kuat dan positif dengan target attachment akan memunculkan perilaku yang adaptif dengan aktifasi strategi pencarian kedekatan. Oleh sebab itu, anak yang memiliki sejarah ketersediaan dan keresponsifan target attachment akan memiliki kemampuan meregulasi emosi dengan rasa percaya diri jika menghadapi kondisi yang penuh tekanan. Teori attachment menyediakan kerangka berfikir untuk menjelaskan bagaimana disfungsi interpersonal muncul akibat dari kerentanan di masa anak-anak sehingga menyebabkan kelainan atau abnormalitas (Bifulco, 2006). Teori attachment menyatukan kerangka berfikir untuk menjelaskan perkembangan, pertahanan, dan penyelesaian atas hubungan yang intim bersamaan dengan menawarkan perspektif dari perkembangan kepribadian, regulasi emosi dan psikopatologi (Fraley & Shaver, 2000). Teori attachment dapat menjadi variabel yang holistik dalam menjelaskan dinamika kondisi dewasa muda yang pernah mengalami kekerasan di masa anak-anak. Menurut Briere (1996), anak yang mengalami kekerasan mengalami gangguan dalam perkembangan. Hazan dan Shaver (1987) mengembangkan pengukuran self-report pada gaya attachment dengan menanyakan responden untuk mengkarakteristikan perasaan dan kecenderungan perilaku mereka dalam hubungan romantis. Partisipan diminta untuk membaca deskripsinya, lalu menempatkan diri mereka dalam tiga kategori attachment sesuai dengan perasaan dan perilaku mereka dalam hubungan masing-masing. Sementara itu, teori attachment yang dirancang oleh Bartholomew (Bartholomew & Horowitz, 1991) berkaca pada pembagian jenis yang dilakukan Bowlby, namun Bowlby membedakan dimensi menjadi cara individu memandang diri dan memandang orang lain. Bartholomew mengembangkan konsep ini dengan membedakan dimensi menjadi tingkat kecemasan dan penghindaran. Pembedaan ini ditinjau dari tinggi dan rendahnya tingkat kecemasan dan penghindaran. Penelitian ini dilakukan untuk meninjau kekerasan yang dialami di masa anak-anak akan berpengaruh ke attachment di masa anakanak dan akan mejadi penentu pola attachment individu di masa dewasa. Berdasarkan penelitian yang terdahulu dilakukan oleh Pramugarsari (2012) individu yang mengalami pelecehan seksual di masa anak-anak memiliki respon tertentu para sosok primary caregiver, respon yang diberikan pun menentukan pola attachment anak di masa itu, dan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Pramugarsari, ditemukan kesesuaian antara pola attachment yang dimiliki korban pelecehan seksual di masa anak-anak dan di masa dewasa, dengan pengkategoriam tertentu. Hal ini menandakan bahwa pola romantic attachment di masa dewasa sudah dapat ditentukan antara hubungan anak dengan primary caregiver di masa anak-anak. Anak Yang Mengalami Childhood Abuse Childhood abuse merupakan kondisi dimana anak mendapatkan gangguan dari orang tua atau pengasuhnya yang merugikan anak baik secara fisik atau psikis yang mempengaruhi perkembangannya. Disebut childhood abuse jika hal itu terjadi pada anak di bawah umur 16 tahun. Kekerasan pada anak merupakan peristiwa pelukaan fisik, mental, atau seksual yang dilakukan oleh orang yang memiliki tanggung jawab pada kesejahteraan anak, dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak (Suyanto & Hariadi, 2002). Trauma masa anak-anak merupakan semua bentuk tindakan yang mengakibatkan cidera atau kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak atau martabat anak, yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab (Unicef, 2007). Bentuk-bentuk childhood abuse menurut Pedoman Rujukan Kekerasan terhadap anak (Unicef, 2007) dapat berupa : 1. Kekerasan fisik adalah kekerasan yang mengakibatkan cidera fisik nyata yang tampak langsung pada korban ataupun potensial terhadap anak sebagai akibat dari interaksi atau tidak adanya interaksi yang layaknya ada dalam kendali orang tua atau orang dalam hubungan posisi tanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan. Contoh, 114 Icha Irdhanie, Ika Yuniar Cahyanti menampar, menendang, memukul, mencekik, mendorong, menggigit, membenturkan atau mengancam. 2. Kekerasan seksual adalah pelibatan anak dalam kegiatan seksual, dimana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami atau tidak mampu memberi persetujuan. Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktifitas seksual antara anak dengan orang dewasa atau anak lain. Aktifitas tersebut ditujukan untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut. Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi atau pornografi, pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual, memperlihatkan kemaluannya kepada anak untuk tujuan kepuasan seksual, stimulasi seksual, perabaan, memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain, hubungan seksual, perkosaan, hubungan seksual yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan darah (incest), dan sodomi 3. Kekerasan emosional adalah suatu perbuatan terhadap anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Dampak kekerasan akan berpengaruh pada situasi tidak aman dan tidak nyaman. Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak, penggunaan kata kata kasar, mempermalukan di depan orang lain, melontarkan ancaman, sikap tindak yang meremehkan anak, memburukkan atau mencemarkan, mengkambinghitamkan, mengamcam, menakutnakuti, mendiskriminasi, mengejek atau menertawakan, atau perlakuan lain yang kasar atau penolakan. 4. Penelantaran anak adalah kegagalan dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya seperti: kesehatan, pendidikan, perkembangan emosional, nutrisi, rumah atau temoat bernaung, dan keadaan hidup yang aman yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau pengasuh. Penelantaran anak dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, gangguan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. 5. Eksploitasi anak adalah penggunaan anak dalam pekerjaan atau aktifitas lain untuk keuntungan orang lain, termasuk pekerja anak dan prostitusi. Kegiatan ini merusak atau merugikan kesehatan fisik dan mental, perkembangan pendidikan, spiritual, moral, dan sosioemosional anak. Adult Romantic Attachment pada Dewasa Muda yang Mengalami Childhood Abuse Bartholomew (1991), memiliki empat jenis pola attachment pada dewasa yaitu : 1. Secure Attachment Individu dengan secure attachment memiliki positif model atas diri sendiri dan orang lain. Secure attachment dideskripsikan sebagai mudah dekat dengan seseorang secara emosional, nyaman, bergantung, dan tidak keberatan orang lain bergantung padanya, tidak memiliki kekhawatiran akan kesendirian atau penerimaan. Gaya dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis masuk dalam tipe passionate love, individu merasa memiliki dorongan yang kuat, dan bergairah. Tipe yang kedua selfless love, hubungan yang tidak egois, saling memikirkan perasaan satu sama lain, dan memberikan cinta tanpa rasa pamrih. Komponen yang terjadi adalah tinggi dalam keintiman, passion, dan komitmen. Cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi, rendahnya penghindaran pada pasangan, dan rendah dalam pola cinta yang neurotis. 2. Fearful Attachment Individu dengan fearful attachment memiliki model negatif atas diri sendiri dan orang lain. Fearful Attachment dideskripsikan sebagai tidak nyaman dekat dengan orang lain, menginginkan hubungan emosional yang dekat namun kesulitan mempercayai orang sepenuhnya dan sulit bergantung pada orang lain, memiliki kekhawatiran akan disakiti jika dekat dengan orang lain. Memiliki kecemasan dan penghindaran yang tinggi. Kegagalan untuk meraih tujuan strategi 115 Adult Romantic Attachment pada Dewasa Muda yang Mengalami Childhood Abuse attachment, seperti tidak mendapatkan keamanan dan keselamatan dalam pencarian kedekatan. Mengaktifkan strategi defensif jika dihadapkan dengan situasi yang menawarkan figur kedekatan. Sangat sulit untuk didekati dan tidak mampu untuk bersikap asertif, memiliki perasaan tidak aman dan tidak nyaman pada waktu-waktu tertentu, tidak mampu percaya atau memberikan kepercayaan, sering mengalami masalah, dan cenderung terganggu tahap perkembangannya. Memiliki pikiran negatif terhadap pasangannya, memiliki kecenderungan yang tinggi untuk terlibat dalam hubungan yang penuh tekanan dan diselingi kekerasan, tertutup secara kognisi dan kaku, menunjukan empati yang rendah pada individu yang distressed, memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan kepribadian yang parah, dan memiliki kesehatan mental yang rendah. 3. Preoccupied Attachment Individu dengan preoccupied attachment memiliki model positif pada orang lain dan model negatif atas diri sendiri. Preoccupied attachment dideskripsikan sebagai menginginkan hubungan emosional yang intim dengan orang lain namun khawatir orang lain tidak mau dekat dengan dirinya, tidak nyaman jika tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang, namun khawatir orang lain tidak menghargai dirinya seperti dirinya menghargai orang lain. Gaya dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis tergolong dalam tipe mania atau pola cinta yang posesif. Menginginkan pasangan hanya untuk dirinya sendiri dan cenderung memaksa. Komponen yang terjadi adalah rendah dalam keintiman, passion, dan komitmen. Cenderung tinggi dalam pola cinta yang neurotis, tinggi dalam preokupasi, kebergantungan, dan mendambakan hubungan yang ideal. Rendah dalam circumspect love yaitu sangat berhati-hati dalam masalah percintaan, persahabatan, dan pragma (melihat pasangan sebagai daftar yang harus dipenuhi). Rendah dalam kepercayaan diri dan rendah dalam penghindaran keintiman. 4. Dismissing Attachment Individu dengan dismissing attachment memiliki model negatif pada orang lain model positif pada diri sendiri. Dismissing attachment dideskripsikan sebagai mampu hidup nyaman tanpa memiliki hubungan emosional yang dekat, lebih mementingkan hidup mandiri dan efektif, tidak ingin bergantung pada orang lain, dan tidak nyaman jika orang lain bergantung pada dirinya. Gaya dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis tergolong dalam tipe Ludus atau pola cinta yang cenderung mempermainkan (game-playing love). Komponen yang terjadi adalah rendah dalam keintiman, passion, dan komitmen. Cenderung tinggi dalam penghindaran keintiman, cenderung menjalin hubungan untuk mencari kesenangan dan menghindari melibatkan perasaan. Rendah dalam kemampuan memberi perhatian, kepedulian, dan kemampuan mencintai. Rendah dalam kepercayaan diri dan rendah dalam cinta yang neurotis. METODE PENELITIAN Penelitian untuk mengetahui adult romantic attachment pada dewasa muda yang penderita childhood abuse, menggunakan metode penelitian kualitatif. Paradigma penelitian yang digunakan adalah paradigma fenomenologis, Paradigma fenomenologis berusaha mengidentifikasi makna esensial dari pengalaman dan memberi kesempatan untuk menggambarkan, menginterpretasikan, dan memahami maksud secara lebih mendalam pada level general maupun hal yang unik. Penelitian kualitatif dekat dengan asumsi-asumsi paradigma fenomenologis-interpretatif (Poerwandari, 2001). Tipe studi kasus yang sesuai dengan penelitian ini adalah studi kasus instrinsik. Hal ini dikarenakan peneliti peduli dan tertarik pada kasus-kasus yang terjadi pada dewasa muda, sehingga peneliti ingin memahami secara utuh kasus tersebut terutama mengenai adult romantic attachment yang terjadi pada dewasa muda yang mengalami childhood abuse. Pada penelitian ini subjek dipilih menggunakan pedoman pengambilan sampel 116 Icha Irdhanie, Ika Yuniar Cahyanti berdasarkan teori atau berdasarkan konstruk operasional (theory-based/operational construct sampling). Kriteria subjek adalah sebagai berikut : 1. Dewasa muda laki-laki ataupun perempuan, berusia tahun. Dapat sedang dalam hubungan romantis (berpacaran, bertunangan, atau menikah) atau tidak. Umurnya dalam masa pencarian target keintiman. 2. Pernah mengalami childhood abuse, kekerasan, dan neglect (ditinggalkan), seperti serangan verbal pada harga diri, serangan fisik yang dapat membahayakan keselamatan, kontak seksual, kegagalan dalam penyediaan kebutuhan emosi dan psikologis serta kegagalan dalam penyediaan kebutuhan dasar. Pelaku kekerasan berupa pengasuh utama. Frekuensi kekerasan terjadi minimal 4 tahun, dengan konsistensi terjadi secara rutin. 3. Bersedia menjadi subjek penelitian ini. Akan dilakukan juga pengumpulan data pada significant others untuk mengaitkan data yang telah didapatkan dari subjek utama. Peneliti menggunakan sahabat dekat, kerabat keluarga, kakak, adik, tetangga yang mengetahui kegiatan keseharian subjek. HASIL DAN BAHASAN Hasil penelitian disajikan dalam tabel berikut. Subjek 1 Subjek 2 Data diri Nama Usia Jenis kelamin SS 26 tahun Perempuan FM 24 tahun Laki-Laki Ikatan emosi - Penolakan dan kesulitan membuka diri secara emosional ke lawan jenis - Ketidakmampuan dalam menjalin hubungan yang tulus dengan lawan jenis - Penghindaran jika ada lawan jenis yang mendekati - Penolakan untuk melakukan kegiatan bersama lawan jenis - Ketidakmampuan menyayangi lawan jenis dalam hubungan romantis - Memastikan tidak terjadi kelekatan dalam hubungan romantis dengan lawan jenis - Memilih otonomi diri dan kebebasan dari kedekatan dengan orang lain - Nyaman tanpa ada hubungan emosional dengan orang lain - Tidak tertarik dalam membangun keintiman - Selalu melakukan kegiatan yang melibatkan pasangan - Pola posesif (pasangan harus selalu diurus, dilayani, dijaga, dan dipenuhi segala kebutuh
Similar documents
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks