ADOPSI HUKUM ADAT MATRILINEAL AKIBAT HUKUM ADOPSI 15/03/ PDF

Please download to get full document.

View again

of 5
117 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
ADOPSI HUKUM ADAT MATRILINEAL Anggota Kelompok: 1. Dwi Linda Permatasari (10) 2. Dinda Dini Dwi C (20) 3. Rosalina Dwi F (23) 4. Devi Almas Nur A (26) 5. TaraditaN (27) Masyarakat dengan sistem matrilineal
Document Share
Document Transcript
ADOPSI HUKUM ADAT MATRILINEAL Anggota Kelompok: 1. Dwi Linda Permatasari (10) 2. Dinda Dini Dwi C (20) 3. Rosalina Dwi F (23) 4. Devi Almas Nur A (26) 5. TaraditaN (27) Masyarakat dengan sistem matrilineal adalah masyarakat yang berdasarkan sistem kekerabatan dengan menarik garis keturunan (darah) dari perempuan atau ibu,contohnya adalah orang-orang Minangkabau, Kerinci dan orang Semendo 1 2 Sistem matrilineal sebenarnya tidak mengakui adanya pengangkatan anak (adopsi), akan tetapi Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) membuat suatu terobosan atau penyimpangan hukum sehingga tercipta suatu pengangkatan anak. Pengangkatan anak di tiap daerah yang menganut hukum adat matrilineal berbeda, ada pengangkatan anakdimanabukanlah adopsi, tetapi hanya sekadar pemeliharaan anak saja, dan ada pengangkatan anak menjadi anak kemenakan. AKIBAT HUKUM ADOPSI a. Hubungan Hukum Anak dan Orang Tua Kandung (biologis) Hubungan hukum anak angkat dengan orang tua kandung tidak terputus 3 4 b. Hak Waris Anak Adopsi Terhadap orang tua biologis Karena hubungan anak angkat tersebut tidak terputus dengan orang tua kandungnya maka ia tetap sebagai ahli waris dari orang tua kandungnya Terhadap orang tua angkat -Bagi anak yang diangkat untuk dipelihara maka ia tidak mewarisi harta dari orang tua angkat melainkan hanya dapat mewarisi harta dari orang tua kandung nya -Bagi anak yang diangkat untuk dijadikan anak kemenakan ia mendapat harta warisan dari orang tua angkatnya namun tergantung dari bagaimana cara pengangkatan anak tersebut c. Hubungan anak adopsi dengan orang tua angkat memburuk Jika karena suatu sebab anak angkat merasa tidak senang, tidak kerasan di rumah orang tua angkatnya dan ingin kembali ke rumah orang tua asal maka masalah tersebut harus ditinjau oleh hakim berdasarkan prinsip maksud dari pengangkatan anak (yaitu menimbulkan hubungan batin antara orang tua dan anak angkat) dan kepentingan si anak harus dilindungi. Oleh karena itu, dalam alasan si anak angkat masuk akal dengan melihat kenyataan-kenyataan, maka keinginannya itu dapat diluluskan. Tetapi hakim dapat menolak keinginan itu dalam hal sebaliknya. 5 6 d. Tanggung jawab orang tua angkat dan keluarganya terhadap anak adopsi Memelihara dan memperlakukan sebagai anak kandung sendiri yang diberi makan, pakaian supaya tumbuh menjadi dewasa Memperlakukan sebagai anaknya sendiri berdasarkan ketentuan-ketentuan yang disepakati bersama e. Tanggung jawab anak adopsi terhadap orang tua angkat Tanggungjawab anak angkat sama seperti anak kandung pada umunya, yaitu menghormati dan berbakti kepada orang tua. Dalammasyarakat adat, utamanya setiap anak wajib menjaga kehormatan dan status sosial dari orang tuanya. berlaku sopan dan taat terhadap orng tua angkatnya. membantu pekerjaan orang tua angkatnya. merawat serta menjaga orang tua angkatnya bila sudah tua seperti layaknya anak kandung terhadap orang tua kandungnya. wajib menyelenggarakan upacara adatbila orang tuanya meninggal dunia. 7 8 Disamping itu anak angkat juga mempunyai kewajiban terhadap orang tua kandungnya yaitu: wajib mengunjungi orang tua kandungnya untuk silaturahmi. apabila anak angkat itu tahu kalau orang tua kandungnya sakit maka kewajiban anak angkat itu merawat dan membantu baik secara moril maupun materiil. anak angkat wajib membantu orang tua kandungnya bila kekurangan. jika orang tua kandung meninggal, kewajiban sebagai anak angkat wajibmerawat dan mendoakan. SYARAT SAH MATERIIL ADOPSI a. Bagi calon orang tua Telah mendapat persetujuan dari orang tua kandung Telah mendapat persetujuan dari kedua anggota keluarga baik yang mengangkat maupun diangkat. Perbedaan usia minimal 15 tahun dengan calon anak angkat b. Bagi calon anak angkat Mendapatkan izin dari orang tua asal atau wali yang mengakuinya 9 10 SYARAT SAH FORMIL ADOPSI a. Bagi calon orang tua dan anak angkat Pengangkatan anak harus dilakukan dengan terang Jika anak yang diangkat merupakan kemenakan dari pihak perempuan, apabila tidak dilakukan upacara adat, anak ini tetap diakui dan diterima karena sudah satu suku dengan ibunya. Jika anak yang diangkat merupakan kemenakan dari pihak laki-laki, harus melalui prosedur upaca adat, karena berbeda suku dengan ibu angkatnya. TUJUAN ADOPSI 1. Untuk menghilangkan rasa kesunyian diri. 2. Untuk melanjutkan garis keturunan. 3. Karena niat baik untuk memelihara dan mendidik anakanak yang terlantar. 4. Untuk mencari tenaga kerja atau pembantu dalam melaksanakan pekerjaan rutin yang bersifat intern maupun ekstern. 5. Untuk mencapai dan mencari tempat bergantung hidup di hari tua kelak. 6. Untuk memberikan kepuasan batiniah bagi keluarga yang sangat membutuhkan kehadiran seorang anak dari kehidupan rumah tangga dan seluruh keluarganya LEMBAGA YANG MENGESAHKAN Lembaga pengesahan terkait pengangkatan anak diakui oleh masyarakat matrilineal, sebagai contoh pada masyarakat adat minangkabau. Lembaga ini adalah LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau). LKAAM ialah organisasi yang (idealnya) merupakan wadah penyaluran aspirasi komunitas adat dalam hubungannya dengan pelestarian nilai-nilai adat dalam masyarakat serta dalam menjaga kepentingan komunitas adat itu sendiri. Dan dalam hal ini, pengangkatan anak adalah bagian di dalamnya Diskusi Tanya Jawab 1. Puspita Radika(22) Jika anak yang diangkat dari pihak ibu upacara adatnya bagaimana dan apabilaanakyang diangkat adalah kemenakan dari pihak laki-laki seperti apa? Apakah ada perbedaannya? 2. FadillaNurI(28) Terkait perkawinan anak adopsi hukum adat matrilineal kan menurut garis ibu, dan anak angkat tersebut otomatis ikut atau masuk kedalam suku ibunya, apakah boleh saat dewasa nanti anak angkat tersebut kawin dengan seseorang yang berbeda suku dengan dirinya dan ibunya? Rahma Widjna(29) Apakah anak angkat dalam hukum adat matrilinieal ketika sudah menjadi anak angkatnya kelak boleh menambahkan nama orang tua angkatnya atau tidak? 4. Nilna Soraya(9) Tentang pembagian waris telah dijelaskan bahwa anak yang diangkat sebagai anak kemenakan akan mendapatkan waris tetapi berdasarkan cara pengangkatan anak tersebut. Apakah yang dimaksud dr cara pengangkatan anak tersebut? 5. Riski Hidayati(7) Apakah ada batasan jumlah untuk melakukan pengangkatan anak? Dan bila iya, apakah yang menjadi dasar pertimbangannya? 15 Jawaban 1. Jelas berbeda, karena jika yang diangkat adalah pihak bapak, berarti belum satu suku dan pelaksanaan upacara adatnya bertujuan untuk melepaskan anak angkat dari suku asalnya dengan itu maka diberikan taranya berupa benda-benda yang bermakna magis sebagai ekspresi mentalitas magis suku Sedangkan apabila yang diangkat adalah kemenakan dari pihak ibu maka upacaranya merupakan tindakan tunai. Karena sudah satu suku dengan ibunya. 2. Kawin satu suku tidak boleh karena melanggar adat istiadat, apabila terjadi perkawinan satu suku dapat dikenakan sanksi berupa membayar denda 1 (satu) ekor kerbau, pindah suku atau dibuang dari Nagari Ampang Kuranji. 16 3. Apabila pengangkatan anak angkat tersebut dilakukan dengan upacara adat maka secara langsung anak angkat menjadi anggota suku ibu yang mengangkatnya. Nama belakang anak angkat tersebut boleh memakai nama suku ibu angkatnya misalnya Faisal diangkat oleh ayah angkatnya bernama Yanto dan ibu angkatnya bernama Rus, suku ibu angkatnya Caniago Datuk Rajo Lelo maka nama anak tersebut menjadi Faisal Caniago tetapi tidak boleh ditambahkan nama belakang orang tua angkat karena agama Islam dan adat setempat melarang hal tersebut. 4. Anak yang diangkat dengan cara batali adat (bertali adat) dan batali darah (bertali darah) akan dapat mewarisi harta orang tua angkatnya baik harta pusaka tinggi, harta pusaka rendah dan harta suarang. Sedangkan anak yang diangkat dengan cara batali budi (bertali budi) hanya akan mendapatkan satu petak tanah atau sebuah perumahan saja. 5. Tidak ada batasannya untuk melakukan pengangkatan anak. Sebagai dasar pertimbangannya itu kembali kepada tujuan mengangkat anak, yaitu untuk merawat, mengasuh, dan memelihara si anak angkat tersebut. Selain itu juga dalam matrilineal hubungan anak dengan orang tua kandung tidak terputus. Jadi hal inilah yang mendasari DAFTAR PUSTAKA Mustofa Sy, Pengangkatan Anak Kewenangan Pengadilan Agama (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 30. Emeliana Krisnawati, Aspek Hukum Perlindungan Anak, (Bandung: CV. Utomo, 2005),hlm. 28. M. Hasballah Thaib, Dua Puluh Satu Masalah Aktual dalam Pandangan Fiqih Islam, (Medan: Fakultas Tarbiyah Universitas Dharmawangsa, 1995), hlm Lulik Djatikumoro, Hukum Pengangkatan Anak di Indonesia, (Bandung:PT Citra Aditya Bakti,2011) Bzn, B. Ter Haar, Adat Law in Indonesia, Terjemahan oleh Hoebel E. Adamson dan A. Arthur Schiller, (Djakarta: Bharatara, 1962), hlm. 175 dalam Runtung Sitepu dan Hotmaria, Pengangkatan Anak dan Akibat Hukumnya, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2004), hlm
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks