439-994-1-SM

Please download to get full document.

View again

of 18
0 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
fgjhjfjhf
Document Share
Document Transcript
  1 HUBUNGAN RIWAYAT KEJANG DEMAM DENGAN KEJADIAN EPILEPSI PADA ANAK DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM CUT MEUTIA ACEH UTARA TAHUN 2015 Ummi Chairunnisa 1 , Julia Fitriany 2 , Harvina Sawitri 3  1 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh 2  Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh 3 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh Corresponding Author : chairunnisasirait27@gmail.com  Abstrak    Epilepsi merupakan penyakit otak tersering di dunia yang insidensinya meningkat pada usia anak-anak. Salah satu faktor risiko tersering ialah riwayat kejang demam. Kejang demam merupakan kejang yang didahului oleh demam yang terjadi pada usia 6 bulan hingga 59 bulan oleh karena  proses ekstrakranial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat kejang demam dengan kejadian epilepsi pada anak di BLUD RSU Cut Meutia Aceh Utara Tahun 2015. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional  . Sumber data berasal dari rekam medik dengan sampel penelitian adalah pasien epilepsi dan tidak epilepsi di poliklinik bagian anak BLUD RSU Cut Meutia tahun 2015. Hasil penelitian ini didapatkan kasus epilepsi 11 anak (18,3%) dan tidak epilepsi 49 anak (81,7%). Kejadian epilepsi terbanyak pada anak usia 1 hingga 5 tahun yakni sebanyak 5 anak (20%) dan anak yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 9 anak (29%). Epilepsi anak yang disertai riwayat kejang demam sebanyak 4 anak (50%). Hasil uji  fisher’s exact   yaitu p= 0,031 terdapat hubungan antara riwayat kejang demam dengan kejadian epilepsi pada anak di BLUD RSU Cut Meutia Aceh Utara Tahun 2015.  Kata Kunci: riwayat kejang demam, kejadian epilepsi, anak  2 Correlation the history of febrile seizure with the occurrence of epilepsy among children at BLUD RSU Cut Meutia Aceh Utara in 2015  Abstract Epilepsy is the most frequent brain disease around the world with higher prevalence among the children. One of the most often risk factor is the history of febrile seizure. Febrile seizure is a seizure preceded by a febrile occur on age of 6-59 months caused by extracranial process. This study aimed to discover the correlation between the history of febrile seizure and the occurrence of epilepsy among children at BLUD RSU Cut Meutia Aceh Utara in 2015. This was an analytical observational study with cross sectional approach. Samples of study were epileptic and non epileptic child patient in Pediatric Outpatient Clinics of BLUD RSU Cut Metia Aceh Utara in 2015. This research result was 11 children (18,3%) have epilepsy and 49 children (81,7%) not having it. Epilepsy mostly occur on the age of 1 up to 5 years with 5 children (20%) and also occur more frequent on girl with 9 children (29%). There are also 4 children (50%) who have epilepsy that accompanied with the history of febrile seizure. The results was from the fisher’s exact test achieved p= 0,031 that mean if there is a correlation between the history of febrile seizure with the occurrence of epilepsy among children at BLUD RSU Cut Meutia Aceh Utara in 2015.  Key words: history of febrile seizure, the occurance of epilepsy, children   Pendahuluan Epilepsi merupakan salah satu penyakit otak yang sering ditemukan di dunia. Epilepsi merupakan istilah untuk cetusan listrik lokal pada substansia grisea otak yang terjadi sewaktu-waktu, mendadak dan sangat cepat. Penderita epilepsi dapat terjadi fenomena kematian mendadak  sudden unexplained death in epilepsy  (SUDEP) yang dihubungkan dengan aktivitas kejang dan kemungkinan  besar karena disfungsi kardiorespirasi (Ginsberg, 2008). Epilepsi menghimpun sekitar 1% dari total beban semua penyakit di dunia (Wieser, 2000). Data World Health Organization  (WHO) menunjukkan epilepsi menyerang 70 juta dari penduduk dunia (Brodie et al., 2012). Angka kejadian epilepsi masih tinggi terutama di negara berkembang yang mencapai 114 per  3 100.000 penduduk per tahun. Angka tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara maju dengan angka kejadian epilepsi berkisar antara 24 hingga 53  per 100.000 penduduk per tahun (Benerjee & Sander, 2008). Penderita epilepsi di Indonesia berkisar 0,5% hingga 4% dengan rata-rata  prevalensi epilepsi 8,2 per 1.000 penduduk. Bila jumlah penduduk di Indonesia  berkisar 220 juta maka diperkirakan jumlah penderita epilepsi per tahunnya adalah 250.000 orang (WHO, 2010). Epilepsi dapat diderita oleh siapapun, termasuk anak-anak, remaja dan dewasa, puncaknya pada masa kanak-kanak dan setelah usia 60 tahun (WHO, 2012). Prevalensi epilepsi di Indonesia diperkirakan 40% hingga 50% terjadi pada anak-anak (Suwarba, 2011). Epilepsi yang diketahui penyebabnya disebut epilepsi simptomatik dan yang tidak diketahui penyebabnya disebut epilepsi idiopatik. Sekitar 65% dari seluruh kasus epilepsi tidak diketahui faktor penyebabnya atau idiopatik. Beberapa faktor dapat mempengaruhi timbulnya epilepsi. Faktor-faktor tersebut dapat mencederai sel saraf otak atau lintasan komunikasi antar sel otak (Harsono, 2007). Faktor risiko epilepsi antara lain: kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama, kejang demam kompleks dan riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung. Masing-masing faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya epilepsi sekitar 4% hingga 6%, kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10% hingga 49% (IDAI, 2006). Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf tersering pada anak. Lebih dari 90% kasus kejang demam terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun. Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League Againts  Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis , 1993) adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38°C tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 6 hingga 5 tahun tanpa riwayat kejang sebelumnya. Bangkitan kejang demam terjadi pada anak yang berusia antara usia 6 bulan hingga 22 bulan, insiden bangkitan kejang demam tertinggi terjadi pada usia 18 bulan (Sari Pediatri, 2010).  4 Penyebab terbanyak demam pada pasien kejang demam di dunia adalah gastroenteritis (38,1%) (Aliabad et al., 2013). Kejang demam di Indonesia 80% disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan (Gunawan, 2008). Kejang demam diklasifikasikan menjadi dua, yaitu kejang demam kompleks atau berulang dan kejang demam sederhana. Kejang demam sederhana tidak menimbulkan komplikasi sedangkan kejang demam kompleks atau berulang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya epilepsi di kemudian hari (Lumbantobing, 2007). Metode  Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan potong lintang ( cross sectional  ). Penelitian ini dilakukan di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara. Penelitian ini dimulai bulan Oktober 2015 hingga Maret 2016. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien anak yang ada di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh  pasien di poliklinik bagian anak yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Kriteria inklusi yaitu : 1.   Pasien anak yang tercatat di rekam medik. 2.   Pasien anak yang berusia 6 bulan sampai dengan 18 tahun. Kriteria eksklusi yaitu : 1.   Data pasien di rekam medik tidak lengkap. 2.   Pasien anak yang menderita gangguan neurologis selain epilepsi dan kejang demam. 3.   Pasien anak dengan sindrom neurologis periodik tanpa gangguan kesadaran seperti: migren, tetanus dan hiperventilasi. 4.   Pasien anak yang memiliki riwayat kelainan saraf atau kelainan otak  bawaan. Penentuan besar sampel dalam penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Lameshow, hasil perhitungan dari rumus tersebut, diperoleh besar sampel sebesar 59,00. Sampel dalam penelitian ini digenapkan menjadi 60 orang.
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks