43511335_Bab2.pdf

Please download to get full document.

View again

of 39
9 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
Download 43511335_Bab2.pdf
Document Share
Document Transcript
  11 BAB II LANDASAN TEORI A.   Landasan Teori 1.   Pengertian Belajar a.   Belajar Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan  jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami peserta didik, baik ketika ia berada di sekolahan maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. 1  Arno F. Witting mengartikan belajar adalah “learning can be defined as any relatively permanent change in an organism behavioral repertoire that occurs as a result of experience.” 2  Menurut Skinner, belajar merupakan suatu proses adaptasi atau penyesuaian atau tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat. 3  Persepsi yang lain diberikan oleh Devista dan Thompson dalam bukunya Nana Syaodih Sukmadinata, yang mengartikan belajar sebagai perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. 4  Sedangkan Slameto mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil 1  Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan , (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 89.   2  Arno F. Witting, Psycology of Learning,  (New York: Mc Graw Hill, 1981), hlm. 2.   3 Muhibbin Syah, Opcit  , hlm. 90.   4 Nana Syaodih Sukmadinata,  Landasan Psikologi Proses Pendidikan,  (Bandung: Rosdakarya, 2003), hlm. 156.    12 dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. 5  Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan dari hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.   b.   Proses Belajar Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh sesuatu yang baru yaitu ilmu dan kepandaian. Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi, tetapi belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu, sesuai dengan tujuan yang diharapakan 6 . Oleh karena itu dalam belajar harus mendorong keaktifan peserta didik, keaktifan yang dimaksud bukan hanya keaktifan fisik semata tetapi juga keaktifan psikis seperti mental. Dalam proses pembelajaran, peserta didik harus menemukan sendiri dan mentransformasi informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan –aturan itu tidak sesuai lagi. 7  Jadi dalam proses pembelajarannya peserta didik tidak hanya menerima materi dari guru, akan tetapi peserta didik dituntut aktif untuk membangun pemahaman konsep secara mandiri. Pemahaman konsep secara mandiri yang diperoleh dari pengalaman selama proses pembelajaran akan menjadi lebih terkesan atau lebih bermakna dalam diri peserta didik. 5 Slameto,  Belajar dan Faktor yang Mempengaruhinya,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hlm. 2.   6 Wina Sanjaya, Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan , (Jakarta: Prenata Media Group), hlm. 132.   7 Trianto,  Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik  , (Surabaya: Prestasi Pustaka, 2007), hlm. 13.    13 Dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses untuk menelaah, memahami sesuatu untuk mendapatkan hal yang baru melalui pengalaman. Penilaian proses belajar mengajar terutama adalah melihat sejauh mana keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar. Keaktifan pada penelitian ini adalah peran serta peserta didik ketika mengikuti pembelajaran. Faktor-faktor yang dinilai dalam penelitian ini adalah keterlibatan peserta didik dalam bertanya kepada peserta didik lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya, berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah, melaksanakan diskusi kelompok, menjawab pertanyaan dan keterlibatan peserta didik dalam menggunakan media pembelajaran.   Kadar keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat  juga dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: 1).   Keterlibatan peserta didik baik secara fisik, mental, emosional maupun intelektual dalam setiap proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari tingginya perhatian serta motivasi peserta didik untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 2).   Peserta didik belajar secara langsung ( experiential learning ). Dalam proses pembelajran secara langsung, konsep dan prinsip diberikan melalui pengalaman nyata seperti merasakan, meraba, mengoperasikan, melakukan sendiri dan lain sebagainya. Demikian juga pengalaman itu bisa dilakukan dalam bentuk kerja sama dan interaksi dalam kelompok. 3).   Adanya keinginan peserta didik untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif. 4).   Keterlibatan peserta didik dalam melakukan prakasa seperti menjawab dan mengajukan pertanyaan, berusaha memecahkan  14 masalah yang diajukan atau yang timbul selama proses pembelajaran berlangsung. 5).   Terjadinya interaksi yang multi-arah, baik antara peserta didik dengan peserta didik atau antara guru dengan peserta didik. 8  c.   Hasil Belajar Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai setelah seseorang melakukan proses untuk mendapatkan perubahan. Hasil belajar ini dapat diketahui dari hasil kegiatan penilaian atau pengukuran yang dilakukan oleh pendidik. Menurut Soetjipto, pendidik merupakan personil sekolah yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik, karena pendidiklah yang memilki kesempatan bertatap muka lebih banyak dengan peserta didik dibandingkan dengan personil sekolah lainnya. 9  Keberhasilan suatu pengajaran dapat dilihat dari segi hasil belajar. Hasil belajar yang harus memenuhi aspek adalah tujuan dari pendidikan, Benyamin Bloom berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang hendak dicapai digolongkan atau dibedakan (bukan dipisahkan) menjadi tiga bidang, yakni bidang kognitif, bidang afektif, dan bidang psikomotor. 10  Dalam perkembangannya, pendapat Benyamin Bloom terkenal dengan nama ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. 1)   Ranah kognitif Ranah kognitif adalah ranah yang berhubungan dengan penguasaan intelektual. Menurut Nana Sudjana, ranah ini mencakup hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. 11   8  Wina Sanjaya, Opcit  , hlm.142   9 Soetjipto, dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999), Cet. 1. hlm. 103   10 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar  , (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), hlm. 46   11  Ibid.  50
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks