KUALITAS DAN AKURASI PENCATATAN PELAPORAN IMUNISASI DASAR LENGKAP DENGAN DQS DI BLITAR

of 12
233 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
KUALITAS DAN AKURASI PENCATATAN PELAPORAN IMUNISASI DASAR LENGKAP DENGAN DQS DI BLITAR The Quality and Accuracy of Basic Complete Immunization Record and Reporting with DQS in Blitar Meida Sucsesa 1, Arief
Document Share
Document Transcript
KUALITAS DAN AKURASI PENCATATAN PELAPORAN IMUNISASI DASAR LENGKAP DENGAN DQS DI BLITAR The Quality and Accuracy of Basic Complete Immunization Record and Reporting with DQS in Blitar Meida Sucsesa 1, Arief Hargono 2 1 Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, 2 Departemen Epidemiologi FKM UA, Alamat Korespondensi: Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Jalan Semeru Nomor 50, Blitar, Jawa Timur, Indonesia ABSTRAK Kualitas dan akurasi data imunisasi merupakan masalah yang sering ditemukan di puskesmas dan dinas kesehatan. Cakupan imunisasi yang tinggi, belum tentu menunjukkan kualitas data juga baik. Pencapaian cakupan imunisasi yang tinggi diharapkan dapat menekan angka kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) terutama penyakit difteri. Evaluasi imunisasi dasar lengkap dapat menggunakan metode Data Quality Self Assessment (DQS). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis permasalahan imunisasi dari segi kualitas dan akurasi data imunisasi khususnya pencatatan dan pelaporan imunisasi dasar lengkap. Penelitian ini dilakukan dengan studi deskriptif dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian ini yaitu 18 petugas imunisasi puskesmas dengan status desa UCI dan 6 petugas imunisasi puskesmas dengan status desa non UCI di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar. Variabel bebas meliputi akurasi data kohort bayi dengan laporan puskesmas, pencatatan dan pelaporan hasil imunisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencatatan data imunisasi di sebagian puskesmas ber kualitas baik, kelemahan sistem pemantauan pada kualitas sistem pelaporan yaitu hasil imunisasi desa belum dilaporkan tepat waktu ke puskesmas dan terdapat perbedaan pelaporan antara kohort bayi dengan laporan puskesmas. Kesimpulan penelitian, sebagian besar sistem pencatatan imunisasi dasar lengkap di puskesmas dalam kategori baik sehingga dapat dijadikan kekuatan untuk meningkatkan kualitas program imunisasi sedangkan akurasi data dan sistem pelaporan di sebagian besar puskesmas kurang baik yang merupakan kelemahan dalam program imunisasi, sehingga perlu dilakukan perbaikan program imunisasi dengan melakukan on the job training bagi bidan desa dan petugas imunisasi puskesmas. Kata Kunci: akurasi, imunisasi, kualitas, pelaporan, pencatatan ABSTRACT Quality and accuration of immunization data are problem that often found in primary health center and Health offices. High immunization coverage doesnt indicate good data quality. Achieving high immunization coverage is to reduce the incidence of diseases that prevented by immunization (PD3I), especially diphtheria disease. Evaluation of complete basic immunization using Data Quality Self Assessment (DQS). The purpose of this research is to analyze immunization problem from quality and accuration side of immunization services especially the report and recording of basic complete immunization. This is descriptive study research, with cross sectional design. The sample sizes are 18 immunization officer of puskesmas with status of UCI village and 6 officer with status immunization non UCI village in Public Health Office of Blitar District. The independent variable are accuracy of infant cohort data with Puskesmas report, recording and reporting of immunization result. The result showed that recording immunization data in some health centers good quality, the weakness of monitoring system on quality of reporting system is village immunization result not ontime when reporting to Puskesmas and there was a difference in reporting between the infant cohort and the Puskesmas report. The conclusion is the system of recording and reporting basic complete immunization data in major is good category soit can be the strength of increase immunization program quality while accuration data system, while the accuration data system, reporting system, in half of Puskesmas not so good this is the weakness on immunization programme monitoring system, so it is necessary to improve the immunization program by doing on the job training for village midwives and immunization duties of public health center. Keywords: accuracy, immunization, quality, reporting, recording 2018 FKM_UNAIR All right reserved. Open access under CC BY SA license doi: /jbe.v6i Received 16 January 2018, received in revised form 05 February 2018, Accepted 05 February 2018, Published online: 18 March 2018 103 Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 6 Nomor 1, Januari 2018, hlm PENDAHULUAN Menurut Permenkes RI No.12 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan imunisasi, menyebutkan bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mempertahankan status kesehatan seluruh rakyat diperlukan tindakan imunisasi sebagai tindakan preventif. Salah satu upaya pencegahan penyakit menular adalah upaya pengebalan (imunisasi). Menurut Ranuh (2013), imunisasi merupakan suatu proses memasukkan vaksin untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga apabila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan mengalami sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Imunisasi merupakan upaya kesehatan yang terbukti cost effective. Tujuan utama kegiatan imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Upaya imunisasi perlu ditingkatkan untuk mencapai tingkat kekebalan masyarakat yang tinggi sehingga dapat memutuskan mata rantai penularan PD3I. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, upaya imunisasi dapat semakin efektif dan efisien dengan harapan dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan anak, serta masyarakat lainnya. Keberhasilan program imunisasi adalah tercapainya imunisasi dasar lengkap yang dioperasionalkan dalam Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan (Depkes RI, 2005). Menurut Purwitasari (2012), faktor yang berperan penting dalam pencapaian UCI Desa diantaranya petugas pelaksana imunisasi (bidan desa) yang mempunyai tanggungjawab terhadap pemberian imunisasi dan sistem pencatatan dan pelaporannya. Seorang petugas imunisasi yang mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang tentang program imunisasi akan mempengaruhi dalam pencapaian cakupan UCI Desa dan ketersediaan logistik yang tidak memadahi tidak akan dapat menunjang keberhasilan program imunisasi. Upaya pemerintah untuk mencapai Millenium Development Goals (MDGs) berdasarkan Kementerian Kesehatan adalah menetapkan imunisasi untuk menurunkan angka kematian anak. Indikator keberhasilan program imunisasi adalah tercapainya Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan yang ditetapkan secara nasional pada tahun 1990 dengan tercapainya imunisasi dasar lengkap minimal 90% yaitu BCG, DPT 3 (Difteri Pertusis, Tetanus ketiga), polio ketiga, hepatitis B dan campak sebelum anak berusia 1 tahun (Depkes RI, 2017). Pencapaian UCI Desa secara nasional pada tahun 2013 sebesar 80,23%, pada tahun 2014 sebesar 81,82%, pada tahun 2015 sebesar 82,30%. Pencapaian UCI Desa di Jawa Timur pada tahun 2015 sebesar 82,30%, pada tahun 2014 sebesar 85,84%, pada tahun 2015 sebesar 76,47%. Pencapaian UCI Desa pada tingkat nasional maupun tingkat provinsi Jawa Timur belum memenuhi target yang diharapkan yaitu 90% (Sutarjo, 2016). Peningkatan cakupan UCI Desa di suatu daerah diharapkan dapat menurunkan angka kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) terutama penyakit difteri. Difteri ditemukan pada era Hipoccrates saat wabah kali pertama terjadi yaitu pada abad ke V Sebelum Masehi (Saifudin, 2016). Difteri merupakan masalah kesehatan sejak ribuan tahun yang lalu yang menyerang kesehatan manusia yang dapat mengakibatkan komplikasi dan kematian yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria (Chin, 2009). Difteri masih menjadi masalah kesehatan karena masih sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dan menyebabkan kematian. Semua kelompok umur dapat terkena difteri tetapi kebanyakan menyerang anak-anak yang tidak dimunisasi. Kasus difteri di Jawa Timur hampir tersebar di seluruh kabupaten atau kota, dan kasus difteri tertinggi ada di wilayah Kabupaten Blitar. Laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar tahun 2017 terdapat 57 kasus difteri pada tahun 2016 dengan kematian 1 kasus. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2003), jika ditemukan 1 kasus difteri di rumah sakit, puskesmas maupun masyarakat yang sebelumnya (minimal 2 kali masa inkubasi terpanjang) tidak ada, maka wilayah tersebut dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri. Pernyataan KLB ditetapkan sesuai dengan Permenkes 1501 tahun Kabupaten Blitar merupakan salah satu kabupaten yang masih endemis difteri di Provinsi Jawa Timur. Jumlah penderita difteri di Kabupaten Blitar dari tahun ke tahun terus meningkat. Penyakit difteri merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Perjalanan penyakit tersebut sangat cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang relatif singkat. Jumlah Kasus Meida Sucsesa., Arief Hargono., Kualitas dan Akurasi Pencatatan Pelaporan Tahun Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Tahun 2017 Gambar 1. Tren Kasus Difteri Kabupaten Blitar Tahun Kasus difteri di Kabupaten Blitar cenderung meningkat jumlah penderitanya dan tempat penyebarannya, meskipun cakupan UCI Desa di Kabupaten Blitar mulai tahun 2014 sampai tahun 2016 sudah memenuhi target diatas 90%. Cakupan UCI pada tahun 2014 sebesar 92,6 %, sebesar 92,74% pada tahun 2015 dan cakupan UCI 96,77% tahun Jumlah kecamatan yang terdapat kasus difteri adalah 63,6% dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar (Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, 2016) Pencapaian UCI Desa yang tinggi diikuti juga peningkatan jumlah kasus PD3I yaitu penyakit difteri yang tinggi juga. Hal in terbukti dengan kejadian difteri yang terus meningkat di setiap tahunnya. Peristiwa tersebut sebagai anomali pencapaian UCI, yang berarti ada masalah didalam pencapaian UCI Desa, antara lain masalah tersebut dapat dideteksi dengan melakukan Data Quality Self Assessment (DQS) dan Rapid Convenience Assessment (RCA). Upaya untuk meningkatkan mutu sistem pencatatan dan pelaporan pelaksanaan program imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menggunakan metode Data Quality Self Assessment (DQS) yang telah dikembangkan oleh WHO sejak tahun 2004 yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem monitoring imunisasi rutin yang dipakai untuk menilai kualitas sistem pencatatan dan pelaporan imunisasi dan juga keakuratan data cakupan imunisasi yang dapat mempengaruhi pencapaian UCI Desa dan kejadian penyakit difteri. Data di tingkat puskesmas adalah data penting karena data tersebut akan menjadi bagian dari data tingkat kabupaten/kota bahkan hingga ke tingkat provinsi dan pusat. Oleh karena itu, melalui Data Quality Self Assesment diharapkan data di tingkat puskesmas akan meningkatkan kualitas data di tingkat kabupaten/kota hingga tingkat provinsi dan pusat. Pertemuan nasional tahun 2010 tentang evaluasi kegiatan akselerasi imunisasi dibahas beberapa permasalahan yang dapat menghambat keberhasilan program imunisasi yaitu pencapaian program imunisasi, salah satunya berkaitan dengan pencatatan dan pelaporan imunisasi. Hasil pembahasan pada pertemuan tersebut dijelaskan bahwa di tahun 2009 data cakupan imunisasi pada 107 desa di 41 puskesmas di 22 kab/kota di 10 provinsi dari tingkat desa ke puskesmas akan membaik ke tingkat yang lebih tinggi yang diketahui dengan Data Quality Self Assessment (Usmays, 2010). Data di tingkat puskesmas adalah data penting karena data tersebut akan menjadi bagian dari data tingkat kabupaten/kota bahkan hingga ke tingkat provinsi dan pusat. Oleh karena itu, melalui Data Quality Self Assesment diharapkan data di tingkat puskesmas akan meningkatkan kualitas data di tingkat kabupaten/kota hingga tingkat provinsi dan pusat dengan standar akurasi DQS 80%. Menurut Tarigan (2009), kualitas data secara keseluruhan di beberapa puskesmas lebih rendah daripada di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Evaluasi imunisasi dapat dilakukan pada faktor pencatatan dan pelaporan pada buku register kohort bayi dan anak balita. Hal ini dikarenakan angka cakupan imunisasi yang tinggi belum tentu menggambarkan kondisi di lapangan. Data imunisasi di dalam buku kohort maupun di pada buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) / Kartu Menuju Sehat (KMS) dengan kenyataan di lapangan bisa berbeda. Oleh karena itu, diperlukan cross check data pada buku kohort maupun di dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) / Kartu Menuju Sehat (KMS) (Depkes RI, 2010). Data yang masuk pada sistem pencatatan dan pelaporan pemberian imunisasi masih berupa agregat untuk menghitung persentase (%) cakupan UCI Desa mulai dari desa kemudian ke puskesmas lalu ke dinas kesehatan sampai ke provinsi. Penelitian survei cepat tahun 2010 menyebutkan permasalahan pelaksanaan program imunisasi di Jawa Timur disebabkan antara lain karena ada yang belum diimunisasi atau kualitas pencatatan dan pelaporan program imunisasi yang masih rendah. Pada penelitian tersebut diketahui hasil coverage survey cakupan imunisasi di Kab/Kota prioritas di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Blitar memiliki 105 Jurnal Berkala Epidemiologi, Volume 6 Nomor 1, Januari 2018, hlm ,9% cakupan lengkap dan valid dose sebesar 61,4% (Hargono dkk, 2010). Penelitian survei cepat tahun 2010 menyebutkan bahwa cakupan imunisasi berdasarkan kartu lebih rendah jika dibandingkan berdasarkan riwayat sehingga dapat digambarkan masih rendahnya sistem pencatatan dan pelaporan hasil imunisasi (Hargono dkk, 2012). Hasil penilaian kinerja puskesmas tahun 2016 di Kabupaten Blitar menyebutkan bahwa masih adanya kesenjangan antara pelaporan hasil imunisasi ke dinas kesehatan dan hasil verifikasi di puskesmas sebanyak 38,6%, ini berarti masih ada pencatatan dan pelaporan hasil imunisasi yang overreporting yang akan mempengaruhi pencapaian UCI Desa, overreporting karena petugas imunisasi kurang teliti dalam pencatatan dan pelaporan sehingga akan mempengaruhi cakupan UCI Desa dengan akurasi data imunisasi masih rendah. Pencapaian UCI Desa yang tinggi belum tentu menggambarkan kondisi dilapangan. Proses pencatatan dan pelaporan ini mempunyai risiko terjadi ketidakakuratan data hasil imunisasi yang dilaporkan. Sehingga untuk menjaga data tetap berkualitas dan akurat, kegiatan pencatatan dan pelaporan perlu dipantau secara rutin. Penelitian survei cepat yang dilakukan oleh Hargono dkk (2010), menyebutkan permasalahan pelaksanaan program imunisasi di Jawa Timur disebabkan antara lain karena ada yang belum diimunisasi atau kualitas pencatatan dan pelaporan program imunisasi yang masih rendah. Pada penelitian tersebut diketahui hasil coverage survey cakupan imunisasi di Kab/Kota prioritas di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Blitar memiliki 62,9% cakupan lengkap dan valid dose sebesar 61,4%. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis permasalahan imunisasi dari segi kualitas dan akurasi pelayanan imunisasi khususnya pencatatan dan pelaporan imunisasi. METODE Penelitian ini merupakan suatu penelitian studi deskriptif yang dilakukan untuk menggambarkan kondisi di lapangan yang berkaitan dengan penilaian terhadap sesuatu dan mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. Peneliti menggunakan kuesioner untuk mengukur kualitas pelayanan imunisasi dasar lengkap dengan metode Data Quality Self Assessment (DQS) yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan peneliti. Wawancara dilakukan kepada petugas imunisasi puskesmas, sehingga peneliti hanya melihat hasil dari pencatatan dan pelaporan dari bidan desa ke petugas imunisasi puskesmas. Desain atau rancang bangun penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 18 petugas imunisasi puskesmas dengan desa UCI dan 6 petugas imunisasi puskesmas dengan desa Non UCI. Besar sampel dalam penelitian adalah total populasi. Penelitian ini dilakukan di 24 puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar. Waktu pengambilan data dalam penelitian ini yaitu pada bulan Juli Data yang dikumpulkan berupa data primer yaitu variabel independen yang terdiri dari akurasi data imunissasi pada buku kohort bayi dengan laporan puskesmas, pencatatan dan pelaporan hasil imunisasi bayi. Data sekunder juga dikumpulkan untuk mendukung penelitian. Data sekunder diperoleh peneliti dari hasil pencatatan imunisasi dasar lengkap pada buku kohort bayi selama satu tahun di setiap desa dan formulir pelaporan di wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Blitar. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan petunjuk pelaksanaan DQS menurut WHO yang sudah dimodifikasi. Berdasarakan petunjuk pelaksanaan DQS tersebut dijelaskan bahwa kualitas dan akurasi data hasil pelayanan imunisasi yang tercatat di tingkat yang lebih rendah dengan data yang dilaporkan ke tingkat yang lebih tinggi. Hasil analisis akan ditampilkan dalam bentuk grafik batang yang menunjukkan persentase dan tabel kategori hasil keakuratan data imunisasi dasar lengkap serta mengidentifikasi segala permasalahan dan hambatan terkait pencatatan dan pelaporan hasil imunisasi kemudian mencari alternatif pemecahan masalah untuk perbaikan program imunisasi baik di desa maupun di puskesmas. HASIL Gambaran distribusi frekuensi responden berdasarkan umur, tingkat pendidikan dan lama kerja. Ditinjau dari umur, dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu kelompok umur tahun, tahun dan lebih dari 45 tahun. Ditinjau dari tingkat pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu SMA dan perguruan tinggi (D3 atau D4) jurusan kebidanan. Ditinjau dari lama kerja dibagi menjadi empat kelompok diantaranya kurang dari 1 tahun, 1-10 tahun, tahun dan lebih dari 20 tahun. Meida Sucsesa., Arief Hargono., Kualitas dan Akurasi Pencatatan Pelaporan 106 Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur, Tingkat Pendidikan dan Lama Kerja Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Umur tahun 2 8, tahun 15 62,5 45 tahun 7 29,2 Tingkat Pendidikan SMA 1 4,2 PT Kebidanan 23 95,8 Lama Kerja 1 tahun 5 20, tahun 14 58, tahun 4 16,7 20 tahun 1 4,2 Total Hasil penelitian pada Tabel 1 mengenai distribusi frekuensi responden berdasarkan umur, menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur antara tahun sebesar 62,5%, kemudian kelompok umur 45 tahun sebesar 29,2%, sedangkan kelompok umur paling sedikit adalah kelompok umur tahun sebesar 8,3%. Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan, menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan Perguruan Tinggi (D3 / DIV Kebidanan) sebesar 23 orang (95,8%), sedangkan sisanya SLTA sebesar 1 orang (4,2%). Distribusi frekuensi responden berdasarkan lama kerja, menunjukkan bahwa petugas imunisasi puskesmas yang mempunyai masa kerja paling banyak adalah petugas imunisasi puskesmas dengan masa kerja antara 1-10 tahun yaitu 58,3% dan yang paling sedikit adalah petugas imunisasi puskesmas dengan masa kerja 20 tahun sebesar 4,2%. Kualitas pelayanan imunisasi dasar lengkap dalam upaya peningkatan cakupan UCI Desa dapat dilihat dari akurasi data imunisasi dasar lengkap yang tercatat di kohort bayi. Akurasi data hasil imunisasi dapat diketahui dengan melakukan verifikasi pada kohort bayi dan pelaporan puskesmas. Verifikasi merupakan kegiatan untuk mengetahui keakuratan data cakupan imunisasi dengan mencocokkan data hasil pelayanan imunisasi pada pencatatan di tingkat yang lebih rendah dengan data yang dilaporkan ke tingkat yang lebih tinggi. Rasio akurasi jumlah imunisai dasar lengkap terhadap laporan imunisasi dasar lengkap di puskesmas pada 24 puskesmas yang ada di Kabupaten Blitar dari bulan Januari hingga Desember 2016, dikatakan akurat jika jumlah data imunisasi dasar lengkap yang tercatat di buku kohort bayi sama dengan data imunisasi dasar lengkap yang tercatat di laporan puskesmas. Data rasio akurasi data kohort bayi dengan laporan puskesmas sebagimana pada Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Akurasi Puskesmas Berdasarkan Kohort Bayi dan Laporan Puskesams Puskesmas Akurasi Kategori (%) Bakung 81,1 Sutojayan 100 Margomulyo 80 Wates 25 Kurang Binangun 100 Kesamben 100 Doko 1
Similar documents
View more...
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x