BAB II TINJAUAN PUSTAKA

of 9
226 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keterampilan Proses Sains Hakikat Sains Kata sains atau Science menurut Wonorahardjo (2010) dilihat dari sudut bahasa berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata Scientia
Document Share
Document Transcript
9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keterampilan Proses Sains Hakikat Sains Kata sains atau Science menurut Wonorahardjo (2010) dilihat dari sudut bahasa berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata Scientia yang berarti pengetahuan tentang, atau tahu tentang; pengetahuan, pengertian, faham yang benar dan mendalam. Nugraha (2005) mendefinisikan sains sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode-metode yang berdasarkan pada pengamatan dengan penuh ketelitian. Samatowa (2011) mendefinisikan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut. Dari beberapa uraian pendapat tersebut menyatakan bahwa sains adalah aktivitas yang dilakukan oleh manusia sebagai pemecahan masalah yang berawal dari motivasi oleh rasa ingin tahu tentang dunia sekitar mereka dan dilanjutkan dengan hasil dari kegiatan observasi serta eksperimen sehingga dapat dipahami sebagai konsep pengetahuan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa kegiatan sains dapat membantu anak dalam mengembangkan kemampuannya seperti mengamati terhadap benda hidup maupun tak hidup. Maslichah Asy ari (2006) mengemukakan hakikat sains terdapat tiga dimensi, yaitu sains sebagai ilmu, sains sebagai proses, dan sains sebagai produk. 9 10 a. Sains sebagai ilmu Sains sebagai ilmu memiliki makna bahwa keberadaan dan perkembangan ilmu harus diusahakan dengan adanya aktivitas manusia serta aktivitas harus dilakukan dengan menggunakan metode tertentu dan akhirnya aktivitas metodis tersebut akan menghasilkan pengetahuan yang sistematis. b. Sains sebagai proses Sains sebagai proses memiliki makna bahwa proses sains adalah sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena alam dengan cara-cara tertentu untuk memperoleh ilmu dan pengembangan ilmu itu selanjutnya. Sebagai suatu proses, sains merupakan cara kerja, cara berfikir dan cara memecahkan suatu masalah. Cara kerja sains tersebut disebut dengan istilah metode ilmiah. c. Sains sebagai produk Sains sebagai produk memiliki makna bahwa produk sains merupakan kumpulan pengetahuan yang tersusun dalam bentuk fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori Pengertian Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains merupakan keterampilan intelektual yang dimiliki dan digunakan oleh para ilmuwan dalam meneliti fenomena alam. Keterampilan proses sains diperlukan siswa untuk memperoleh, mengembangkan, dan menerapkan konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori 10 11 sains (Samatowa, 2006). Oleh karena itu dipahami bahwa keterampilan proses sains merupakan keterampilan intelektual dan ilmiah baik kognitif maupun psikomotor untuk meneliti dan melakukan penyelidikan ilmiah. Penyelidikan ilmiah dilakukan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran adalah dengan cara memahami materi menganut pendekatan ilmiah meliputi mengamati, menanya, menganalisis, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Samatowa (2006) mengemukakan bahwa keterampilan proses sains merupakan keterampilan intelektual yang dimiliki dan digunakan oleh para ilmuwan dalam meneliti fenomena alam. Keterampilan proses sains yang digunakan oleh para ilmuwan tersebut dapat dipelajari oleh siswa dalam bentuk yang lebih sederhana sesuai dengan tahap perkembangan anak. Oleh karena itu dipahami bahwa keterampilan proses sains merupakan keterampilan intelektual dan ilmiah baik kognitif maupun psikomotor untuk meneliti dan melakukan penyelidikan ilmiah. Penyelidikan ilmiah dilakukan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran adalah dengan memahami materi yang menganut pendekatan ilmiah meliputi mengamati, menanya, menganalisis, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Menurut Bundu (2006) keterampilan proses sains adalah sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena alam dengan cara-cara tertentu untuk memperoleh ilmu dan pengembangan ilmu itu selanjutnya. Penerapan keterampilan proses sains dapat melatih siswa untuk mempelajari sains layaknya seorang peneliti. 11 Komponen Keterampilan Proses Sains Hadiat (1988) dalam Patta Bundu (2006) mengemukakan bahwa ada 9 jenis proses sains yang harus dikuasai, yaitu: (a) mengamati, (b) menggolongkan atau mengelompokkan, (c) menerapkan konsep dan prinsip, (d) meramalkan, (e) menafsirkan, (f) menggunakan alat, (g) merencanakan percobaan, (h) mengkomunikasikan, dan (i) mengajukan pertanyaan. Abruscato (1992) dalam Patta Bundu (2006) membuat penggolongan keterampilan proses sains sebagai berikut. a. Basic Skills (Keterampilan Dasar) 1) Observing (mengamati) 2) Using space relationship (menggunakan hubungan ruang) 3) Using number (menggunakan angka) 4) Classifying (mengelompokkan) 5) Measuring (mengukur) 6) Communicating (mengkomunikasikan) 7) Predicting (meramalkan) 8) Inferring (menyimpulkan) b. Integrated Skill (Keterampilan Terintegrasi) 1) Controlling variable (mengontrol variabel) 2) Interpreting data (menafsirkan data) 3) Formulating hypothesis (menyusun hipotesis) 4) Defining operationally (menyusun definisi operasional) 12 13 5) Experimenting (melakukan percobaan) American Association for the Advacement of Science dalam Ali Nugraha (2005) mengidentifikasi dan merumuskan 15 keterampilan atau kemampuan proses yang telah dimodifikasi oleh konferensi para ahli sains, keterampilan tersebut diantaranya: (a) keterampilan mengamati (observasi), (b) keterampilan mengajukan pertanyaan, (c) keterampilan berkomunikasi, (d) keterampilan menghitung, (e) keterampilan mengukur, (f) keterampilan melakukan eksperimen, (g) keterampilan melaksanakan teknik manipulasi, (h) keterampilan mengklasifikasikan, (i) keterampilan memformulasikan hipotesis, (j) keterampilan meramalkan, (k) keterampilan menarik kesimpulan, (l) keterampilan mengartikan data, (m) keterampilan menguasai dan memanipulasikan variabel (faktor ubah), (n) keterampilan membentuk suatu model, (o) keterampilan menyusun suatu definisi yang operasional. 2.2 Hasil Belajar Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya proses belajar. Sudjana (2009) mendefinisikan hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati dan Mudjiono 13 14 (2006) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar. Benjamin (1980) dalam Dimyati dan Mudjiono (2006) menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut: a. Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode. b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari. c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip. d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagianbagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil. e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya kemampuan menyusun suatu program. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu, misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan. Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek 14 15 kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Hasil belajar sebagai salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran di kelas tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar itu sendiri. Sugihartono, dkk. (2007), menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar, sebagai berikut: a. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis. b. Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga, faktor sekolah,dan faktor masyarakat. 2.3 Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Johnson, 2009). Dengan demikian pembelajaran kontekstual bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari suatu permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks lainnya, sehingga siswa dapat memahami makna dari materi tersebut dengan konteks keseharian mereka. 15 16 Model pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang didasari oleh proses inquiri yang membantu guru mengaitkan materi yang dikaji dengan situasi dunia nyata siswa dan mengkondisikan siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapanya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pengkaitan antara konsep atau materi pelajaran akan dirasakan pada konteks dimana konsep tersebut digunakan proses belajar akan berlangsung secara bermakna. Proses pembelajaran akan berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan bekerja, sehingga keterampilan proses dan hasil belajar sains siswa meningkat (Ekawardani, 2013). Parnell (1995) mengutarakan bahwa pada pembelajaran kontekstual, tugas utama guru sebagai fasilitator adalah untuk meluaskan persepsi siswa dan memberi pengalaman nyata dalam pembelajaran agar dapat segera difahami. Sehingga siswa mampu untuk mandiri dalam merumuskan masalah, mengamati, mendiskusikan, menggabungkan pendapat, dan mengkomunikasikan serta mampu merangkum dan mengerjakan soal dengan baik. Johnson (2009) juga berpendapat bahwa sistem pembelajaran kontekstual merupakan proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dalam konteks kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka. Sehingga siswa menjadi lebih tertarik dalam mempelajari materi pelajaran yang mereka hadapi. 16 17 Pembelajaran kontekstual RANGKA merupakan suatu pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Yurmiyanty, 2012). Pembelajaran kontekstual RANGKA dimodifikasi dari Strategi REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transferring) oleh Crawford dengan mengintegrasikan keterampilan proses yang dinamai dengan strategi RANGKA yaitu akronim dari Rumuskan, Amati, Nyatakan, Gabungkan (kerjasama), Komunikasi, Amalkan (Suryawati, 2007). Strategi pembelajaran RANGKA dikembangkan pada pembelajaran biologi untuk menyokong dan memberi manfaat agar pembelajaran lebih bermakna. 17
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x