BAB I PENDAHULUAN. akademik, profesi, vokasi, keagamaan dan khusus. Pendidikan khusus merupakan. atau memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa.

of 19
39 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut pasal 15 dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, pendidikan terdiri dari beberapa jenis, yaitu pendidikan umum, kejurusan, akademik,
Document Share
Document Transcript
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut pasal 15 dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, pendidikan terdiri dari beberapa jenis, yaitu pendidikan umum, kejurusan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan dan khusus. Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial dan atau memiliki potensi kecerdasan atau bakat istimewa. Menurut pasal 130 ayat 1, yaitu PP No. 17 Tahun 2010 Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ayat 2, yaitu Penyelenggaraan pendidikan khusus dapat dilakukan melalui satuan pendidikan khusus, satuan pendidikan umum, satuan pendidikan kejurusan, dan/atau satuan pendidikan keagamaan. (Himpunan peraturan perundangan-undang tentang pendidikan) Integrasi antar jenjang dalam bentuk Sekolah Luar biasa (SLB) satu atap adalah satu lembaga penyelenggara mengelola jenjang TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB dengan seorang Kepala Sekolah. Bentuk satuan pendidikan/lembaga sesuai dengan kekhususannya di Indonesia dikenal SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk Tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda. Anak-anak yang memiliki keterbatasan pada fisik maupun psikis dapat disebut 1 2 dengan anak-anak penyandang disabilitas. Menurut data jumlah penyandang disabilitas berdasarkan survei dari Perusahaan Surveyor Indonesia (Persero), disabilitas Tuna netra yang paling banyak terdapat di Indonesia. Di Indonesia, jumlah anak-anak yang memiliki keterbatasan semakin meningkat setiap tahunnya. Menurut data Kementerian Kesehatan RI tahun 2011, jumlah penyandang disabilitas, yaitu: 6% dari total populasi penduduk Indonesia. Akan tetapi, bila mengacu pada standar Organisasi kesehatan Dunia PBB (WHO) yang lebih ketat, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 10 juta jiwa, sementara rata-rata jumlah penyandang disabilitas di negara berkembang sebesar 10% dari total populasi penduduk. Berdasarkan survei dari Perusahaan Surveyor Indonesia, jumlah populasi penyandang disabilitas tertinggi berada di provinsi Jawa Barat, sekitar 50,90%, sedangkan populasi rendah berada di Provinsi Gorontalo, sekitar 1,65%. Menurut survey tersebut, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tercatat bahwa Tunanetra: jiwa, Tunarungu/wicara: jiwa, Tunadaksa jiwa, Tunagrahita jiwa sedangkan berdasarkan jenis kelamin, jumlah populasi penyandang disablitas laki-laki lebih banyak, yaitu sekitar 57,96%. Menurut data Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyataguna saat ini jumlah penyandang tunanetra yang menempuh pendidikan hanya ratusan. Padahal, masih terdapat 2000 penyandang Tunanetra di Kota Bandung. (http://www.kartunet.com/simpang-siurpopulasi-disabilitas-di-indonesia-1295/) diunduh pada tanggal 05/03/2015. Pada pukul Definisi tunanetra menurut Kaufman & Hallahan (2006) adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan karena tunanetra memiliki 3 keterbatasan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indera yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Prinsip dasar pembelajaran bagi anak tunanetra menurut Ahmad Nawawi harus mengandung pertama, layanan individual seperti perbedaan layanan pendidikan antara anak low vision dengan anak yang buta total. Prinsip layanan individu ini lebih jauh mengisyaratkan perlunya guru untuk merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan anak. Inilah alasan dasar terhadap perlunya (Individual Education Program IEP). Kedua, Azas kekongkritan seperti strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru harus memungkinkan anak tunanetra mendapatkan pengalaman secara nyata dari apa yang dipelajari. Anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mendengar, mencium, mengecap, mengalami situasi secara langsung dan juga penglihatan bagi anak low vision. Prinsip ini sangat erat kaitanya dengan komponen alat/media dan lingkungan pembelajaran. Ketiga, Azas kesatuan dalam bahasa Bower (1986) gagasan ini disebut sebagai multi sensory approach, yaitu penggunaan semua alat indra yang masih berfungsi secara menyeluruh mengenai suatu objek. Keempat, aktivitas mandiri seperti strategi pembelajaran haruslah memungkinkan atau mendorong anak tunanetra belajar secara aktif dan mandiri. Kelima, Media pembelajaran seperti tulisan braille serta buku-buku yang ada tulisan braille dan alat peraga untuk pelajaran IPA. Suatu sistem pendidikan dapat berjalan dengan baik bergantung pada beberapa faktor, seperti guru, murid, kurikulum dan fasilitas. Berdasarkan hal tersebut, guru merupakan hal yang paling penting dan merupakan poros utama dari seluruh struktur (Rao, 2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen mengemukakan bahwa Guru adalah profesional dengan 4 tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Tanggung jawab pendidikan murid-murid berkebutuhan khusus di sekolah terletak di tangan pendidik, yaitu: guru SLB. Itu sebabnya para pendidik harus dididik dalam profesi kependidikan, agar memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efisien dan efektif (Hamalik,2003:6). Seorang guru SLB dalam meningkatkan kinerja perlu memahami dan memiliki kompetensi dasar sehingga tujuan pendidikan diharapkan dapat dicapai sekolah (Ineupuspita, 2008). Kompetensi yang diperlukan guru SDLBN-A adalah kompetensi braille sehingga guru dapat memberikan layanan yang prima dalam pembelajaran. Selain kompetensi dasar, guru juga harus memiliki kompetensi profesional, kompetensi personal, kompetensi sosial. Berdasarkan wawancara dengan 3 guru awas di jenjang SD kelas satu, dua dan tiga. Guru-guru tersebut mempunyai pengalaman mengajar yang berbeda-beda, Guru kelas satu atau ID mempunyai pengalaman mengajar selama 32 tahun, 5 tahun awal, ID bekerja di jakarta dan selama 27 tahun ini ID hanya mengajar di sekolah SLBN-A X tanpa berpindah ke sekolah yang lain, ID mengatakan bahwa ID tidak pernah merasa bosan mengajar di sekolah ini walaupun ID selalu menunggu hari libur. Selama ID mengajar di sekolah ini, ID selalu mendapat tugas untuk mengajar di kelas dasar. Setiap tahun ID selalu menghadapi murid baru, dimana murid-murid tersebut belum bisa lepas dari orangtua, ID harus melakukan assessment terhadap muridmurid yang mendaftar di sekolah. ID sendiri harus menggunakan cara yang bebeda 5 saat mengajar para murid di kelas, setiap murid diberi pelajaran yang sama namun dengan cara yang berbeda. Guru kelas dua atau IC mempunyai pengalaman selama 34 tahun, namun IC tidak langsung mengajar di sekolah X ini, IC mengajar di sekolah lain terlebih dahulu. Selama IC mengajar di sekolah X ini IC selalu mendapatkan kelas persiapan dan munurut IC, IC baru mengajar kelas dua ini selama dua tahun belakangan ini. IC mengatakan bahwa kesulitan dalam mengajar di kelas persiapan adalah para murid belum bisa pisah dari orangtua dan IC tidak hanya mengajarkan pelajaran sekolah namun IC juga harus mengajarkan cara berjalan yang benar, arah jalan, sensorik motorik kepada murid-murid tersebut. IC sering menghadapi murid sering nangis karena murid tersebut takut untuk belajar hal baru dan tidak adanya orangtua di sisi mereka. Guru kelas tiga atau NO mempunyai pengalaman mengajar selama 25tahun, NO mengajar di sekolah luar biasa tuna grahita selama 22 tahun dan NO baru mengajar di sekolah X ini selama lebih kurang 3 tahun. Menurut NO, lebih sulit mengajar di anak tunanetra dibandingkan anak tunagrahita karena anak tunagrahita masih bisa melihat apa yang dijelaskan oleh NO, ketika NO dalam keadaan marah, anak tunagrahita akan mengerti dengan melihat raut muka NO, namun anak tunanetra tidak mengerti ketika NO marah karena tidak bisa melihat raut muka, sehingga NO harus mengubah cara mengajar. NO juga mempunyai kesulitan akan mengajar pelajaran olahraga, karena NO harus langsung memegang tangan dan kaki murid, sedangkan NO mempunyai enam murid dalam satu kelas. Sekolah SDLBN-A ini memiliki murid yang beragam seperti low vision, total blind dan majemuk atau A+. dimaksud dengan majemuk atau A+ adalah dimana seorang mengalami low vision dengan ADHD, atau low vision dengan Sosial disorder, low vision dengan autisme, total blind dengan ADHD, total blind dengan 6 sosial disorder, total blind dengan autisme. Di dalam SDLBN-A ini terdapat kelas 1 SD hingga SMA kelas 3. Dalam Satu kelas terdiri dari 4 sampai 6 orang murid, dimana murid murid tersebut memiliki keberagaman dalam penglihatan dan disorder sehingga SDLBN-A ini mempunyai guru yang basic pendidikan dari tunagrahita, terdapat pertukaran guru dari berbagai sekolah namun di SDLBN-A ini tetap mempunyai guru basic pendidikan tunanetra. Terdapat dua macam guru yang mengajar di SDLBN-A ini, yaitu guru awas dan guru tunanetra. Selain guru tetap yang mengajar di SDLBN-A ini, juga terdapat guru honorer dan mahasiswa dari universitas UPI yang sedang melakukan belajar mengajar di SDLBN-A sehingga guru guru di sekolah sangat terbantu akan kehadiran mahasiswa tersebut. Permasalahan yang dihadapi setiap guru dijenjang pendidikan juga berbeda, permasalahan di kelas dasar, kelas menengah pertama dan kelas menengah atas. Permasalahan yang dihadapi oleh guru yang mengajar di kelas dasar terutama guru kelas 1, 2 dan 3 karena guru harus mengajar pendidikan di luar pelajaran sekolah seperti guru harus mengajar cara berjalan, cara menulis huruf braille, selain itu guru juga harus mengahadapi murid-murid yang baru pisah dari orang tua. Guru kelas 1, 2 dan 3 lebih banyak mendapatkan tuntutan seperti tuntutan dari orangtua dan guru kelas atas yang menginginkan guru kelas 1, 2 dan 3 lebih banyak mengajar mata pelajaran kepada murid-murid namun kondisi murid tersebut tidak memungkinkan belajar lebih karena kondisi murid tersebut. Hal tersebut sangat membuat guru kelas 1, 2 dan 3 tertekan karena begitu banyak hal yang harus di ajarkan kepada murid-murid namun kondisi murid tidak memungkinkan. Dari hasil wawancara survey awal kepada 3 guru SDLBN-A X ini, tiga guru tersebut mempunyai adversity yang berbeda-beda, walaupun guru kelas satu dan dua hampir mempunyai permasalahan yang sama, namun penghayatan akan 7 permasalahan tersebut berbeda. ID mengatakan ID tidak pernah membawa permasalahan dari sekolah ke rumah namun hal ini berbeda dengan guru IC, permasalahan murid atau perkembangan murid membuat IC sering mendoakan murid-murid yang diajarkan, IC mengatakan bahwa IC sering merasa bosan ketika mengajar hal yang sama kepada salah satu murid yang diajar oleh IC karena IC ingin mengajarkan hal baru kepada murid tersebut namun keadaan murid tersebut tidak memungkinkan belajar lebih cepat. IC sendiri terkadang merasa bingung dengan keadaan murid yang dihadapi, IC sering bertanya kepada rekan guru atau orang lain mengenai kondisi murid tersebut. Menurut guru NO, permasalahan yang dihadapi oleh NO sendiri berbeda setiap tahunnya karena NO tidak pernah mengajar di kelas yang sama, guru NO pernah mengajar di kelas 6, SMP dan kelas 3 SD. Ketika guru NO sulit dalam menghadapi murid di dalam kelas, guru NO sering menceritakan permasalahan kepada pihak sekolah dan meminta pendapat kepada guru sebelumnya yang mengajar murid NO. Sekolah X ini memiliki satu misi dan dua belas visi, dari hasil wawancara kepada tiga guru, ketiga guru tersebut tidak menghafal visi misi namun ketiga guru tersebut selalu mengikuti pembahasan visi misi sekolah. Pihak sekolah selalu mengadakan rapat mengenai tugas administrasi, peraturan sekolah, kegiatan guru dan murid, semua guru harus datang menghadiri rapat. Sekolah X sering kedatangan kunjungan dari sekolah lain atau instasi, sehingga terdapat banyak alat peraga yang diberikan kepada sekolah namun menurut ketiga guru yang diwawancara, alat peraga tersebut belum cukup dan masih memerlukan lebih banyak alat peraga. Guru merupakan orang pertama yang memahami kebutuhan siswa untuk dapat mengembangkan resiliency seluruh individu yang bekerja dan belajar dalam 8 institusi tersebut (Henderson & Milstein,2003). Murid tidak dapat bergerak maju menjadi resilent ketika menghadapi tantangan baik dalam tingkah laku maupun sikapnya, jika para pendidik yang merupakan role model terpenting, tidak menampilkan kualitas resiliensi tersebut (Henderson & Milstein,2003). Resiliency adalah suatu kapasitas manusia yang menutupi, mengatasi dan dikuatkan yang dapat dari adversity yang dihadapi dalam kehidupan (Bernand,2004). Fungsi resiliency itu adalah menyegarkan kembali individu dari segala resiko, stress, krisis dan trauma dan memberikan pengalaman hidup sukses dengan mengembangkan kapasitas secara optimal dalam diri individu. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dapat diperoleh bahwa guru di sekolah X memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan yang ada di lingkungan sekolah, misalnya rasa stress dalam mengajar siswa siswi, pihak sekolah memberikan kegiatan tamasya bersama dengan para guru sehingga para guru dapat mengurangi stress yang ada. Menurut penelitian Nan Henderson dan Mike M.Milstein (2003), terdapat enam hal penting yang menunjukkan bagaimana sekolah, lingkungan keluarga dan komunitas dapat menyediakan enviromental protective factor yang disebut resiliency building factors. Resilensy building factors lingkungan sekolah merupakan peran lingkungan sekolah secara organisasional meningkatkan resiliency diantara orang dewasa yang bekerja di sekolah yaitu kepala sekolah, guru dan staf serta meningkatkan resiliency guru-guru yang bekerja di sekolah yang dihayati dapat mencegah anggota sekolah mengalami perasaan gagal, lemah atau kehilangan semangat. Terdapat 6 pokok dimana sekolah dapat menyediakan protective factor seperti halnya keluarga dan komunikasi yang dapat meningkatkan protective factors. Bagian ini dibentuk strategi 6 langkah untuk mengembangkan resiliency di sekolah. 9 Tiga pokok disimpulkan sebagai strategi untuk mengurangi dampak dari resiko yang dihadapi ketika seorang individu mencapai resiliency yaitu increasing prososial bonding yaitu meliputi peningkatan hubungan yang sehat antara individu dan sekolah agar menjadi organisasi yang positif dan mendukung resiliency anggotanya, set clear and consistent boundaries yaitu meliputi adanya penetapan batasan, aturan dan nilai yang berlaku di lingkungan sekolah, didukung oleh pengembangkan, mengimplementasikan aturan-aturan, prosedur sekolah, dan menegakkan prilaku yang diharapkan, and teach life skills yaitu meliputi sekolah mengembangkan sikap bekerjasama, menyelesaikan konflik dengan sehat, berpikir kritis, mengembangkan keterampilan untuk bertahan dalam hidup, tegas, terampil berkomunikasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan melakukan manajemen stress yang sehat. Tiga pokok lainnya dipandang sebagai langkah-langkah penting dalam meningkatkan dan membangun resiliency yaitu provide caring and support yaitu bagaimana sekolah menyediakan perhatian, penghargaan dan dorongan, set and communicate high expectations yaitu faktor yang diberikan sekolah meliputi membantu guru untuk menyakinkan dan percaya bahwa mereka bisa dan dapat melakukan yang terbaik, and provide opportunities for meaningful participation yaitu meliputi upaya melatih murid, keluarga, dan staf pendidikan agar lebih bertanggungjawab atas apa yang terjadi di sekolah, menyediakan kesempatan untuk mengatasi masalah, membuat keputusan, membuat perencanaan, memutuskan tujuan, dan membantu orang lain. Berdasarkan hal itu, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai derajat resiliency building factors lingkungan sekolah pada guru awas di SDLBN-A X kota Bandung. Identifikasi Masalah Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah, maka permasalahn yang akan di teliti adalah resiliency building factors pada guru awas di SDLBN-A X Bandung. 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh gambaran tentang resiliency building factors pada guru awas di SDLBN-A X Bandung Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran resiliency building factors pada guru awas di SDLBN-A X Bandung dalam kaitan dengan faktor-faktornya. 1.4 Kegunaan Penelitian Kegunaan Teoritis 1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan infromasi tambahan bagi bidang. Psikologi pendidikan tentang resiliency building factors pada guru awas di SDLBN-A X Bandung. 2. Memberi masukan informasi bagi peneliti lain yang membutuhkan bahan acuan dan pertimbangan saran untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai resiliency building factors pada guru awas di SDLBN-A X Bandung Kegunaan Praktis 1. Memberikan informasi kepada kepala Sekolah SDLBN-A X mengenai resiliency building factors yang dihayati guru awas di SDLBN-A X, untuk 11 dijadikan pertimbangan dalam mengembangan sekolah dengan tujuan meningkatkan resiliency guru awas di SDLBN-A X 2. Memberikan Informasi kepada Kepala Sekolah SDLBN-A X mengenai faktorfaktor resiliency building factors, untuk dijadikan pertimbangan dalam menentukan kebijaksanaan dan sikap yang perlu ditingkatkan, sehingga sekolah dapat memberikan peran baik yang membangun resiliency guru awas di SDLBN- A X. 3. Memberikan Informasi kepada para guru awas di SDLBN-A X mengenai faktor resiliency building factors, sehingga guru bisa menggembangkan diri dan membangun resiliency ketika sedang mengalami adversity. 1.5 Kerangka Pemikiran Guru awas di SDLBN-A X berada di tahap perkembangan dewasa awal dan dewasa menengah. Masa dewasa awal merupakan periode perkembangan yang dimulai saat seseorang menginjak usia 18 hingga 39 tahun sedangkan masa dewasa menengah di mulai dari seseorang menginjak usia kurang lebih 40 tahun hingga 60 atau 65 tahun. (Santrock, 2011). Karakteristik tunanetra sebagai peserta didik yang dihadapi oleh guru SDLBN-A adalah sebagai berikut: lamban mempelajari hal-hal baru, keterbatasan gerak fisik, kosa kata yang definitif, contohnya bagi anak tunanetra kata malam itu adalah gelap atau hitam. Kemampuan anak tunanetra untuk memproses informasi sering berakhir dengan pengertian yang terpecah-pecah atau kurang terintegrasi, sekalipun dalam konsep yang sederhana. Anak tunanetra mudah curiga kepada orang lain karena keterbatasan rangsangan visual/penglihatan, keterbatasan visual menyebabkan anak tunanetra kurang mampu untuk berorientasi pada lingkungannya 12 sehingga kemampuan mobilitasnya pun terganggu. Anak tunanetra juga mudah tersinggung karena pengalaman sehari-hari yang sering menimbulkan rasa kecewa dapat mempengaruhi anak tunanetra sehingga tekanan-tekanan suara tertentu atau singgungan fisik yang tidak sengaja dari orang lain dapat menyinggung perasaan anak tersebut. Anak tunanetra juga sering bergantungan kepada orang lain karena anak tunanetra belum berusaha sepenuhnya dalam mengatasi kesulitannya sehingga selalu mengharapkan pertolongan orang lain. Karakteristik anak tunanetra dalam faktor fisik atau sensorik seperti kondisi mata dan perilaku, mata anak tunanetra ada yang terlihat putih semua, tidak ada bola mata atau bola matanya agak menonjol keluar, selain itu juga terdapat mata yang anatomis seperti mata orang awas namun dapat dibedakan ketika anak tersebut sudah bergerak atau berjalan. Gerakan motorik atau perilaku dapat dilihat dari gerakan yang agak kaku dan kurang fleksibel sehingga anak tunanetra tidak bebas bergerak contohnya ketika berjalan, berlari atau melompat, cenderung menampakan gerakan yang kaku dan kurang fleksibel.. Dari kemampuan dan karakteristik siswa tersebut guru awas di SDLBN-A X di harapkan dapat bersikap lebih sabar dan dapat mengontrol emosi dalam mengajar para siswa siswi di sekola
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x