BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang

of 13
51 views
PDF
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Document Description
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Agama Islam merupakan agama yang sempurna karena dalam agama Islam diatur seluruh aspek kehidupan manusia baik habblu minna Allah dan habblu minna An-Nash. Hal ini terutama
Document Share
Document Transcript
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Agama Islam merupakan agama yang sempurna karena dalam agama Islam diatur seluruh aspek kehidupan manusia baik habblu minna Allah dan habblu minna An-Nash. Hal ini terutama disebabkan bahwa manusia adalah individu yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Islam menyuruh manusia berusaha dalam memperoleh harta, karena harta termasuk salah satu keperluan pokok manusia dalam menjalani kehidupan di dunia, para ulama ushul fiqh persoalan harta dimasukkan ke dalam salah satu adh-dharuriyat al-khamsah (lima keperluan pokok) yang terdiri atas agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Kebebasan seseorang untuk memiliki dan memanfaatkan hartanya adalah sebatas yang direstui oleh syara. Penggunaan harta dalam ajaran Islam harus senantiasa dalam pengabdian kepada Allah dan dimanfaatkan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Pemanfaatan harta tidak boleh hanya untuk keperluan pribadi melainkan juga digunakan untuk fungsi sosial dalam rangka membantu sesama manusia. (Haroen 2007, 75-76) Salah satu fungsi sosial pemanfaatan harta dalam ruang lingkup bermuamalah diantaranya permasalahan utang piutang. Utang piutang (al-qardh) berasal dari kata qaradha yang sinonimnya qatha a artinya memotong. Diartikan demikian karena orang yang memberikan utang memotong sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada orang yang menerima utang (muqtaridh). Jadi qardh adalah suatu akad antara dua pihak, dimana pihak pertama memberikan uang atau barang kepada pihak kedua untuk dimanfaatkan dengan ketentuan bahwa uang atau barang tersebut harus dikembalikan persis seperti yang ia terima dari pihak pertama. Dipahami bahwa qardh sebagai 1 2 perbuatan memberikan sesuatu kepada pihak lain yang nanti harus dikembalikan, bukan sesuatu (mal/harta) yang diberikan itu. (Muslich 2013, ) Sebagaimana dijabarkan dalam hadis عه عجبدح الص بم ت ثه, أ ن زس ل اهلل صلى اهلل عل و الر ىبة قال: وسلم, ث بذ ىبة, ت رب ىب ع ن يب, الف ض خ ث بل فض خ, ت رب ىب ع ن يب, الج س ثبل ج س, م دي ث م د ي, الش ع س ث بلش عري, م د ي ث م دي, الت م س ث بلت م س, م د ي ث م د ي, امل ل ح ثبمل لح, م دي مب دي, ف م ه ش اد أ اش د اد ف ق د أ ز ث, ال ثأ س ث ج ع الر ى ت ثبل ف ض خ, الف ض خ أك ث س ى م ب, د ا ث د, أ م بو س ئ خ ف ال, ال ث أ س ث ج ج ع ال ج س ث بلش ع ري, الش ع ري أ ك ث س ى م ب, د اث د, أ م بو س ئ خ ف ال. )ز اه مسلم( Artinya: Dari Ubadaan bin Shamit bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Emas dengan emas haruslah sama, gandum dengan gandum haruslah dalam takaran yang sama, jewawut dengan jewawut haruslah dalam takaran yang sama, kurma dengan kurma haruslah dengan takaran yang sama, garam dengan garam haruslah dengan takaran yang sama. siapa yang menambahi atau menjadi tambah (barangnya) maka ia telah melakukan riba. Tidak apa-apa menjual emas dengan perak yang lebih banyak, tetapi dengan syarat kontan, adapun tidak kontan (hutang) maka diperbolehkan. Tidak apa-apa menjual gandum dengan jewawut yang lebih banyak, tetapi dengan syarat kontan, adapun tidak kontan maka tidak boleh. (HR. Muslim) (Al Bani 2006, 546) 3 Hadis di atas menjelaskan bahwa utang piutang boleh dilakukan apabila jelas apa yang diutangkan serta pembayaran dilakukan dalam bentuk ukuran, takaran yang sama dan seimbang terhadap apa yang diutang. Apabila menjadi tambah (barangnya) maka ia telah melakukan riba dalam takarannya itu. Sesungguhnya utang piutang merupakan salah satu sarana ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena memberikan utang berarti menanamkan sifat kasih sayang terhadap saudara yang membutuhkan. (Sabiq 2009, 115) Hal ini dijelaskan dalam surah At-Taghabun ayat 17 Artinya: Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu dan Allah maha pembalas jasa lagi maha penyantun. (QS. At Taghabun: 17) (Departemen Agama RI 2010, 557) Ayat di atas memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap sesama dengan menerapkan sikap tolong menolong sehingga dapat meningkatkan tali persaudaraan. Begitupun halnya utang piutang seseorang yang memberikan utang kepada saudaranya berarti ia telah meringankan satu beban dari saudara tersebut, dengan harapan Allah akan melipat gandakan balasannya dan Allah maha pembalas jasa. Itulah yang diperjanjikan Allah kepada hamba-hamba Nya. Adapun rukun dan syarat utang piutang harus dipenuhi kedua belah pihak diantaranya sebagai berikut: a. Aqid, yaitu muqridh (pemberi utang) dan muqtaridh (penerima utang), syaratnya sehat, cakap hukum b. Ma qud alaih, yaitu uang atau barang, syaratnya kepemiikan sendiri c. Shigat, yaitu ijab dan qabul. Syaratnya harus jelas(mardani 2012, 335) 4 Dilihat dari salah satu rukun dan syarat dalam utang piutang maka di dalam shighat yaitu ijab dan qabul merupakan perwujudan dari akad. Dimana akad terdiri dari para pihak untuk mengikatkan diri. Az- Zarqa menyatakan bahwa dalam pandangan syara suatu akad merupakan ikatan secara hukum yang dilakukan oleh dua atau beberapa pihak yang sama-sama berkeinginan untuk mengikatkan diri. Kehendak atau keinginan pihak-pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam hati. Oleh karena itu, untuk menyatakan kehendak masing-masing harus diungkapkan dalam suatu pernyataan. Pernyataan pihak-pihak yang berakad itu disebut ijab dan qabul. (Haroen 2007, 97) Hal ini berarti suatu akad akan menentukan kesepakatan para pihak pada proses selanjutnya. Akad adalah perikatan yang ditetapkan dengan ijab qabul berdasarkan ketentuan syara yang berdampak pada objeknya atau menghubungkan ucapan salah seorang yang berakad dengan yang lainnya sesuai syara dan berdampak pada objek akad. (Djamil 2013, 6) Berdasarkan penelitian pendahuluan sebagian besar pekerjaan masyarakat di Kecamatan Bayang bertani dan beternak sapi merupakan pekerjaan sambilan, sekaligus investasi dimasa yang akan datang. Di Kecamatan Bayang utang piutang yang terjadi berupa utang pembelian sapi, namun pada perjanjian pembayaran tidak adanya itikad baik dari orang yang berpiutang untuk membayar, akhirnya berujung kepada pembaruan akad utang piutang. Pembaruan akad inilah tidak berjalan sebagaimana yang telah diperjanjikan, yaitu berupa penundaan waktu pembayaran, bahkan ada yang menitik beratkan pembayaranya pada sesuatu benda tertentu seperti yang terjadi dilapangan utang piutang pembelian sapi dibayar dengan tanah. Pada bulan Juli tahun 2015 Bapak Oktav (muqridh) berutang untuk pembelian 1 (satu) ekor sapi seharga Rp kepada Ibu 5 Yenti (muqhtaridh), Bapak Oktav memberikan uang senilai Rp sebagai uang muka dan sisanya akan dibayar satu minggu yang akan datang. Pada hari pembayaran Bapak Oktav mengelak untuk membayar dan mengatakan belum ada uang, dijanjikan lagi satu minggu kemudiannya. Hal ini merupakan awal persengketaan, persengketaan tersebut berlangsung lebih kurang selama enam bulan. Selama selang waktu tersebut hubungan antara Bapak Oktav dengan Ibu Yenti tidak membaik, yaitu berupa putusnya hubungan silaturahmi serta saling tuding-menuding, membeberkan (menceritakan masalah) kepada orang lain. Tepatnya pada awal tahun 2016 utang piutang pembelian sapi ini dibayar Bapak Oktav dengan sebidang tanah yang ia miliki, dan menaksirkan tanah itu seharga Rp , Ibu Yenti tidak menyetujui, jika utang tersebut dibayar tanah, apalagi tanah itu ditaksirkan harga, tentu akan meyebabkan perbedaan nilai harga dari yang diutangkan. Pada akhirnya utang piutang pembelian sapi pembayarannya diselesaikan dengan tanah. (Yenti 2016) Hal serupa juga terjadi antara Ibu Zurnawita (muqtaridh) dengan Bapak Azwar (muqridh), dimana Pak Azwar berutang pembelian 3 ekor sapi kepada Ibu Zurnawita senilai Rp lalu Pak Azwar memberikan uang muka sebanyak Rp dan sisa sebesar Rp dilakukan satu bulan kemudian. Pada saat pembayaran Pak Azwar tidak sanggup untuk membayar, karena selama rentang waktu yang tentukan Pak Azwar mengalami kerugian dalam penjualan sapi-sapi tersebut, karena salah seekor sapi mati. Ibu Zurnawita terus mendesak untuk meminta utangnya. Inilah awal mulanya persengketaan utang pembelian sapi. Terjadilah persengketaan diantara kedua belah pihak, dimana Pak Azwar menuding bahwa sapi-sapi yang diberikan Ibu Zurnawita sapi sakit, dan tidak dapat dimanfaatkan malahan menambah beban, namun Ibu Zurnawita mengelak dan mengatakan bahwa sapi tersebut dalam kondisi baik, pada saat sapi dibawa oleh Pak Azwar. 6 Selang beberapa waktu kemudian Ibu Zurnawita menuntut haknya kembali. Namun Pak Azwar tidak sanggup membayar utang pembelian sapi maka Pak Azwar terus menunda dan mengelak, pada akhirnya Pak Zurnawita menitik beratkan pembayarannya dengan sebidang tanah sebab Pak Azwar memiliki tanah perkebunan yang lumayan luas. (Zurnawita 2016) Sebagaimana yang terjadi dengan Ibu Zurnawita hal yang serupa juga dialami oleh Bu Elvit dimana Pak Azwar berutang dari pembelian seekor sapi sebanyak Rp kepada Bu Elvit. Pembayaran selanjutnya akan dilakukan satu minggu kemudian. Pada saat jatuh tempo karena mendengar masalah yang terjadi antara Pak Azwar dengan Ibu Zurnawita maka Bu Elvit meminta dibayar dengan tanah, namun Pak Azwar tidak mau dibayar dengan tanah. Ia lebih meminta tenggang waktu yang lebih lama agar dia sanggup untuk membayar. Tapi Bu Elvit tetap meminta tanah sebagai alat pembayarannya, sebab Bu Elvit tahu bahwa Pak Azwar tidak sanggup untuk membayar. Hal inilah menjadi persengketaan kedua belah pihak, karena Pak Azwar merasa terjadinya pemaksaan dalam proses pembayarannya. Pada akhirnya Pak Azwar membayar utang pembelian sapi dengan tanah walau dengan sikap terpaksa tapi tanah tersebut harus diminta takaran harga penjualannya agar adanya kepastian. (Azwar 2016) Jika ditelusuri lebih jauh terhadap kasus utang piutang pembelian sapi yang terjadi dilapangan maka penyelesaian utang piutang yang dilakukan diantara para pihak menjadikan tanah sebagai pembayaran merupakan pemikiran yang logis sebab tanah merupakan salah satu harta yang mempunyai nilai jual. Jika ditinjau dari sudut pandang fiqh muamalah maka penyelesaian dari utang piutang ini mestilah ada sikap kerelaan diantara kedua belah pihak, dan tidak adanya unsur 7 keterpaksaan serta tidak adanya kelebihan dari sisa utang dengan artian mestilah dengan ukuran yang seimbang. Alasan peneliti melakukan penelitian tentang masalah ini adalah untuk meninjau praktik bermuamalah yakni utang piutang. Sebagaimana yang terjadi dilapangan, dari masalah utang piutang pembelian sapi yang terjadi di Kec. Bayang dimana terjadi penundaan pembayarannya dan tidak sesuai dengan kesepakatan serta kepuasan dari kedua belah pihak, sehingga menjadi persengketaan di tengah masyarakat. Maka dari itu penulis merasa tertarik untuk mengangkat masalah ini dengan judul: Penyelesaian Utang Piutang Pembelian Sapi Dibayar Tanah Ditinjau dari Fiqh Muamalah Studi Kasus Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan. 2. Rumusan dan batasan masalah 2.1. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis kemukakan di atas maka yang menjadi rumusan masalah adalah bagaimanakah penyelesaian utang piutang pembelian sapi dengan tanah ditinjau dari fiqh muamalah di Kec. Bayang Kab. Pesisir Selatan? 2.2. Batasan masalah Agar lebih terarahnya penulisan ini, karena luasnya Kec. Bayang maka penulis membatasi pada 2 Kenagarian yaitu Kenagarian Koto Berapak dan Kenagarian Talaok, dengan alasan karena kenagarian inilah adanya masalah penyelesaian utang piutang pembelian sapi dibayar dengan tanah. 3. Pertanyaan penelitian 8 Ada beberapa kata penting dalam judul yang perlu dijelaskan diantaranya: Kata penyelesaian utang piutang berasal dari kata selesai artinya sudah, berakhir, putus (Abdillah tth, 613). Utang piutang merupakan uang yang dipinjam dari orang lain dan berkewajiban membayarnya kembali sesuai dengan apa yang diterima (Anwar 2002, 412). Jadi maksudnya menemukan jalan keluar atau solusi utang piutang pembelian sapi dibayar dengan tanah. Begitu juga dengan kata fiqh muamalah yaitu aturan (hukum) Allah untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi dalam pergaulan sosial. (Suhendi 2011, 2) Kata-kata penting yang dimaksud bertujuan agar terhindar dari kesalah pahaman dalam penelitian yang diperuntukan penjelasan konsep. Maka dari itu, dinyatakan pada pertanyaan penelitian sebagai berikut: 3.1. Bagaimanakah praktik penyelesaian utang piutang pembelian sapi di Kec. Bayang? 3.2. Bagaimanakah tinjauan fiqh muamalah terhadap penyelesaian utang piutang pembelian sapi di Kec. Bayang? 4. Signifikasi penelitian Permasalahan dalam penyelesaian utang piutang pembelian sapi penting untuk diteliti karena terjadi di tengah masyarakat, dan berhubungan dengan salah satu permasalahan dalam bidang muamalah, dan perlu dicari bagaimana penyelesaian dalam Islam. Hal ini berarti memberikan kontribusi ilmu khususnya kepada masyarakat di Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan terhadap suatu masalah terkhususnya dalam penyelesaian utang piutang pembelian sapi. 5. Telaah Pustaka 9 Dari tinjauan pustaka yang penulis lakukan bahwa penulisan skripsi ini berpedoman kepada skripsi yang berjudul penyelesaian sangketa pembayaran utang uang ditinjau dari fiqh muamalah (studi kasus di kenagarian Batu Hampar kec. Akabilum kab, Lima Puluh Kota) yang diteliti oleh Arina , dalam skripsi ini ia memfokuskan kepada jalan keluar atau penyelesaian dari pertentangan yang terjadi antara orang yang berutang dengan orang yang berpiutang dalam persoalan pembayaran utang yang menggantungkan akad utang piutang pada suatu syarat (pembyaran utang yang berpatokan pada harga emas). Disini terjadi penggantungan akad yang ia patokkan pada harga emas dalam pembayarannya. Penulisan skripsi ini juga berpedoman pada skripsi yang berjudul penyelesaian sengketa pembayaran utang beras ditinjau dari hukum Islam yang diteliti oleh Era Septina Agustin , dalam skripsi ini memfokuskan pada utang piutang beras yang dibayar beras yang pada awalnya transaksi utang beras yang menjadi ukurannya. Namun ketika tiba masa pembayarnnya yang menajdi ukurannya adalah harga jual beras, karena adanya perbedaan nilai jual beras pada waktu utang dengan waktu pembayaran, sehingga dengan diperhitungkan nilai jual beras mempengaruhi jumlah utang yang harus dibayar. Disini terjadi bahwa penyelesaian sengketa utang piutang beras ini dengan bantuan pihak ke tiga yaitu niniak mamak, dan utang yang harus dibayar oleh orang yang berutang adalah hanya pokoknya saja dan mengabaikan syarat yang diberikan oleh pihak yang berpiutang. Dari studi-studi di atas menyangkut tentang pelaksanaan utang piutang yang jelas sangat berbeda dengan pokok permasalahan yang akan penulis angkat. Penulis membahas tentang penyelesaian utang piutang pembelian sapi dibayar dengan tanah dimana pada saat proses penyelesaian utang piutang ini masyarakat menyelesaikannya tidak 10 sesuai dengan apa yang telah disepakati awal bahkan ada yang menitik beratkan pada sesuatu untuk pembayarannya, menyebabkan persengketaan diantara kedua belah pihak. Jadi inilah yang membedakan antara skripsi-skripsi yang menjadi pedoman di atas dengan skripsi yang ingin peneliti bahas yaitu bahwa skripsi-skripsi tersebut berupa penyelsaian utang piutang antara pihak yang berutang dengan objek yang berbeda dan penyelesaiannya ditangguhkan pada sesuatu. Sedangkan skripsi yang penulis bahas proses penyelesaian utang piutang pembelian sapi dibayar dengan tanah. 6. Landasan/ kerangka teori Kerangka teori yang digunakan terdiri dari konsep utang piutang (qardh) dan penyelesaian utang piutang dengan konsep perdamaian (shulh) dalam fiqh muamalah. Qardh (utang piutang) adalah suatu akad antara dua pihak, dimana pihak pertama memberikan uang atau barang kepada pihak kedua untuk dimanfaatkan dengan ketentuan bahwa uang atau barang tersebut harus dikembalikan persis seperti yang ia terima dari pihak pertama, dipahami bahwa qardh sebagai perbuatan memberikan sesuatu kepada pihak lain yang nanti harus dikembalikan, bukan sesuatu (mal/harta) yang diberikan itu (Muslich 2013, ). Adapun rukun dan syarat utang piutang harus dipenuhi kedua belah pihak diantaranya sebagai berikut: a. Aqid, yaitu muqridh (pemberi utang) dan muqtaridh (penerima utang), syaratnya sehat, cakap hukum b. Ma qud alaih, yaitu uang atau barang, syaratnya kepemiikan sendiri c. Shigat, yaitu ijab dan qabul. Syaratnya harus jelas. (Mardani 2012, 335) 11 Shulh (perdamaian) adalah suatu akad atau perjanjian antara dua orang atau lebih yang tujuannya untuk menyelesaikan perselisihan diantara mereka (Muslich 2013, 482). Rukun dan syarat shulh (Ghazany, Ihsan, Shidiq 2010, ) sebagai berikut: a. Mushalih, yaitu masing-masing pihak yang melakukan akad perdamaian untuk menghilangkan permusuhan atau sengketa. Mushalih disyaratkan: orang yang tindakannya sah menurut hukum. Seperti seorang menagih utang kepada orang lain tetapi tidak ada bukti utang-piutang, maka keduanya berdamai agar utang itu dibayar sekalipun tidak ada tanda buktinya. b. Mushalaih anhu yaitu persoalan yang diperselisihkan atau disangketakan. Disyaratkan: harus berupa hak manusia yang boleh diiwadkan (digantikan) sekalipun tidak berupa harta c. Mushalih bih yaitu sesuatu yang dilakukan oleh salah satu pihak terhadap lawannya untuk memutuskan perselisihan. Ini disebut juga dengan badal al shulh. Disyaratkan berbentuk harta yang dapat dinilai, diserah terimakan dan berguna, diketahui secara jelas sehingga tidak ada kesamaran yang dapat menimbulkan perselisihan. d. Shighat ijab dan kabul diantara dua pihak yang melakukan akad perdamaian. 7. Metode penelitian 7.1. Jenis penelitian Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah studi lapangan (field research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengamati lansung kelapangan. Dalam penelitian field research ini dikumpulkan data yang berhubungan dengan permasalahan berasal dari responden dengan menggunakan metode wawancara (interview). Penelitian ini dilaksanakan di Kenagarian 12 Koto Berapak dan Kenagarian Talaok Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan Informan Penelitian Informan penelitian terdiri dari penerima utang (muqtaridh), pemberi utang (muqridh) dan masyarakat setempat yang mengetahui proses penyelesaian utang piutang pembelian sapi dibayar dengan tanah di Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan Teknik mengumpulkan data Untuk mengumpulkan data penulisan menggunakan beberapa teknik Wawancara. Jenis wawancara yang akan penulis gunakan adalah wawancara terstruktur yaitu, wawancara yang bebas dimana peneliti menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya (Sugiyono 2014, 140). Adapun teknik wawancara yang penulis gunakan adalah Snowball, yaitu menentukan beberapa responden. Melalui responden tersebut ditelusuri responden lainnya (Adi 2004, 112). Begitu seterusnya sampai data yang diperoleh dianggap cukup. Wawancara dilakukan dengan masyarakat yang diwawancarai adalah 2 orang pengutang yang melakukan utang piutang pembelian sapi dibayar dengan tanah, juga kepada 3 orang yang memberikan utang piutang pembelian sapi, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat yang mengetahui proses penyeleseian utang piutang pembelian sapi dibayar dengan tanah di Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan. Dokumentasi Dokumentasi adalah suatu cara pengumpulan data menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungaan dengan masalah yang diteliti sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah dan bukan berdasarkan perkiraan (Basrowi, Suwandi 2008, 158). Dalam hal ini berupa foto, catatan-catatan yang terkait dengan penelitian peneliti Teknik analisis data Data yang penulis peroleh dari lapangan berupa data dari informan penelitian, dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif yaitu menganalisa dan menggambarkan permasalahan apa saja yang terjadi di lapangan (Muhajir 1998, 31). Data diperoleh dari hasil wawancara yang telah penulis lakukan, kemudian data tersebut disusun menurut subjek pembahasan. Data dianalisis berdasarkan metode istinbath yakni mengistinbathkan yang terdapat dalam Sunnah dengan fakta dilapangan kemudian dianalisis.
Search Related
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x